*KHUSUS PEMBACA UMUR 17+*
Pertemuan mereka berdua membuat roda takdir berputar.
Hari – hari indahnya bermula saat Dion bersama dengannya, mengawali dan menutup hari dengan mengucap namanya yang sudah terukir didalam hati. Tak ada yang bisa memisahkan mereka berdua dari kebahagian itu, hingga suatu saat....
“Lebih baik aku tidak pernah bertemu denganmu.” Gumam Dion
Di malam hari, gelap, tanpa cahaya aku berdiri dan kembali menyesali perbuatanku. Awan besar menutupi rembulan, aku tak dapat berkata – kata lagi tanpa kusadari air mata telah mengalir.
“maafkan aku teman – teman....”
Disini, dikelas ini, diantara jasad seluruh sahabat2ku, aku menangis.
Dengan tatapan kosong dan tubuh bermandikan darah.
“anak iblis”
“Pembunuh”
“Penjahat”
Satu persatu sebutan itu terdengar ditelingaku hingga sampai membuatku lupa akan identitasku sendiri. 1 minggu kemudian Aku terbangun disebuah rumah sakit jiwa tanpa mengingat apapun dan langsung pindah ke kota Lando dan berseklah di SMA Violet
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zahroni nurhafid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13 - Peraturan Mutlak
Diantara Bulan
dan matahari, diantara dinginnya malang dan hangatnya sore, lampu – lampu gedung
sekolah satu persatu mulai dihidupkan menerangi jalan kita berdua.
Antara gelap dan
terang, kami berjalan diantaranya dan terungkap kebenaran baru.
Ibo adalah kakak
kandung dari Diana.
Benar, itu adalah
fakta sebelum Ibo dikeluarkan dari keluarganya atau lebih tepatnya kedua orang
tuanya lah yang menjualnya kepada orang asing. Alasan Ibo masuk SMA ini
hanyalah ingin bersama dengan adiknya setelah sempat berpisah selama 5 tahun.
Mereka berdua
dipertemukan dan disatukan dikelas ini bukanlah suatu kebetulan, karena ini
adalah permintaan langsung dari Ibo serta orang tua barunya itu kepada kepala
sekolah. Tentu saja semua ini dirahasiakan dari para siswa.
Dion :”Truss
kenapa kau bisa tau, Tiana?”
Tiana :”hmm....itu....anu....oh
iya hanya kebetulan saja aku sedang berada di ruang kepala sekolah saat itu,
jadi aku mendengarnya.” Tegas Tiana dengan wajah panik
(Mencurigakan,
tapi itu tidaklah penting yang jelas bahwa aku sekarang merasa sangat tidak
enak pada Ibo)
Aku hanya
mengenal Diana selama seminggu bisa begitu marah dan kesal mendengar kabar
tentangnya bahkan sampai menggulingkan meja tepat dibelakang Ibo, sedangkan
dia, dia yang sudah pernah kehilangan adiknya sekarang harus menerima kepahitan
yang lebih dalam untuk kedua kalinya.
Tak bisa kubayangkan
bagaimana perasaannya pada saat itu tapi ia bisa menahannnya, ia menahan
kepedihan itu seorang diri bahkan ia bisa menghibur seisi kelas dan mencairkan
suasana disana. Berbeda jauh denganku, aku benar – benar seperti bocah yang
tidak bisa mengendalikan emosi aku benar – benar merasa malu dan bersalah
kepada Ibo.
Aku bahkan tak
bisa membayangkan betapa hancurnya perasaan jika dipisahkan dengan adik
tersayang kita. Baik itu dipisahkan oleh takdir, orang tua atau kematian.
Di sudut pandang
Ibo, ia sudah merasakan semua itu.
Yang bisa
kulakukan hanya satu hal.
Dion :”Tiana!” ku
tarik tangan tiana dan menghentikan langkah kakinya
Tiana :”ada apa?”
Dion :”Diana
masih hidup, begitu juga dengan ketua.”
Tiana terdiam
dalam beberapa detik, ia tak tersenyum, ia tak marah ia hanya diam dengan wajah
datar.
Tiana :”Dion,
cukup!”
Ku keluarkan
amplop yang kusimpan didalam tasku sejak menghilangnya ketua,
Seketika wajah
Tiana langsung terkejut melihat amplop tersebut,
Dion :”ini adalah
salah satu buktinya, surat ini muncul didepanku sebelum mereka berdua
menghilang.”
Tiana mengambil
surat itu dan membuka isinya,
Tiana :”jangan –
jangan surat ini....”
Dion :”apa kau
mengetahui sesuatu?!”
Tiana
:”enggk....hanya saja kejadian ini hampir mirip dengan tragedi Diary itu.”
Dion :”kupikir
itu tidak mungkin.”
Tiana :”Kenapa
kau berfikir seperti itu?”
(aneh...kenapa
kata – kata itu keluar begitu saja?)
Dion :”Entahlah,
aku tidak tau.”
Tiana :”ini masih
belum pasti, tapi apa yang membuatmu berfikir Diana masih hidup?”
Dion :”malam
sesudah pemakamannya, Diana mengirimkan sebuah pesan kepadaku. Dan juga aku
sempat melihat kedalam peti mati itu dan mayat itu bukanlah teman kita entahlah
siapa itu.”
Tiana :”Kenapa
kau berbuat sejauh itu?”
Dion :”awalnya
aku tak bisa menerima kenyataan itu, namun ketualah yang memberitauku bahwa
Diana masih hidup.”
