hai semua ini novel pertama Rayas ya🤭
kalau ada saran atau komentar boleh tulis di kolom komentar ya. lopyouuuu 😘😘
Dalam keputusasaan, sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawanya di tahun 2025. Namun, maut ternyata bukan akhir. Safira terbangun di tubuhnya yang berusia 17 tahun, kembali ke tahun 2020—tepat di hari di mana ia dikhianati oleh adik tirinya dan diabaikan oleh saudara kandungnya hingga hampir tenggelam.
Berbekal ingatan masa depan, Safira memutuskan untuk berhenti. Ia berhenti menangis, berhenti memohon, dan yang terpenting—ia tak lagi berharap pada cinta keluarga Maheswara.
kalau penasaran jangan lupa mampir ke novel pertama Rayas 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: Perisai yang Tak Terlihat
Malam itu, suasana di kediaman Maheswara benar-benar mendingin. Setelah pertengkaran hebat di ruang tamu, Safira mengunci diri di kamar. Ia tidak merasa perlu menjelaskan apa pun lagi. Baginya, rumah ini hanyalah tempat singgah sementara sebelum ia benar-benar memutuskan talinya. Namun, di lantai bawah, riak kegelisahan mulai menjalar, terutama pada Raka dan Bima yang mulai menyadari bahwa adik mereka bukan lagi sosok yang bisa mereka tekan.
Keesokan harinya, instruksi Raga untuk "mengurung" Safira ternyata tidak semudah itu dilakukan. Safira tetap berangkat sekolah dengan tenang. Sopir pribadi keluarga bahkan tidak berani melarang saat Safira masuk ke dalam mobil dengan tatapan yang seolah bisa menembus kaca.
Sore itu, sekolah usai lebih awal karena ada rapat guru. Safira sedang berjalan menuju gerbang saat ia melihat Vian, adik bungsunya, keluar terburu-buru dengan wajah gelisah. Vian tidak menunggu jemputan seperti biasanya, melainkan berjalan cepat menuju gang samping yang merupakan jalan tikus menuju area pertokoan belakang sekolah.
Safira mengernyit. Ia tahu Vian adalah anak yang manja dan sering sesumbar karena kekayaan ayahnya, tapi di mata Safira, Vian tetaplah remaja 15 tahun yang belum tahu kerasnya dunia. Instingnya mengatakan ada yang tidak beres. Safira memutuskan untuk mengikuti Vian dari kejauhan.
Benar saja, baru berjalan sekitar lima ratus meter ke dalam gang yang cukup sepi, langkah Vian dihentikan oleh tiga orang pria dewasa berpakaian kumal. Mereka bukan siswa. Mereka adalah preman pasar yang biasa mangkal di sekitar sana.
"Wah, anak mami lewat sini sendirian," ejek salah satu preman yang memiliki tato di lehernya. "Katanya bokap lo kaya banget ya? Bagi-bagi dong buat kita beli rokok."
Vian gemetar, wajahnya yang tadi sombong di sekolah kini pucat pasi. "Minggir kalian! Gue panggilin polisi ya!"
"Polisi? Hahaha! Sebelum polisi dateng, muka ganteng lo udah berubah jadi adonan donat," ancam preman lainnya sambil mengeluarkan sebilah pisau lipat kecil.
Vian mundur hingga punggungnya membentur tembok. "Ambil... ambil aja jam tangan gue! Tapi lepasin gue!"
Saat tangan kasar salah satu preman hendak menjambak kerah baju Vian, sebuah suara datar membelah ketegangan di gang itu.
"Tiga orang dewasa mengeroyok anak kecil. Apa kalian tidak punya harga diri?"
Vian dan ketiga preman itu menoleh. Safira berdiri di sana, tas sekolahnya masih tersampir rapi di bahu. Ia tampak sangat tenang, seolah sedang menyaksikan drama picisan di televisi.
"Kak... Kak Fira?" gumam Vian tak percaya.
"Wah, dapet bonus cewek cantik," salah satu preman menyeringai menjijikkan. "Mending lo diem di sana kalau nggak mau lecet, Dek."
Safira meletakkan tasnya di atas sebuah kotak kayu bekas di pinggir gang. "Vian, tutup matamu."
"Apa?" Vian bingung.
"Tutup matamu jika kamu tidak ingin melihat sesuatu yang kasar," perintah Safira lagi, suaranya dingin dan mutlak.
