"Menjadi adik dari 7 megabintang dunia adalah satu hal, tapi menjadi penulis misterius yang diperebutkan oleh 4 pangeran kampus sambil menyamar jadi siswi biasa adalah tantangan yang sesungguhnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kde_Noirsz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 : Deburan Ombak dan Jejak di Pasir
Pagi buta di Mansion Kim sudah diwarnai dengan hiruk-pikuk yang luar biasa. Aira yang biasanya sulit bangun pagi, hari ini sudah melompat-lompat di ruang tengah dengan mengenakan sundress berwarna kuning cerah dan topi pantai lebar yang ada pita besarnya. Ia terlihat sangat menggemaskan, seperti anak kecil yang akan pergi piknik pertama kalinya.
"Kak Jin! Mana sunblock Aira? Kak Kookie, tolong bawain tas kamera Aira yang ada stiker beruangnya!" teriak Aira dengan suara cemprengnya yang manja.
Jungkook datang dengan wajah yang sangat masam, menyeret tas ransel yang isinya penuh dengan peralatan darurat. "Ini. Tapi ingat ya, jangan lepas jaket kalau anginnya kencang. Jangan main air kalau Guanlin nggak pegangin tanganmu. Dan jangan..."
"Jangan makan es krim terlalu banyak, jangan lari-lari nanti jatuh, jangan ini, jangan itu. Iya, Kak Kookie sayang, Aira sudah hafal!" Aira langsung memotong omongan Jungkook dan memeluk pinggang kakaknya itu, menyandarkan kepalanya di dada bidang Jungkook. "Jangan cemberut terus dong, nanti wajah ganteng Kakak hilang."
Seokjin keluar dari dapur membawa tiga tas pendingin berukuran besar. "Ini isinya bekal. Ada sandwich lobster, buah-buahan yang sudah dikupas, jus jeruk segar, dan sup hangat di dalam termos kalau-kalau kau kedinginan. Guanlin harus memastikan kau makan semua ini!"
Tiba-tiba, suara klakson mobil sport terdengar dari depan gerbang. Guanlin datang dengan penampilan yang sangat santai namun sangat tampan dengan berpadu kaos putih polos, celana pendek krem, dan kacamata hitam. Ia turun dari mobil dan membungkuk hormat pada para harimau yang sudah berdiri berjajar di teras.
"Aku menjemput Aira untuk riset lokasi di Pantai Naksan," ucap Guanlin tegas.
Yoongi mendekati Guanlin, menatapnya dengan pandangan yang bisa membekukan air laut. "Satu lecet saja di lututnya, kau tidak akan pernah melihat naskah Miss KA lagi seumur hidupmu. Mengerti?"
Guanlin mengangguk mantap. "Aku mengerti, Kak Yoongi. Aku akan menjaganya seperti nyawaku sendiri."
Aira langsung berlari ke arah Guanlin dan menggandeng lengannya dengan manja. "Ayo Kak Guanlin! Keburu mataharinya terlalu tinggi!" Aira melambaikan tangan pada kakak-kakaknya yang menatap kepergian mobil itu dengan wajah cemas seolah sedang melepas anak ayam ke sarang serigala.
Di dalam mobil, suasana terasa sangat berbeda. Hanya ada Aira dan Guanlin, tanpa pengawasan langsung dari kakak-kakaknya atau gangguan dari Sunoo dan Heeseung. Musik akustik lembut mengalun dari speaker mobil, menciptakan suasana yang sangat intim.
Aira duduk sambil memangku tas kecilnya, ia terus melihat ke arah jendela dengan binar mata yang bahagia. "Kak Guanlin... makasih ya sudah ajak Aira ke pantai. Aira udah lama banget nggak lihat laut sejak sibuk nulis naskah Miss KA."
Guanlin melirik Aira sekilas, senyum tipis terukir di wajahnya yang biasanya kaku. "Aku ingin kau mencari inspirasi dari deburan ombak, Aira. Adegan pertemuan terakhir di film kita harus terasa sangat emosional, dan aku rasa pantai adalah tempat yang paling pas."
"Tapi Kak... Aira sebenernya takut kalau nanti naskahnya nggak sesuai dengan ekspektasi Kakak," rengek Aira tiba-tiba, mode mood swing malunya muncul. Ia memutar-mutar ujung rambutnya. "Aira kan cuma penulis rumahan yang manja..."
Guanlin tiba-tiba menghentikan mobilnya di bahu jalan yang sepi. Ia melepas kacamata hitamnya dan berbalik menatap Aira dengan sangat serius. "Aira, dengerin aku. Kau bukan 'cuma' penulis rumahan. Kau adalah Miss KA yang bisa menggerakkan emosi jutaan orang lewat kata-katamu. Dan bagiku... kau adalah satu-satunya orang yang bisa membuatku ingin bekerja keras membuat film yang sempurna."
