Mahira Amalia Hamarung, tak menyangka Teddy akan meninggalkan dia saat Mahira justru telah menyerahkan kesuciannya pada pria itu. Dalam ketakutannya perbuatan mereka itu akan membuat Mahira hamil, Putri sahabat baiknya menghubungi Edmond Moreno. Pria yang dulu sangat mencintai Mahira. Edmond akhirnya bersedia menikahi Mahira sekalipun Mahira nantinya hamil. Pernikahan itu pun terjadi. Saat telah resmi menjadi istri Edmond, Mahira pun tahu masa lalu Edmond yang membuatnya terguncang. Ketika Mahira hampir menyerah, Teddy justru hadir kembali untuk mendapatkan kembali cinta Mahira. Bagaimana pernikahan itu akhirnya mendapatkan kebahagiaannya?
Ini sebuah cerita sederhana tentang memahami cinta yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Henny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Kontrakan
"Kau suka?" tanya Edmond. Hari sabtu pagi Edmond mengajak Mahira untuk melihat rumah yang akan dikontraknya.
"Apakah ini tak terlalu besar, Ed?"
"Nggak, sayang. Hanya 3 kamar saja. Aku sengaja meminta sekretaris ku untuk mencari rumah yang tak terlalu besar namun halaman luas dan nggak di daerah padat. Aku mau anak kita mendapatkan udara yang bersih dan halaman yang luas untuk dia bermain nanti." Kata Edmond sambil mengusap perut Mahira.
"Aku suka rumahnya. Lingkungan di sini juga terlihat ramah." Kata Mahira sambil melihat lingkungan sekitar.
"Ayo kita masuk!" ajak Edmond sambil membuka pintu pagar. Ia menautkan jari mereka lalu melangkah bersama memasuki halaman rumah yang ditumbuhi rumput taman yang nampaknya terpelihara dengan indah.
"Pemilik rumah ini adalah seseorang yang menyukai tanaman ya?" tebak Mahira.
"Iya. Pemilik rumah ini adalah mitra perusahaan kami. Namun karena bisnis mereka ada juga di kota Balikpapan, makanya mereka memutuskan untuk tinggal di sana dulu. Rumah ini akan dikontrakan selama 3 tahun."
Edmond membuka pintu depan. Mahira takjub melihat ruangan demi ruangan yang ada. Apalagi dapurnya.
"Aku suka, Ed."
Edmond nampak senang karena Mahira menyukai rumah ini. "Aku telepon agennya dulu supaya kita akan langsung menandatangani kontrak lalu membeli perabotan yang ada. Aku mau semua perabotan yang akan diisi di rumah ini dipilih olehmu."
Mahira senang. Edmond memang terlihat sangat memujanya dan memberikan perhatian yang besar semenjak Mahira ada di kota Samarinda ini.
Satu jam kemudian, mereka berada di kantor agen perumahan. Setelah menandatangani kontrak dan Edmond membayar biaya sewa rumahnya, mereka pun segera ke toko peralatan rumah tangga.
"Sayang, kamu nggak capek?" tanya Edmond saat mereka masih di toko perabotan untuk memilih lemari dan tempat tidur.
"Nggak. Aku pakai sepatu rendah."
"Kamu duduk saja sambil melihat apa yang ingin di beli dari katalog yang ada. Nggak usah banyak berdiri atau berjalan. Ok?" Edmond menuntun Mahira untuk duduk di salah satu kursi.
"Ed, jangan berlebihan." Mahira menjadi malu karena para karyawan toko memperhatikan mereka.
"Pokoknya kamu duduk saja."
Mahira pun mengalah. Ia duduk sambil membuka katalog yang ada. Edmond memang sama sekali tak memilih perabotan yang ada. Ia ingin semua pilihan Mahira agar Mahira kerasan berada di rumah.
"Nyonya pengantin baru, ya?" tanya seorang karyawan perempuan sambil memberikan air mineral untuk Mahira.
"Iya."
"Suami nyonya sepertinya sangat romantis dan menyayangi nyonya."
Mahira hanya tersenyum. Ada sedikit rasa bangga dalam hatinya karena kasih sayang Edmond membuat dirinya menjadi pusat perhatian.
