Apa yang pertama kali kamu pikirkan ketika seorang wanita menjadi istri ke 2?
Seorang pelakor?
Seorang wanita perebut suami orang?
Lalu bagaimana jika pernikahan itu berlandas keterpaksaan, dari seorang gadis berparas cantik dan baik bernama Isna Happy Puspita berusia 22 tahun, yang harus memilih diantara kesulitan hidup yang dia jalani, dan menerima sebuah penawaran dari seorang wanita elegan dan dewasa bernama Kartika Ratu berusia 43 tahun, untuk menjadi istri ke 2 suaminya yang tampan dan kaya raya, Krisna Aditya berusia 34 tahun.
Bagaimana kehidupan selanjutnya gadis itu, yang malah membuat suaminya jatuh cinta padanya?
Akankah dia bahagia?
"Salahkah bila aku jatuh cinta lagi? dan dosakah ketika aku menghianati perasaanmu, yang jelas itu ku labuhkan pada wanita pilihanmu, yang kini jadi istriku?" Krisna
"Bolehkah aku juga menyukainya? mendapatkan cinta dan kasih sayang darinya? aku tidak merebutnya, tapi kau yang menawarkannya?" Isna
"Kau hanya boleh menyentuhnya dengan tubuhmu, tapi bukan hatimu. Bagaimanapun aku serakah apapun alasanku. Aku menginginkan semua cinta untukku sendiri, dan benci untuk berbagi." Kartika
follow IG @Syalayaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syala yaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 Sebuah Serangan
Happy Reading ...
Villa Puri Indah pukul 07:50 malam.
Krisna menepati janjinya pada Isna sesuai dengan ajakannya saat makan malam tadi. Setelah mendengar ocehan kekesalan Isna panjang dan lebar, dia pun mengiyakan untuk diajak menikmati suasana kebun teh, malam hari ini juga.
Semua orang tunduk padaku, kenapa kali ini aku yang tunduk padanya?
Krisna membisu, mengekor di belakang Isna dan Wisnu. Gadis itu dengan sok kuat terus melangkah melewati jalan setapak, jalan beraspal rusak dengan beberapa kerikil kecil yang hampir membuatnya tergelincir. Untung dengan sigap Wisnu bisa meraih tubuh Isna agar tidak sampai terjatuh. Pemandangan itu sungguh membuat Krisna seperti seekor nyamuk.
Perasaan pria itu menjadi tidak senang. Namun, gengsinya teramat tinggi untuk sekadar menggantikan posisi Wisnu di samping Isna, menjaga calon istri keduanya.
Aku tidak mungkin tiba-tiba bersikap baik dan lunak padanya setelah penghinaanku padanya tempo hari.
“Sudah malam, ayo kembali ke Villa,” ajak Krisna dengan suara malas.
Sebenarnya dia ingin sekali berteriak dan memisahkan kedua orang di depannya itu. Mendorong dengan kuat agar mereka jatuh terjerembab dan memohon ampun. Raut wajah Krisna kini tampak menggeram kesal. Kedua orang kesayangan Seno di hadapannya memang benar-benar berhasil menguji kesabarannya. Akan tetapi, seorang Krisna pasti bisa menahan diri dan berpikir waras.
“Kembalilah sendiri,” jawab Isna tanpa menoleh.
“Ck! Aku tidak suka dibantah!”
“Dan aku benci diperintah,” sahut Isna menghentikan langkahnya dan berbalik untuk menghadap Krisna.
Krisna juga berhenti melangkah dengan canggung berhadapan dengan Isna. Entah mengapa, dia malah merasa gugup. Wajah geramnya memudar.
Aku bisa gugup di hadapan gadis ini? Jantungku sepertinya harus diperiksa dokter.
“Kalau tidak ikhlas menemaniku jalan-jalan, Anda bisa kembali, Tuan Krisna,” ucap Isna dengan sikap tenang dan meraih tangan Wisnu, menariknya agar kembali berjalan.
Wisnu memandang Krisna dengan tatapan kaku, bingung antara menolak atau tidak. Terdengar dengusan napas Krisna yang menampakkan ketidaksukaan pada apa yang dilihatnya malam ini.
“Ayo cepat jalan,” Krisna mempercepat gerak langkahnya hingga berada di sisi Isna.
