Malam itu, di Desa Gadhing yang damai, Tirta hanyalah seorang pemuda biasa yang lebih akrab dengan cangkul daripada pedang. Wajahnya selalu menunduk malu, bicaranya pelan, dan tubuhnya kurus. Ia tak punya minat pada dunia persilatan yang sering dibicarakan para tetua di gardu. Baginya, kebahagiaan adalah melihat ladang bapaknya subur dan senyum ibunya mengembang.
Namun, ketenangan itu hancur saat desa mereka diserang. Sekelompok perampok yang dipimpin oleh Lurah Karta, seorang demang serakah yang terkenal bengis, datang dengan tujuan menjarah. Tirta menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana kedua orang tuanya tewas di tangan mereka saat berusaha melindunginya. Suara pedang yang beradu dan jeritan pilu ibu masih terngiang-ngiang di telinganya. Dalam duka dan amarah yang meletup, sesuatu di dalam dirinya pecah. Sebuah kekuatan terpendam bangkit. Dengan tangan kosong, ia berhasil melumpuhkan beberapa perampok, membuat Lurah Karta terkejut dan mundur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DERMAGA KESUNYIAN
Lonceng tengah malam dari menara istana Pajajaran berdentang dua belas kali, suaranya teredam oleh kabut tebal yang merayap dari arah muara sungai. Suasana dermaga tua di pinggiran ibukota itu nampak seperti pemakaman kapal; kayu-kayu pelabuhan yang lapuk berderit setiap kali dihantam ombak kecil, dan bau amis laut bercampur dengan aroma kayu busuk yang menyengat.
Mayangsari berdiri di ujung dermaga, jubah putihnya berkibar ditiup angin malam. Ia tidak membawa Mustika Samudra—ia meninggalkannya di bawah bantal Tirta dengan sebuah catatan pendek yang penuh kebohongan, mengatakan bahwa ia hanya butuh udara segar di taman istana. Namun, hatinya tidak bisa tenang. Pesan dari burung gagak itu terus terngiang, menjanjikan jawaban atas misteri kematian ibunya yang selama ini hanya ia ketahui dari cerita Ki Darman.
"Aku sudah datang," ucap Mayang, suaranya gemetar namun tegas. "Tunjukkan dirimu!"
Dari balik bayang-bayang sebuah gudang tua yang miring, sesosok pria melangkah keluar. Ia tidak mengenakan jubah hitam Fraksi Mata Meratap, melainkan pakaian pelancong yang sederhana. Namun, wajahnya tertutup topeng kayu berbentuk wajah kera yang tersenyum—topeng khas para informan pasar gelap yang paling berbahaya.
"Putri yang patuh," suara pria itu berat dan serak. "Kau datang tanpa membawa anjing penjagamu. Itu langkah pertama yang cerdas untuk mengetahui kebenaran."
"Jangan banyak bicara! Apa yang kau tahu tentang ibuku?" seru Mayang.
Pria bertopeng itu tertawa kecil, suara tawanya kering seperti daun jatuh. "Ibumu tidak mati karena segel energi, Mayang. Dia dikhianati. Dan orang yang mengkhianatinya adalah orang yang saat ini paling dipercayai oleh pemuda pemegang Sinar Gadhing itu."
Darah di wajah Mayangsari seolah surut. "Apa maksudmu? Ki Darman?"
"Bukan si petani tua itu," pria itu melangkah lebih dekat.
"Pikirkanlah. Siapa yang paling tahu tentang lokasi persembunyian ibumu seribu tahun yang lalu? Siapa yang garis keturunannya selalu 'kebetulan' muncul saat kalian dalam bahaya? Siapa yang sebenarnya sedang menuntun kalian menuju Istana Dasar Segara hanya untuk menyerahkan Mustika itu pada majikan yang sebenarnya?"
Sementara itu, di Paviliun Cendana, Tirta terbangun dengan perasaan yang sangat tidak enak. Indra pendekarnya berteriak bahwa ada sesuatu yang salah. Ia meraba sisi tempat tidurnya, namun ia hanya menemukan sebuah catatan kecil. Saat ia mengangkat bantal, ia menemukan Mustika Samudra yang masih berpijar biru redup.
"Bodoh!" desis Tirta.
Ia segera menyambar pedangnya dan berlari keluar. Di koridor, ia berpapasan dengan Sekar Wangi yang juga nampak terjaga.
