NovelToon NovelToon
Saya Bukan Pilihan, Pak CEO

Saya Bukan Pilihan, Pak CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Beda Usia / CEO
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Biby Jean

"Saya menyukai kamu, Maura. Tapi, saya sadar bahwa perbedaan umur kita terlalu jauh."
Pengakuan Setya membuat Maura mengernyitkan dahi. Mengapa dirinya ini seolah menjadi pilihan pria dewasa dihadapannya?
"Saya bukan pilihan, Pak."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biby Jean, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 14 - Sisi Lain Pria Dingin Itu

Dentuman musik menghantam dinding-dinding klub malam itu tanpa ampun. Cahaya lampu berkelip, asap tipis menggantung di udara, dan tawa orang-orang bercampur dengan alunan bass yang berat.

Setya Pradana duduk diam di salah satu sofa VIP, segelas alkohol tergenggam di tangannya. Tatapannya kosong, seolah semua hiruk-pikuk di sekelilingnya tidak lebih dari latar belakang yang kabur. Ia tidak menari, tidak tertawa, tidak berbincang. Hanya minum. Pelan, terukur, seperti kebiasaannya mengendalikan segalanya.

“Kalo seorang Setya Pradana sudah milih tempat seperti ini, biasanya masalahnya lumayang bikin pusing.”

Suara itu datang bersamaan dengan tubuh Arsen yang menjatuhkan diri di sofa seberangnya. Sahabat lamanya itu menyandarkan punggung, lalu menatap Setya sambil menyeringai tipis. Setya tidak langsung menjawab, hanya mengangkat gelasnya, meneguk isinya sekali lagi.

“Perempuan?” tebak Arsen.

“Bukan,” sahut Setya singkat.

Alis Arsen terangkat. “Wah. Kalo bukan perempuan, berarti parah.”

Setya mendengus pelan. “Tetap perempuan.”

Arsen terkekeh, tapi tawanya cepat mati ketika melihat ekspresi Setya yang sama sekali tidak berubah. Ia meraih botol, menuang minuman ke gelasnya sendiri.

“Gue kira lo udah kebal,” kata Arsen. “Jarang banget ada perempuan yang bisa bikin lo kelihatan... keganggu.”

Setya memutar gelas di tangannya, es di dalamnya berdenting pelan. “Dia membuat saya terganggu.”

“Terus?”

“Dia bikin saya marah.”

Arsen mencondongkan tubuhnya sedikit. “Nah, itu baru menarik.”

Setya menghela napas, rahangnya mengeras. “Perempuan kecil. Badannya aja setengah dari saya. Tapi mulutnya berani, kejam dan tatapannya menantang,” Ia berhenti, seolah memilih kata.

Arsen tersenyum lebar. “Lo ketemu orang yang gak takut sama lo?”

“Itu masalahnya. Semua orang tahu siapa saya. Mereka tahu posisi saya. Tapi dia berdiri di depan saya seolah saya ini... hanya orang biasa,” balas Setya dingin.

“Dan lo gak suka.”

“Saya tidak terbiasa.”

Arsen terkekeh. “Kedengarannya bukan cuma marah.”

Setya melirik tajam. “Jangan mulai.”

“Gue cuma bilang, biasanya lo cuma marah kalo ada sesuatu yang nusuk ego lo,” Arsen mengangkat bahu.

Setya tidak membalas. Ia menenggak minumannya lebih banyak dari biasanya. Malam itu, kepalanya terasa berat, bukan hanya karena alkohol, tapi karena satu wajah yang terus muncul di benaknya. Tatapan tenang, suara datar, dan keberanian yang tidak masuk akal untuk seseorang sekecil itu.

Beberapa gelas kemudian, tubuh Setya mulai kehilangan keseimbangannya. Kepalanya terasa berdenyut, pandangannya sedikit berputar.

“Haduh susah ini kalau mau di gendong juga nggak akan kuat,” keluh Arsen.

Baru saja bertemu, dirinya juga baru pulang dari Swiss sudah harus mengurus satu manusia yang sedang mabuk. Setya Pradana salah satu temannya yang memiliki toleransi rendah pada alkohol. Jadi, meski baru minum beberapa gelas, pasti sudah tepar seperti ini.

“Bantu saya bawa manusia ini ke mobil,” akhirnya Arsen meminta tolong ke salah satu penjaga bar untuk membantu membawa Setya ke mobilnya.