Isna masih memegang lengan Wisnu erat tanpa menoleh ke arah Krisna. Krisna jelas menjadi kesal karena merasa diabaikan.
Dia bersikap kurang ajar, berani mengabaikanku?
“Wisnu, kembalilah ke Villa, ambilkan ponselku, aku lupa meninggalkannya dikamar,” perintah Krisna dengan tegas.
Isna dan Wisnu menatap Krisna dan berhenti melangkah. Wisnu segera melepaskan gayutan tangan Isna dan segera menunduk hormat ke arah Krisna.
“Baik, Tuan. Saya akan segera kembali,” jawab Wisnu tegas.
Wisnu pun melangkahkan kaki, kembali ke arah jalan menuju Villa.
“Kamu sengaja 'kan, menyuruhnya pergi?” decit Isna memicing kesal. Dengan bibir cemberut menampakkan rasa marahnya.
Krisna hanya bersemu menahan senyum lalu memilih melangkah meninggalkan Isna. Dengan wajah kesal dan hentakan kaki ringan, Isna menyusul dengan bibir bersungut-sungut. Tentu saja, Krisna menahan gelak tawanya melihat sikap Isna yang menurutnya sangat imut.
Mereka bertiga menyusuri jalan setapak berupa tanah liat berwarna coklat kemerahan saat terlihat pada siang hari dari arah Villa. Terasa cukup lembab dengan beberapa daun kering yang terinjak, terasa basah oleh rintik hujan saat kabut mulai turun. Hawa dingin dari tadi memang menyeruak tajam menembus jaket yang dikenakan Isna. Isna memegang lengannya yang masih berbalut perban. Menahannya agar tidak terlalu berdenyut saat tangannya berayun.
Isna memandang sisi kanan dan kiri. Sejauh mata memandang, hanya dedaunan teh yang rimbun dan terpangkas rapi. Sebenarnya suasana tampak semakin gelap saja, saat mereka mulai merangsek jauh kedalam perkebunan, menjauhi area Villa yang terang benderang berhias lampu bertenaga listrik ribuan watt. Tapi memang kegelapan itulah, yang sedang dicari Isna.
“Sebenarnya kita jalan kesini mau cari apa?” tanya Krisna menoleh kebelakang dan berjalan mundur menghadap Isna.
“Kegelapan,” jawab Isna cepat. Di masih berjalan santai dan lambat.
“Kau tidak takut gelap?” lanjutnya dengan tatapan tak lepas dari gadis mungil yang berjalan kearahnya.
“Apa kau tidak pernah mendengar, bahwa didalam kegelapan, terkadang bisa menampakkan sebuah keindahan?” tanya Isna masih berjalan santai.
Krisna tergelak. “Mana ada hal seperti itu, dalam kegelapan yang nampak, hanya iblis yang siap menerkammu, paham?” sanggahnya sambil berhenti berjalan. Menunggu Isna, hingga gadis itu semakin berjalan mendekat.
“Kau benar, aku saat ini malah sedang berjalan ke arahnya,” sahut Isna sambil mencibir dengan raut wajah menampakkan wajah menahan tawa.
“Kau mengataiku iblis?” decak Krisna, tersentak dengan sahutan Isna.
Krisna berulangkali mendengus dengan tatapan kesal, tapi tak bisa membalas ucapan gadis itu. Dia yakin, ini sikap balasan yang akan dilakukan Isna padanya, karena kata-kata hinaan darinya tempo hari.
Kenapa dia selalu bisa membalik ucapanku?
“Lalu, aku harus menyebutmu apa?” tanya Isna menampakkan wajah masam.
“Malaikatmu,” sahut Krisna percaya diri dengan raut wajahnya nampak menunjukkan kenarsisan.
Isna tergelak sambil menutupi bibirnya, bahunya naik turun mengurai tawa. Dia lalu berhenti berjalan dan duduk di sembarang tempat setelah jaraknya begitu dekat dengan tempat Krisna berdiri. Gadis itu mendongak ke arah langit, menikmati pemandangan di atas sana. Langit gelap bertabur bintang, tampak jelas menghiasi malam. Cuaca yang bagus, tidak ada kabut yang menyelimuti. Isna memandang dengan bibir menganga penuh kekaguman.
