NovelToon NovelToon
New Mama Untuk Alesha

New Mama Untuk Alesha

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / CEO / Cinta Seiring Waktu / Pengasuh
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Kumi Kimut

Olivia Caroline adalah seorang wanita matang dengan latar belakang kedua orang tua broken home. Meski memiliki segalanya, hatinya sangat kosong. Pertemuan dengan seorang gadis kecil di halte bis, membuatnya mengerti arti kejujuran dan kasih sayang.

"Bibi, mau kah kamu jadi Mamaku?"

"Ha? Tidak mungkin, sayang. Bibi akan menikah dengan pacar Bibi. Dimana rumahmu? Bibi akan bantu antarkan."

"Aku tidak mau pulang sebelum Bibi mau menikah dengan Papaku!"

Bagaimana kisah ini berlanjut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kumi Kimut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 14

"Maaf, aku salah ngomong tadi." Aarav jadi keki sama kata-kata yang ia ucapkan sendiri. Niatnya cuma bercanda, eh respon lawan bicaranya ternyata cukup canggung.

"Hehe gpp Pak. Aku paham kok," jawab Olive berusaha memahami bosnya.

"Oh, ya. Bapak boleh pulang sekarang. Selamat malam." Olive tak mau berlama-lama bicara dengan Aarav yang seolah nyaman dengannya. Dia masih berpikir gimana caranya melupakan Mario, jadi gak ada hubungannya kalau harus ngobrol gak penting sama bos sendiri.

"Oke. Besok jam 07.00 aku datang ke rumahmu. Pastikan anakku sudah siap."

"Baik pak."

"Ya."

Aarav berjalan menuju mobilnya. Rasanya pengen menyampaikan sesuatu yang ingin ia sampaikan sejak tadi. Mengenai dukungan untuk karyawannya itu, namun kalau disampaikan, apa mungkin Olive mau menerimanya?

Aarav berdiri membelakangi Olive untuk beberapa saat. Hingga wanita itu pun heran.

"Dih, Napa juga sih Pak Aarav berdiri terus di situ? Apa gak pegel?" gumam Olive mulai kurang nyaman. Tiba-tiba saja, tubuh kokoh itu berbalik.

"Jangan sedih ya, Liv. Aku juga pernah merasakan apa yang kamu rasakan. Kehilangan seseorang, kehilangan rasa cinta, semuanya aku tahu. Tapi satu hal yang pasti, kamu harus berusaha menekan perasaan takut untuk menuju perubahan karena di depan sana banyak sekali hal yang belum kamu tahu. Tetap semangat dan jadilah diri sendiri." Setelah mengatakan kata-kata bijak, Aarav berbalik dan langsung masuk ke dalam mobil.

Suara mobilnya berderu, pertanda mesin telah dihidupkan. Tak berapa lama kemudian, mobil mewah milik sang bos meninggalkan rumah Olive.

"Cih, kamu tahu apa Pak? Kamu tidak tahu apa-apa," ucap Olive seraya masuk ke dalam rumahnya.

Olive mengunci pintu rumah, lalu perjalanan ke arah kamar Peter. Ia buka sedikit pintu kamar itu, di sana terlihat jelas kita sedang tidur di samping Alesia.

"Huft! Adikku, kamu udah sangat dewasa. Aku tidak pernah tahu isi hatimu. Kamu selalu bilang tidak membutuhkan ayah dan ibu, sama seperti aku. Tapi aku tidak pernah percaya. Kamu selalu menangis saat teringat akan perceraian orang tua kita. Peter, mbak janji. Mbak bakalan jadi kakak yang baik dan strong buat kamu. Kamu harus bahagia." Tak terasa air mata menetes membasahi pipi. Olive tak pernah menyangka bisa melewati hari-hari sulit ini bersama adiknya, seorang lemah yang dipaksa untuk menjadi dewasa oleh keadaan.

Olive tak ingin berlama-lama di sana. Ia memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya. Ruang kamar pribadinya yang berada di samping kamar Peter, membuat Olive mudah menjangkau kamar tidurnya.

Matanya sangat bersemangat ketika melihat bantal dan guling." Yes! Aku bisa tidur juga!" ucapnya sambil merebahkan diri. Menyelimuti tubuh sampai dada, lalu membaca doa sebelum tidur.