Sebelum preman terdekat sempat bereaksi, Safira sudah bergerak. Gerakannya begitu cepat hingga hanya terlihat seperti bayangan. Ia menangkap pergelangan tangan pria yang memegang pisau, memutarnya dengan teknik kuncian yang membuat tulang pria itu berbunyi krak. Pisau itu jatuh ke aspal sebelum sempat menyentuh siapa pun.
"AARRGGHH!"
Dua preman lainnya mencoba menyerang bersamaan. Safira merunduk, menghindari ayunan tangan salah satu dari mereka, lalu melancarkan tendangan back-kick telak ke ulu hati lawan. Pria itu langsung tersungkur sambil memegangi perutnya, wajahnya membiru karena kehilangan napas.
Preman terakhir mencoba memukul kepala Safira, namun Safira menangkap tinju itu dengan telapak tangannya. Ia memutar tubuhnya, menggunakan momentum berat badan lawan untuk membanting pria bertubuh besar itu ke tanah.
BUKK!
Hanya dalam waktu kurang dari dua menit, ketiga preman itu terkapar. Yang masih bisa bergerak segera memapah temannya dan lari terbirit-birit, meninggalkan gang itu dengan rasa takut yang luar biasa pada gadis mungil berseragam SMA tersebut.
Safira mengatur napasnya, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, lalu mengambil kembali tasnya. Ia berjalan menghampiri Vian yang masih mematung dengan mulut terbuka.
"Ayo pulang. Jangan pernah lewat jalan pintas sendirian kalau kamu belum bisa melindungi dirimu sendiri," ucap Safira datar, seolah baru saja melakukan hal yang biasa.
Sepanjang jalan keluar gang hingga menuju halte, Vian hanya diam mengekor di belakang Safira. Pikirannya berkecamuk. Selama ini, ia selalu mengikuti kata-kata Maya dan Mamanya untuk menjauhi Safira karena Safira dianggap "pembawa sial" dan "tidak berguna". Ia sering ikut mengejek Safira saat makan malam.
Tapi barusan, ia melihat dengan matanya sendiri bagaimana Safira—kakak yang selama ini ia rendahkan—berdiri di depannya sebagai pelindung.
"Kak..." panggil Vian pelan saat mereka sampai di halte yang agak ramai.
Safira menoleh. "Apa?"
"Makasih," ucap Vian tulus. Kepalanya menunduk, tidak berani menatap mata jernih Safira. "Gue... gue nggak tahu lo bisa sehebat itu."
Safira hanya menatap adiknya datar. "Tidak perlu berterima kasih. Aku hanya melakukan apa yang harus dilakukan. Jangan beri tahu Papa atau Mama soal ini. Mereka tidak akan percaya dan hanya akan menuduhku mencari masalah."
"Tapi Kak, mereka harus tahu kalau lo—"
"Vian," potong Safira. "Aku tidak butuh pengakuan mereka. Kamu pulanglah, supir sudah menunggumu di gerbang depan, kan?"
Vian menggeleng. "Gue mau bareng lo aja."
Safira sedikit terkejut, namun ia tidak melarang. Mereka akhirnya duduk di bus sekolah bersama. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidup mereka, Vian duduk di samping Safira tanpa mengeluarkan kata-kata hinaan.
Sesampainya di rumah, Vian terus memperhatikan Safira. Saat Safira hendak naik ke kamarnya, Vian berlari kecil ke dapur dan mengambil sebuah kotak susu cokelat dari kulkas—minuman favoritnya. Ia mengejar Safira di tangga.
"Kak, ini," Vian menyodorkan susu cokelat itu. "Buat lo. Biar... biar lo nggak capek."
Safira berhenti di anak tangga, menatap kotak susu itu lalu menatap Vian. Ada sedikit keraguan di mata anak itu, tapi juga ada rasa hormat yang baru tumbuh. Safira menerima susu itu.
"Terima kasih," ucap Safira pendek sebelum melanjutkan langkahnya.
Vian berdiri di tangga, menatap punggung kakaknya hingga menghilang. Di dalam hatinya, ia merasa sangat bersalah. Bagaimana bisa mereka memperlakukan Safira seburuk itu selama bertahun-tahun?
Saat makan malam, suasana kembali tegang. Raga masih mendiamkan Safira, sementara Maya terus bercerita tentang betapa populernya dia di sekolah setelah pesta.
