NovelToon NovelToon
DUNIA KEGELAPAN

DUNIA KEGELAPAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / rumahhantu / Mata Batin / Kutukan / Kumpulan Cerita Horror / Roh Supernatural
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ning Angelin

"Dunia Kegelapan" menyajikan berbagai kisah seram dan misteri Dunia Lain yang akan membuatmu penasaran hingga terbawa suasana. Perasaan merinding, bulu kuduk berdiri, dan ketakutan hanyalah bagian-bagian kecil yang menemanimu saat membaca kisah-kisah Dunia Lain.

Sesuatu yang lebih dari itu akan membuatmu masuk kedalam kisahnya dan merasakannya secara langsung, setelah itu serangkaian peristiwa mengerikan yang dipenuhi ketegangan dan hal-hal mistis akan menemani hari-harimu.

Nah, demi memuaskan hasratmu akan cerita-cerita seram,

Check this out and Read!👉
Selamat Membaca...🤗

Godbless...!!!😇

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ning Angelin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Makhluk Misterius Pencabut Nyawa.

Seorang Wanita singel parents, Sebut saja ibu Jeni. Ia baru saja selesai bekerja dan berjalan pulang kerumahnya. Kedua anaknya sudah menunggunya dirumah. Saat wanita itu membuka pintu, kedua anaknya itu Menyambutnya dengan sebuah kue cake.

Selamat ulang tahun..🎶

Selamat ulang tahun..🎶

Selamat ulang tahun ibu..🎶

Selamat ulang tahun..🎶

Kedua anaknya menyanyikan lagu itu. Sang adik memegang kue dan sang kakak mengabadikannya dengan sebuah video.

Saat mereka sedang bahagia, tiba-tiba sosok misterius dan mengerikan tiba-tiba muncul di hadapan mereka.

"Ibu, apa itu?" Tanya sang kakak.

"Ibu Jeni! Kau akan mati lima hari lagi. Kau akan mati pukul 15.00, dan kau akan masuk neraka!" Sosok mengerikan itu kemudian menghilang.

Ibu Jeni segera pergi ke Firma pengacara hukum untuk menemui Laura.

"Halo Bu jeni. Aku Laura, aku dengar kau ingin bertemu denganku." Kata Laura.

"Iya, Halo. Jadi begini, aku akan masuk neraka." kata ibu Jeni.

"Apa?" Tanya Laura kebingungan.

"Aku akan masuk neraka." Jawab ibu Jeni.

"Neraka?" Tanya Laura semakin bingung.

Kemudian para rekan-rekan kerja di kantor firma pengacara City Land kemudian memperlihatkan rekaman video yang tidak sengaja terekam anak ibu Jeni.

"Apa ini?" Tanya Laura sambil melihat rekaman video itu.

"Ini titah." Jawab ibu Jeni.

"Titah? Maksud ibu?" Tanya Laura lagi.

"Aku tidak tau, tapi mereka menyebutnya demikian. Kebenaran baru bilang, aku menerima titah." Kata ibu Jeni.

"Ah jadi begitu. Kebenaran baru, ya?" Kata Laura.

"Kata anakku, mereka yang lebih tau masalah ini." Jawab ibu Jeni.

"Apa kata mereka?" Tanya Laura.

"Mereka bilang ingin menyiarkannya. Sebagai demonstrasi atau apapun itu." Kata ibu Jeni.

"Apa? Maaf aku tidak begitu mengerti. Mereka mau apa?" Tanya Laura.

"Mereka bilang ingin melakukan siaran langsung. Saat aku pergi ke neraka." Kata ibu Jeni.

"Mereka benar-benar sudah gila!" Kata Ryan.

"Lalu apa jawabanmu?" Tanya Laura.

"Jadi begini, ketua muda itu akan membayar aku. Tiga miliar jika aku bersedia. Namun aku tidak tahu cara menerima uang sebanyak itu dengan aman. Jadi, entah titah itu benar atau tidak, tapi aku butuh bantuanmu. Supaya aku bisa menerima uang itu. Maksudku biar anak-anakku bisa menerima uang itu." Kata ibu Jeni bercucuran air mata.