Perlahan kedua matanya tertutup sempurna, suara dengkuran halus terdengar samar-samar. Mudah sekali wanita ini masuk ke dalam dunia mimpi.

***

Esok harinya ... Jam 05.00 ...

Area dapur terdengar sangat bisik. Di sana ada Olive yang mencoba memasak beberapa hidangan yang disukai oleh adiknya. Meskipun sering memasak, Olive masih takut untuk membuat sarapan untuk adiknya.

"Kalau kurang asin nanti dia marah, kalau kurang manis, dia juga marah. Astaga aku terus gimana? Bukannya masakan itu ya ada asin dan manis? Untuk takarannya juga pas. Kenapa aku selalu keasinan atau kemanisan?" ucap Olive memahami selera lidah Peter yang kadang agak-agak.

"Mbak? Lagi ngapain pagi-pagi? Bukannya tidur?" Terdengar suara dari balik pintu kamar Peter.

Olive sudah tahu suara siapa itu, jadi tetap fokus memasak.

"Sini sini, bantu mbaknya siapin sarapan." Suara olive terdengar sangat manja. Baru kali ini, Olive merasa kalau dirinya tidak terbebani atau terbayang-bayangi oleh Mario. Jadinya, santai terus.

"Hm, baru juga bangun tidur udah disuruh-suruh. Yang masak siapa yang repot siapa?" Sang adik terus menggerutu dan ngomel. Olive cuma tersenyum sambil menoleh.

"Siapa lagi yang bisa aku kerjain kalau bukan kamu? Masa iya Mario? Di kan udah nggak ada di sini." Senyum olive sangat manis, mengundang rasa penasaran adiknya. Namun ada satu hal yang membuat Peter nggak enak hati.

Mendengar perkataan yang disampaikan oleh kakaknya, membuat Peter bersalah. Dia tidak bermaksud untuk mengingatkan masa lalu Olivia.

"Mbak maaf ya?" Peter terlihat mendekati kakaknya lalu memeluk kakaknya itu dari belakang.

"Kenapa minta maaf? Kamu nggak salah kok. Aku udah berusaha untuk melupakannya,  tenang saja. Sekarang aku hanya fokus menjalani hidup, bekerja dan membuatmu menjadi orang sukses." Olive sangat paham kalau Peter sangat sayang padanya, dia membalas pelukan itu. Olive membalikkan badannya.

"Kamu tahu kan? Tugasmu hanya mendoakan kakakmu." Senyuman penuh semangat coba ditampilkan oleh Olive meski tak sama dengan isi hatinya.

"Nggak usah bekerja keras kak. Aku bisa mengusahakannya sendiri. Setidaknya pikirkan kebahagiaan kakak. Aku juga berusaha agar tidak merepotkan kakak." Air mata mengalir deras dari pelupuk matanya. Peter benar-benar merasakan kesedihan itu.

Dia tahu nyangka kalau akan kejadian seperti ini. Seorang pria yang sangat dikagumi, juga mampu diandalkan, nyatanya tiga menghancurkan hati kakak yang sangat ia sayangi.

"Paman? Kenapa kamu meninggalkanku?" ucap Alisia tiba-tiba. Gadis kecil ini berjalan menuju ke arah dapur dan memeluk kaki Peter.

"Eh princess sudah bangun, Ehm kita mandi dulu yuk? Biar Paman Peter menyiapkan sarapan." Olive menggendong anak bosnya dengan sangat baik. Lalu membawanya masuk ke kamar mandi.

Peter hanya melongo karena setiap hari dicurangi oleh kakaknya." Mbak kenapa sih? Punya masalah apa sebenarnya? Aku tuh capek tahu, dibohongi terus! Hey mbak! Yang bener aja!" teriak Peter berusaha untuk memanggil kakaknya yang selama ini selalu mencurangi dirinya kalau sedang mau memasak. Saat Peter menggerutu, tiba-tiba terdengar suara mobil yang tidak asing.

Peter lantas mengecek dari balik hordeng ruang tamu. Tatapan matanya sangat bahagia karena melihat sosok bos dari kakaknya.