Ia menggenggam tangan Aira yang mungil. "Berhentilah meragukan dirimu sendiri. Aku di sini bukan cuma sebagai sutradara, tapi sebagai orang yang mengagumi setiap sisi darimu."
Aira terpaku, wajahnya memanas hingga ke telinga. Ia merasa jantungnya hampir melompat keluar. "Kak Guanlin... gombalnya level sultan ya," bisik Aira sambil menyembunyikan wajahnya di bahu Guanlin. Guanlin hanya tertawa pelan dan mengacak rambut Aira sebelum melanjutkan perjalanan.
Sesampainya di Pantai Naksan, udara laut yang segar langsung menyambut mereka. Pantai itu cukup sepi karena ini hari kerja. Aira langsung melepas sandalnya dan berlari kecil ke arah pasir putih, membuat jejak kaki mungil yang sangat lucu.
"Waaa! Pasirnya lembut banget!" seru Aira kegirangan. Ia berlari-lari kecil sambil mengangkat sedikit ujung gaunnya agar tidak terkena air laut.
Guanlin berjalan di belakangnya, membawa kamera profesional untuk mengambil beberapa foto referensi lokasi. Namun, lensanya lebih sering menangkap sosok Aira yang sedang tertawa lebar daripada menangkap pemandangan laut. Baginya, Aira adalah objek paling estetik yang pernah ia lihat.
"Aira, coba berdiri di sana, dekat karang besar itu. Bayangkan kau sedang menunggu seseorang yang kau cintai tapi dia tidak akan pernah datang," instruksi Guanlin.
Aira langsung mengubah ekspresinya. Ia berdiri di dekat karang, menatap cakrawala dengan pandangan sayu dan penuh kerinduan. Di saat itulah, ia benar-benar terlihat seperti Miss KA yang jenius. Namun, tiba-tiba sebuah ombak besar datang dan membasahi kaki Aira.
"Kyaaa! Dingin!" Aira kaget dan kehilangan keseimbangan.
Guanlin dengan sigap meletakkan kameranya di pasir dan berlari menangkap Aira sebelum ia terjatuh. Aira berakhir di pelukan Guanlin, kedua tangannya melingkar di leher pria itu. Nafas mereka terengah-engah, wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter.
"Kan sudah kubilang, hati-hati," bisik Guanlin dengan suara rendah yang sangat seksi.
Aira menatap mata Guanlin, ia merasa terhipnotis. "Kak... peluknya kencang banget, Aira susah napas..." rengek Aira manja, meskipun ia tidak berusaha melepaskan diri.
Tanpa mereka sadari, sekitar 50 meter dari sana, di balik sebuah tenda payung biru besar, Jungkook dan Jimin sedang bersembunyi mengenakan pakaian penyelam lengkap dengan sirip kaki (flippers) dan masker selam agar tidak dikenali.
"Tuh kan! Apa kubilang! Pelukan!" bisik Jungkook emosi sambil mencoba memotret dengan kamera jarak jauh.
"Sabar Kook, kita harus pastikan ini bagian dari riset akting atau bukan!" sahut Jimin yang kesulitan bernapas karena masker selamnya terlalu kencang.
Aira yang tiba-tiba merasa ada sesuatu yang aneh di kejauhan, menoleh ke arah tenda biru itu. "Kak Guanlin, kayaknya ada lumba-lumba yang pakai kacamata selam di sana deh?"
Guanlin melirik ke arah tenda dan langsung tahu siapa itu. Ia mendesah pelan namun tersenyum licik. Ia justru semakin mengeratkan pelukannya pada Aira. "Abaikan saja lumba-lumbanya, Aira. Fokus padaku saja."
Setelah lelah berlarian di bibir pantai dan menghindari "lumba-lumba" misterius yang dicurigai Aira, mereka memutuskan untuk beristirahat di sebuah gazebo kayu yang menghadap langsung ke arah cakrawala. Angin laut bertiup lebih tenang, membawa aroma garam yang segar. Guanlin mengeluarkan beberapa bekal yang sudah disiapkan Jin, namun perhatian Aira justru teralihkan pada tatapan Guanlin yang mendadak kosong saat menatap gulungan ombak.
Aira duduk menyamping, melipat kakinya, dan menatap Guanlin dengan rasa ingin tahu yang besar. Ia menarik ujung kemeja Guanlin pelan, meminta perhatian. "Kak Guanlin... boleh Aira tanya sesuatu?"
