Sebuah kisah pertemuan tak terduga, jauh dari hiruk-pikuk ibu kota, takdir mempertemukan mereka di desa Tabebuya.
Dua hati yang sama-sama remuk, oleh cinta pengkhianatan. Waktu seolah tak cukup menghapus luka, hanya menyisakan rapuh dan senyum yang disembunyikan.
Namun cinta yang perlahan tumbuh dari luka tak pernah berjalan mulus. Masih ada bayang-bayang masa lalu, ketakutan untuk kembali percaya, dan dilema antara bertahan dalam trauma atau berani membuka hati.
Sebuah kisah tentang perjalanan menyembuhkan diri, tentang pesona seorang pria yang hancur hatinya namun tetap berusaha mencintai dengan tulus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 Mulai Ada Tujuan
Dulu aku pernah membayangkan, mungkin akulah orang yang akan berjalan bersamanya di pelaminan, menemaninya dalam suka dan duka. Namun kenyataan berputar ke arah lain. Ia kini sudah bersama seseorang yang dipilih hatinya. Tak lama setelah itu, kabar pernikahannya sampai padaku—dan kemudian, foto-foto kemesraan mereka bertebaran di media sosial.
Aku tersenyum melihatnya. Senyum yang entah harus disebut tulus atau sekadar topeng. Bagaimana pun, aku ikut bahagia. Bukankah yang terpenting dalam sebuah cinta adalah melihat orang yang kita sayangi bahagia, meski bukan bersama kita?
Namun, jujur saja… di balik senyumku itu, ada ruang kosong di dadaku. Aku menatap diriku sendiri di cermin. Aku masih sendiri, tanpa pasangan, dan bahkan sekarang, aku hidup tanpa tujuan jelas. Kadang muncul pertanyaan yang menyakitkan: “Apa aku tertinggal? Apa aku tidak cukup baik?”
Meski begitu, aku mencoba menguatkan hati. Hidup bukan perlombaan. Jalan setiap orang berbeda, waktunya pun tak sama. Mungkin bahagiaku belum tiba sekarang, mungkin jalanku akan berbelok ke arah yang belum pernah kubayangkan.
Sungguh, akhir kisahku dengannya adalah akhir yang bahagia—baginya. Dan bagiku? Mungkin ini bukan akhir, hanya sebuah titik koma. Sebuah jeda sebelum aku menulis bab baru dalam hidupku.
Tamat?
Tidak! Kisahku masih terus berjalan.
Ting!
Sebuah notifikasi muncul di layar ponsel Arya. Ia yang sedari tadi duduk di teras sambil merenung, langsung melirik ponselnya.
Yaya: Udah sampai rumah kakek?
Arya tersenyum kecil, jari-jarinya cepat membalas.
Arya: Udah, 30 menit yang lalu.🙂
Balasan dari Yaya datang hampir seketika.
Yaya: Dihh… kenapa gak kasih tau aku dari tadi. Aku jadi gak bisa tidur, takut kamu dimakan Doma pas jalan balik.😑
"Hahaha...". Arya tertawa keras membaca itu. Ia mengetik dengan cepat.
Arya: Hahaha, tenang aja. Doma cuma suka tentara Belanda, bukan manusia.😁
Yaya: Tetep aja! Tadi kan kamu lewat jalan pinggir sawah. Gelap banget tau. Siapa yang tau kalau Doma tiba-tiba lapar tengah malam?🤪
Arya mengusap wajahnya, geli sendiri.
Arya: Thanks 😘🤗, senang loh kalau tahu kamu khawatir banget sama aku.😁
Yaya: Idiihh… siapa bilang aku khawatir. Aku cuma… ya… gimana ya. Kan gak enak aja, kalau besok ada berita kamu jadi orang hilang. 😕
Arya terkekeh, lalu mengetik pelan sambil menahan senyum.
Arya: Kalau aku ilang, berarti kamu bakal cariin aku terus kan?
Yaya: ………… (lama gak bales)
Arya menatap layar ponselnya cukup lama, menunggu dengan perasaan sedikit berdebar. Lalu notifikasi masuk.
Yaya: IYAHH, nyariin sampai ke ujung bumi. Puas 😤. Soalnya aku gak mau kakek Abi sedih kehilangan kamu.
Arya tersenyum lebar, lalu bersandar ke kursi. Untuk pertama kalinya malam itu terasa hangat. Tak lama, notifikasi baru muncul.
Yaya: Udah malam, kamu pasti capek abis bonceng aku, tidur sana. Besok kamu harus bangun subuh kan bantuin kakek diladang.
Arya mengetik perlahan.
Arya: Iya, bawel. Kamu juga jangan kepikiran soal kakakmu, kan belum tentu kepilih juga.
Yaya: Iya, udah sana tidur. Good night.😴
Arya: Good night, Yaya.
Layar ponselnya padam, tapi ada bara dalam hati Arya yang baru saja menyala.
*****
Besok paginya,
“Eh… siapa yang bikin kopi pagi-pagi gini?” kakek Abi kaget. Biasanya dia yang paling dulu bangun, tapi kali ini aroma kopi sudah tercium dari dapur.
Begitu buka pintu kamar, matanya langsung melebar. Ternyata si Arya sudah duduk di meja, dengan wajah sumringah. Di atas meja ada dua cangkir kopi hangat dan sebakul kecil ketela rebus yang masih beruap.
