“Apa ... jangan-jangan, Mas Aldrick selingkuh?!”
Melodi, seorang istri yang selalu merasa kesepian, menerka-nerka kenapa sang suami kini berubah.
Meskipun di dalam kepalanya di kelilingi bermacam-macam tuduhan, tetapi, Melodi berharap, Tuhan sudi mengabulkan doa-doanya. Ia berharap suaminya akan kembali memperlakukan dirinya seperti dulu, penuh cinta dan penuh akan kehangatan.
Namun, siapa sangka? Ombak tinggi kini menerjang biduk rumah tangganya. Malang tak dapat di tolak dan mujur tak dapat di raih. Untuk pertama kalinya Melodi membuka mata di rumah sakit, dan disuguhkan dengan kenyataan pahit.
Meskipun dirundung kesedihan, tetapi, setitik cahaya dititipkan untuknya. Dan Melodi berjuang agar cahaya itu tak redup.
Melewati semua derai air mata, dapatkah Melodi meraih kebahagiaan? Atau justru ... sayap indah milik Melodi harus patah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dae_Hwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SPMM14
Matahari pagi yang mulai merangkak naik, menampilkan cahayanya yang terang benderang. Seolah mendukung lukisan warna warni yang terlukis indah di langit.
Dari balik jendela ruang tamu, wanita separuh baya menatap kosong ke luar, seperti mencari sesuatu yang tak terlihat. Ia menyesap secangkir teh yang tak lagi hangat. Ajeng, tengah merindukan anak semata wayangnya, Aldrick.
Sudah satu bulan putranya itu tak datang berkunjung. Ia mulai menerka-nerka, apa penyebab nya.
"Apa mungkin karena aku selalu menuntut kepingin cucu? Apa Aldrick nggak nyaman karena itu? Makanya dia jadi malas kemari?" Ajeng menghela napas panjang, tubuhnya membungkuk lemah.
Namun, sedetik kemudian, tubuh yang mulai menua itu kembali tegak.
"Apa ... jangan-jangan, Melodi yang nggak ngebolehin ke sini? Pasti wanita itu nggak suka waktu aku selalu mencecarnya dengan pertanyaan kapan bunting! Haaaah!" Ajeng merebahkan kasar tubuhnya di sandaran sofa. Ia kembali termenung.
Namun, ia tersentak kala tiba-tiba pintu rumahnya yang tak di kunci, di dorong kuat. Vina muncul di ambang pintu, membawa Budi, anaknya.
"Mekoooom," Vina masuk ke ruang tamu dan langsung duduk di sofa.
"Kom-lam," jawab Ajeng asal.
"Ih, Tante! Kok jawabnya begitu?" Vina melirik dengan kedua alis yang berkerut.
"Ya, kamu nya juga, Vin. Ngucapin salam nggak perneh bener. Assalamu'alaikum, gitu. Maknanya ‘semoga keselamatan tercurah kepada kalian’. Lalu di jawab dengan Wa'alaikum salam, yang maknanya ‘semoga keselamatan terlimpah juga kepada kalian’. Ini kamu kalau datang, kalau nggak MEKOM, ya ASKUM. Kamu pasti nggak tau ya artinya Askum? Celakalah kamu, itu artinya. Keenakan dong kalau kamu udah doain Tante celaka, tapi, Tante malah jawab Wa'alaikum salam," papar Ajeng panjang lebar.
Vina hanya merespon ucapan wanita baya itu dengan memutar malas bola matanya. "Ah, sama aja, Tan!"
"Ngeyelan kamu tuh kalau dibilangin," balas Ajeng. "Tumben kamu, jam segini udah dateng."
"Hehehe, mau minta lauk. Tante udah masak, ‘kan? —Aku nggak masak, lagi menghemat uang," jawabnya tanpa malu. "By the way, lagi ngelamunin apa sih, Tan? Aku lihat tadi dari jendela, Tante kayak nggak ada semangatnya."
Ajeng menghembuskan napasnya. "Biasalah, ngelamunin Aldrick."
"Wuih, kebetulan nih. Aku punya info baru, Tan. Dijamin, Tante bakal semangat, alias semangat ngelabrak!" Seru Vina sambil menggeplak kuat lengan Ajeng. Itu sudah menjadi kebiasaannya, dan ... Ajeng pun tidak suka melihat kebiasaan keponakannya itu.
"Info apa sih? Bikin penasaran aja," tanya Ajeng.
"Aku baru aja dapat info dari Karin, Tan. Katanya, Aldrick kurusan banget. Pasti, si Melodi nggak pernah masakin buat Aldrick. Kasian banget si Aldrick. Udah nggak dikasih anak sampai sekarang, eh di tambah pula nggak dikasih makan. Ck! Ck! Ck!" Vina berdecak.
Ada hawa panas yang mendadak mengalir di dada Ajeng. Ia tak terima jika Aldrick sampai diperlakukan seperti itu. Kedua tangan Ajeng mengepal erat. Dan, Vina tersenyum lebar saat melihat hal itu.
"Buruan kalau kamu mau ambil lauk, Vin. Tante mau ke rumah Aldrick!" Suara Ajeng terdengar menahan marah.
"Aku boleh ikut, Tan?" Vina mengedip-ngedip mata penuh arti.
Vina paling senang jika sampai Melodi disemprot tantenya. Setidaknya ada informasi yang akan ia berikan kepada Karin, informasi yang akan ia tukar dengan pundi-pundi rupiah. Hati senang, perut pun kenyang.