"Pa, tadi aku lihat Kak Safira pulang bareng Vian di bus. Kok aneh banget sih? Vian kan biasanya nggak mau deket-deket cewek aneh," sindir Maya sambil melirik Vian.
Raga menatap Vian. "Vian, apa benar?"
Vian, yang biasanya akan ikut menyindir Safira, kali ini justru terdiam. Ia menatap Safira yang sedang makan dengan tenang, lalu menatap Maya.
"Iya, kenapa emangnya? Kak Fira kan kakak gue juga," jawab Vian ketus.
Seisi meja makan hening. Raga, Ratih, dan Maya melotot tidak percaya. Bahkan Raka dan Bima menghentikan gerakan sendok mereka.
"Vian, kamu sakit?" tanya Ratih cemas, menyentuh dahi putra bungsunya. "Tadi pagi kamu masih bilang dia pembawa sial, kok sekarang—"
"Ma, stop," potong Vian. "Kak Fira nggak seburuk itu. Kalian aja yang berlebihan."
Maya mengepalkan tangannya di bawah meja. "Vian! Kamu pasti udah dicuci otak sama dia, ya? Atau kamu dikasih apa sama dia sampai kamu bela dia begini?"
"Nggak ada yang cuci otak gue, Maya! Gue cuma pakai mata gue sendiri buat liat kenyataan!" Vian berdiri, selera makannya hilang. Ia menoleh ke arah Safira. "Kak, kalau mau susu lagi bilang gue ya. Gue punya banyak di kamar."
Vian pergi meninggalkan ruang makan, membuat Raga memukul meja dengan keras. "Safira! Apa yang kamu lakukan pada adikmu?!"
Safira menyeka mulutnya dengan serbet, gerakannya sangat elegan. Ia berdiri dan menatap ayahnya tanpa rasa takut. "Aku tidak melakukan apa-apa, Tuan Raga. Mungkin Vian hanya baru menyadari siapa yang sebenarnya tulus dan siapa yang hanya berpura-pura di rumah ini."
Safira melirik Maya yang wajahnya memerah, lalu ia berlalu menuju kamarnya.
Di kamarnya, Safira menemukan sebuah buket bunga mawar putih kecil yang sangat indah di atas meja balkonnya. Ada sebuah kartu kecil terselip di sana.
“Jangan biarkan luka di tanganmu membekas. Aku tidak suka melihat milikku ada cacatnya. — A.S”
Safira menyentuh kelopak bunga itu. Abian Byakta benar-benar pria yang gigih. Meskipun Safira bersikap dingin, pria itu selalu menemukan cara untuk hadir. Safira tidak menyadari bahwa di balik sikap kerasnya, ada sedikit rasa hangat yang mulai menyelinap setiap kali ia teringat bagaimana Abian membebat tangannya di parkiran tempo hari.
Namun, Safira segera menggelengkan kepalanya. Ia tidak boleh goyah. Fokusnya adalah kemandirian. Ia tidak ingin lagi bergantung pada pria manapun, meski pria itu adalah Abian Byakta
Di tempat lain, Abian sedang duduk di mobilnya di depan gerbang rumah Maheswara yang tertutup rapat. Ia melihat lampu kamar Safira yang menyala dari kejauhan.
"Tuan Muda, kenapa kita tidak masuk saja?" tanya Leo, asistennya.
"Belum saatnya, Leo," jawab Abian , matanya tak lepas dari jendela kamar itu. "Dia adalah mawar yang penuh duri. Jika aku memetiknya terlalu keras, dia akan hancur. Aku harus menunggunya datang padaku dengan sukarela."
Abian tahu tentang kejadian di gang tadi sore. Anak buahnya selalu mengawasi Safira dari jauh atas perintahnya.
"Dia benar-benar luar biasa," gumam Abian . "Melindungi orang yang membencinya... Safira, kau benar-benar membuatku gila."
Malam itu, di kediaman Maheswara, untuk pertama kalinya ada satu orang lagi yang berada di pihak Safira. Meskipun kecil, dukungan Vian mulai meretakkan tembok isolasi yang selama ini dibangun Maya dan Ratih. Dan Safira tahu, satu per satu, kebenaran akan mulai menampakkan dirinya.
...****************...
Guyssss jangan lupa like nya ya, kalau ada yang kurang atau typo coment aja nanti, biar jadi pelajaran buat Rayas soal nya ini novel pertama rayas