Malam ini indah sekali. Ayah, kau tahu apa yang kulakukan malam ini? Aku sedang bersama seorang pria yang kelak menjadi suamiku. Entah takdir kejam apa hingga aku harus melewati ini. Tapi ayah, bila aku tak bisa memberitahumu tentang pernikahanku, itu karena ini bukan kemauanku. Ayah, saat semua ini berakhir, aku akan datang menemuimu. Aku akan menemani hari tuamu. Kita akan bahagia bersama, Ayah. Kita akan kembali bisa menatap bintang bersama dan akan aku ceritakan kisah ini padamu. Agar Ayah bisa menertawaiku. I miss You, Ayah.
Krisna terpaku menatap gadis kecil itu. Pikirannya melayang entah ke mana, ia merasakan dejavu.
Bagaimana mungkin, hanya dengan melihat bintang saja, dia bisa sesenang itu. Apa dia tidak tahu, kalau berlian itu bahkan seribu kali lebih indah dari sekedar bintang. Gadis aneh.
Hingga tiba-tiba sebuah helikopter melintas tepat berada di atas mereka berdua. Mengitari perkebunan dengan deru mesin baling-balingnya yang berputar memekakkan telinga. Berputar menuju ke arah Villa yang berjarak sekitar 150 meter dari tempat Krisna dan Isna berada saat ini. Embusan angin yang dihasilkan membuat Isna harus merekatkan jaket yang dikenakannya karena merasa kedinginan.
Sejenak Krisna menatap ke mana arah Helikopter itu terbang, perasaannya mendadak tidak enak. Helikopter itu jelas bukan miliknya. Apa pun barang miliknya pasti akan diberi kode oleh Seno untuk mengenalinya dengan cepat.
“Apa kau masih kuat berjalan?” tanya Krisna sambil menekuk tubuhnya, pria itu berjongkok di samping Isna dengan wajah yang resah.
“Kenapa? Apa pengawalmu datang untuk menjemput?” tanya Isna polos tanpa menaruh curiga apa pun.
Krisna mendengus pelan. Dia merasa gusar karena tidak memprediksi sebelumnya. Sebuah situasi yang mungkin bisa saja terjadi.
“Berjanjilah untuk tidak menoleh ke belakang dan teruslah berjalan saat aku memintamu. Ikuti perintahku walau kau benci itu!” titahnya dengan rona wajah penuh kecemasan.
Isna masih menatap Krisna dengan raut wajah kebingungan. Dia menelan ludahnya dengan dada berdesir seakan-akan Krisna akan memberitahukan berita buruk padanya.
Suara helikopter masih terdengar berputar di atas bangunan Villa, menurunkan seulas tali dan beberapa orang dengan berpakaian serba hitam.
Dorrr!
Desingan suara tembakan menyentak pendengaran Isna. Gadis itu seketika menjerit sambil meraih tubuh Krisna dengan tangan bergetar hebat. Ya, suara keheningan kebun teh, hanya suara jangkrik dan hewan kecil malam yang sedang mencari makan, berubah menjadi suara mencekam oleh desingan sebuah senjata api yang meledak.
Krisna meraih pundak Isna dengan erat, mencoba menenangkannya dengan cengkeraman kuat di sana. Tampak jelas wajah gadis itu berubah pucat dengan bibir bergetar.
“Tony Darkson sepertinya datang untuk mencarimu!”
Krisna tampak memasang rahang mengeras. Tatapannya tajam mengarah pada helikopter yang saat ini sudah berada di atas Villanya. Terlihat dari jauh sedang menurunkan pasukannya masuk ke dalam area Villa tanpa izin dari pihaknya.
“Wisnu … lalu bagaimana dengan Wisnu?” teriak Isna. Dia teringat pengawalnya itu kembali ke Villa untuk mengambil ponsel.
“Berhenti memikirkan orang lain saat nyawamu sendiri terancam!” hardik Krisna kesal.
Diraihnya tangan Isna dan menarik menjauhi Villa. Dengan gemetar Isna menarik lagi tangannya memberontak. Gadis itu menepis tangan Krisna dengan kasar dan berniat untuk berbalik menuju ke arah Villa dengan langkah cepat. Ia mengabaikan rasa sakit di tubuhnya.
“Gadis Bodoh! Apa kau mau mati!”
Penuh rasa kesal Krisna mengejar Isna dan menarik tangannya dengan kasar. Dia tidak perduli lagi luka yang ada di tubuh Isna. Yang dia tahu, mereka harus segera pergi dari sana kalau ingin selamat dari serangan Tony.