Mobil pria itu biarkan saja di sini, toh juga tidak akan hilang. Selama di perjalanan, Setya terus menggumam betapa marahnya dia pada gadis itu dan juga ada terselip bahwa perempuan itu juga cantik dan tipenya. Kecil, mungil, sedada... lalu apa lagi Arsen tidak ingat yang diucapkan sahabatnya itu.

“Gue keluar bentar. Jangan berani keluar, Setya,” ucap Arsen yang membuat Setya hanya mengangguk samar.

Malam itu, Maura berjalan sendirian menuju minimarket dekat gedung apartemennya. Jam sudah cukup larut, tapi ia hanya ingin sesuatu yang hangat mie instan, mungkin. Hari yang panjang membuat pikirannya lelah.

Maura baru saja melewati pintu otomatis minimarket ketika suara napas dan muntahan terdengar dari sisi parkiran. Langkahnya melambat refleks. Ia melirik ke arah suara itu dan langsung mengenali sosok tinggi yang kini membungkuk di samping sebuah mobil hitam.

Setya Pradana.

Jas mahalnya terbuka, dasinya sudah entah ke mana. Satu tangan menopang kap mobil, tangan lainnya mengepal lemah. Bahunya naik turun tidak beraturan, napasnya berat, lalu kembali terdengar suara muntah yang membuat Maura refleks mengernyit.

Ia ragu untuk beberapa detik.

Bagian rasionalnya berteriak agar ia pura-pura tidak melihat apa pun. Pria itu bukan siapa-siapa baginya- bahkan, kalau jujur, sosok yang seharusnya ia hindari. Namun kakinya sudah terlanjur bergerak mendekat sebelum pikirannya sempat menghentikan.

“Pak?” panggil Maura pelan, menjaga jarak.

Tidak ada respons. Setya hanya terbatuk keras, lalu terdiam beberapa detik seolah mengumpulkan tenaga untuk bernapas. Maura menelan ludah, lalu mendekat setengah langkah lagi.

“Pak Setya?”

Kali ini, pria itu mengangkat wajahnya perlahan. Mata tajam yang biasanya membuat orang lain menunduk kini terlihat buram, merah, dan kehilangan fokus. Tatapannya sempat kosong sebelum akhirnya berhenti tepat di wajah Maura.

“Kamu,” gumamnya lirih.

Maura membeku.

“Bapak sendirian?” tanyanya, berusaha terdengar netral meski dadanya mulai terasa sempit.

Setya tidak menjawab. Tubuhnya justru oleng ke samping, membuat Maura refleks maju dan menahan lengannya. Kesalahan besar.

Berat tubuh Setya jelas bukan sesuatu yang bisa ia imbangi. Pria itu tersandung setengah langkah, lalu tanpa peringatan kepalanya jatuh lunglai di pundak Maura. Nafas hangatnya menerpa lehernya, disertai aroma alkohol yang cukup kuat.

“Pak... Pak Setya,” Maura terkejut.

Tangan Setya terangkat, melingkar di pinggang Maura. Tidak erat, tapi cukup untuk membuat Maura menegang, tubuhnya kaku seperti patung.

“Kepala saya pusing,” gumam Setya.

Maura menahan napas. Tangannya gemetar menahan berat tubuh itu, pikirannya berputar cepat mencari solusi.

“Bapak... saya nggak kuat,” katanya jujur, suaranya sedikit bergetar.

Setya tidak menjawab. Pelukannya justru sedikit mengencang, dahinya kini menempel di sisi leher Maura. Gadis itu membeku total. Jarak sedekat ini membuatnya sadar betapa besar perbedaan tubuh mereka dan betapa rentannya posisinya sekarang.

“Pak Setya. Tolong lepaskan,” ucapnya lebih tegas, meski jantungnya hampir melompat keluar.

Jawabannya hanya dengusan pelan. Maura mulai panik.

“Pak, saya serius. Kalau ada yang lihat...” katanya, mencoba menggeser tubuhnya.

Maura menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan dirinya sendiri lebih dulu sebelum situasi ini benar-benar lepas kendali.

“Pak Setya. Kalau Bapak tidak melepaskan saya, saya akan memanggil orang,” ulangnya, kali ini lebih pelan tapi jelas, dekat telinga pria itu.