Guanlin menoleh, senyum tipis kembali ke wajahnya. "Tentu, Tuan Putri. Mau tanya soal naskah lagi?"
"Bukan," Aira menggeleng pelan, wajahnya berubah serius namun tetap imut. "Aira mau tanya tentang Kak Guanlin... yang dulu. Sebelum Kakak memutuskan jadi sutradara. Kenapa Kakak berhenti jadi idol? Padahal Kakak dulu sangat bersinar di panggung."
Guanlin tertegun. Ia meletakkan botol air minumnya perlahan. Ia tidak pernah suka membahas masa lalunya sebagai idol global, karena baginya itu adalah masa di mana ia merasa seperti robot yang dikendalikan oleh industri. Namun, menatap mata Aira yang jernih dan penuh empati, benteng pertahanannya runtuh.
"Dulu... saat aku masih menjadi idol," Guanlin memulai dengan suara rendah, nyaris tenggelam oleh suara ombak. "Aku merasa dunia ini sangat kecil. Aku berada di atas panggung dengan ribuan lampu yang menyorotku, tapi aku tidak bisa melihat siapa pun. Aku hanya mendengar teriakan, tapi aku merasa kesepian. Setiap gerakanku diatur, setiap kata yang kuucapkan harus sesuai skrip, bahkan senyumku pun ada hitungannya."
Ia menghela napas panjang, matanya tampak sedikit basah. "Orang-orang melihatku sebagai 'Sultan' yang sempurna, tapi di dalam, aku merasa kosong. Aku kehilangan privasi, aku kehilangan teman, dan aku kehilangan diriku sendiri. Aku lelah menjadi objek yang hanya dinilai dari wajah dan angka penjualan. Itulah kenapa aku memilih berada di belakang kamera sekarang. Aku ingin menciptakan dunia, bukan hanya menjadi pajangan di dalamnya."
Aira merasa hatinya tersayat mendengar keluh kesah Guanlin. Ia tidak menyangka di balik kekayaan dan ketampanan pria ini, tersimpan luka yang begitu dalam. Tanpa ragu, Aira bergeser mendekat dan memeluk lengan Guanlin, menyandarkan kepalanya di bahu pria itu.
"Kak... makasih ya sudah bertahan sampai sekarang," bisik Aira manja namun tulus. "Di mata Aira, Kak Guanlin yang sekarang jauh lebih bersinar karena Kakak jadi diri sendiri. Kalau Kakak capek, Kakak boleh manja ke Aira. Aira bakal dengerin semua cerita Kakak."
Guanlin terdiam, lalu ia menyandarkan kepalanya di atas kepala Aira. Untuk pertama kalinya, ia merasa beban di pundaknya sedikit terangkat karena seorang gadis kecil yang jenius ini.
Waktu menunjukkan pukul satu siang, dan perut Aira mulai berbunyi sangat keras, membuat suasana melankolis tadi pecah oleh tawa Guanlin. "Sepertinya naskah kita butuh asupan makanan agar penulisnya tidak pingsan," goda Guanlin.
Mereka pindah ke sebuah restoran seafood privat di pinggir pantai yang sudah dipesan Guanlin. Meja mereka berada di balkon yang menjorok ke arah laut. Berbagai hidangan laut segar mulai berdatangan kepiting saus tiram, udang bakar madu, hingga sup kerang yang mengepul hangat.
"Aira mau kepitingnya! Tapi Kakak kupasin ya... Aira nggak mau tangan Aira kotor, nanti susah ngetik naskahnya," rengek Aira dengan gaya manja tingkat dewa.
Guanlin hanya bisa pasrah. Dengan telaten, ia mengupas cangkang kepiting yang keras dan memberikan dagingnya yang lembut ke atas piring Aira. "Hanya untukmu, aku rela jadi pengupas kepiting pribadi."
Aira tersenyum lebar dan membuka mulutnya. "Aaa... suapin, Kak!"
Saat Guanlin sedang menyuapi Aira, tiba-tiba di jendela balkon muncul sebuah kepala yang memakai masker selam dan pipa snorkel. Itu adalah Jungkook yang mencoba memanjat dari bawah balkon untuk mengintip. Di belakangnya, Jimin memegangi kaki Jungkook agar tidak jatuh ke air.
Aira tersedak udangnya saat melihat mata Jungkook melotot dari balik kacamata selam yang berembun. "Uhuk! Uhuk! Kak Guanlin... itu... itu lumba-lumba yang tadi ada di sini lagi!"
Guanlin menoleh dan langsung berdiri. Ia mengambil sepotong jeruk nipis dan memerasnya tepat ke arah pipa snorkel Jungkook.
