Keinginan Zella, dia ingin tetap menjalani kehidupan tenang dan damainya dengan status janda. Namun hal itu terbentur oleh keadaan yang memaksanya harus menjadi istri kedua pria yang tak dia kenal. Zella dipaksa keadaan masuk dalam rumah tangga orang lain.
Hal ini sangat Zella benci, biduk rumah tangganya dulu hancur karena orang ketiga, namun kini dirinya malah jadi yang ketiga. tapi Zella tak berdaya menolak keadaan ini.
Akankah kehidupan damai berpoligami bisa Zella jalani dengan keluarga barunya? Ataukah malah masuk ke dalam sebuah neraka yang tak berdasar? Ataukah ada keajaiban yang membuka jalan pilihan lain untuk Zella, agar tak masuk dalam paksaan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Otw Batal
Abi merasa usulan Zella untuk membatalkan pernikahan ini sangat masuk akal. Abi merasa Zella tak menyukainya dan tak menginginkan pernikahan ini terjadi. Bahkan Zella yang dirasa Abi begitu judes, dingin, ditambah sangat menyebalkan. Hal ini membuat Abi berpikir untuk mengganti calon istri. Abi kehilangan selera makannya. Dia mengambil serbet yang ada di pangkuannya, lalu menaruhnya di sisi piringnya.
"Ibu, aku izin untuk istirahat dulu. Maaf bu, seketika aku merasa pusing." Tak menunggu jawaban dari ibunya, Abi mengoperasikan tuas pengendali kursi rodanya, kursi itu perlahan meluncur meninggalkan ruang makan.
Kepergian Abi membuat Anjani dan Arumi sangat khawatir. Bagaimana pun matangnya rencana mereka susun, tapi akhirnya semua kendali pada Abi. Anjani tak bisa sabar lagi, dia juga mengendalikan kursi rodanya pergi dari ruangan itu.
Anjani berhasil menyusul Abi yang terlihat masuk ke kamarnya. Anjani langsung mendekati laki-laki itu. "Mas--"
"Ku rasa tunda dulu urusan pernikahanku dengan Zella. Mungkin lebih baik kau carikan wanita lain yang lebih mudah diatur!" ucap Abi.
"Tak mudah usahaku membujuk Zella untuk menerima tawaran ini, dengan mudahnya kamu meminta ganti orang atau membatalkannya." ucap Anjani. Jawaban Abi membuatnya sangat frustasi.
"Kau ingin membuat suamimu ini mati karena hipertensi sebab ulah istri barunya??" Nada bicara Abi meninggi.
Anjani menunduk sedih, air mata bawang itu perlahan menetes.
Bukan itu tujuanku mendatangkan Zella. Tapi kalau kau mati karena tersulut emosi akibat ulah Zella ini sangat bagus.
Anjani tetap memasang wajah sedihnya, walau dia bahagia mendengar keluhan Abi sebelumnya. "Bagaimana aku jelaskan padamu seyakin apa aku pada Zella? Aku sangat yakin kau aman bersama Zella." ucap Anjani.
"Aman? Tapi kenapa rasanya jalan menuju kematian terasa lebih dekat jika dekat dengannya!" Rasanya Abi ingin melampiaskan kemarahannya pada sesuatu. Namun kini di kamarnya tak terlihat benda yang bisa dilempar, semua sudah habis dibantingnya.
Anjani merasa sesak sendiri. Dia tak tahu harus membujuk Abi dengan kalimat apa. "Zella tak seburuk yang terlihat, lihat saja Rihana. Selama ini dia tak pernah mau melihatku, tapi dia mau berbicara dengan Zella. Ku rasa itu sisi baik yang sangat nampak." Anjani merasa bangga dengan kata-katanya barusan. Rihana salah satu kunci pertimbangan Abi.
"Itu hanya kebetulan. Saat Rihana tahu kalau Zella calon ibu sambungnya, expresinya juga langsung berubah." Abi memandang sendu kearah foto pernikahannya dengan mendiang Fatma yang masih menghiasi dinding kamarnya.
