Arabella Qaseema, wanita dewasa berumur 24 tahun. Sesuai dengan namanya yang cantik, Arabella memiliki paras yang cantik dan imut. Tapi sayang, ia sulit mendapatkan pasangan. Setiap bulan yang berganti, bergulir disetiap harinya. Arabella, selalu berharap akan ada seorang pria yang akan datang untuk melamar.
"Hilal jodoh belum terlihat. Jadi nunggu hilal dulu. Nanti ya, kalau enggak Sabtu, ya Minggu,"
"Kalau diundang, aku gak mau ngasih kado. Hari minggu gini KUA-nya tutup,"
"Memang mau nyariin calon buat aku?"
"Besok ya, kalau enggak hujan. Aku cariin satu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Revolusi Rindu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menunggu Kepulangan, Mu
Arabella terkesiap ia langsung berbalik badan, sosok Haafizh yang ia cari kini tepat ada dibelakannya. Sejak kapan Haafizh ada dibelakang Arabella? Dan dimana teman Haafizh tadi.
Haafizh tersenyum. Pria itu terlihat begitu sangat gagah dengan seragam TNI-AD lengkap, kali ini Haafizh memakai baret. terlihat begitu tampan.
"Haafizh"
"Kenapa, pasti kamu terkejut, kan"
"Kamu kok bisa ada dibelakang saya, terus kemana teman kamu tadi?"
"Bagas ada disana!" Tunjuk Haafizh pada Bagas yang sudah bergabung dengan yang lain. "Saya sudah dari tadi menunggu kamu disini"
"Maaf telah membuatmu menunggu!"
"Tak apa. Asal itu kamu, sampai kapanpun dan seberapa lama pun itu saya akan tetap menunggu, Ra." Ucap Haafizh seraya mengedipkan sebelah mata.
Arabella langsung tersipu malu. Haafizh memang raja gombal, sepanjang dekat dengan Haafizh, Arabella baru menyadari satu hal yaitu Haafizh yang suka mengombal. Jika bukan Haafizh pasti Arabella akan memarahinya, tapi karena ini Haafizh, Arabella tidak marah. Justru ia malah merasa terhibur.
Tolong garis bawahi, Arabella tidak pernah baper. Ayolah, Arabella justru merasa risih. Tapi ada pengecualian, jika itu Haafizh maka itu tidak masalah. Terdengar aneh bukan? Tapi Arabella tidak peduli.
"Ayah kamu mana? Katanya beliau akan kesini" Berusaha mengalihkan pembicaraan, jika berlanjut maka Haafizh akan terus mengombalinya.
"Tidak jadi, ayah harus menemani bunda dirumah."
Setelah itu Haafizh mengajak Arabella masuk kedalam bandara. Keduanya memisahkan diri dari teman-teman Haafizh, sengaja ingin berduaan dulu dengan Arabella.
"Haafizh, kenapa kita tidak bergabung bersama mereka?" Tanya Arabella, wanita itu tidak peka dengan perasaan Haafizh.
"Apa kamu tidak ingin berbicara secara pribadi kepada saya?" Tanya Haafizh dengan memberikan kode. Siapa tau Arabella ingin menyampaikan jawaban yang kemarin sore.
Arabella terdiam lalu memandang Haafizh, kedua mata itu saling bersirobak. Arabella sudah memiliki jawaban dari setiap do'a yang selama ini ia panjatkan.
Sebenarnya ada yang ingin Arabella sampaikan pada Haafizh, tapi ia malu. Bagaimana cara menyampaikannya, dari mana Arabella harus memulai? Ada banyak ungkapan yang ingin disampaikan, tapi sekarang malah sangat membingungkan. Terlalu kaku untuk Arabella, lidahnya terasa begitu kelu.
Tidak mau rasa sesal dikemudian hari datang, Arabella memutuskan untuk menyampaikannya pada Haafizh.
Hilal jodohnya sudah terlihat, yaitu hadirnya Haafizh dihidup Arabella, ketulusan Haafizh yang selalu bersamanya selama ini. Menemaninya dikala ia butuh, tanpa diminta Haafizh selalu datang. Memberikan secercah kebahagiaan yang begitu tulus, jika memang benar Haafizh adalah seorang lelaki yang dikirimkan Tuhan untuknya maka Arabella sangat bersyukur memiliki Haafizh.
Pertemuan tanpa sengaja, perbincangan ringan yang begitu singkat kini berubah menjadi rangkaian kata yang begitu panjang. Rasanya Arabella ingin selalu bersama Haafizh disetiap waktu, namun waktunya belum tepat.
