Apa yang terjadi jika ada seseorang yang masuk dalam hidupmu adalah orang yang usianya jauh di atasmu dan bukan type yang sefrekuensi denganmu. Di saat kamu mengharapkan bebas, namun dia adalah pria yang protective dan penuh aturan.
Ini adalah kisah cinta ringan sepasang manusia.. tentang seorang gadis usil dan riang namun bertemu dengan pria jebolan pesantren tapi mesumnya setengah mati.
Tampilannya mungkin urakan dan begajulan bak preman pasar memang begitu meresahkan tapi siapa sangka pria tersebut sangat menghargai wanita terlebih saat sudah jatuh cinta, garang tersebut lenyap dan berubah lembut.. selembut kapas.
note : TINGGALKAN JIKA TIDAK TAHAN KONFLIK DI DALAMNYA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NaraY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Ada rahasia.
"Mau makan apa?" Bang Noven mengulang pertanyaannya lagi.
"Dari tadi tanya begitu khan enak, kenapa harus tarik urat dulu." Kata Irene.
Tak tau lagi bagaimana harus bicara dengan makhluk ajaib Tuhan yang bernama wanita, tapi mungkin inilah seni nya menikahi gadis yang usianya jauh di bawahnya.
"Maaf ya, sekarang mau makan apa?" Bang merendahkan nada suaranya serendah mungkin.
"Sate." jawab Irene singkat.
Syukurlah Irene langsung menjawab inginnya tanpa harus banyak perdebatan dengan kata 'terserah' yang memusingkan jiwa raga bahkan kata 'terserah' nya wanita lebih rumit dari pemecahan rumus matematika.
...
"Kenapa sate ayam atau kambing??" protes Irene kemudian.
"Laah.. kamu maunya apa Neng? Sate yang umum ya dua ini.. ayam dan kambing. Memangnya kamu mau sate apa?" tanya Bang Noven saat mereka sudah tiba di resto sate ayam dan kambing.
Irene melipat kedua tangan di depan dada dan kembali melihat ke sisi kiri jalan.
"Gustiii nyuwun ngapuro. Umpomo ora nesu iki opo lambene sariawan muter????" gerutu Bang Noven.
"Abang ngomong apa sih? Irene nggak ngerti. Memangnya Abang nggak tau kalau Irene nggak lahir di Jawa. Pokoknya Irene nggak sariawan, maunya sate." jawab Irene datar
Baru kali ini Bang Noven tersenyum, senyum kemenangan yang sulit untuk di artikan. "Abang bilang, Abang belum pernah lihat gadis secantik kamu."
"Oya??" Irene masih bersikap tenang kemudian mengambil liptint di dalam saku tasnya lalu memakainya. Warna yang kalem tapi sangat indah di bibir kecil Irene.
"Coba warnanya sedikit lebih merah dek, atau lebih pink lagi." Kata Bang Noven.
"Seperti siapa? Mbak Vindy?" tanya Irene.
"Mulai lagi. Ada saja bahan ributmu itu. Cepat bilang, sate apa nih??"
"Kenapa sih Abang nggak paham juga. Jenis sate itu banyak. Masak tentara basic Intel nggak bisa menerka situasi dan kondisi." cerocos Irene membuat mata Bang Noven seketika terbelalak.
"Intel nggak urus sate. Ini jadi makan atau tidak?" ucap gemas Bang Noven.
"Nggak."
Bang Noven mengusap wajahnya. Dirinya yang terbiasa tegas, lugas dan langsung menyelesaikan pokok perkara namun kali ini begitu kesulitan berhadapan dengan seorang gadis belia.
"Jangan sampai perkara sate ini buat kita ribut ya. Abang sudah tanya baik-baik, tinggal jawab macam satenya saja susah sekali."
Irene yang merasa terus saja di bentak Bang Noven akhirnya memilih turun dari mobil dan secepat itu pula Irene naik motor dari sebuah pangkalan ojeg yang tak jauh dari resto sate tersebut.
Bang Noven segera turun dan menyusulnya namun Irene sudah melesat di hadapannya.
"Ireenee.. dekk..!!!!" Bang Noven kesal karena tidak bisa menghentikan motor tersebut, dengan langkah cepat ia segera masuk ke dalam mobil dan mengejar laju motor Irene. "B*****t, Angel tenan aturane." tangannya sampai memukul kencang kemudi mobilnya.
...
tok.. tok.. tok..
"Dek.. Irene. Buka pintunya..!!" Bang Noven tau Irene sudah ada di dalam kamar mess namun gadisnya itu tak mau bicara padanya. "Kita beli makan yuk..!!" bujuknya.
"Kenapa Nyo?"
"Biasa lah. Perempuan, begitu lah kalau lagi ngambek." jawab Bang Noven.
"Sabar.. namanya juga menangani pucuk daun. Kalau sudah dewasa nggak ada seninya." kata Bang Jay menghibur sahabatnya.
\=\=\=
Empat hari berlalu.
Bang Noven menatap kamar messnya. Di depan pintu sudah ada beberapa potong pakaiannya dan Irene tetap tidak mau bicara dengannya. Ia kembali menggantung sarapan untuk Irene di handle pintu kamarnya.