"Ya sudah, buruan!" sungut Ajeng.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Astagfirullah, Bu. Kok malah Ibu tega bilang Melodi buang-buang duitku hanya karena dia lagi di rawat di rumah sakit. Duit ku ya juga duit Melodi, Bu. —Kan Ibu dulu yang mengajarkan aku seperti itu, uang suami milik istri, uang istri ya milik istri. Aku kerja mati-matian juga buat Melodi, Bu. —Ibu kenapa, sih? Dulu Ibu nggak begini, baik banget sama Melodi. Sekarang? —Semua yang bersangkutan dengan Melodi, selalu ngebuat Ibu sensitif. —Ada apa sebenarnya?" suara serak Aldrick penuh tekanan.
Di seberang telepon, Ajeng terdiam, ia tak langsung menjawab. Hanya menghembuskan napas beratnya berkali-kali. "Di rawat di Rumah Sakit mana dia?"
Aldrick menghela napas panjang. "Ibu sekarang di mana? Masih di rumah ku? —Kalau masih, tunggu saja dulu di kursi teras. Setengah jam lagi aku ke sana."
"Loh, kan kamu kerja?" sanggah Ajeng.
"Izin pulang aja, Bu," sahut Aldrick. Tentu ia tak bisa memberitahu rumah sakit tempat Melodi di rawat begitu saja pada sang ibu. Ia tak mau kondisi Melodi semakin drop karena berurusan dengan ibunya seorang diri. Ia harus ikut mendampingi, untuk mengimbangi.
---
"Emang Melodi sakit apa sih, Drick?" tanya Ajeng penasaran.
Kini, Ajeng dan Vina sudah menaiki mobil yang sama dengan Aldrick. Sedangkan Budi, Vina sejak awal memilih untuk tidak membawa anaknya yang terbilang sangat nakal. Kenakalan sang putra, pasti akan mempersulit nya dalam mengumpulkan informasi.
Daun telinga Vina bak memanjang, ia berusaha mendengarkan dengan jelas jawaban Aldrick tentang penyakit Melodi. Namun, sayang sekali, Aldrick hanya hening di tempat.
Aldrick menyetir dengan fokus agar mereka semua dapat tiba di rumah sakit dengan selamat.
"Drick, kita mampir toko buah di depan gang itu dulu ya," pinta Ajeng.
Aldrick tak bersuara, hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Mau nyari apa, Tan?" tanya Vina heran.
"Kesemek, Melodi suka itu." Gumam Ajeng sambil membuang wajah ke arah jendela.
Aldrick tersenyum samar. Sampai sekarang ia masih heran. Dulu, ibunya sangat menyukai Melodi, tetapi, sekarang jauh berbanding terbalik. Entah apa penyebabnya. Tapi, yang membuat Aldrick lega, sang ibu terkadang sesekali masih menunjukkan kekhawatiran jika mendengar berita bahwa Melodi sedang tidak sehat.
Di kursi belakang, wajah Vina sudah masam. Tentu ia tak suka saat mendengar jawaban Ajeng. Ia teramat membenci Melodi. Menurutnya, bekas jahitan yang ada di kepala sang anak, semuanya gara-gara Melodi. Namun, di balik itu, ada alasan yang lebih besar, alasan kenapa ia sangat membenci istri dari sepupunya itu.
"Gimana badan anakku bisa gemuk kalau punya istri kayak kamu, Vin. Malas masak, kerjaannya beli lauk mateng, kadang minta lauk ke sana-sini. Coba tuh kamu lihat Aldrick, baru 3bulan dia nikah, tapi, berisi badannya sekarang. Pinter Melodi ngurus suami. Nggak kayak kamu, bangun siang, jam 10 pagi si Budi masih bau encesss! Duh, malang banget nasib anak ku punya istri kayak kamu!"
Perkataan ibu mertuanya kini kembali terngiang-ngiang di telinga Vina. Membuat dadanya bergemuruh dan semakin muak, ketika mengetahui Melodi akan mendapatkan perhatian sekecil apapun itu.
"Nggak usah dimanjain kali, Tan. Lagian, sampai sekarang menantu Tante itu nggak hamil-hamil lagi. Padahal, Tante kepengen banget punya cucu. Nggak usah deh, kasih buah-buahan segala. Cukup doa aja, doa biar cepet bunting!" hasut Vina.
CKIIIIIIIT!
BUGH!
Jidat jenong Vina membentur jok mobil ketika Aldrick membelokkan mobil dan mengerem mendadak tepat di depan toko buah.
"Apa-apaan sih, Drick!" Raung Vina sambil mengusap keningnya yang memerah.
"Apanya yang apa?" sinis Aldrick. "Ibu ku kan mau beliin buah buat menantunya, ya wajar dong aku berhenti di sini." Tanpa menunggu jawaban Vina, Aldrick sudah keluar dan membuka pintu mobil untuk sang ibu. "—Ayo, Bu."
Di dalam mobil, Vina menatap sinis ke arah Aldrick dan Ajeng yang sudah berjalan menuju ke toko buah. Kedua tangannya sudah mengepal erat, ia melampiaskan kekesalannya pada jok mobil. Ia meninjunya berkali-kali.
"Sialan!" umpatnya kesal.
*
*
*
,, penyesalan,, membuat sesak di
di dada, dalam penyesalan hanya
dua kata sering di ucapkan,
,, andaikan dan misalkan,, dua
kata ini tambah penyesalan.
thanks mbak 💪 💪