Kisah seorang anak perempuan terakhir yang hidupnya selalu di tentukan oleh orang tuanya,dan tidak di beri kesempatan untuk memilih untuk hidupnya.
hingga akhirnya ia pergi dari rumah, dan bertemu dengan seseorang yang mampu untuk ia jadikan rumah dan tempat bersandar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Kusumaningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RUSB 14
Icha tampak jengkel setelah keluar dari ruangan Raynar,ia bakal di pindahkan kembali ke divisi awalnya yang kini di bawah nauang Zeyya.
Namun yang membuat ia kesal adalah kini Nina yang di angkat menjadi asisten CEO, atau lebih tepatnya Asisten Raynar.
" Sial dia bakal lebih dekat dengan Raynar, pokoknya gue harus bisa ambil hati Raynar, agar gue bisa bebas dari utang- utang itu" gumam Icha saat keluar dari rungan Raynar.
Sedangkan Nina dengan yang lainnya masih di rungan Raynar, Nina masih membahas untuk renovasi rumah yang besok akan di survei sendiri oleh Raynar, Haris dan juga Nina yang di minta Raynar untuk ikut.
" Kalau begitu saya kembali terlebih dahulu Ayah, Bunda, Bang pak" pamit Nina yang memang pembahasan mereka sudah selesai.
" Iya Nina,semangat kerjanya, jangan terlalu lelah" ujar Bunda Arista.
Nina merasa di perhatikan oleh seorang ibu yang selama ini tidak ia dapatkan dari ibu kandungnya sendiri, Nina menarik ke dua sudut bibirnya dan sedikit membungkukan badannya ke arah Bunda Arista, " Iya Bunda, Nina pamit dulu ,.Assalamualaikum " pamit Nina
Belum juga beranjak ia di tahan oleh Haris, "nduk... tadi Kak Anin bikin bekal di taruh di mobil, abang lupa, ambil gih... nanti kuncinya abang ambil, pas abang udah selesai urusannya" pinta Haris pada Nina dan memberikan kunci mobilnya.
Nina kemudian mengambil kunci mobil kemudian berlalu keluar dari rungan Raynar, yang kini terdapat Raynar, Bunda Arista, Ayah Danu dan juga Haris.
" Adik mu sudah punya calon Ris?" tanya Bunda Arista setelah memastikan Nina sedikit menjauh.
"Kurang tau bun, dia enggak pernah cerita sama Haris, setau Haris dia dulu pernah ngenalin tapi ke Anin bukan ke Haris,.setau Haris juga sudah putus, karena yang cowok sudah di suruh Nikah, tapi Nina nya belum siap, masih kecil juga waktu itu" jawab Haris menceritakan tentang Nina.
" Kalau ada yang minta restu kamu, buat deketin Nina gimana Ris?" tanya Ayah Danu yang juga mengetahui perasaan sang putra.
Sedangkan Raynar pura- pura membaca berkas dan menyibukkan diri dan diam - diam menguping percakapan kedua orang tuanya dan juga Haris.
" Yahh kalau Nina mau mah... Haris mah restuin aja Yah... asal baik, dan mampu membahagiakan. Nina ,Haris enggak mau buat Nina merasa tertekan dengan hal jodoh, selama ini dia cukup tertekan dengan tuntutan ibu dan bapak, Haris enggak mau menambah beban Nina dengan jodoh, toh Haris dan Wira masih mampu jaga Nina" jawab Haris.
" kalau Raynar yang ada kesempatan buat deketin Nina gak?"
...****************...
Di divisi marketing teman- teman Nina heboh berebut makanan yang Nina bawa, ternyata kakak iparnya itu masak besar tadi pagi.
Anin menyiapkan makanan untuk teman- teman Nina di kantor, ada beberapa camilan seperti kue tradisional dan juga gorengan.
" Na makasih banyak yaa Na" ujar Kinara.
" hehehe iya mbak, tapi ini bukan dari aku.. dari kakak ku" jawab Nina.
" Yah.. yang bawakan kamu makasih yaa" sahut Kinara.
Semua orang di divisi marketing yang terdiri oleh delapan orang tersebut mengucapkan banyak terima kasih pada Nina, mereka bisa bekerja dengan aman.