"Kala Fatma mencarikan istri kedua buatku, dia memikirkan bagaimana pendapatku. Sedang kamu? Kamu hanya memikirkan pendapatmu." Abi melirik sekilas kearah Anjani, sedetik kemudian matanya kembali memandangi foto Fatma.
"Kau sangat tak terima saat aku minta ganti orang, padahal aku tak menolak permintaanmu untuk menikah lagi, usulku hanya ganti orang. Tapi lihat sekarang apa yang kamu perjuangkan? Ambisimu atau kenyamananku?"
Anjani merasa sangat terpukul dengan kata-kata Abi. Wajahnya menunduk lesu, namun otak dan hatinya terus menyusun rencana. Rencana pertama memuluskan jalannya pernikahan ini, atau mengulang strategi lagi untuk mencari wanita lain. Dengan putus asa jemari tangan Anjani menyentuh tuas kemudi kursi rodanya. Perlahan kursi roda itu meluncur menuju pintu.
Tepat di tengah pintu, Anjani menghentikan kursi rodanya. "Kak Fatma sosok terbaik bagimu. Sebaik apa pun aku atau Zella, kami tak akan sepadan jika dibandingkan dengan mendiang Kak Fatma. Andai aku boleh angkuh, dengan keangkuhanku ku katakan tak seorang pun bisa menandingi Kak Fatma di hatimu." Anjani pergi begitu saja meninggalkan Abi yang termenung karena perkataanya barusan.
***
Di ruang makan.
Karena keadaan terlihat sepi, perlahan Rihana memasuki area itu. Ayahnya tak terlihat, ibu sambungnya juga tak ada. Di sana hanya ada Zella dan Neneknya.
"Ada apa Rihana?" sapa Melvita.
"Yang lain mana Nek? Sudah selesai pembahasan rencana pernikahan Ayah?" Rihana mengamati keadaan sekitar, mencari sosok yang lain.
"Sudah selesai. Kemungkinan pernikahan Ayahmu dibatalkan. Karena Ayahmu tak menyukai ibu Zella."
"Ibu? Aku nggak manggil dia ibu, tapi bunda!" Rihana tersenyum meledek pada Zella.
Sedang Zella meringis menahan malu, teringat kecerobohan sebelumnya. "Ishhh, jangan diingetin ... tante malu sendiri kalau ingat itu."
"Bunda? Nenek nggak nyangka cucu nenek udah akrab sama calon mama barunya." ucap Melvita.
"Bukan calon mama bu, kan otw batal," sambar Zella.
"Nanti aku ceritain nek asal usul si bunda ini muncul." Rihana mengambil tempat duduk di samping neneknya. "Tante. Aku dibuat kagum sama tante untuk kedua kalinya! Aku sangat-sangat-sangat kagum sama tante. Biasanya perempuan diminta jadi istri Ayahku, mereka akan melakukan apa saja demi menyenangkan Ayah. Sedang tante malah melakukan apa saja agar Ayahku kesal, wah luar biasa!" Rihana kegirangan sambil bertepuk tangan memberi penghargaan pada Zella.
Melvita baru saja membuka mulut, ingin bertanya kapan Rihana dan Zella bertemu. Namun deringan handphone membuatnya harus menahan pertanyaan itu. Melihat identitas pemanggil khusus, Melvita pamit menjauh untuk menerima telepon.
"Ku dengar tante dipaksa menerima pernikahan ini, andai ada jalan lain, apakah Tante akan tetap menerima tawaran pernikahan ini?" tanya Rihana.
Zella menggeleng pelan. "Maaf, aku tidak menginginkan pernikahan ini bukan karena merasa Ayahmu tidak baik. Tapi keinginan tante sejak dulu tante ingin sendiri dan fokus menjaga dan membahagiakan anak Tante.
