Bagaimana jika kau mencintai anak angkatmu sendiri?
Begitulah yang tengah di rasakan oleh Maxwell. Ia adalah satu-satunya suami yang tak mengharapkan Istrinya hamil. Bahkan, saat wanita itu di harus menjalani operasi Rahim maka Maxwell-lah satu-satunya manusia kejam yang tak perduli.
Ia di paksa untuk mengangkat seorang anak untuk mengobati trauma Istrinya. Tapi, balita 4 tahun itu sangat menguji kesabaran Maxwell yang di buat hidup di dunia Fantasi dan Mitologi.
Bagaimana tidak? saat Mentari datang maka Bocah itu akan sama seperti anak pada umumnya. Ia berkeliaran membuat suara berisik memusingkan. tapi, di malam hari ia akan menjelma menjadi seorang wanita dewasa yang arogan bahkan menyaingi sikap dinginnya.
Sosok yang begitu kasar dan selalu ingin membunuh membuat Maxwell hidup bagai di medan perang.
Mampukah Maxwell menundukan Sosok itu? atau ia terjebak dalam keputusan paksaan ini?
....
Tinggalkan Like, komen, Vote dan Giftnya ya say 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa kau?
Jam sudah menunjukan pukul 2 dini hari. Rembulan bertambah naik bergulir ke ufuk langit yang tampaknya tengah dalam mode hening dan merajuk pada bintang-bintang yang malam ini meniadakan diri.
Hawa magis dan panorama larut bertambah terasa dan tak bisa di hindarkan. Seperti yang terjadi di ruangan luas dengan beberapa tempat yang tersusun begitu rapi dengan hawa dingin yang begitu terasa disini.
Bagaimana tidak? Suasana kamar yang remang memberi peluang pada sesosok bocah yang terlihat sedari tadi gelisah di atas Ranjang sana.
Wajahnya merah dan rasa panas menjalar di sekujur kulitnya. Tak bisa tidur dan ada beberapa bagian yang terasa sakit bahkan ia merintih saat kepalanya pusing dan tak bisa di diamkan.
"M..Mama!" erangnya terkapar tak berdaya di atas Ranjang.
Pakaian itu sudah ia buka untuk meredam rasa panas yang begitu membakar ini. Keringat mengalir deras dan bahkan bernafas saja ia kesusahan dengan mata menembus remang-remang gelap mencari tempat yang bisa ia jadikan obat pendingin.
"D..Daddy!! M..Mamaa!"
Panggilnya terus seraya merangkak turun dari ranjang Tubuh polos mungil itu terlihat sangat tak berdaya di hantam gelombang panas sampai ia terus memanggil seseorang untuk membantunya.
"D..Daddy! D..Dady t..tolong.."
Lirihnya merangkak di lantai dingin ini berharap jika Panasnya akan reda. Tapi, tetap saja masih terasa berapi-api.
Ia tak menyadari jika sosok yang tengah ia cari tak terlihat duduk di atas Sofa di depan Ranjang. Sedari tadi ia diam melihat keanehan Evelyne dengan menunggu puncak misteri ini.
"D..Dad!"
"Apa dia punya kelainan?"
Batin Maxwell terasa kebingungan. Ia sengaja membuka Pintu kamar mandi dengan lampu dari dalam sana menyinar sampai keluar dan tentu Evelyne akan pergi ke sana karna mendengar suara tetesan air.
Dengan sangat jelas Maxwell melihat tubuh mungil polos tanpa pakaian itu merangkak ke dalam kamar mandi dengan kulit meradang dan wajah merah mendidih.
Suara rintihan Evelyne semakin terdengar dan sesekali Maxwell menangkap suara tangisan tak berdaya yang begitu menyedihkan.
Namun. Setelah menunggu beberapa saat kemudian Maxwell tersentak kala Lampu kamar mandi langsung padam. Ia bangkit dari duduknya dengan balutan kaos pendek dan celana santai yang menambah kesan gagah di tubuhnya.
Terdengar suara deraian air yang begitu keras jatuh ke lantai membuat rasa penasaran Maxwell bertambah menjadi-jadi.
"Tak mungkin tinggi badan Evelyne bisa menggapai Saklar lampu yang setinggi itu."
Batin Maxwell sudah berdiri ambang pintu kamar mandi. Gemercik air semakin terdengar nyata membuatnya diam mematung dengan kewaspadaan tinggi.
Insting pemburu Maxwell seketika aktif merasakan jika ada yang tengah berjalan ke arahnya dengan pergerakan tak stabil.
Dalam beberapa detik kemudian ada kaki dingin yang menginjak kakinya dan spontan Maxwell melayangkan tangannya mencengkram lengan seseorang.
"Ini.."
Maxwell terkejut hebat kala lengan yang ia peggang bukan ukuran anak kecil. Sontak hal itu membuat sosok yang tengah bersembunyi di balik kegelapan ini langsung berbalik menyerang bahkan hampir meninju dada bidang Maxwell yang sigap menangkap kepalan basah panas Mahluk ini lalu segera mengunci pergerakannya.
Maxwell menekan kedua tangan lembut namun kuat ini ke dinding kamar mandi tapi ia cukup risih kala merasakan ada yang tengah menekan dadanya dan terasa cukup padat.