"Namun ibu Jeni, ini bukanlah persoalan yang bisa diputuskan dengan mudah. Jika disiarkan, bukan hanya identitasmu yang terungkap, tapi seluruh anggota keluargamu juga." Kata Laura.

"Tapi bagaimana jika titah itu benar? Bagaimana hidup anak-anakku jika aku mati beberapa hari lagi? Setelah mencari informasi di internet, Anakku menyuruh aku kesini karena kau bisa menanganinya. Aku akan pergi ke tempat lain jika memang kau tidak bisa membantuku." Kata ibu Jeni bercucuran air mata.

"Tidak! Kau datang ke tempat yang tepat. Apapun yang direncanakan para bajingan dari kebenaran baru itu, Lebih baik jika mereka melakukannya di depan mata. Tak perlu khawatir " Jawab Hansen.

"Uhm, Pak Hansen, aku ingin bicara denganmu sebentar." Bisik Laura.

"Mohon tunggu sebentar, ibu Jeni." Kata Hansen.

Laura dan pak Hansen keluar dari ruangan itu.

"Ada apa?" Tanya Hansen.

"Apa kau sungguh akan membiarkan dia melakukan siaran langsung itu?" kata Laura.

"Apa monster-monster mengerikan itu akan benar-benar muncul dan menangkap lima hari lagi? Aku rasa itu tidak akan terjadi. Ini kesempatan bagus untuk mempermalukan kebenaran baru di depan umum. Selain itu Bu jeni juga tidak di rugikan sama sekali. mereka mempermalukan diri mereka sendiri dan memberikan 3 miliar." kata pak Hansen.

"Tapa bagaimana jika para monster mengerikan itu benar-benar muncul?" Tanya Laura.

"Apapun yang terjadi, sebaiknya dia menerima uang itu. Anak-anaknya akan hidup sendirian." Kata pak Hansen.

"Kita laporkan ini pada polisi." Kata Laura

"Oke. Aku akan membuat rencana untuk melindungi anak-anaknya. Aku akan bilang, kau menerima Kasus ini, ya? Kata pak Hansen.

Setelah itu, lak Hansen masuk kembali keruangan itu dan mengatakan kepada ibu Jeni bahwa mereka sudah sepakat akan membantunya.

Ibu Jeni kemudian kembali kerumahnya. Ia menatap kedua anaknya sambil terus menerus menangis.

Keesokan harinya, di kantor polisi. pihak kepolisian telah menerima hasil otopsi korban pembunuhan di restoran Bintang beberapa waktu lalu.

"Itu laporannya? Berikan padaku. Kata Detektif Johan.

Detektif Johan melihat hasil otopsi itu dan mulai marah-marah.

"Apa ini?" Tanya detektif Johan.

"Jadi jasad korban yang terbakar hangus itu bukan manusia. Tapi sesuatu yang bukan berasal dari dunia ini." Jawab William.

"Omong kosong apa ini? Lantas apa itu! Seorang pria meninggal disiang bolong dan juga ada banyak saksi mata, bagaimana mungkin itu disebut bukan manusia? Lalu apa itu! Kalian semua juga melihat korban berlari untuk menyelamatkan diri. Bagaimana harus dilaporkan kepada atasan!" Kata Detektif Johan sambil melempar hasil laporan itu di atas meja.

Ditengah kekacauan yang terjadi dikantor polisi, tiba-tiba detektif Yano menerima panggilan telepon dari pengacara Laura.

Setalah itu segera detektif Yano dan Ryan meluncur ke tempat yang di beritahu oleh pengacara Laura.

"Ketua Joshua, senang bertemu denganmu lagi." Sapa detektif Yano.

"Oh, kita ketemu lagi. Rupanya para pengacara itu menghubungimu." Kata Joshua.

