Sebulan pernikahan sirinya, Jingga harus berhadapan dengan kenyataan baru yang menyakitkan. Aris, suami yang dicintainya menikah resmi dengan perempuan lain.
Menjadi yang pertama tapi serasa yang kedua. Pada akhirnya Jingga menyerah. Perceraian dengan Aris pun tak terelakkan.
Di saat bersamaan Rangga yang merupakan sahabat Aris juga bercerai dengan istrinya. Kesamaan kisah membuat mereka Rangga dan Jingga semakin dekat.
Aris kembali datang dengan kepastian dan perjuangan yang lebih nyata. Membuat Jingga goyah. Kembali pada cinta lama atau memulai cinta yang baru ?
Persahabatan Aris dan Rangga pun di pertanyakan.
Di hati manakah cinta Jingga akan berlabuh ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devi21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesempatan
Jingga sedang menerima belanjaan kiriman dari Rangga saat Aris datang. Belanjaan dari mulai buah, camilan ringan sampai susu ibu hamil. Melihat Aris di depannya, Jingga memurungkan niatnya untuk mengucapkan terimakasih melalui sambungan telepon.
" Kita butuh bicara " ucap Aris.
" Silahkan " kata Jingga, singkatbdan datar.
" Mami papi yang memaksa mas menikah. Mami selalu mengancam akan menyakiti kamu kalau mas menolak. Aku dan Irma memang sudah menikah resmi, tapi itu tidak berarti apa - apa untukku. Semua hanya karena kemauan mami. Mas tidak bisa berfikir jernih karena mas terlalu kalut " ucap Aris penuh sesal.
" Hanya itu yang bisa mas ucapkan ? " tanya Jingga, tajam dan sinis.
" Beri mas kesempatan sayang, Mas sedang mencari bukti kenapa mami begitu memaksakan pernikahan mas dan Irma. Mas janji setelah mas tau semuanya, mas akan menceraikan Irma dan menjadikanmu satu - satunya istri Aris Gunawan " pinta Aris.
Jingga tersenyum sinis. " Ceraikan aku, Mas tidak perlu repot - repot memilih dan membuktikan apapun. Aku ingin kita cerai sekarang juga " ucapan Jingga bagaikan pisau yang menghujam dada Aris, dingin tapi tepat menghunus sasaran.Pernikahan belum seumur padi, tapi Jingga sudah mengatakan cerai berkali - kali.
" Tidak ! Mas tidak akan menceraikanmu. Tidak sekarang, besok atau nanti. Kamu sedang hamil sayang, kamu tahu kita tidak bisa bercerai karena itu " ucap Aris tegas.
" Egois. Mas tidak bisa mendapatkan semua hal sekaligus. Keputusanku sudah bulat mas, lagian buat apa ada ikatan pernikahan toh kita tidak pernah menjalani kehidupan pernikahan yang normal. Mas datang dan pergi seenaknya. Datang hanya ingin memuaskan nafsu mas, lalu pergi. Mas pikir aku ini pot pembuangan ? atau perempuan bayaran ? " tanya Jingga semakin sinis.
" Jangan bicara seperti itu sayang. Beri mas kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Mas akan membuat pernikahan kita lebih baik. Mas janji. Beri mas waktu dan kepercayaan untuk mengubah keadaan. Please " Aris memohon dengan sungguh - sungguh.
" Hanya sampai anak ini lahir mas. Jika kamu tidak bisa menikahiku secara sah sampai anak ini lahir, mas harus menceraikan aku " ucap Jingga datar. Jingga ingin egois, tapi dia tidak ingin menjadi ibu yang kejam. Setidaknya dia berharap anaknya terlahir masih mempunyai ayah. Selanjutnya Jingga hanya bisa pasrah.
" Terimakasih sayang, mas akan berusaha lebih keras agar semua menjadi lebih baik untuk kita. Percayalah kamu satu - satunya perempuan yang mas cintai. Mas janji tidak akan membagi apapun yang menjadi hakmu pada Irma. Mas pasti akan menjaga kesetiaan mas " Aris memeluk Jingga erat. Tubuh Jingga tidak menolak juga tidak menerima. Perasaannya hambar, rasa kecewanya masih mendominasi.
" Mulai sekarang mas tidak akan datang dan pergi seenaknya sendiri. Mas belum bisa tinggal di sini karena mas harus berpura - pura menerima keputusan mami, mas butuh kepercayaan dan kesabaranmu yang besar. Berjanjilah kamu menunggu mas " pinta Aris lagi.
" Pergilah, aku ingin sendiri " ucap Jingga lirih.
" Mas akan pergi, tapi bukan untuk meninggalkanmu. Mas akan memperjuangkan pernikahan kita. Jangan buat hatimu berubah. Jaga anak kita baik - baik. Kamu harus percaya. Hati dan raga mas tidak akan pernah mengkhianatimu " ucap Aris, berat melepas pelukannya.
Jingga membalikkan badannya, menyembunyikan air mata yang jatuh dengan derasnya. Beginikah rasanya hidup berbagi suami ? Sungguh hebat perempuan - perempuan yang bisa menjalani poligami dengan ikhlas. Jingga tidak sanggup, Jingga tidak sebaik mereka, egonya sebagai perempuan mandiri tetap mengatakan " Aku bisa tanpa mas Aris, aku hanya butuh status untuk anakku."
Aris menatap punggung Jingga dengan tatapan yang sulit diartikan. Jelas Aris menyimpan cinta dan kerinduannya lebih dalam di sana, Aris menarik nafas dalam. Dia tahu Jingga sedang menangis, pundaknya bergetar.