"Mahluk apa ini?!"
Batin Maxwell sangat penasaran karna dalam penguncian tangannya. Maxwell masih merasakan pemberontakan yang sangat kuat dan tenaganya juga tak main-main.
Dan benar saja. Saat Maxwell bertanya-tanya dalam pikirannya sendiri tiba-tiba saja ada yang mengigit bahunya dengan kuat bahkan mampu menembus kaos yang Maxwell pakai.
"Sialaan!!!" geram Maxwell menarik rambut agak panjang ini lalu mendorongnya ke lantai dan spontan lampu langsung menyala.
Duarrr..
Mata Maxwell melebar menelan sesosok Wanita yang tengah terjatuh na'as di lantai dingin ini tanpa busana apapun.
A..Apa ini?
Maxwell mematung antara syok dan terkesima dengan sesosok wanita berambut sebahu dengan kulit begitu putih disempurnakan oleh kaki jenjang semampai dan bentuk tubuh yang begitu seksi.
Mata abu terang itu menatapnya dengan tajam tanpa mau menutupi bagian dada yang terlihat sintal dan sekang serta bagian inti terlihat sangat menggoda.
Jakunnya sampai naik turun dengan wajah merah dan kaku seperti tak pernah melihat bentuk Tubuh seindah ini.
"K..kau.."
Maxwell langsung mengalihkan pandangan kearah Wastafel. Ia menelan ludah berat dengan tubuh panas dingin dan gelisah tak menentu.
Tidak. Dia.. Dia pasti hanya ilusi. Tak mungkin ada Wanita dewasa di kamar mandiku.
Bantah Maxwell berperang dengan akal sehatnya. Ia terus bernafas berat seraya menormalkan pompa'an jantung yang menggila.
Untuk beberapa saat ia diam mengendalikan diri tapi kemudian ia kembali menoleh ke arah Wanita tadi yang sudah tak ada di tempat.
"Dia.."
Belum sempat Maxwell berbicara tiba-tiba saja Punggungnya sudah di terjang kuat dari belakang hingga Tubuh kekar Maxwell dengan pertahanan yang memang kuat hanya oleng dan segera berbalik.
Di tatapnya wajah Cantik dingin itu menjaga mata agar tak bergulir ke area lain.
"Kenapa kau di disini?" geram Maxwell penuh intonasi mengintimidasi.
Tak ada jawaban dari Wanita yang masih saja lancang mempertontonkan tubuh indahnya ini. Ia menatap dingin Maxwell lalu melihat penampilan Pria itu dari ujung kaki sampai puncak kepalanya.
"Dimana bocah kecil yang ada disini tadi?"
Lagi-lagi hanya membisu. Kesabaran Maxwell hanya setipis tisu hingga ia langsung mengambil Shower yang ada di dekatnya bersiap menghantam kepala Wanita ini tapi lagi-lagi sosok itu sangat cepat keluar dari kamar mandi.
"Brengsek!!"
Maki Maxwell mengejar wanita itu di tengah kegelapan kamar. Remang-remang ini membuat Maxwell harus siaga karna dalam beberapa langkah ia ke pintu tiba-tiba saja ada barang keras yang melempar Punggungnya.
"Kau memang ingin MATI."
Geram Maxwell mengambil Pistol di dalam laci dekat meja Sofa yang ia hafal tempatnya lalu menarik pelatuk ke beberapa tempat yang ia tembak Brutal.
"KELUAR KAUU!!!"
Suara tembakan itu sangat nyaring bahkan diiringi beberapa pecahan kaca dan Furniture ruangan. Maxwell terus menembak tak tentu arah dengan mata membidik Siluet bayangan yang begitu lincah bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain.
Dalam beberapa saat Maxwell menghabiskan Pelurunya hingga dalam detik terakhir ia mendapatkan sosok itu.
"Cih," umpat Maxwell segera berbalik dengan lampu yang menyala otomatis karna ia menembak arah Sistem di atas Plapon.
Pistolnya tengah melekat ke kening mulus Wanita yang tampak hanya diam berdiri dengan satu tangan di belakang dan satunya mengepal. Mata begitu dingin dan tak bisa di tebak isi pikirannya.
"Kau ingin lari kemana. Hm?" desis Maxwell menekan ujung Pistolnya.
Ia melihat betapa indahnya wajah cantik simetris dengan ciri khas bola mata abu dan bibir kecil tebal serta hidung mungil dengan rona merah di kedua pipi mulusnya.
"Sebelum kau tiada. Jawab pertanyaanku! SIAPA KAU?"
Lagi-lagi sama. Maxwell pun tak punya kesabaran sebanyak itu hingga ia langsung menarik pelatuk di tangannya berniat menghabisi wanita ini.
Sayangnya. Sebelum Maxwell menembak maka Pisau di tangan sebelah kanan wanita itu sudah langsung menusuk perutnya.
Mata Maxwell melebar dengan Pistol yang juga segera melepas tembakan ke area bahu sosok itu.
Keduanya sama-sama mematung dengan mata bertaut dalam dan tak ada raut sakit sama sekali.
"K..Kauu.."
....
Vote and Like Sayang..