"Ed, barang-barang ini gimana?" tanya Mahira saat mereka sudah selesai memilih semua perabotan yang akan digunakan.
"Pihak toko akan mengantarnya ke rumah kita. Ada beberapa orang dari perusahaan yang akan datang besok pagi untuk membantu kita mengatur semuanya. Aku juga meminta bi Juminten untuk datang. Bibi Juminten adalah asisten rumah tangga yang bekerja di mess. Dia seorang janda berusia 52 tahun. Asalnya sih dari Jawa. Pokonya besok kamu yang mengarahkan barang itu akan diletakan di mana, biar mereka yang mengerjakannya."
"Baiklah."
Edmond menyentuh wajah Mahira. "Ayo kita kembali ke hotel. Aku takut kalau kamu sampai kelelahan. Itu nggak baik untuk kehamilan mu."
"Baik."
************
Selama 2 hari mereka bekerja sama untuk mengisi rumah itu dengan perabotan dan alat rumah tangga lainnya. Edmond sampai tak masuk kerja karena ingin membantu Mahira. Akhirnya rumah itu pun siap untuk dihuni.
Edmond sama sekali tak mengijinkan Mahira melakukan pekerjaan apapun. Tugas Mahira hanya menunjukan di mana barang itu akan diletakan.
Yang membuat Mahira sedikit risi adalah cara para pekerja itu memandangnya. Bukan tatapan mesum dan semacamnya. Tetapi mereka beberapa kali dipergoki oleh Mahira seperti saling berbisik.
Bibi Juminten orangnya juga agak pendiam. Edmond memang sudah mengatakan tentang sifat bibi. Jika tak diajak bicara, ia pasti tak akan bicara. Namun orangnya sangat rajin dan cekatan.
"Sayang, bibi mau pulang dulu dengan para pekerja sore ini. Nanti besok bibi akan datang kembali bersama dengan aku." ujar Edmond saat semua barang akhirnya telah diletakkan di tempatnya.
"Ok."
Malam ini Mahira memasak dengan hati senang. Ia punya rumah sendiri walaupun hanya rumah kontrakan tapi sudah membuatnya nyaman.
Edmond sedang ke hotel untuk mengambil koper mereka.
Putri meneleponnya dan Mahira pun menunjukan seluruh bagian rumah itu.
"Interiornya bagus. Gaya kamu banget kan? Apalagi kamar kalian. Semuanya serba putih."
Mahira tersenyum. "Ed membiarkan aku memilih menurut kemauanku."
"Dia memang sangat memujamu, Ra."
"Tapi sepertinya Ed punya seseorang di masa lalunya. Nama gadis itu Monalisa. Aku sebenarnya agak penasaran namun aku takut bertanya. Nanti Ed tersinggung karena aku mengorek masa lalunya."
"Lebih baik memang kau tak bertanya. Kalau Ed sendiri yang membuka pembicaraan tentang Monalisa, barulah kau bertanya."
"Iya, Put. Aku pikir karena Ed sudah menerima diriku apa adanya maka aku juga harus menerima dirinya dengan semua kisah masa lalunya."
"Aku yakin kalau kau akan belajar mencintainya. Oh ya, 2 hari yang lalu, aku melihat Teddy di sebuah restoran dengan salah satu sepupumu, Maya."
"Teddy bersama Maya?"
"Maaf, aku bukannya ingin membuatmu cemburu atau membuka kenangan tentang Teddy namun aku heran saja melihat mereka bersama. Maya kan sejak dulu suka dengan Teddy. Dan Teddy sangat tak menyukai Maya. Entah mengapa mereka bisa terlihat sangat akrab."
Mendengar itu hati Mahira rasa sakit. Teddy ada di Manado? Mengapa Teddy datang disaat Mahira sudah menikah dengan orang lain? Mengapa ia tak muncul disaat Mahira sedang dilanda ketakutan hamil di luar nikah?
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Edmond yang entah dari mana datangnya sudah berdiri di hadapan Mahira.
"Eh....." Mahira berusaha tersenyum ke arah Edmond namun suaminya itu sudah melihat mata Mahira yang berkaca-kaca.
"Adakah sesuatu yang membuatmu bersedih?" tanya Edmond lalu menangkup pipi Mahira dengan kedua tangannya.
