Seorang pria tua, mantan narapidana, harus berusaha mencari kebenaran dari rentetan pembunuhan yang menyeret namanya.
"Aku masih tak mengerti, apa motif si pembunuh dengan menjadi peniru?"
"Tapi pembunuh kali ini, dia tampak lebih cerdas. dia sudah memikirkan dengan matang semua langkahnya."
"Kurasa bukan peniru, tapi memang dia sendiri pelakunya, dia... Santaroni ingin mengulang pembunuhannya dengan lebih sempurna."
Mampukah Santaroni—si residivis, membuktikan pertobatannya, dan menemukan pelaku pembunuhan yang telah meniru jejaknya?
note: mungkin akan ada beberapa adegan keji, mohon bijak saat membaca. ingat: 'ini hanya cerita karangan, jika ada kesamaan nama tokoh dan situasi, hanya kebetulan yang sengaja dibetul-betulkan.'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehilangan Jejak —Kecerdasan Santaroni
Santaroni berdiri di depan pintu RSJ, matanya menatap ke arah bangunan yang besar itu. Beberapa potongan kenangan lama membuatnya harus menghela napas dalam-dalam dan membuat langkahnya bergerak lambat, seolah ragu untuk masuk ke dalam.
Dengan langkah yang penuh beban, Santaroni memasuki lobi utama RSJ, kemudian menuju ke meja informasi.
Sapaan ramah seorang perawat, menjadi ciri sambutan wajar di setiap tempat. Kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan mendasar mengenai tujuan berkunjung.
Santaroni mengambil formulir itu, kemudian mengisinya dengan seperlunya.
Perawat itu memeriksa kembali formulir yang telah selesai diisi oleh Santaroni, kemudian memberikan sebuah kartu pengunjung. "Baik, pak. Anda bisa naik ke lantai 3, ruang 304. Tapi jangan lupa, waktu kunjungan hanya 30 menit saja."
Santaroni mengangguk, dia mengambil kartu pengunjung itu dan bergerak menuju ke lift. Sementara si perawat tampak berbicara tergesa dengan seseorang di telepon.
Santaroni berdiri di depan lift, siap untuk menekan tombol lantai 3. Tapi sebelum dia bisa melakukannya, dia mendengar suara yang familiar memanggilnya.
"Santaroni, tunggu!"
Santaroni menoleh, dan melihat seorang perawat senior RSJ yang dia kenal baik, Ibu Nursi, berjalan cepat ke arahnya dengan ekspresi yang bercampur antara lega, tak percaya dan penyesalan.
"Roni…." lirihnya mengulang, seolah ada begitu banyak keraguan untuk berbicara.
Santaroni balas menatap perawat yang dulu dikenalnya baik itu. “Kau… masih bekerja di sini, di usiamu itu?” tanyanya tak kalah takjub dengan pertemuan itu. “Kelihatannya kau dalam kondisi baik, kurasa aku tak perlu tanya kabarmu,” imbuhnya.
Namun, Nursi tak mengubah ekspresi wajahnya. “Dengan melihatmu di sini, itu artinya adikmu tak mengabarkan tentang kondisi kakakmu,” ujarnya.
Santaroni tak menjawab, ia hanya terus menatap kawan lamanya itu, berharap mendapatkan penjelasan detail tanpa ia harus banyak bertanya.
Nursi mengambil napas dalam-dalam, seraya meremas buku-buku jari tangannya sendiri. "Kakakmu... dia sudah meninggal satu tahun lalu,” ucapnya penuh sesal.
Santaroni terdiam sejenak untuk menepis keterkejutannya. “Ap-apa maksudmu?”
“Entah apa pemicunya, tapi satu bulan terakhir, beberapa kali kami menemukan dia pingsan karena mencoba menyakiti dirinya sendiri, dan sejak itu kondisinya semakin memburuk.” Nursi mengambil jeda beberapa saat untuk mengatur napas, kemudian melanjutkan.
“Aku sangat menyesal karena terlalu takut untuk menemuimu langsung di penjara. Jadi kupikir aku meninggalkan pesan di pondokmu. Sehari setelahnya, Rey datang untuk membawa jenasah Teo.”
Santaroni masih terdiam membatu, sedangkan Nursi tertunduk dalam isak berbagai penyesalan, “Kupikir dia akan memberitahumu secara langsung.”
Santaroni berusaha tenang, meski sorot matanya tak bisa menyembunyikan rasa terkejut yang terasa semakin menyakitkan. “Apa kau bisa sedikit menjelaskan apa yang terjadi pada Teo?” tanyanya berusaha menekan berbagai emosi yang terasa ingin meledak.