"Dia pergi ke dermaga tua," ujar Sekar tanpa ditanya. "Aku melihatnya menyelinap dari jendela belakang sepuluh menit yang lalu. Aku baru saja akan membangunkanmu."
"Kenapa kau tidak menghentikannya, Sekar?!" suara Tirta meninggi karena cemas.
"Karena jika aku menghentikannya, dia tidak akan pernah tahu siapa yang mengirim pesan itu," jawab Sekar tenang, meski ada kilatan kecemasan di matanya. "Dan aku melihat siapa yang menunggunya di sana. Itu bukan orang asing."
Tirta tidak menunggu penjelasan lebih lanjut. Ia melesat dengan teknik Langkah Awan, melompati tembok-tembok istana Pajajaran dan menuju ke arah dermaga tua secepat kilat.
Kembali di dermaga, Mayangsari mulai merasakan kepungan energi dingin di sekelilingnya. Pria bertopeng kera itu mengeluarkan sebuah cermin kecil dari perunggu.
"Lihatlah cermin ini, Mayang. Lihatlah masa lalu yang disembunyikan oleh Padepokan Lingga darimu," perintah pria itu.
Mayang menatap cermin itu. Di dalamnya, ia melihat kilasan gambar masa lalu: Ibunya sedang bertarung di sebuah kuil tua, dan di belakangnya, berdiri seorang pria muda dengan pakaian pendekar kerajaan yang sangat familiar. Pria itu menusukkan belati ke punggung ibunya saat sang ibu sedang lengah karena melindungi seorang bayi—Mayang.
Pria di dalam cermin itu memiliki tahi lalat kecil di bawah telinga kirinya. Mayang terkesiap. Itu adalah tanda lahir yang sama dengan... Dimas Rakyan.
"Tidak... tidak mungkin..." bisik Mayang, dunianya terasa runtuh.
"Dimas adalah sahabat terbaik Tirta. Dia tidak mungkin..."
"Keluarga Rakyan adalah pelayan setia dari Fraksi Mata
Meratap selama beberapa generasi," pria bertopeng itu memprovokasi. "Mereka menanamkan Dimas di samping Tirta agar saat waktunya tiba, mereka bisa mengambil Mustika itu tanpa perlu bertumpah darah."
Tepat saat itu, Tirta mendarat di ujung dermaga dengan hantaman yang membuat kayu-kayu tua itu bergetar. Cahaya perak Sasmita Dwipa membelah kabut malam.
"Menjauh darinya!" raung Tirta.
Pria bertopeng kera itu segera melompat mundur ke atas atap gudang. "Ah, sang pahlawan datang tepat waktu. Bagaimana rasanya, Tirta? Mengetahui bahwa belati yang akan membunuhmu sedang tidur di kamar sebelah?"
Tirta menatap Mayangsari yang kini menangis sesenggukan.
"Mayang, apa yang dia katakan padamu? Itu semua bohong! Itu jebakan psikologis untuk memecah belah kita!"
"Tapi tahi lalat itu, Tirta!" Mayang berteriak histeris. "Aku melihatnya di cermin masa lalu! Ibuku dikhianati oleh keluarga Rakyan!"
Dari balik kegelapan, Dimas Rakyan muncul dengan napas terengah-engah. Ia nampak bingung dan ketakutan melihat pedang Tirta terhunus ke arah pria di atas atap. "Tirta! Mayang! Ada apa ini? Kenapa kalian semua di sini?"
Tirta menoleh ke arah Dimas, lalu kembali ke pria bertopeng. Keraguan sesaat melintas di mata Tirta. Fraksi Mata Meratap sangat ahli dalam memanipulasi ingatan.
"Dimas, tetap di sana," perintah Tirta dengan nada dingin yang belum pernah Dimas dengar sebelumnya.
"Tirta? Kau tidak percaya padaku?" wajah Dimas nampak terluka.
"Aku bilang TETAP DI SANA!" bentak Tirta.
Pria bertopeng kera tertawa terbahak-bahak. Ia melepaskan sebuah bom asap berwarna ungu pekat yang segera menyelimuti seluruh dermaga. Di tengah kepulan asap, terdengar suara gesekan logam.