“Pagi, Kek!” sapa Arya sambil tersenyum lebar. “Aku udah bikinin kopi sama ketela rebus. Biar kakek tinggal sarapan aja, habis itu cus kita berangkat ke sawah,” ucapnya riang.
Kakek Abi sampai geleng-geleng. “Lah, kamu udah bangun dari jam berapa? Biasanya susah banget bangun pagi.”
Arya nyengir kuda. “Hehe, lagi pengen belajar hidup di desa, Kek. Katanya kaLau subuh udara seger banget, bener nggak?”
Kedua mata kakek Abi langsung menyipit, menatap cucunya lekat-lekat. “Hmm… ini sih bukan cuma karena udara segar. Bau-bau perjaka lagi jatuh cinta nih...” kekeh kakek Abi.
Uhuk! Uhuk!
Arya langsung batuk-batuk, lalu pura-pura sibuk mengupas ketela. “Apaan sih, Kek. Nggak ada urusannya.”
Kakek Abi malah makin senyum-senyum. “Halah, jarang banget kamu bangun subuh, siapin sarapan. Ini jelas ada sebabnya.”
Arya buru-buru berdiri, menepuk-nepuk celana kakeknya. “Udah ah, jangan mikir aneh-aneh. Cepetan pake celana panjang, kita harus berangkat ke ladang. Matahari sebentar lagi naik tuh.”
Kakek Abi ngakak sambil geleng-geleng kepala. “Iya, kalau bawel begini, kamu mirip ibumu….”
Arya cuma cengar-cengir, pura-pura nggak dengar. Dan buru-buru ambil alat bertani.
Sesampainya di ladang, Arya dan kakek Abi disambut suasana pagi yang sibuk. Para petani sudah menenteng cangkul, ada yang jongkok menanam bibit, ada juga yang sibuk ngobrol sambil tertawa kecil.
Kakek Abi langsung melambaikan tangan. “Pagi, Cok! Pagi, Bu Nur! Sehat-sehat semua?”
Beberapa orang menoleh dan tersenyum. “Wah, pagi Kek Abi! Sehat, alhamdulillah.”
Arya ikut tersenyum, sedikit kikuk, tapi tetap menundukkan kepala sebagai salam.
Kakek Abi lalu mendekati seorang pria paruh baya yang sedang menancapkan bibit singkong. “Zul, ladangmu makin rapi aja. Bagus, bagus. Beruntung ada yang mau nerusin ladang milikmu. Anak-anak zaman sekarang kan banyak yang ogah.”
Pria tua itu terkekeh, menyeka keringat di dahi. “Iya, Bi. Untung anak sama menantu gua masih mau turun tangan. Kalau nggak, bisa tidur nih ladang.”
Mereka pun saling lempar canda. Kakek Abi luwes sekali, ngobrol sama bapak-bapak, ibu-ibu. Arya memperhatikan dari samping, sedikit kagum. Rasanya kakeknya seperti kenal semua orang di desa itu, sampai tahu nama anak hingga cucu mereka.
Salah satu ibu nyeletuk sambil melirik Arya.
“Wah, ini cucunya, Abi? Ganteng bener. Cocok main sama cucu saya yang baru lulus SMA.”
Arya langsung tersedak udara, batuk-batuk kecil sambil gelagapan. “Ekh—ehm, ehm—”
Wajahnya merah padam, entah karena malu atau karena sinar matahari pagi.
Sementara itu, kakek Abi malah terkekeh penuh arti. “Ah, nggak bisa, Sri. Hati cucu gue udah ada patri…”
Ibu-ibu sekitar langsung bersorak kecil, ada yang saling sikut, ada juga yang ketawa cekikikan. Arya buru-buru berdiri tegak, tangannya mengibas-ngibas. "Astaga, Kek! Jangan asal ngomong gitu dong, nanti orang-orang salah paham.”
Kakek Abi pura-pura menatap jauh ke hamparan sawah. “Ya kan bener… kalau orang udah punya tujuan, matanya nggak bakal lirik ke wanita lain.”
Buru-buru Arya langsung narik lengan kakeknya menjauh dari kerumunan ibu-ibu.
“Udah, Kek. Ayo kerja, jangan kelamaan ngerumpi. Mending gosipin cucu sama rumput di ladang biar nggak dosa.”
Beberapa saat, mereka semua mulai bekerja, Arya sibuk mencangkul sambil sesekali membalas celetukan kakeknya yang nggak ada habisnya.
Brummmm!
Mendadak suara mesin keras terdengar dari kejauhan. Tanah di pematang sampai sedikit bergetar. Semua orang menoleh ke arah jalan setapak.
Debu mengepul, dan pelan-pelan terlihat sebuah truk besar mengangkut sebuah alat yang tertutup terpal hijau raksasa.
Arya menyipitkan mata, melihat seorang perempuan berambut hitam panjang, berkacamata hitam, melangkah turun dengan percaya diri, dari dalam mobil SUV.
Kakek Abi sampai berdiri tegak, kaget bukan main. “Itu… Klara?! Mau apa dia kesini?”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
#TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA ❤️❤️❤️
**Jangan lupa meninggalkan jejak kebaikan dengan Like, Subscribe, dan Vote ya...~ biar Author makin semangat menulis cerita ini, bentuk dukungan kalian adalah penyemangat ku...😘😘😘**.