"Masih belum mau bicara?" tanya Bang Jay.
"Belum."
"Apakah ada trauma sampai sikapnya aneh seperti ini?" Bang Jay balik bertanya.
"Tidak tau pot." jawab Bang Noven. Raut wajahnya pias mengisyaratkan kesedihan.
"Irene.. Ini Bang Jay. Mau temani Abang jalan nggak pagi ini." akhirnya Bang Jay ikut turun tangan membujuk tapi nihil. Irene tak juga meresponnya.
"Ikut aku cek cctv..!!" ajak Bang Noven.
"Eehh setan. Sejak kapan lu pasang Cctv??" Bang Jay kaget mendengar ajakan Bang Noven.
"Sudah ada satu tahun." Dengan santainya Bang Noven mengakui.
"Aahh Gila lu. Berarti lu tau donk gue pernah buat apa aja di kamarmu?????"
"Nggak juga. Aman lah."
"Hhhh... Alhamdulillah."
"Paling gue lihat lu buka situs sambil nonton lu main game 'blind love'. jawab Bang Noven.
"Aahh b*****t lu."
//
Bang Noven melihat Irene meringkuk dan menghapus air matanya. Hati Bang Noven semakin tidak tenang di buatnya.
Bang Noven yang gelisah memikirkan Irene akhirnya keluar kamar dan menghampiri kamarnya di sebelah.
"Buka dek.. jangan bertingkah kekanakan. Apa dengan diam begini bisa menyelesaikan masalah??????" suara Bang Noven meninggi. Rasa sabarnya perlahan menipis. "Dek..!!!!!!!!"
Tau Irene tak menanggapinya, Bang Noven naik darah dan menendang pintu hingga pintu sekokoh pintu jati tersebut terlepas dari bingkainya.
braaaakk..
Disana Irene sudah berkemas dan mengangkat tas kopernya.
"Mau kemana kamu?????" bentak Bang Noven.
Irene tidak menjawab dan segera berlalu. Merasa tidak di anggap Bang Noven terpancing emosi, sekali tepakan tangannya.. koper itu terlepas dari tangan Irene.
"Irene tidak suka di bentak."
"Saya tidak akan membentakmu kalau kamu menurut. Ini sudah hari ke empat kamu menguji kesabaran saya Irene..!!!! Jangan bersikap kekanakan." suara Bang Noven tetap meninggi meladeni sikap Irene.
"Abang tau Irene masih anak-anak. Apa yang di harapkan dari seorang anak-anak??? Irene tidak bisa sedewasa Mbak Vindy yang Abang banggakan, tidak semulus dan seindah bodynya yang bagai bidadari. Apa yang Abang mau?????"
Bang Noven terdiam mendengar suara Irene. "Kenapa laki-laki hanya bisa membentak dan terus membentak. Selain Abang-Abang Irene, hanya Bang Dwi yang tidak pernah membentak Irene. Hanya Bang Dwi yang bisa membuktikan bahwa laki-laki yang tulus mencintai tidak akan melayangkan tangannya dan tidak meninggikan suaranya pada wanitanya."
"Kapan saya pernah memukulmu??" Bang Noven mulai merendah suaranya, terselip rasa kesal karena Irene membandingkan dirinya dengan pria lain yang notabene adalah 'mantan' kekasih Irene.
"Laki-laki yang tidak mencintai wanitanya pasti akan memukul." jawab Irene.
Bang Noven melangkah maju berniat membujuk Irene tapi gadis itu mundur. Nafasnya mulai berat ketakutan.
"Jangan..!!"
"Ireneee..!!" Bang Noven tetap mencoba mendekatinya tapi Irene meringkuk menyembunyikan tubuhnya. Tangan Bang Noven sempat menyentuh tubuh Irene dan terasa panas. Bang Noven tau Irene sedang memberontak tapi tenaga itu sama sekali tak sebanding dengan tenaganya.
"Papaa.. Bang Novraaa..!!" mata Irene terpejam dan akhirnya ambruk menimpa Bang Noven.
"Dek.. Irene.." Bang Noven mengguncang bahu Irene namun gadisnya itu tidak merespon. "Jayaaaa, Jaay.."
Bang Jaya tergopoh-gopoh menuju kamar Bang Noven.
"Aaaa.. avaa??" tanyanya sambil menggosok gigi. Mulutnya masih penuh dengan busa pasta gigi.
"Temani aku ke rumah sakit..!!" ajak Bang Noven.
Secepatnya Bang Jaya berkumur dengan air seadanya di ember hitam tepat di depan kamar Bang Noven. Bang Jaya pun langsung bersiap mengangkat Irene.
plaaakk..
Bang Noven menepak tangan pria menyebalkan itu. "Kamu nyetir, aku yang angkat Irene..!!!!"
"Oohh.. ku kira." Bang Jay segera mengambil kunci mobil Bang Noven. "Air apa sih di depan kamarmu?? Nggak enak banget."
"Air bekas kuras aquarium. Kamu nggak lihat di ember itu ikannya." jawab Bang Noven sambil mengangkat Irene.
"Haaaahh.. kenapa nggak bilang Nyoooo..!!!!"
.
.
.
.
saya mampir.... thor
🙏