Tiana menutup
kembali amplop tersebut,
Tiana :”aku sudah
membaca isi surat ini, disini disebutkan tentang ketua. Jadi maksudmu ketua
juga mengalami hal yang serupa dengan Diana begitu?”
Dion
:”Begitulah.......ini adalah salahku, seharusnya aku memberitau kalian semua
sejak awal tentang hal ini.”
Tiana mengusap
rambutku dengan lembut,
Tiana :”ini bukan
salahmu, jangan dipikirkan sendiri sekarang sudah ada aku dan besok sudah ada
kita. Ayo kita pecahkan misteri ini bersama – sama!”
Setelah Tiana
melepaskan tangannya ia pamit pulang padaku,
Dion :”Tunggu!
Biarkan aku menemanimu, perempuan tidak boleh sendirian dimalam hari!”
Tiana :”hahaha
tenang saja, walau begini – begini aku bisa bela diri setidaknya aku cukup
percaya diri tentang perlindunganku, sudah ya sampai jumpa besok, Dion. Besok
kita akan bicarakan bersama dengan kelas kita.”
Tiana melambaikan
tangannya dan berjalan menjauh, jalan menuju rumah kami berdua berlawanan arah
jadi di depan gerbang sekolah inilah tempat kami mengakhiri pembicaraan kita.
Tiana pergi
dengan membawa surat tentang ketua bersamanya.
Setidaknya aku
bisa lega karena ternyata ia tidak marah padaku, besok aku dan Tiana akan
membicarakannya bersama semuanya, sekaligus aku akan minta maaf kepada Ibo.
Sesampainya
dirumah aku baru teringat hari ini orang tuaku lembur bekerja lagi jadi mereka
tidak pulang malam ini. Dengan lelah ku lempar tas ku kedalam kamar dan menuju
kamar mandi. Mandi adalah solusi untuk menenangkan pikiran dari segala masalah.
Setelah selesai
mandi pikiranku dan tubuhku kembali ke kondisi prima lagi. Kulirik kamar
adikku,
(tetap terkunci
seperti biasanya ya)
Setelah mengunci
pintu jendela dan mematikan lampu seisi rumah ku berjalan menuju kamarku,
Saat menaiki
tangga aku merasa ada yang janggal,
Kulangkahkan satu
kaki ku naik ke anak tangga,
*krek......krek...
Entah mengapa aku
mendengarkan 2 langkah kaki disetiap langkahku.
Sekali lagi ku
ambil langkah,
*Krek....krek.....
(sepertinya ada
sesuatu dibelakangku)
Kucoba naik lagi
dan mengintip kamar adikku,
(tetap terkunci
seperti tadi. jadi ini bukan adikku)
Jantungku
berdetak semakin cepat, keringat bercucuran dari kepalaku, aku tak punya cukup
keberanian untuk menoleh kebelakang.
Diantara
kegelapan ini, ku ambil nafas panjang.
Huffttt
Ku langsung
berlari ke kamar dengan sekuat tenang dan langsung menutup pintu kamar.
*Ceklak
Ku kunci pintu
kamar,
Bersandar dipintu
sambil menenangkan diri,
(sepertinya sudah
aman. Jangan dia kembali lagi?!)
(Kenapa dia
kembali lagi?!)
(Bukankah ia
sudah mendapatkan kepalanya kembali?!)
Ku berjalan
mundur memandang pintu dan langsung terjun ketempat tidur menutup diri dengan
selimut.
*srat....srat....srat...
Terdengar suara cakaran
dibalik pintu kamarku,
Semakin lama
suara cakaran itu semakin cepat dan kuat,
Kututup telingaku
dengan bantal namun tetap saja suara cakaran itu terus menjadi – jadi tak dan
tak kunjung berhenti,
Kupejamkan mataku
dan memaksakan diri mencoba untuk tidur,
Setelah beberapa
menit suara cakaran itu menghilang, lenyap begitu saja.
(apakah dia sudah
pergi?)
Ku hela nafas
lega,
*Brrr.....Brrr.Brrrr
Tiba – tiba suara
hp ku bergetar terus menerus,
(Kapan terror ini
akan berakhir?!)
Ku abaikan hp ku
yang terus bergetar itu dan kembali mencoba untuk tidur,
Entah sampai
berapa lama, aku memejamkan mata dan terus berusaha menenangkan diriku, aku
bahkan tak bisa membedakan apakah saat itu aku bermimpi atau masih tersadar.
Suara HP ku pun
sudah menghilang,
Saat kupikir
semua sudah baik – baik saja,
Didalam kesunyian
itu, selain suara jarum jam yang berdetak ku dengar suara lainnya.
Sebuah langkah
kaki tepat disamping tempat tidurku.
Itulah hal
terakhir kudengar sebelum akhirku aku kehilangan seluruh kesadaranku.
Ke esokan
harinya, kulihat HP ku
[56 panggilan tak
terjawab dari Tiana]
Disamping Hpku
ada sebuah amplop baru lagi,
(Tiana?! Jangan –
jangan?!)
Kucoba hubungi ia
berkali – kali namun tak ada jawaban sama sekali,
Saat aku sedang
berusaha menghubungi Tiana tiba – tiba ada pesan masuk dari Ibo,
[Semuanya
berkumpul di kelas pukul 6 pagi, Tiana menghilang.....]
ISTRI MUDAKU MAFIA
kalo seru saya supor
kalo enda seru saya like
kalo seru saya supor
kalo enda saya like