Zhen Nuo editor di salah satu platform novel online. Secara tidak sengaja terjebak di dalam dunia novel yang penuh intrik pernikahan. Dengan semua kemampuannya ia berusaha merubah takdirnya sebagai pemeran pendukung. Yang akan terbunuh di bab kedua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kediaman pejabat Yu
Kain penutup jendela kereta di sibak. "Naik kereta membuatku sangat mual. Kapan kita akan sampai?" Selir Yu terus memijat perutnya yang sudah menahan muatannya.
"Selir Yu, sebentar lagi kita akan sampai." Pelayan wanita menjawab dari kemudi.
"Yuhhh..."
Kekang kuda di tarik tepat di saat kereta telah berada di depan pintu masuk kediaman Yu.
"Selir Yu, kita sudah sampai." Pelayan wanita turun terlebih dulu untuk menata pijakan.
Dengan hati-hati Selir Yu turun dari kereta.
Dari arah pintu masuk seorang Nyonya berjalan mendekat. Sanggul di kepalanya di penuhi manik-manik yang indah. Dengan tusuk konde yang berkilau ada di samping kanan dan kiri. "Putriku." Wajahnya berseri melihat putri pertamanya datang.
Di belakangnya, dua wanita dengan gaun lebih sederhana berjalan berdampingan. Mereka juga ikut tersenyum melihat Nona pertama kediaman Yu kembali.
"Putri kakak semakin cantik."
"Qianlu cantik sejak lahir karena mengikuti wajah Ibunya."
Kedua Selir kediaman Yu mencoba berebut simpati kepada Nyonya utama. Dengan memberikan pujian untuk putri yang di sayanginya.
"Ibu." Selir Yu memberikan salam kepada Ibunya, juga kedua selir ayahnya.
"Putriku." Nyonya Bai meraih tangan lembut putrinya. "Kau pasti lelah." Melihat kesekeliling. "Di mana semua pelayan mu? Kenapa kau datang hanya dengan satu pelayan?"
"Aku meminta mereka untuk libur satu hari. Besok mereka akan datang menyusul," ujar Selir Yu.
"Putriku selalu saja memiliki hati yang lembut. Bahkan para pelayan juga kau kasihi," kata Nyonya Bai. Dia menarik putrinya masuk kedalam kediaman. "Apa kau sudah berhasil mendapatkan hati Yang Mulia?"
Selir Yu diam.
"Ada begitu banyak wanita di sisi Yang Mulia. Kau harus lebih bersemangat agar bisa segera meraih hatinya. Posisi Permaisuri pasti akan menjadi milikmu." Langkah Nyonya Bai cukup pelan.
"Tidak ada wanita yang cantiknya melebihi Selir Yu. Tentu saja Yang Mulia akan memilihnya untuk menjadi Permaisuri. Nyonya tenang saja," Ibu Selir Mu Jiang menambahkan.
Ibu Selir Yang Xing menatap sinis kearah wanita di sampingnya yang terlebih dulu mendahului perkataannya.
Dari arah lain pelayan pria mendekat. "Nyonya, Selir Yu, Selir Yang, Selir Mu. Tuan besar ingin bertemu dengan Selir Yu."
"'Qianlu, kau temui Ayahmu terlebih dulu. Nanti Ibu akan datang lagi," ujar Nyonya Bai yang langsung berpamitan dengan putrinya.
Selir Yu mengikuti pelayan pria yang tengah berjalan di depannya. Dia di arahkan menuju kesalah satu ruangan yang ada di halaman bagian selatan. Tempat di mana Tuan besar Yu berada.
Tokkk...
Pelayan pria itu mengetuk pintu tiga kali. "Tuan besar, Selir yu telah datang."
"Biarkan dia masuk," ujar Tuan Yu Wangyi dari dalam ruangan.
Selir Yu masuk menemui Ayahnya yang telah menantinya sejak tadi. "Ayah." Memberikan salamnya.
Tuan Yu Wangyi bangkit dari tempat duduknya. Dia berjalan menuju kursi yang ada di tengah-tengah ruangan itu. "Duduk."
"Baik." Selir Yu duduk tepat di depan Ayahnya.
Pelayan pria masuk menyiapkan api dalam tungku. Setelah selesai, pelayan pria itu pergi kembali.
Tuan Yu Wangyi mulai menyiapkan teko berisi air. Dia meletakkannya di atas tungku yang telah membara. "Setahun lebih tapi kau masih juga belum mendapatkan hati Yang Mulia. Kau yang memaksaku untuk tidak mengirim adik mu. Tapi kau bahkan tidak pecus melakukan pekerjaan yang mudah. Hanya memikat hati Kaisar sehingga bisa mendapatkan posisi Permaisuri. Namun kau tidak mampu."
Api dalam tungku terus berkobar membakar benda yang ada di atasnya.
