Diana seorang gadis yang tidak pernah kenal siapa orangtua kandungnya bertemu dengan Adi Pramono seorang Presdir secara tidak sengaja bertemu di taman.
****
"Diana." Teriak Beni cukup keras sehingga orang-orang melihat Beni.
Diana tersentak kaget mendengar suara papanya yang cukup keras, tiba-tiba rasa takut menghampirinya.
"Apa papa marah padaku, tidak pernah papa teriak sekeras itu padaku." pikir Diana.
Beni berjalan dengan sangat cepat, dan terlihat Meri tersenyum sangat manis pada Beni.
Seketika Meri merasa ketakutan melihat Rudi masuk bersama polisi. Beni dan Rudi telah melaporkan kejahatannya pada polisi dan bukti yang mereka miliki tidak bisa disangkal Meri meskipun kejadian bertahun-tahun yang lalu.
Meri marah pada Beni karena Diana dan akhirnya melampiaskan kemarahannya dengan mengatakan semua rahasia yang selama ini ditutupi Beni.
"Anak haram, kamu itu anak haram Diana." ucap Meri membuat Diana terkejut dan terpukul hingga memutuskan untuk lari menjauh dari mereka semua. Diana terus berlari sampai dia lelah dan akhirnya berhenti di sebuah taman dan menangis tersedu.
"Hapus air matamu. Kau mau disini terus atau ikut denganku?" ucapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Darmayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode empat belas
Setelah sesai semua urusan di restoran, mereka melanjutkan perjalanan menuju ke kota X. Kota tempat dimana Lily dimakamkan dan cerita tentang masa silam yang berusaha disimpan rapat-rapat oleh Beni.
Selama perjalanan, Beni hanya diam fokus menyetir sambil berpikir harus darimana dia memulai cerita yang disimpannya dan bagaimana reaksi Diana nanti jika tahu cerita suram ini.
"Pa, ini jalan kemana ya kayaknya aku belum pernah deh lewat sini?"
"Ini jalan menuju ke tempat mamamu Din ke kota X. Kamu kan belum pernah kesana jadi wajarlah kamu tidak mengenal jalan ini."
"O. Pa, mama dulu kayak apa pa?"
"Mamamu ya." Beni terlihat berpikir keras untuk menjawab pertanyaan Diana, dia harus mulai darimana dan sepertinya Diana tidak akan puas dengan jawaban singkat.
"Papa kenal mamamu di sebuah restoran, saat itu mamamu bekerja sebagai pelayan dan papa sebagai asisten manajer. Mamamu hidup seorang diri yatim piatu di kota X tanpa sanak famili." kemudian, Beni terdiam cukup lama yang membuat Diana penasaran.
"Terus pa kok malah diam, papa ingat mama ya." tanya Diana dengan hati-hati.
"Papa bingung Din mau mulai cerita darimana tentang mamamu dan papa sendiri juga tidak begitu mengenali mamamu sampai papa begitu menyadari jika papa mencintai mamamu. Dan itu semua baru papa akui ketika sudah tidak ada harapan lagi." Beni mengenang masa ketika dia mengungkapkan perasaannya dihadapan Lily yang sedang koma berjuang untuk hidupnya sendiri. Beni tak kuasa menyampaikan itu pada Diana.
"Jadi, alasan mama meninggalkan papa karena mama merasa papa tidak cinta ya pa?" timpal Diana yang membuat jantung Beni serasa berhenti.
"Bagaimana aku menjawab pertanyaan anakmu Lily, bagaimana kita berpisah jika sebenarnya kita tidak pernah bersama sebagai sepasang kekasih apalagi suami istri." gumam Beni sambil merenung.
"Yah bisa dibilang begitu Din, walau papa terlambat mengungkapkan dan mama mu tidak bisa merasakannya tapi papa yakin mamamu akan senang melihat dirimu menjadi gadis cantik. Anak yang papa besarkan dengan tangan papa sendiri sekarang menjadi gadis cantik." jawab Beni sambil tersenyum sembari menenangkan hatinya yang pilu.
"Pa, dulu papa sama mama siapa yang ngajak menikah duluan ya pa?"
"Pertanyaan apa lagi ini, bagaimana menjawabnya. Oh gusti tidak mungkin, aku bilang aku tidak pernah menikahi mamanya." Beni kembali terdiam dengan pertanyaan Diana yang sulit dijawabnya.
Melihat Beni yang mulai kerepotan dengan pertanyaan-pertanyaan Diana, bi Senum berusaha mengalihkan perhatian Diana dari meneror Beni.
"Non, kira-kira nanti non ketemu sama mamanya nggak mewek kan." ledek bi Senum
"Ah bibi jangan begitu dong ledeknya. Namanya juga baru pertama ketemu mama ya pasti nangislah bi."
Dan bi Senum mulai bercerita tentang hidupnya pada Diana sehingga Diana lupa dengan pertanyaan untuk Beni tentang mamanya.
"Ah ada untungnya juga bi Senum dibawa." pikir Beni
"Bapak hutang lho sama saya, karena sudah saya bantuin." lirikan Bi Senum pada Beni menandakan bahwa bi Senum minta imbalan hadiah atas usahanya dan dijawab senyum kecut oleh Beni.
Beruntung bi Senum mengetahui sikap diam Beni yang tidak tahu jawab apa pertanyaan Diana yang semakin menjurus tentang hubungannya sama mamanya.
Perjalanan semakin melelahkan karena jarak dari kota M ke kota X lumayan jauh dan mereka sudah memasuki gerbang kota X.
"Non, non bangun kita sudah sampai di kota X, apa nona mau tidur terus?" tanya bi Senum
Hoam, Diana mengeliat merilekskan tulang-tulangnya yang serasa mau patah karena tidur sambil duduk.
"Sampai dimana kita bi?"
"Kita sudah masuk ke kota X non, noh disana ada gerbang ucapan selamat datangnya."
"Pa, nanti mama tunggu kita dimana pa? apa papa sudah kasih kabar ke mama?"
"Oh sudah tadi, papa sudah telpon mamamu pas kamu lagi tidur." ucap Beni berbohong pada Diana. Yah tidak mungkin Beni menelpon Lily yang sudah tidak ada.
lagi vakum nulis novelnya, sekali lagi maafya. mgkn nanti dilanjutkan lagi 🙏🙏🙏