"Ada ancaman pembunuhan, tentu saja polisi harus menanganinya." Jawab detektif Yano.

"Apa ada alasan resmi menggapa kami tidak boleh terlibat?" Tanya Ryan.

"Tentu saja tidak. Akan lebih baik jika melibatkan banyak orang." Jawab Joshua.

"Tapi aku tidak tahu, kebenaran baru memiliki uang sebanyak itu." Kata detektif Yano.

"Kami memiliki anggota yang sangat beragam. Dan beberapa dari mereka sangat kaya raya. Ngomong-ngomong kau menyebutnya ancaman pembunuhan?" Tanya Joshua.

"Kami anggap kasus-kasus ini sebagai pembunuhan yang diberitahu." Jawab detektif Yano.

"Detektif yang menyelidiki titah tuhan. Kedengarannya sangat mistis. " Kata Joshua.

"Menarik." Kata Ryan.

"Detektif, tidakkah kau berpikir, kau seperti seorang pemburu?" Kata Joshua sambil tertawa kecil.

"Bukankah lebih baik jadi pemburu, daripada pemimpin yang menganiaya orang yang tidak bersalah dengan dalih titah dari tuhan?" Kata Laura .

"Kau pasti pengacara Laura." Kata Joshua.

"Masuklah, ada banyak yang harus disiapkan." kata Joshua.

kemudian Joshua mengatakan pada para pengikutnya untuk mengatur pertemuan dengan pemilik rumah yaitu ibu Jeni.

Mereka semua masuk kedalam rumah ibu Jeni.

"Maaf hanya ini yang bisa aku sajikan." kata ibu Jeni menyajikan teh.

"Tidak apa-apa ini sudah cukup." Jawab Ryan.

"Silakan diminum." Kata ibu Jeni.

"Apa anak-anakmu berada disekolah?" Tanya Ryan.

"Aku menyuruh mereka untuk diam dikamar."Jawab ibu Jeni.

"Jika memungkinkan, kami ingin bertemu dengan mereka." Kata Detektif Yano.

"Kenapa?" tanya ibu jeni.

"Tidak apa-apa, lupakan saja." kata detektif Yano.

sementara itu, pengacara Laura dan ketua Joshua sedang mengurus perjanjian dan pembayaran uang yang akan diberikan pada ibu Jeni perihal siaran langsung kematiannya.

Kemudian Joshua melihat foto anak-anak ibu Jeni, dan menanyakan usia mereka. Ok Bu jeni kemudian memberi tahu ketua Joshua, anaknya yang kakak berusia 12 tahun dan yang adik berusia 6 tahun.

setelah uang itu di transfer, ketua Joshua mulai menanyakan berbagai macam pertanyaan kepada ibu Jeni, sampai kepada pertanyaan yang tak seharusnya, pengacara Laura menyuruh ibu Jeni agar tidak perlu menjawab pertanyaannya itu, namun ketua Joshua berkata dia penasaran dan terus melontarkan berbagai macam pertanyaan.

Sementara itu detektif Yano dan Ryan menyimak percakapan mereka.

"Apa maksudmu terus bertanya kepada ibu Jeni?" Tanya pengacara Laura.

"Karena aku harus mengetahui alasannya." Jawab Joshua.

"Alasan apa?" Tanya pengacara Laura.

"Bukankah sudah jelas? Aku ingin mengetahui alasan ibu Jeni pasti masuk ke neraka." Jawab ketua Joshua.

...Bersambung...👉...

1
Anita Jenius
Wah ceritanya seru.
beberapa like buatmu. semangat ya
Ningsi Srin Sunarti: terimakasih banyak 😇🙏 semoga suka dan dukung terus ya?
total 1 replies
bb_yang_yang
Terbaik! Worth to read!
Anime lovers
Saya merasa terinspirasi oleh perjuangan tokoh-tokoh dalam cerita.
Ningsi Srin Sunarti: Halo, terima kasih 🙏 dukung terus ya, God bless 😇
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!