"Ah...., aku hanya kangen dengan oma. Oma pasti senang melihat rumah ini." Mahira tak mau mengatakan yang sebenarnya. Ia tak ingin membuat mood Edmond menjadi tak bagus karena membicarakan tentang Teddy.
"Jangan sedih. Oma sudah bahagia di sana. Aku yakin oma senang melihat kamu bahagia. Jangan pikirkan yang lain ya? Ingat kalau kamu sedang hamil, stres nggak baik untuk anak kita." Edmond mengecup dahi Mahira lalu ia menunduk dan mencium perutnya. "Hallo sayang. Tumbuh terus dengan sehat di dalam sini, ya? Papi akan menunggu kedatangan mu dengan sabar."
Hati Mahira menjadi tersentuh. Perlakuan Edmond padanya sangat manis. Walaupun Mahira sempat curiga padanya ketika mereka berjauhan, namun semuanya tertutupi dengan kasih Edmond.
"Aku sudah lapar dan mencium bau makanan yang sangat enak."
Mahira tersenyum. "Ayo kita makan!" ajak Mahira sambil melangkah menuju ke meja makan.
"Wah, masakan mu benar-benar enak, sayang. Aku suka." puji Edmond saat ia memasukan suapan pertama ke mulutnya.
Mahira tiba-tiba ingat dengan Teddy. Ia memang jarang mengumbar kata manis dan mesra. Namun setiap kali Mahira memasak untuknya, Teddy akan makan dengan lahap. Pancaran matanya bersinar dan ketika ia selesai makan, ia akan mencium tangan Mahira sambil berkata,"Di berkati selalu tanganmu ini"
"Ra, kok melamun?"Tanya Edmond.
"Eh, tidak." Mahira menggeleng lalu menghabiskan makannya. Selesai makan, saat Mahira akan mencuci peralatan makan yang mereka gunakan, Edmond justru melarangnya.
"Biar aku saja yang mencucinya. Kamu sudah capek menyiapkan ini semua bagi aku. Istirahat saja di kamar."
Mahira mengangguk. "Aku mandi dulu."
"Mandi dengan air hangat ya?"
"Baik, Ed." Ujar Mahira sebelum menghilang di balik pintu kamar.
Kamar yang mereka tempat ini memang kamar terbesar. Kamar mandinya juga sangat modern karena ada bak mandinya. Sistem pengaturan air panas dan air dingin pun ada.
Kali ini Mahira memilih mandi di bawah guyuran shower. Selesai mandi, ia pun keluar kamar mandi dengan handuk biru yang membungkus tubuhnya.
Ternyata Edmond sudah berada di kamar. Ia sementara mengatur pakaian di dalam lemari.
"Ed, biar aku saja yang mengaturnya besok. Sebaiknya kamu mandi saja dan beristirahat. Besok kan mau kerja. Harus membawa kendaraan selama 2 jam."
Edmond memandang istrinya sambil tersenyum. "Biar saja. Bajunya juga nggak banyak. Kamu belum belanja baju hamil ya?"
"Perutku juga belum kentara."
"Kalau masa ngidamnya sudah lewat, aku berharap agar berat badanmu semakin bertambah."
"Amin."
Edmond memberikan sebuah daster rumahan pada Mahira. Perempuan itu menerimanya dan melangkah kembali ke kamar mandi untuk ganti pakaian. Ia masih merasa malu jika harus ganti pakaian di hadapan Edmond walaupun suaminya itu selalu berpakaian di hadapan Mahira.
Setelah semua pakaian diletakan di dalam lemari, Edmond pun mandi. Mahira melihat kalau pakaian Edmond hanya sedikit juga. Mungkin kebanyakan pakaiannya ada di mess.
**************
Mahira bangun pagi dan tak menemukan Edmond ada di sampingnya. Semalam, untuk yang pertama semenjak satu minggu mereka ada di sini, Edmond kembali mengajaknya bercinta.
Sentuhan, belaian dan kata-kata manis Edmond sangat membuat Mahira melambung dan tak mampu menolak hasrat suaminya itu karena ia memang menginginkannya juga. Mungkin karena hormon kehamilannya ataukah karena ia mulai candu dengan sentuhan Edmond, malam ini Mahira pasrah dalam dekapan suaminya itu.