Tutup teko di buka. Tuan Yu Wangyi memasukkan beberapa lembar daun teh hijau di dalamnya. "Aku akan mengirim adik mu ke dalam istana. Dengan kemampuannya bermain alat musik. Dia pasti lebih mampu memenangkan hati Yang Mulia."
Selir Yu masih diam mencerna semua ucapan yang dapat ia terima. 'Apa ini kehidupan seorang Nona pertama yang di sayang? Semua orang hanya mementingkan kedudukan dari pada kebahagiaan putri mereka sendiri.'
Dua cangkir bersih di letakkan di depan pria paruh baya itu. Ia tuangkan teh panas kedalamnya. "Sudah cukup bagi mu untuk berada di posisi ini. Kau cari cara untuk dapat keluar dari istana." Gerakan tangannya terhenti. Tuan Yu Wangyi menatap kearah putrinya. "Aku harap kau bisa segera menyerahkan kedudukan mu ini kepada adik mu, Yu Jian."
Teko teh di letakkan kembali di atas tungku yang membara. Ia berikan salah satu cangkir teh yang ada di depannya kepada putrinya. Dan satu cangkir lainnya ia tempatkan di dekatnya.
Mendengar setiap ucapan pria di depannya. Rasa sakit menekan hati Selir Yu. Seperti tusukkan pedang datang menancap semakin dalam. Dan rasa kecewa membabat habis batinnya. 'Sepertinya pemilik tubuh ini sangat menyayangi adiknya.' Ia putar cangkir yang ada di depannya perlahan. "Ayah, jangan melibatkan adik kedua lagi. Aku pasti bisa mendapatkan posisi yang Ayah dan Ibu inginkan." Tatapan matanya sangat dingin.
Tuan Yu Wangyi menyeringai. "Sebelum hari pengangkatan Permaisuri di langsungkan. Aku harap kau sudah bisa mendapatkan keturunan Kekaisaran." Meminum perlahan teh dari cangkir yang ada di tangannya.
Cangkir di letakkan di meja. Pria paruh baya itu mengeluarkan surat dari balik jubahnya. "Pihak lain sudah mulai bergerak. Lebih baik kau juga segera menguatkan posisi mu. Kemuliaan keluarga kita semua tergantung bagaimana kau bersikap dan bertindak."
Hela napas menekan ulu hati Selir Yu. Dia menatap pria paruh baya yang ia sebut sebagai Ayah. 'Wanita ini memiliki misi lain.'
"Tiga bulan waktu yang aku berikan. Jika sampai dua bulan kau masih belum juga mengandung. Atau Yang Mulia tidak menyentuh mu. Jian yang akan menggantikan posisi mu. Di saat hari itu tiba. Aku harap kau tidak melakukan perlawanan. Karena kau jelas tahu apa yang akan Ayah pilih." Tidak ada tatapan hangat yang di perlihatkan Tuan Yu Wangyi.
"Putri ini mengerti." Selir Yu menyetujui persyaratan yang Ayahnya inginkan. Karena bagi dirinya berada di posisi aman adalah jalan keluar untuk sementara waktu. Setelah dia kembali ke istana. Semua dapat ia kendalikan. Karena hati kecilnya berkata jika pria di depannya jauh lebih berbahaya. Dari pria menyebalkan yang ada di istana.
Surat yang Ayahnya berikan di buka.
'Posisi Permaisuri.'
Dua kata tapi sudah membuat wanita itu paham. Dia melipat kembali surat di tangannya memberikannya kepada Ayahnya.
Tuan Yu Wangyi mengambil surat itu lalu membakarnya di dalam tungku api yang masih menyala. "Jika kau masih tidak memiliki pergerakan setelah waktu yang kita sepakati. Pihak lain akan mengirimkan wanita lain. Yang lebih patuh dan penurut. Dapat di kendalikan seperti yang mereka inginkan. Jika hal itu sampai terjadi. Kedudukan dan kemuliaan keluarga kita tidak akan lagi bisa di pertahankan."
"Putri ini mengerti. Aaaaa..."
Dreakkk...
Selir Yu berusaha menahan tubuhnya. Dadanya terasa sakit di saat sesuatu mulai menjalar perlahan dari tangan kanannya. Dia sedikit membuka pergelangan tangannya. Terdapat urat menghitam menjalar dari pergelangan tangan menuju keatas.
Teh yang ia minum telah di campur dengan racun.
"Selama kau patuh. Ayah akan memberikan obat pereda rasa sakit setiap satu minggu sekali. Tapi jika kau berulah lagi seperti beberapa waktu ini. Jangan salahkan Ayah mu ini jika bersikap lebih kejam lagi." Tuan Yu Wangyi bangkit dari tempat duduknya. "Setelah kau berhasil menjadi Permaisuri atau mengandung keturunan Kekaisaran. Ayah akan menawarkan racunnya."
mungkin sebenarnya selir Yu ingin melindungi adiknya makanya dia melarang ayahnya mengirim adiknya ke istana krn selir Yu tahu bagaimana sulit dan bahaya nya tinggal di istana