Menjadi seorang single parent tak membuat Alleyah berkecil hati. Ia justru semangat dalam usahanya untuk mendapatkan kebahagiaan bagi dirinya dan juga putrinya yang masih berumur enam tahun.
Pekerjaan menjadi seorang sekretaris dari bos yang arogan tak menyurutkan tekadnya untuk terus bekerja. Ia bahkan semakin rajin demi rupiah yang ia harapkan untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan juga anaknya.
Namun, perjuangannya menjadi single parent tak semudah bayangannya sebelumnya. Ditengah isu yang merebak di kantornya dan juga imej seorang janda memaksanya menjadi wanita yang lebih kuat.
Belum lagi ujian yang datang dari mantan suaminya, yang kembali muncul dan mengusik hidupnya.
Mampukah, Alleyah bertahan dan mampu memperjuangkan kebahagiaannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon annin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.14 Mantan Suami
Alle segera mengambil Chilla dan menjauhkannya dari Fadil. Mantan suaminya.
"Mbak ... Mbak Imas!" teriak Alle dengan nada penuh emosi. "Mbak ...!" ulangnya karena tak mendapat sahutan.
Mbak Imas datang dari dapur dengan tergopoh-gopoh. "Iya, All," sahutnya. "Lho, kamu sudah pulang?"
"Mbak, bawa Chilla keluar sekarang!"
Tak biasanya Alle berbicara dengan nada seperti ini. Mbak Imas bisa merasa apa yang membuat Alle berbeda. Pasti kedatangan Fadil.
"Ma, Chilla nggak mau keluar, Chilla masih mau main sama Papa. Papa bilang, Papa mau ajak Chilla ikut ke tempat kerja Papa biar kita bisa main sama-sama terus," rengek Chilla dengan polosnya.
Mata Alle semakin menyiratkan kemarahan akan apa yang baru ia dengar. "Bawa Chilla keluar, Mbak!" titah Alle dengan nada tak terbantahkan.
Melihat dan mendengar kemarahan Alle, Mbak Imas segera mengambil Chilla dari gendongan mamanya. Ia menggendong Chilla dan akan membawa anak kecil itu keluar dari rumah. Menjauhkan dari kedua orang tuanya agar tak melihat perang yang Mbak Imas takutkan.
"Ma ...." Chilla ingin menolak.
"Sttt ... ayo ikut Bude. Kita jajan," bujuk Mbak Imas dan berhasil membuat Chilla terdiam. Bergegas Mbak Imas keluar dari rumah itu.
Tatapan Alle beralih pada Fadil yang masih bersimpuh di atas karpet ruang tamunya. Kemarahan tak dapat disembunyikan Alle dari sorot matanya.
"Hai, All ... apa kabar?" sapa Fadil membuka pembicaraan, pun untuk mencairkan suasana yang terlihat tegang sejak Alle pulang.
Alle yang masih berdiri melipat dua tangannya di depan dada. Dengan angkuhnya ia berkata, "Mau apa kamu, Mas?"
Fadil mengangkat bokongnya untuk duduk di sofa. Ia masih sempat menyunggingkan senyum di bibirnya, dan dengan santainya menjawab, "Aku kangen Chilla, makanya aku ke mari. Aku tidak tahu kalau Chilla baru saja pulang dari rumah sakit, kebetulan sekali aku bisa sekalian menjenguknya."
Alle menatap sinis pada mantan suaminya itu. "Kangen? apa aku nggak salah dengar? ke mana kamu selama ini, setelah empat tahun baru kangen?"
Pertanyaan Alle benar-benar menohok di telinga Fadil. Apa secepat itu Alle berubah. Wanita di depannya ini tak lagi sama dengan wanita yang ia tinggalkan empat tahun silam.
"Empat tahun kamu menghilang dan tak sekali pun bertanya tentang kabar Chilla, mendadak kamu muncul dan bilang kangen, jangan bercanda, Mas!"
Fadil terdiam. Apa yang ia lakukan selama ini memang salah. Sejak bercerai dan menikah lagi dengan Mira, tak sekali pun Fadil menghubungi Alle sekadar untuk bertanya kabar tentang putri mereka—Chilla.
"All, aku minta maaf," ujar Fadil dengan raut menyesal telah mengabaikan Alle dan Chilla selama ini.
"Sekarang bukan perkara minta maaf. Aku hanya ingin tahu apa tujuanmu datang kemari. Aku tidak percaya kalau kamu hanya kangen sama Chilla," todong Alle tanpa basa-basi.
Alle, wanita ini sudah benar-benar berubah. Ia berbicara terus terang tanpa memikirkan perasaan Fadil. Alle bukan lagi wanita yang dulu patuh dan hormat padanya.