"ARGHHH! ASAMMM!" teriak Jungkook tertahan sambil merosot jatuh ke bawah balkon bersama Jimin. BYURRR! Suara deburan air terdengar keras menandakan kedua "penyelam" itu jatuh ke laut.
Aira tertawa terbahak-bahak sampai memegangi perutnya. "Kak Guanlin jahat banget! Kasihan 'lumba-lumbanya' pasti perih!"
"Mereka butuh pelajaran agar tidak mengganggu kencan... maksudku, diskusi naskah kita," ujar Guanlin santai sambil kembali duduk dan menyeka saus di sudut bibir Aira dengan ibu jarinya. "Lupakan mereka. Selesaikan makanmu, setelah ini kita akan mengambil adegan matahari terbenam."
Sore hari tiba, dan langit Pantai Naksan berubah menjadi kanvas berwarna jingga, ungu, dan merah muda. Pemandangannya begitu indah hingga membuat Aira terkesima. Mereka berjalan perlahan di sepanjang garis pantai, di mana air laut sesekali menyapu kaki telanjang mereka.
Guanlin mengarahkan kameranya ke arah matahari, lalu beralih ke arah Aira. Siluet Aira dengan gaun kuningnya yang tertiup angin tampak sangat puitis.
"Aira, di adegan terakhir nanti, aku ingin tokoh utamanya menyadari bahwa meskipun matahari terbenam dan kegelapan datang, dia akan selalu punya alasan untuk kembali keesokan harinya. Karena ada seseorang yang menunggunya," ucap Guanlin sambil menurunkan kameranya.
Ia berdiri tepat di hadapan Aira. Sinar matahari terbenam membuat wajah Guanlin terlihat sangat hangat dan lembut. "Sama seperti aku. Sejak bertemu denganmu dan mengenal dunia Miss KA, aku merasa punya alasan untuk tidak lagi membenci dunia hiburan ini. Kau membuatku ingin kembali 'bersinar', tapi dengan caraku sendiri."
Aira menatap mata Guanlin, ia merasa ada sesuatu yang bergetar di dalam hatinya. Rasa manja yang biasanya ia gunakan sebagai tameng, kini terasa seperti rasa sayang yang nyata. Ia menggenggam kedua tangan Guanlin. "Kak... Aira janji bakal tulis akhir cerita yang paling bahagia buat Kakak. Bukan cuma di film, tapi di kehidupan nyata juga."
Guanlin menarik Aira ke dalam pelukannya. Kali ini, tidak ada kamera tersembunyi, tidak ada Jungkook yang mengintip, hanya ada suara ombak yang menjadi saksi. Ia mencium kening Aira dengan sangat lama. "Terima kasih, Aira. Mari kita selesaikan film ini, dan mari kita mulai cerita kita sendiri."
Aira menyandarkan wajahnya di dada Guanlin, merasa sangat aman dan dicintai. Namun, di dalam hatinya, ia juga tahu bahwa saat mereka kembali ke Seoul nanti, tantangan dari pangeran lain Sunoo, Heeseung, dan Eunwoo pasti akan jauh lebih berat. Tapi untuk saat ini, di pantai ini, Aira hanya ingin menjadi Aira milik Guanlin.
Di kejauhan, Jungkook dan Jimin yang basah kuyup sedang berjalan di pinggir pantai dengan sirip kaki yang masih terpasang, meratapi nasib mereka yang gagal total menghalangi momen romantis itu. "Kak Jin bakal marah banget kalau lihat foto pelukan tadi..." gumam Jungkook lemas.
📢 BAPER PARAH! 😍 Guanlin akhirnya terbuka soal masa lalunya yang kelam sebagai idol, dan Aira jadi penyembuh hatinya. Tapi 'lumba-lumba' Jungkook dan Jimin kayaknya nggak bakal nyerah gitu aja! 😂
👇 VOTE [A] Guanlin-Aira Couple Goals! | [B] Tim Abang Protektif Jungkook-Jimin! | [C] Aira harus dengerin keluh kesah Sunoo juga!
💬 KOMEN : Menurut kalian, apa reaksi Jin pas lihat Jungkook dan Jimin pulang dalam keadaan basah kuyup dan gagal dapet foto? 😂
🔔 SUBSCRIBE & FAVORITE! Bab 15 bakal ada adegan syuting pertama di sekolah yang penuh drama!
⭐ KASIH RATING 5 STARS biar film Aira dan Guanlin dapet penghargaan Oscar!
BehindTheSpotlight #MangaToonRomance #GuanlinPast #IdolLife #BeachRomance #AiraManja #ProtectiveBrothers