Kata pepatah 'mulutmu adalah harimaumu' mungkin itu yang terjadi pada sebuah keluarga yang merasa dirinya tinggi maka bisa merendahkan orang lain.
Hal itu terjadi pada Yusuf dan keluarganya. Kesombongan mereka membuat mereka hidup tak tenang karena ada yang sakit hati pada mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irawan Hadi Mm, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB. 3
Sifa ambruk, wanita paruh baya itu hilang kesadaran. Mental dan tubuhnya, seakan gak kuat untuk melihat penampakan yang baru ia lihat. Begitu menyeramkan, membuatnya merasa begitu ketakutan hingga tak sadarkan diri.
"Manusia payah, baru segitu aja takut! Dasar peyot!" cibir genderuwo, makhluk berbadan besar dengan bulu-bulu hitam memenuhi tubuhnya. Dengan sepasang mata yang menyeramkan, merah menyala. Seperti ingin menelan apapun di hadapannya lalu menghilang di balik dinding.
Jali menatap tajam ke arah Sifa berada, ia bahkan mengucek matanya untuk memastikan apa yang ia lihat. Dia masih ragu, itu manusia atau bukan.
"Eh bujug dah, beneran ibu-ibu apa karung ya itu?" gumam Jali, melangkah menghampiri Sifa.
Pluk pluk
"Bu, ibu! Bangun, bu! Jangan tidur di lantai, bu! di rumah kagak ada kasur apa? Ganggu orang jalan, bu! Mending tidur di rumah, udah ketahuan nyaman! apalagi di spring bed, Bu" ujar Jali, sembari menepuk bahu wanita itu.
Jali mencondongkan tubuhnya ke depan, menarik tubuh wanita yang belum ia lihat wajahnya. Dia merasa begitu penasaran.
Dan begitu dia melihat rupa si ibu yang pingsan itu. Jali terkejut sampai melibatkan matanya melotot.
"Astaga, ini kan bu haji Sifa!" Jali terlonjak kaget, melihat Sifa dengan wajah pucat pasi dalam keadaan tak sadarkan diri.
Jali meremass kedua tangannya, dengan ragu ia menepuk nepuk pipi Sifa, pria itu bahkan duduk melantai. Ia berusaha menyadarkan Sifa.
"Maap ya bu haji, kepepet ini! Bu, bangun bu! Bu haji! Bu!" seru Jali dengan wajah cemas.
Lorong lantai 2 benar benar sepi, gak ada satu pun yang lewat. Meski sudah 2 menit Jali berusaha menyadarkan Sifa. Tapi usahanya belum membuahkan hasil.
Jali celingukan, hanya ada tembok dingin dengan rumbai yang menutupi batas lorong khusus pedagang dengan selaras bangunan.
"Heet dah, ora mau bangun juga ini. Ngeliat apa kali ini orang! Coba minta bantuan yang lain dah!" gumam Jali, mengeluarkan handy talkie miliknya yang ada di pinggangnya.
"L2 butuh bantuan ini, lorong masuk barang! Darurat oy! Urgent, urgent! Ada yang pingsan ini!" seru Jali.
[46, 46, segera meluncur.£]
Gak lama, rekan dari Jali datang.
Rekannya itu lekas menghampiri dan menegur Jali.
"Lu apain bu Sifa, Jal?" tanya Tomo dengan gelengan kepala gak percaya.
Jali menggaruk kepalanya frustasi, "Heet dah, saya lihat mak aji udah kaya begini, pak! Buru napa! Nyadarin ini nenek nenek susah bener!" kata Jali terlihat panik.
"Kurang madang kali ini orang ya, ampe pingsan gitu!" timpal Joko, pria yang datang bersama dengan Tomo sang atasan.
"Gua rasa mah demit sini ini, lagi jail kali itu demit! Nyusahin petugas keamanan bae dah!" seru Jali tanpa saringan.
Tomo mendengus, dengan tatapan mengedar, "Hus, jangan ngomong sembarang! Udah kita sadarin dulu bu Sifa nya! Lu panggil lakinya gih, Ko!"
"Siap komandan!" Joko hendak melangkah, usai memberi hormat pada Tomo.
"Joko, kasih tau nya jangan sampe bikin gaduh ya!" seru Tomo, seakan memberi peringatan pada anak buahnya.
"Bisa diandelin saya mah komandan!" timpal Joko, lalu berlalu tanpa hambatan. Ia menghampiri Yusuf di kios miliknya yang ada di lantai 3.
Sementara itu Tomo masih berusaha membangunkan Sifa.
"Bu Sifa bangun, bu! Buka mata ibu! Bu!" seru Tomo, dengan minyak angin yang ia dekatkan di indra penciuman Sifa.