Entah bagaimana, Haafizh telah memberikan goresan indah dihatinya, beribu-ribu warna indah yang begitu memukau telah Haafizh hadirkan dihidup Arabella. Seolah-olah tanpa permisi, nama Haafizh telah bersemayam dihati Arabella.
Mungkin ada waktunya ia bersama Haafizh untuk bersama dalam sebuah ikatan suci. kini jari jemarinya kosong, tidak ada genggaman ditangan. Tapi Arabella yakin suatu saat nanti, jari jemari ini akan saling bertautan dengan Haafizh, saling menggenggam dengan penuh rasa cinta.
"Haafizh saya akan menunggu kepulangan, mu. Berjanjilah untuk selalu bertahan, berjanjilah bahwa kamu akan pulang dengan selamat."
"Saya disini akan selalu mendo'akanmu, Haafizh. Selesaikan misimu, sempurnakan pengabdianmu, biarkan saya menunggu kembalimu. "
Haafizh tersenyum bahagia, rasanya ia merasa bangga memiliki Arabella. Jika waktu itu ia pulang dari tugasnya tidak naik bus, mungkin Haafizh tidak akan pernah bertemu dengan Arabella.
Sosok yang begitu Haafizh kagumi, semua yang ada pada Arabella, Haafizh ingin segera memiliki nya dengan seutuhnya. Memeluk Arabella dengan penuh rasa cinta yang begitu besar. Jika waktu dan tugasnya sebagai tentara, tidak menghalangi. Mungkin Haafizh akan segera menghalalkan Arabella. Menjadikan Arabella sebagai persitnya.
"Saya pergi demi negara dan saya pulang demi kamu"
Dunia terasa milik berdua, Haafizh terus menatap Arabella dengan dalam. Kedua manik mata itu terus bersitatap, seolah-olah tidak ingin lepas. Pusat rotasi bumi seperti ada pada keduanya. Benar kata orang-orang, ketika dua insan tengah jatuh cinta orang lain mah ngontrak.
Disetiap sepertiga malam yang begitu tenang, Arabella selalu mencurahkan segala isi hatinya pada sang Maha Kuasa, meminta pentunjuk agar selalu dimudahkan dalam segala urusan, jika memang benar Haafizh adalah jodoh nya, maka permudahkan segala niat baik Haafizh padanya.
Arabella hanya bisa berdo'a, ia hanya pasrah dengan rencana sang Maha Kuasa. Jika Haafizh bukan jodohnya, mungkin Tuhan telah menyiapkan seseorang yang terbaik untuk Arabella.
Bila kamu tidak mampu berjodoh dengan orang yang kamu cintai, maka doakan agar dia berjodoh dengan seseorang yang lebih baik darimu.
Itulah puncak tertinggi dalam mencintai. Setulus-tulusnya cinta, seikhlas-ikhlasnya hati.
"Ara"
"Ya"
"Mulai hari esok kita tidak bisa bertemu. Waktu dan jarak memisahkan saya dari kamu, Ra. Tapi hanya ada satu cara untuk kita bisa bertemu."
"Dimana kita bisa bertemu?"
"Kita akan ketemu disujud sepertiga malam"
"Jika begitu, saya akan selalu menemuimu disepertiga malam saya."
Arabella tersenyum manis, ia begitu bersyukur bisa mengenal Haafizh sedekat ini.
Berbeda dengan Haafizh ia malah merasa sedih. Bagaimana jika dilain waktu yang akan datang, akan ada jarak lagi diantara dirinya dan Arabella.
Perkataan bunda semalam, kembali teringat oleh Haafizh. Pria berbaret itu langsung menatap Arabella dengan sendu.
"Haafizh, pulanglah dengan keadaan utuh dan selamat. Bunda tidak ingin kamu kenapa-napa. Do'a bunda dan ayahmu akan selalu bersamamu, Nak."
"Sepulang kamu bertugas, bunda akan mengenalkan kamu pada seseorang."
Perkataan bundanya mengusik pikiran Haafizh.
Setelah berbincang cukup lama, akhirnya Haafizh harus segera masuk kedalam pesawat. Tas besar di punggungnya sudah siap.
"Ara, saya pamit dulu. Jaga dirimu dengan baik, Ra. Maaf, mungkin aku akan jarang mengabarimu. Disana aku sangat sibuk"
"Iya Haafizh tak apa, kamu juga jaga dirimu dengan baik."
"Kapten, ayo kita harus segera pergi!" Teriak Bagas dengan posisi lumayan cukup jauh dari keduanya.
Haafizh mengangguk.
"Tunggu saya Ara, akan saya pinang engkau setelah sepulangku dari tugas negara"
tinggal menunggu prahara sang bunda nya hafiz lanjut....!
Masya Allah...
🤣