"Ya ampun, bapaknya Alesia datang." Suara teriakan Aarav, sampai ke telinga Olive. Otomatis Alesia yang tadinya sudah on the way mandi, jadi lari menuju ruang tamu.

"Mana Papa ku mana! Papa!" teriak Alesia tak kalah berisiknya.

Gadis kecil ini berlari keluar rumah lalu mendapati Papanya yang sudah menyambut dengan pelukan.

"Papa! Aku sedang dimandiin sama Bibi. Dia baik lho, papa nikahin dia ya? Aku pengen Bibi jadi mamaku." Permintaan tak biasa dari putrinya, membuat Aarav cukup bersedih. Pria ini lantas menggendong tubuh mungil itu.

"Sayang, namanya pernikahan itu tidak semudah yang kamu pikirkan. Papa sudah mengenal Bibi Olive sejak lama tapi kalau Bibi mu memiliki pria lain, apa bisa papa menikahinya?" lanjut Aarav mencoba menjelaskan betapa rumitnya kehidupan orang dewasa.

Namun, dengan lugunya Alesia berucap." Papa bisa merebut bibi dari tangan pria lain. Papa kan orang kaya, papa punya perusahaan, papa punya uang, papa punya segalanya. Apalagi papa memiliki wajah yang ganteng. Apalagi yang kurang papa?"

Mendengar ucapan jujur dari anaknya, membuat Aarav geli. Dia tidak menyangka kalau bayi mungilnya sudah tumbuh menjadi gadis kecil yang lucu.

"Kamu ngomong apa sih? Sana mandi dulu. Papa tunggu di sini." Aarav menurunkan tubuh si kecil, tapi Alesia tidak mau turun.

"Mandiin aku ya? Bibi dan papa, kalian harus mandiin aku." Permintaan aneh sudah mulai terdengar jelas di telinga. Aarav tidak kucing Alesia sungguh meluluhkan hatinya.

"Astaga, sayang. Bukannya papa nggak mau, ini bukan rumah kita. Mana bisa papa berbuat demikian? Papa tunggu di sini aja. Hm, gini aja. Papa bakalan ajak kamu sama bibimu jalan-jalan ke taman hiburan setelah pulang sekolah. Gimana? Mau gak?" Aarav mengalihkan perhatian untuk memandikan putrinya. Dia memahami banyak hal soal ini. Meski sudah menjadi putrinya, Aarav lama sekali tidak memandikan bocah satu ini.

Ibunya menyarankan kalau dirinya hanya fokus merawat perusahaan. Untuk urusan Alesia, biar pelayan yang melakukannya.

Padahal, Aarav melakukan beberapa hal yang dulu pernah ia lakukan setelah kematian istrinya. Tapi, apa yang ibunya sampaikan, pasti yang terbaik.

Aarav percaya, orang-orang di sekitarnya ingin dirinya tetap bersemangat menjalani hidup tanpa bayang-bayang masa lalu.

"Oke deh! Bener ya janji! Janji kelingking papa! Mana kelingking papa!" Alesia menunjukkan jari kelingkingnya, kemudian mengeratkan kepada jari paling kecil milik Aarav.

Setelah melakukannya, Alesia mau turun dari gendongan. Langkah kecil Putri semata wayangnya, benar-benar terlihat sangat nyata kali ini.

"Aarav, sekarang kamu bukan hanya seorang pria ya memimpin perusahaan. Tapi kamu juga seorang Papa yang akan menentukan masa depan anakmu. Jika menikah lagi adalah jalan terbaik, apakah aku bisa mencintai selain mendiang istriku?"

1
Elisabeth Ratna Susanti
like plus subscribe 🥰 salam kenal 🙏
kalea rizuky
berarti santi ma Arab bneran kah tidur bareng
Eva Karmita
lanjut thoooorr 🔥💪🥰
Eva Karmita
semangat Olive jangan menangisi mantan tapi tataplah masa depan 💪😍😍😍😍
Eva Karmita
peluk Olive sabar ya mungkin Mario bukan jodoh mu 🤗🤗🤗
Eva Karmita
lanjut thoooorr 🔥💪🥰
Eva Karmita
💓
Eva Karmita
mampir otor 🙏😊
KumiKimut: siap kak makasih ya, semoga suka/Kiss/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!