Entah karena kata-katanya atau karena kesadaran Setya memang perlahan kembali, pelukan di pinggangnya sedikit mengendur. Kepala pria itu terangkat, meski masih berat, dan ia mengernyit seolah dunia di depannya tidak sejajar.

“Kamu,” gumamnya lagi, nadanya rendah, lebih seperti kebingungan.

“Saya,” jawab Maura singkat.

Maura memanfaatkan celah itu untuk menggeser tubuhnya, melepaskan diri dari dekapan yang barusan membuatnya nyaris tak bisa bernapas lega. Setya terhuyung, nyaris jatuh lagi jika Maura tidak sigap menahan lengannya, kali ini dengan jarak yang lebih aman.

“Bapak sebaiknya duduk atau masuk mobil. Saya nggak bisa menopang Bapak,” katanya tegas, menunjuk ke arah tepi trotoar dekat mobil.

Setya menatapnya beberapa detik, lama, seolah berusaha memfokuskan pandangan. Ada kilat kesal di matanya, mungkin karena ia sadar sedang terlihat lemah di hadapan orang yang sama sekali tidak ia duga akan melihatnya dalam kondisi seperti ini.

“Saya... tidak mabuk,” katanya akhirnya, suara berat dan tidak sepenuhnya meyakinkan.

Maura menghela napas pendek. “Bapak muntah lima menit yang lalu.”

Kalimat itu membuat Setya terdiam. Ia menoleh ke samping, rahangnya mengeras, lalu mendengus pelan. Tanpa membantah lagi, ia menurut saat Maura mengarahkannya duduk di kursi penumpang mobil.

Pintu Maura biarkan terbuka, hanya untuk menjaga pria yang kini bersandar lemah dengan bagian basah di kemejanya.

“Supir Bapak?” tanyanya akhirnya.

Setya menyandarkan kepala ke sandaran kursi, memejamkan mata. “Teman saya... pergi sebentar.”

Maura melirik sekeliling parkiran yang mulai sepi. Perasaan tidak nyaman itu belum sepenuhnya hilang, tapi meninggalkan pria ini sendirian dalam kondisi seperti itu juga terasa salah.

“Saya tunggu sebentar saja. Habis itu saya pergi,” ujarnya, lebih pada dirinya sendiri.

Setya membuka mata, menatapnya lagi. Untuk pertama kalinya malam itu, ekspresinya bukan marah atau terganggu, melainkan sesuatu yang sulit Maura tafsirkan.

“Kamu selalu... seperti ini?” tanyanya tiba-tiba.

“Seperti apa, Pak?”

“Berani,” jawab Setya singkat.

Maura menahan diri agar tidak mendengus. “Saya cuma nggak suka orang pingsan di depan saya.”

Sudut bibir Setya bergerak tipis, hampir seperti senyum yang gagal terbentuk. Beberapa detik kemudian, langkah kaki terdengar mendekat.

“Setya!” suara Arsen terdengar lega sekaligus panik. “Gila, gue tinggal bentar-”

Kalimatnya terhenti saat melihat Maura berdiri di samping mobil. Pandangannya bergantian antara Maura dan Setya, alisnya terangkat tinggi.

“Oh, oke. Ini... menarik,” katanya pelan.

Maura segera melangkah mundur. “Teman Bapak sudah datang. Saya pergi dulu.”

Setya tidak menahannya. Hanya menatap punggung Maura yang menjauh dengan tatapan yang Arsen sendiri belum pernah melihatnya.

1
Anita Optik Agung Riana
aduh thorrr cepat lanjut.😄😄.penasarannn
Laily Hayati
keren jalan ceritanyapenulisan kata2nya juga runtut dan mudah dipahami,gak lebay.,beda dengan alur novel lain. lbh manusiawi. sukses selalu outhor
Anita Optik Agung Riana
cerita yg bagus.alur yg jelas dan tidak menye menye
Anita Optik Agung Riana
aduhhh jgan lama lama Thor update nya.makin seru.semoha sukses thor
Karrr
baguss👍👍
Siti Jul
kejam ih
Siti Jul
setya emang sebegitu dinginnya ya. jangan dingin dingin atuh
Siti Jul
ini baguss bett
Siti Jul
sukaaa
Maulida Ana
awwww
Maulida Ana
uhhh udah mulai dag dig dug nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!