Fadil berdehem. Tak bisa lagi mengelak. Ia pun berterus terang akan kedatangannya ke rumah ini. "All, kalau boleh, aku ingin ikut mengasuh Chilla."
"Maksud Mas Fadil?"
"Aku juga ingin Chilla tinggal bersamaku walau beberapa hari dalam seminggu."
Alle tertawa geli mendengar keinginan Fadil. Empat tahun tanpa kabar dan tak pernah peduli dengan Chilla, mendadak datang seolah ingin menjadi ayah yang baik.
"Mas ... Mas, selama ini kamu ke mana. Kenapa baru sekarang kamu ingat kalau pernah punya anak bernama Chilla. Oh ... aku tahu, pasti istri barumu melarangmu untuk menemui Chilla, 'kan?" cibir Alle.
"Bisakah kita melupakan masa lalu, kita bisa mulai semua dari awal. Kita akan merawat Chilla bersama-sama."
Mendengar hal itu tawa Alle semakin lebar. "Apa, memulai semua dari awal? jangan ngelantur kamu, Mas."
"Aku juga ingin mengasuh Chilla, All. Bagaimanapun dia tetap darah dagingku."
Rasanya tawa Alle akan meledak. "Chilla memang darah dagingmu, Mas, tapi empat tahun ini aku yang membesarkannya sendirian. Di saat kamu sedang bersenang-senang dengan istri barumu itu, aku yang menjaga Chilla saat dia selalu menangis di tengah malam. Apa kamu nggak malu, setelah empat tahun kamu melupakan Chilla mendadak kamu datang dan ingin merawat Chilla?"
"Coba kamu pikir, bagaimana dulu kamu ninggalin aku dan Chilla. Kamu seolah lupa jika kamu punya tanggung jawab atas kami. Dengan tega kamu pergi begitu saja, bahkan kamu tidak ingat dengan kewajibanmu sebagai ayah. Sekarang kamu datang dan bilang ingin mengajak Chilla tinggal bersama? Apa kamu nggak salah?"
Ucapan Alle benar semua. Ia memang salah ketika dulu ia pergi, tapi walau bagaimanapun ia tetap ayah Chilla dan punya hak atas anak itu. Jadi, tidak ada salahnya jika ia meminta hak itu saat ini.
"All, aku memang salah telah meninggalkanmu dan Chilla dulu. Allah sudah menghukumku atas perbuatan itu, dan sekarang aku ingin berubah. Aku ingin menjalankan kewajiban yang dulu aku abaikan. Aku ingin merawat dan membesarkan Chilla." Fadil menunduk, terlihat ia menyeka air mata yang keluar dari sudut matanya.
Alle menatap Fadil bingung. Entah apa yang terjadi dengan mantan suaminya ini. Lalu, apa pula maksud kata-kata Fadil tentang hukuman yang ia terima.
"Mas, udah deh, nggak usah drama. Aku tahu kamu pasti sedang berbohong. Sekarang mendingan kamu pulang, dan nggak usah lagi datang ke rumah ini. Biarkan aku dan Chilla hidup bahagia!"
"All, apa tidak ada kesempatan untuk aku memperbaiki semuanya?" Fadil masih tidak mau menyerah. Ia harus bisa mendapatkan Chilla.
"Ada, Mas Fadil bisa memperbaiki semuanya dengan tidak lagi mengganggu kami, biarkan kami hidup tenang."
"All, aku ingin menjadi ayah yang baik untuk Chilla. Aku yakin Chilla butuh aku sebagai sosok ayah."
"Mas, Chilla bisa mendapatkan semua dari aku. Jadi tolong jangan ganggu aku dan Chilla lagi. Kamu kan sudah berumah tangga, kamu urus saja istri dan anakmu."
Di saat itu lah Fadil kembali menunduk, penyesalan akan apa yang dulu ia lakukan pada Alle dan juga Chilla kembali menyeruak.
"Aku tidak punya anak, All," lirih Fadil dengan nada sedih tak bisa disembunyikan.
Alle tersentak.
"Ya, aku ingin hak asuh Chilla karena aku tidak punya anak dengan Mira. Mira mandul. Kami tidak bisa punya keturunan."
Alle semakin terkejut dengan pengakuan Fadil. Jadi inilah alasan Fadil datang dan menginginkan Chilla.
Haruskah Alle bahagia mendengar kabar tentang kemandulan istri baru Fadil. Allah membalaskan sakit hatinya dulu dengan cara yang tak pernah Alle duga. Demi wanita itu, Fadil dengan tega menalaknya dan meninggalkan seorang anak yang belum genap dua tahun. Semua demi kebahagiaan yang ia harapkan akan ia bina dengan istri barunya.
Atau, ia harus bersedih karena Fadil menuntut hak asuh atas Chilla?
harta juga nggak jadi penolong Fadil diakhir hidup nya.