Satu hal yang selalu membuat Mahira merasa tersanjung, setiap kali mereka selesai bercinta, Edmond akan memeluknya erat sambil mengucapkan terima kasih.
Mahira pun bangun dan membersihkan dirinya dari sisa percintaan mereka semalam. Selesai itu ia segera ke dapur untuk menyiapkan sarapan baginya. Namun ia terkejut saat melihat di atas meja sudah ada nasi goreng dan segelas susu hamil yang dimasukan Ed di dalam gelas termos agar masih hangat.
^^^Selamat pagi sayang^^^
^^^maaf aku pergi tanpa membangunkan mu^^^
^^^maaf karena membuatmu lelah untuk^^^
^^^2 ronde semalam. Sarapannya di makan ya?^^^
^^^Pasti tak seenak buatan mu^^^
^^^tapi ku buat dengan rasa cintaku^^^
^^^sampai ketemu nanti malam.....^^^
Wajah Mahira menjadi bersemu merah saat membaca memo yang diletakan Edmond di samping piring yang berisi nasi goreng. Entah jam berapa Ed bangun dan menyiapkan ini semua baginya.
Nasi goreng pedas yang walaupun agak sedikit asin namun terasa enak di lidah Mahira. Aku seharunya bahagia dengan lelaki seromantis ini. Aku tak seharusnya meragukan cintanya.
Mahira menghabiskan nasi goreng itu demikian juga susunya. Ia mengambil gambar dirinya dengan piring dan gelas yang sudah kosong itu lalu mengirimnya pada Edmond.
Terima kasih Ed
Itu yang Mahira tuliskan di bawa fotonya. Sayangnya, pesan itu hanya ada satu centang abu-abu. Itu artinya ponsel Edmond tak aktif.
Mahira pun bangun dan mencuci piring dan gelasnya. Setelah itu ia keluar rumah untuk menikmati pagi di halaman rumah yang indah ini.
Saat sedang melihat bunga-bunga di taman, Mahira merasakan kalau ada yang memperhatikannya. Ia membalikan badannya dan melihat dari seberang jalan ada seorang perempuan yang memakai kacamata hitam, menggunakan selendang putih untuk menutupi kepalanya sedang berdiri di sebelah mobil berwarna putih. Wajah perempuan itu agak samar karena silaunya terpaan sinar matahari. Saat Mahira mendekat, perempuan itu dengan cepat masuk ke dalam mobilnya dan langsung pergi.
***********
Nah....lho....siapa perempuan itu?
dukung emak terus ya guys
emang ratu setan si muna.....😤👻
good Ed 👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼
1*istri tidak percaya suami, suami salah karena tidak bisa jaga perasaan istri
*suami tidak percaya istri, suami tetap salah karena hubungan harus dilandasi kepercayaan
2*PEBINOR, lelaki lain yang menyukai istri, cintanya tulus, tidak boleh dihukum apapun kesalahannya, harus berakhir bahagia
*PELAKOR, wanita lain yang menyukai suami, cinta obsesi, jalang, harus dibinasakan
3*istri buat salah, jangan dibesarkan, harus langsung dimaafkan
*suami buat salah, tidak boleh langsung dimaafkan, suami harus dibuat mengemis dan berjuang dulu
4*intraksi istri dengan lelaki lain, tidak masalah, itu hanya intraksi biasa
*intraksi suami dengan wanita lain, menjijikan, laknat
5*istri tidak Terima masa lalu suami, itu wajar, suami harus membuktikan diri
*suami tidak Terima masa lalu istri, kesalahan besar, hubungan harus saling menerima keadaan masing2
6*istri berbohong pada suami, biasa saja jangan terlalu dimasalahkan
*suami berbohong pada istri, kesalahan besar, hubungan harus saling jujur
dan ini semua ada dinovel ini dan mirisnya author selalu membela mahira dan selalu membiarkan kesalahan mahira dan selalu membiarkan kesalahan teddy (PEBINOR) tapi author membesar2kan kesalahan edmond dan edmond selalu salah dan dibuat menebus kesalahannya, mengemis cinta dan berjuang, dan pelakor dilalnat dan dibinasakan
dimana keadilan kalau sudah begini????? miris