Nursi menyeka titik air di ujung pelupuk matanya, kemudian menghela napas untuk meredakan detak jantungnya yang terasa menggila. Mau bagaimanapun, ia sedang berdiri di depan mantan seorang pembunuh, rasa takut akan pandangan orang-orang bercampur rasa takut akan pria itu sendiri membuat Nursi harus menyembunyikan lututnya yang gemetar hebat.
"Tak ada yang aneh, Teo selalu meracau bisa terbang. Suatu hari, dia memanjat pohon di taman belakang, dia bilang ingin terbang u tuk mencarimu. Kurasa itu terjadi karena ia merasakan rindu yang teramat. Dia menunggumu, tapi kau tak mungkin bisa datang. Itulah yang membuat kesadaran kakakmu lambat laun memburuk.”
Santaroni merasa terpukul oleh kenyataan itu. Ia tak pernah memikirkan akan hal itu sebelumnya. Teo lahir dengan gangguan kognitif sedang. Biasanya ia akan mudah melupakan apa yang dilakukannya, namun sepertinya kali ini Santaroni salah menduga.
Santaroni berdecak dengan rahang-rahangya yang mengeras serta kedua tangan terkepal erat. Bukan sedang marah, melainkan usaha terakhirnya untuk mengendalikan diri untuk tetap menjaga kesadarannya. “Cukup, Nursi,” lirihnya. “Apa Rey meninggalkan suatu alamat atau apapu”
Nursi menggeleng menyesal karena lupa tak meminta hal itu juga. “Dia hanya meninggalkan identitas lama, sebagai bukti bahwa dia memang masih keluarga,” terangnya seraya menjulurkan tangannya untuk menyerahkan selembar kertas
..........
Sammy berdiri di ruang depan kamar Santaroni, yang juga berfungsi sebagai bengkel untuk membuat ornamen natal. Dia melihat-lihat ke sekeliling, memperhatikan lagi berbagai macam ornamen natal yang sedang dikerjakan oleh Santaroni.
Sesekali Sammy memeriksa layar ponselnya, memastikan titik koordinat chip di kaki Santaroni masih berada di tempatnya. ‘Ya, titik koordinat itu masih stabil, berarti Santaroni masih berada di dalam kamar,’ pikirnya.
Sammy merasa sedikit curiga, karena tidak ada pergerakan apapun dari dalam kamar. Dia mendekati pintu kamar dan mendengarkan, tapi tidak ada suara apa pun.
Ia pun mencoba mengetuk pintu, tapi tidak ada jawaban. Sammy merasa kesal, dia mencoba membuka pintu, tapi pintu itu terkunci dari dalam.
"Apa dia tidur?" gumam Sammy, suaranya yang tidak sabar kemudian melihat kembali pada jam tangannya. “Lima belas menit… kurasa dia bukan perawan yang sedang patah hati!” serunya bermonolog.
Sammy mendobrak pintu kamar Santaroni, matanya yang lebar memandang ke dalam kamar. Dia melihat sesuatu tergeletak di tepi jendela, kemudian menghampirinya.
"Sial!" umpat Sammy keras.
Sammy meremas kuat-kuat gelang kaki yang seharusnya melingkar di kaki Santaroni, matanya yang lebar memandang ke arah gelang itu dengan rasa frustrasi dan kekaguman. "Bagaimana bisa?" gumamnya tak percaya.
Gelang itu seharusnya dilengkapi dengan sensor canggih yang seharusnya tidak bisa dilepas tanpa memicu alarm. Tapi, Santaroni telah berhasil melepaskannya tanpa membuat sensor itu berfungsi.
Sammy merasa seperti ditampar, dia tahu bahwa dia telah dipecundangi oleh pria tua itu. Dia mulai mempertanyakan kemampuan dirinya sendiri, “Aku telah ceroboh!” umpatnya kesal pada diri sendiri.
Sammy tersenyum kecut, "Pria tua ini... lebih berbahaya dari yang aku duga!” umpatnya merasa dibodohi.
Sammy melompat ke belakang bengkel, melalui jendela yang sama, kemudian berusaha mengejar, mencari ke dalam gang-gang yang rumit, matanya yang tajam memandang ke sekeliling.
Dia berlari dengan cepat, memeriksa setiap sudut gang, mencari petunjuk atau jejak yang mungkin bisa mengarahkan kemana kira-kira Santaroni akan pergi.
Sammy berhenti berlari, meletakkan kedua tangannya di atas lututnya, mencoba untuk mengatur napasnya, "Pria tua sialan!" umpatnya lagi.
...****************...
Bersambung