Sifa yang mendapatkan guncangan terus di tubuhnya, dan mencium aroma minyak angin membuka matanya perlahan, membuat Tomo dan Jali bernafas lega.
"Alhamdulilah sadar!" beo Jali.
Sayangnya baru juga dia membuka mata, ada lagi sosok astral yang berbeda, tiba-tiba muncul di depan wajah wanita paruh baya itu.
"Baaaaa! Udah sadar ya! Hihihi!" tawa wanita dengan gaun putih kusam, wajah menyeram kan itu melengking di indra pendengaran Sifa.
Sifa takut bukan main.
"Akkkkkkk ja- jangan! Uggghhhh!" jerit Sifa, ia bahkan mencekik dirinya sendiri. Lantaran makhluk yang ia lihat kini mencekik lehernya.
Jali dengan keterkejutannya, melihat sikap Sifa, "Astaga, apa lagi ini!"
Makhluk itu mencekikk Sifa, dan Sifa sedang berusaha keras untuk melepaskan tangan makhluk itu dari lehernya. Tapi yang dilihat oleh Tomo dan Jali, Sifa yang mencekikk dirinya sendiri.
"Bu, eling bu! Nyebut bu!" seru Tomo, ia mencoba melepaskan tangan Sifa dari lehernya sendiri.
"Eeggghhhh kopi, auusssh mau kopi!" jerit Sifa dengan suara menyeramkan dan tertahan, dengan kedua mata melotot ke atas.
Sementara Jali beristighfar, menuntun Sifa untuk mengikutinya.
"Bu istighfar Bu, ikuti saya Bu. Astaghfirullahhaladzim!"
Di saat yang sama Yusuf datang bersama Joko.
"Astagfirullahhaladzim, kenapa dengan istri saya, pak?" tanya Yusuf dengan tatapan gak percaya. Melihat sang istri yang tengah dipegang tangannya oleh kedua petugas keamanan.
"Kesurupan pak, kayaknya!" timpal Jali.
"Bukan kayaknya, ini benar kesurupan, pak!" timpal Tomo, melihat Sifa yang kian menurunkan tenaganya untuk memberontak.
"Wis, lepas aja pak! Gak usah di pegangin! Nanti yang ada dia makin berontak!" beo Yusuf, dengan santai membantu sang istri untuk beranjak dari posisinya yang terbaring di atas lantai.
"Apa gak masalah, pak haji?" tanya Jali, mundur dari keduanya diikuti dengan Tomo.
"Kamu siapa? Mau apa? Kenapa ganggu istri saya? Apa istri saya mengganggu kamu?" cecar Yusuf pada Sifa, lebih tepatnya pada sosok yang merasuki tubuh sang istri.
Lagi, Sifa berkata dengan suara menyeramkan dan tertahan, "Bukan aku yang mengganggu, tapi mahluk lain yang mengganggunya! Aku cuma nimbrung."
"Apa yang kamu inginkan dari istri ku? Pergi sana, jangan ganggu istri ku! Dunia kita berbeda." jelas Yusuf penuh penekanan.
"Istri mu berisik lewat tempat ku! Aku mau kopi hitam panas 2 gelas! Aku haus! Baru aku mau pergi!" beo Sifa, yang gak lain sosok kuntilanak bergaun putih dekil, salah satu penunggu gedung pasar.
"Saya yang akan bawain kesini!" seru Joko sebelum menghilang dari yang lain.
"Lah gampang amat ya! Tadi ngapa sama kita, bu haji berontak gitu, susah dikendaliin. Malah nyekek lehernya sendiri!" gumam Jali dengan tatapan heran, melihat Sifa tampak tenang di depan Yusuf.
Sifa menoleh ke arah Jali dengan tatapan gak senang.
"Kamu berniat membawa istri ku ke alam mu?" tanya Yusuf dengan tatapan tajam.
Sifa kembali menatap Yusuf dengan tatapan menyeramkan, "Aku gak suka orang berisik! Dia terus menggerutu! Gak apa buat jadi teman ku ihihihi!"
Makhluk yang meminjam tubuh Sifa kembali tertawa melengking, membuat Jali dan Tomo bergidik ngeri dibuatnya.
"Kamu berani makan korban, saya usir kamu dari gedung ini! Mau kamu seperti itu?" beo Yusuf dengan tatapan mengintimidasi.
Sifa kembali tertawa dengan menyeramkan, "Ihihihihi kopi, mau kopi! Mau temen juga boleh! Ihihihi!"
"Demit aneh!" cibir Jali dengan lirih.
‘Perasaan gua doang kali mah ya! Ini demit roman-romannya genit amat ya!’ pikir Tomo.
Sifa langsung meneguk habis, 2 gelas kopi panas yang masih mengepul dalam 2 kali tegukan.
Brukk
***
Bersambung …