" Mas pergi dulu, tetap hubungi mas dan kirimkan makanan pada mas seperti biasa. Jangan abaikan pesan dan telpon dari mas, doakan mas bisa menyelesaikan secepatnya " ucap Aris, melangkah gontai menuju mobilnya. Aris tidak melihat mobil Jingga di sana, Aris kembali masuk ke dalam rumah Jingga. Melihat Jingga sedang mengeluarkan belanjaan kiriman Rangga di meja makan.
" Kemana mobilmu ? " tanya Aris khawatir.
" Di bawa mas Rangga. Tadi aku diantar mas Rangga. Masih untung ada orang baik yang paham bagaimana rasanya menjadi vendor diacara pernikahan suaminya " sindir Jingga.
" Aku akan memberimu driver untuk mengantarmu. Mulai sekarang jangan kemana - mana sendiri, kamu sedang hamil " ucap Aris kembali ke mode tidak ingin dibantah. Aris baru ingat tadi Jingga di rumah sakit bersama Rangga.
Seperti sebelum - sebelumnya, Jingga hanya diam. Membiarkan Aris melakukan keinginannya. Jingga juga ingin tahu, sejauh mana Aris akan membuktikan janjinya.
Setelah menghubungi Rangga, Aris memutuskan untuk tidak kembali ke kantor. Mereka janjian ketemu di kafe milik Jingga.
Aris tiba sepuluh menit lebih cepat ketimbang Rangga. Aris tidak menghubungi Evan, mengingat Evan sangat sensitif akhir - akhir ini. Setiap kali membicarakan Jingga, Evan menjadi emosi dan ingin menghajar Aris.
" Sorry telat, Stefanie minta di drop di rumah temannya. Seperti biasa, liburan sendiri " jelas Rangga tanpa diminta.
" Sampai kapan kalian begitu ? Kalian saling mencintai, hidup dalam pernikahan yang sah, direstui kedua keluarga, financial pun oke. Apalagi kurangnya hubungan kalian ? " tanya Aris.
Rangga duduk menghadap air terjun buatan di belakan Aris. Setiap kali ke kafe Jingga, inilah tempat favorit ketiganya. Bagian sisi kanan outdoor resto, dekat dengan gemericik air, menghadap panggung live music.
" Aku mulai berfikir untuk bercerai dengan stefanie " ucap Rangga, tidak ada keraguan di sana.
" Setelah sejauh ini, kenapa tidak memilih bicara baik - baik dan memperbaiki bersama ? " tanya Aris. Bicara memang mudah, saat mendengar permasalahan orang lain kita dengan mudahnya memberikan penilaian dan saran. Seolah penyelesaiannya sederhana, kitalah yang membuatnya nampak rumit. Nyatanya kadang keadaan tidak semudah pikiran orang lain.
" Memperbaiki bersama ? apanya yang diperbaiki Ris ? Stefanie menganggap seperti inilah hubungan kami yang normal. Kehidupan seperti ini benar dan tidak masalah baginya. Hanya aku yang bermasalah di sini, aku menuntut diperhatikan, pulang kantor ada yang menyambutku dan mempunyai keturunan. Itu cuman anganku dan menjadi masalahku sendiri. Bagaimana bisa memperbaiki bersama kalau stefanie menganggap tidak ada masalah " ucap Rangga panjang lebar.
" Apa kamu mulai goyah Ngga ? " selidik Aris.
" Aku tidak tahu Ris. Melihat pernikahanmu dengan Jingga, aku merasa pernikahan kalian ideal. Tapi itu dulu, sebelum kamu menikahi Irma. Jika aku tidak melihat kamu mempunyai dua istri. Aku akan menganggap hubunganmu dan Jingga sempurna. Apalagi sekarang sedang hamil, apa lagi yang kamu cari Ris ? " Rangga balik bertanya.
Memang begitulah kehidupan. Orang lain hanya melihat sisi kehidupan kita secara umum, mengira kehidupan kita sempurna tanpa cela, padahal seringkali ada harga dan pengorbanan yang cukup mahal untuk mencapainya.
" Pernikahanku dan Jingga masih semu Ngga, kebahagiaan kami seperti bayangan. Terlihat tapi tidak bisa dirasakan apalagi digenggam. Nampak jelas sempurna lalu menghilang, tergantung cahaya yang menyorotnya. Aku berharap suatu saat pernikahanku dengan Jingga benar - benar nyata. Aku sedang mengusahakannya. Jika tidak berhasil, aku rela aku yang berdarah - darah, jangan Jingga " ucap Aris.
Rangga tersenyum getir mendengar ucapan Aris, dia merasa sedang berkhianat.
mereka merasa bersalah pada pria lain tapi sama sekali tidak merasa bersalah pasa suaminya
dan lucu sikap kayak gini dibenarkan oleh novel ini
coba author bayangkan suaki author merasa bersalah pada wanita lain tapi tidak peduli dengan perasaan author yang tidak suka dan cemburu???
saran sebelum mengatang cerita banyak pada diri author dulu itu baik atau tidak
lihat juga dari sudut pandang lain, sudut pandang pemeran utama pria jangan hanya karena author wanita author hanya lihat dari sudut pandang pemeran utama wanita
coba author menila sesuatu pake penilaian dari diri author baik tidak yang dilakukan jingga hanya karena rasa bersalah dan menjaga perasaan pria lain dia mengabaikan perasaan cemas, sakit hati karena cemburu suaminya sendiri
Gak ada surat nikah juga... kasihan anakmu nanti.