Tirta menyerang ke arah pria di atas atap, namun ia tertahan oleh sesosok bayangan lain yang muncul dari dalam asap. Itu adalah Jubah Abu-abu yang semalam terlihat di menara istana. Pria itu menangkis pedang Tirta dengan sebuah kipas besi.
CLANG!
"Fokusmu terbagi, Pendekar," bisik pria jubah abu-abu itu. "Satu mata pada musuh, satu mata pada sahabat. Itu adalah cara termudah untuk mati."
Sementara Tirta tertahan, pria bertopeng kera melesat ke arah Mayangsari. Mayang mencoba mengeluarkan energi Rembulan Merah-nya, namun emosinya yang kacau membuat kekuatannya tidak stabil.
"Ikutlah dengan kami, Putri. Kami akan menunjukkan kebenaran yang lebih dalam di Istana Dasar Segara," pria bertopeng itu mencengkeram lengan Mayang.
"Lepaskan dia!" Dimas tiba-tiba menerjang dengan galah kayunya. Ia menyerang pria bertopeng itu dengan membabi buta. Namun, sang pria bertopeng hanya menggunakan satu tangan untuk menangkis galah Dimas, lalu menghantamkan telapak tangannya ke dada Dimas.
Dimas terlempar hingga menghantam tiang dermaga, memuntahkan darah.
"DIMAS!" teriak Tirta. Ia melepaskan ledakan energi Sinar Gadhing yang mementalkan si jubah abu-abu.
Tirta melesat ke arah Mayang, namun si jubah abu-abu melepaskan ribuan benang energi hitam yang mengikat kaki dan tangan Tirta. "Jangan terburu-buru, Tirta. Biarkan gadis itu memilih jalannya sendiri."
Mayangsari menatap Dimas yang tergeletak tak berdaya, lalu menatap Tirta yang terbelenggu. Ia menyadari sesuatu. Jika ia tetap di sini, mereka semua akan mati. Si jubah abu-abu dan pria bertopeng ini terlalu kuat jika mereka bertarung sambil melindunginya yang sedang tidak stabil.
"Berhenti!" teriak Mayangsari. "Aku akan ikut dengan kalian! Tapi biarkan mereka hidup!"
"Mayang! Jangan!" raung Tirta, ia berusaha memutuskan benang hitam itu hingga tangannya berdarah.
"Maafkan aku, Tirta... aku harus mencari tahu sendiri siapa pengkhianat yang sebenarnya," bisik Mayangsari dengan air mata yang membasahi pipinya.
Pria bertopeng kera dan si jubah abu-abu membawa Mayangsari melompat ke sebuah perahu cepat yang sudah menunggu di bawah dermaga. Dalam sekejap, perahu itu melesat hilang ke dalam kabut laut, meninggalkan dermaga yang sunyi dan hancur.
Tirta berhasil memutuskan benang energinya, namun ia terlambat. Laut sudah kosong. Ia jatuh berlutut, meninju kayu dermaga hingga retak.
Sekar Wangi muncul dari kegelapan, ia segera memeriksa kondisi Dimas yang pingsan. "Tirta... ini bukan salahmu. Ini adalah taktik Pecah Belah Sukma. Mereka menggunakan luka masa lalu Mayang untuk melumpuhkan kita."
Tirta berdiri perlahan. Auranya kini berubah. Tidak ada lagi kehangatan matahari pagi di matanya; yang ada hanyalah dinginnya gerhana yang siap menelan apa saja.
"Siapkan kapal, Sekar," suara Tirta terdengar sangat rendah dan berbahaya. "Kita tidak akan menunggu sampai pagi. Kita akan mengejar mereka ke dasar samudra sekalipun."
"Dan Dimas?" tanya Sekar.
Tirta menatap Dimas yang masih pingsan. Ia melihat tahi lalat di bawah telinga sahabatnya itu. "Bawa dia. Jika dia benar-benar pengkhianat, aku sendiri yang akan menghukumnya. Tapi jika dia difitnah... maka orang yang mengirim pesan itu akan merasakan neraka di tanganku."
Malam itu, perahu Naga Geni meninggalkan pelabuhan Pajajaran tanpa pamit. Di bawah naungan mendung yang menutupi rembulan, Tirta Gadhing memulai perjalanan paling gelap dalam hidupnya: perjalanan untuk menjemput cintanya sekaligus mengadili sahabatnya sendiri.