“Lepas! Aku mau menolong Wisnu. Wisnu ada di sana.”
Isna meronta sekuat tenaga, dengan mata berkaca-kaca menatap ke arah Villa, Krisna menyeret tubuh lemah gadis itu agar mau mengikutinya menjauh. Isna hanya bisa menangis terisak.
“Tuan Krisna ... ayo kita tolong Wisnu!” teriak Isna memanggil dengan sedih bercampur marah.
Dorrr! Dorrr! Desingan suara tembakan saling bersahutan dari arah Villa. Sepertinya terjadi pertarungan di dalam sana. Krisna yakin, Wisnu dan para pelayannya mampu bertahan. Mereka bukan sembarang orang yang dipilih Seno untuknya.
Masih dengan sekuat tenaga Krisna membawa Isna menjauh. Setengah menarik paksa tubuhnya. Walau gadis kecil itu masih saja meronta, melawan cengkraman tangannya.
“Percayalah pada kemampuan Wisnu, Isna!” teriak Krisna menyentak Isna hingga gadis itu berhenti meronta.
Mata merah berurai tangis, gadis itu menatap tajam ke arah Krisna.
“Kau pengecut! Kau seharusnya menolong orang-orangmu!” teriak Isna sambil menangis. Dia menepis tangan Krisna dengan kasar.
“Kau bodoh! Kau tidak tahu apa-apa. Kalau aku ke sana, aku hanya akan menambah beban mereka dengan mencoba melindungiku. Jadi, ayo kita pergi dari sini, sebelum orang-orang itu menemukanmu dan membuat orang-orangku terluka karena ulahmu!” teriak Krisna dengan mimik wajah tegas dan tampak menakutkan.
Isna menurunkan tangannya, dengan lemah menatap Krisna. Isak tangisnya kian menjadi.
“Isna, ayo khawatirkan dirimu lebih dulu, baru nanti kau boleh menghawatirkan orang lain,” ajak Krisna melembut dengan sorot mata memohon.
Isna masih menengok ke belakang dengan napas tersengal, dengan perasaan sedih dia pun menerima uluran tangan Krisna yang menariknya lari menjauh. Menjauhi Villa, menjauhi malaikatnya.
Wisnu, kau harus selamat ... aku yang akan menghabisimu karena berani menertawaiku, bukan mereka.
Krisna menuntun Isna menuruni bukit perkebunan teh, mencoba mencarikan rute terbaik yang bisa dia lakukan. Dugaannya benar, helikopter itu kini berbalik arah menuju area kebun teh. Ke arah pelariannya bersama Isna. Dengan tegas, Krisna menghentikan langkah kakinya. Menatap manik mata khawatir gadis di hadapannya.
“Pegang erat tanganku, jangan lepaskan apapun yang terjadi!” ucapnya penuh tekad. Isna hanya mengangguk saja.
Tanpa membuang waktu lagi, dia segera meraih tubuh Isna dalam dekapannya. Memeluk, meraihnya, dan menggendongnya erat. Krisna membawa gadis itu menyusuri aliran parit di sela-sela tanaman semak belukar tumbuhan perdu teh. Deru helikopter memutar di udara, sorot lampu mulai menyisir area kebun dari atas helikopter, sekaligus dari darat orang-orang itu berlari, merangsek memasuki area perkebunan teh yang luas.
Siapa gadis ini? Kenapa aku harus bertaruh nyawa untuknya? Isna, siapa sebenarnya kamu?
Langkah Krisna terseok-seok melewati apa pun yang menghalanginya. Dia tidak merasakan apa pun. Pelukan erat Isna di lehernya seolah memberikan kekuatan untuk tetap bertahan.
Siapa sebenarnya kamu? Apa peranmu untuk hidupku? Seorang malaikat atau iblis? Siapa kamu, Krisna?
Bersambung …
*****
Hai Readers …
Jangan bosan membaca novelku ya, mampir terus setiap aku up. Jadiin bacaan favorit dengan ketik tombol Love. Tambahkan Vote juga biar tambah semangat.
Berikan Like, Komen positif, kritik,
dan saran membangun agar author recehan ini tambah ilmu.
Terima kasih ^_^
With Love ~ Syala Yaya