Nina tak lupa menyisihkan untuk Zeyya dan kedua sahabatnya Della dan juga Silmi.
" mbak aku ke rungan mb Zeyya sebentar ya..., sama mau ke toko, nanti kalau Pak Haris nyari kunci mobil ada di tas aku yaa mbak, tolong bilangin " ujar Nina pada Michelle.
" okay na" sahut Michelle.
Nina kemudian menuju ke rungan Zeyya terlebih dahulu, Nina kian hari semakin akrab dengan Zeyya.
tok...
tok...
tok....
Beberapa saat asa perintah untuk masuk Nina kemudian masuk ke rungan Zeyya.
" Assalamualaikum mbak" Salam Nina kala memasuki rungan Zeyya.
" Waalaikumsalam oh.. Na, ada apa Na?"
" ini mbak, tadi kak Anin bawain banyak buat di bagi - bagi, ini buat mbak Zeyya, semoga suka ya.. mbak" jawab Nina memberi piring berisi makanan yang di bawa Nina.
" Wahh kesukaan gue nih.. apalagi buatan kak Anin ,pasti enak,makasih ya Na" sahut Zeyya excited mengetahui apa yang Nina bawa.
" Iya mbak, kalau gitu aku permisi dulu ya..mbak ,mau kasih ke mbak Silmi dan juga mbak Della" pamit Nina.
" Okay... oh yaa Na, nanti pulang kantor ada acara gak?" tanya Zeyya sebelum Nina meninggalkan rungannya.
Nina tampak berfikir sejenak, "Paling mau jalan sama Kak Malihah sih mbak, soalnya kemarin udah janji sama Kenzie sama Chessy, soalnya Kak Anin ada janji padel sama temen- temannya, terus Kak Wira ke rumah saudara" jawab Nina.
" wahh boleh tuh rame, boleh ikut gak? nanti pulang sekalian bareng gue" tanya Zeyya.
" boleh mbak, nanti aku kasih tau kak Malihah,kalau gitu aku pergi dulu yaa mbak" Nina kemudian keluar dari ruangan Zeyya.
Nina menuju ke lift, untuk memberikan makanan itu pada kedua sahabatnya yang berada di Jakarta.
Saat memasuki lift di dalam ada kelvin yang juga ingin ke bawah.
"eh Nina, mau kemana Na?" tanya Kelvin basa basi pada Nina.
" ini mas mau ke lantai dua, mau ngecek toko sama kasih makanan untuk mbak Silmi dan Mbak Della, kalau Mas kelvin sendiri?" tanya Nian basa basi.
" Mau ke lantai tujuh, ke bagian pemasaran pangan" jawab Kelvin,bertepatan lift terbuka di lantai tujuh.
" Kalau gitu aku duluan ya.. Na" pamit Kelvin.
" ahhh ... iya mas silahkan" sahut Nina.
Nina sampai di lantai dua, ia menemui Silmi dan juga Della.
" ehh ada Bu Nina, apa kabar nih bu Nina?" ujar Silmi yang melihat kedatangan Nina.
" apa sih mbak,jangan gitu ah.." sahut Nina kesal.
" becanda Na, wihh bawa apa itu?" tanya Silmi.
" ohh ini mbak ada sedikit cemilan sama buat ganjel, dari kak Anin" jawab Nina memberikan plastik pada Silmi.
" buat aku nih?" tanya silmi sambil mengambil alih plastik tersebut dari tangan Nina.
" Iya sama mbak Della, oh ya mbak aku boleh minta data penjualan bulan ini gak ya mbak? buat di evaluasi sama Mb Zeyya , sepertinya agak turun kalau mendengar dari divisi kenangan " ujar Nina.
" boleh sebentar " sahut Silmi.
" ekhmmm ada yang sok nih, pakai jampe- jampe apa loh, bisa naik jabatan secepat itu, dari cuma pramuniaga, tiba- tiba di angkat jadi kepala marketing toko dan belum ada sebulan dah jadi asisten CEO " sindir Icha yang melihat Nina berada di toko.
Namun Nina memilih mengabaikan Icha, yang membuat Icha kesal, Icha kemudian menghampiri Nina dan menjambak jilbab Nina.
" jangan coba- coba loe goda pak Raynar, karena Pak Raynar hanya milik Kak Dena"