Rihana mengangguk-angukan kepalanya mendengar jawaban Zella. "Aku sempat kecewa sama Tante Zella saat aku tahu tante calon ibu tiriku. Tapi saat aku mengetahui tante dipaksa untuk masuk ke rumah ini, aku merasa aku egois jika menyalahkan tante. Tante juga tak menginginkan hal ini., kenapa aku marah dan kecewanya sama tante, itu tak adil bukan?"
"Andai nanti pernikahan tetap terjadi, tante nggak akan maksa kamu buat nerima tante. Kamu memaklumi keadaan tante saja tante sangat bahagia."
"Aku mulai benci sama diriku sendiri, kenapa aku mudah menyukai tante? Aku merasa tante sangat berbeda dengan calon ibu sambung yang Nenek datangkan selama ini."
"Ternyata banyak yang sayang dengan Ayahmu. Sampai Nenek dan ibu Anjani berlomba mencarikan pendamping lagi untuk Ayahmu. Tante jadi merasa bersalah kalau kekeh menolak, karena dilihat dari usaha mereka Ayahmu pasti sangat baik!"
"Aku benci dia! Aku tak peduli dia baik atau jahat!"
"Apa?" Zella syok mengetahui kebencian Rihana pada Abi.
"Ayah tak menyukai aku dan Rayhan!"
"Itu tak mungkin Rihana. Orang tua mana yang tak menyukai anaknya."
"Ceritanya panjang, yang jelas aku merasakan sendiri Ayah tak suka kami."
"Tante sulit percaya hal ini, sebab tante yang bukan siap-siapa kamu saja tante sangat suka padamu."
"Dulu aku berusaha menerima kenyataan ini, tapi melihat bagaimana Ayah bersikap pada ibuku dan pada Anjani begitu berbeda! Ibu berjuang sendiri sedang Anjani begitu diperhatikan."
"Kebencianku semakin besar saat ibuku kecelakaan, Ayah tak datang tapi malah sibuk dengan wanita itu!."
Zella bingung harus berkomentar apa. Dirinya tak tahu keadaan sebenarnya yang membuat Rihana sakit hati seperti ini. Sulit untuk memihak, apakah ada kesalah fahaman antara Rihana dan Ayahnya, atau Rihana seperti Tifa yang juga sakit hati saat cinta Ayah mereka tertuju untuk wanita baru.
"Aku semula hanya kesal padanya, tapi kekecewaan itu terus Ayah beri padaku, Ayah selalu memilih bersama Anjani, bahkan saat ibu melahirkan Rayhan, Ayah pergi berdua dengan wanita itu. Rasa kecewa dan benciku pada mereka berdua semakin besar kala itu."
Zella perlahan mendekati Rihana. Menepuk pundak anak remaja itu, berusaha menguatkan mentalnya. "Tante tidak tahu bagaimana besarnya rasa kecewa dan sakitnya kamu selama ini, tapi bolehkah tante peluk kamu?"
Rihana menangis dan langsung masuk kedekapan Zella.
Zella berusaha menahan air matanya, melihat Rihana sehancur ini, dia terbayang masa kelam hidupnya, saat Tifa menangis kehilangan sosok Ayah dan rasa takut saat Tifa mengatakan benci pada Ayahnya.
Di sisi lain rumah itu.
Setelah meninggalkan kamar Abi, Anjani mengoperasikan kursi rodanya menuju kamarnya. Di sana terlihat Arumi yang sibuk dengan handphonenya.
"Abi kekeh ingin mengganti calon istri, Abi tak menyukai Zella! Katanya ganti orang atau buang jauh-jauh rencana poligami itu." Anjani sangat putus asa dengan keputusan Abi.
"Kita mau bagaimana Kak? Lagian Zella benar. Dia hanya dituntut menerima tawaran kita, sedang keputusan tetap ada pada Abi."
"Bangsat!!" Anjani emosi dan meluapkannya dengan memukul keras bantalan tangan di kursi rodanya.
***
Bersambung.
***
Apakah pernikahan paksa itu akan batal karena ketidak setujuan Abi?