"Gue tiba-tiba PMS setiap ngeliat lo. Hormon gue jadi gak terkendali," ucap Chilla.
Karena sebuah tragedi berdarah pada masa pengenalan lingkungan sekolah, Achilla jadi sangat membeci Arnas dan menyukai Jonas yang notabenenya saudara kembar. Hormonnya seketika kacau balau saat melihat Arnas, dan berbunga-bunga bila di dekat Jonas. Namun sebuah ide menghampiri Chilla, sebuah ide untuk memanfaatkan Arnas mendekati Jonas.
Maka dengan sebuah kesepakatan, Arnas dan Chilla berkomplot melakukan banyak usaha pendekatan. Perlahan mereka mulai akrab meski pertengkaran tetap tak terelakan. Hingga Arnas menjadi tempat favorit Chilla untuk singgah dalam segala kesulitannya.
Akankah pada akhirnya Chilla lebih memilih menetap di tempat favoritnya? Atau ia tetap konsisten menuju tempat tujuannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @l_uci_ous, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 : Malam-malam
"Gue gak bisa hari ini," ujar Arnas, bahkan sebelum Chilla berkata apa pun. Kendati begitu, ia yang tengah sibuk membereskan buku dan peralatan tulisnya itu tahu bahwa Chilla mau menanyakan perihal waktu mengerjakan tugas kelompok.
"Besok?" tawar Chilla, ngebet sekali kerja kelompok.
Arnas berdiri, menyandang tasnya. Ia menghadap Chilla, mendorong kening gadis itu agar menyingkir dari jalannya. "Gak bisa."
"Alah! Lo mah sok sibuk," protes Chilla, yang mengekori Arnas melintasi rongga di antara meja-meja kelas yang sudah kosong.
Arnas berhenti dan berputar mendadak, membuat Chilla nyaris saja menabraknya. Walau tak sampai menabrak, posisi mereka jadi dekat sekali. Bahkan kening Chilla hampir menyentuh bibirnya.
Baik Chilla maupun Arnas mundur selangkah, nampak berusaha bersikap biasa saja atas posisi yang kurang nyaman sebelumnya.
Untung gak kecium anak orang, pikir Arnas, mengulum bibirnya.
"Gue memang sibuk, ya," Arnas membela diri. "Gue bukan lo yang gak punya ekskul atau kehidupan sosial di luar sekolah."
Butuh waktu bagi Chilla sebelum membalas, "Sok tahu lo. Gue juga sibuk, ya."
"Sibuk ngebucinin Jonas?" terka Arnas, alisnya terangkat.
***
"Aku mau ikut ekskul!"
"Kakak udah pernah bilang kan, boleh. Terserah kamu." Kak Largha membuka bungkusan ketoprak di tangannya, meletakkannya di atas piring.
"Drama," ujar Chilla.
"Kecuali itu," tolak Kak Largha kalem. "Nih makan," ia mendorong sepiring ketoprak ke arah adiknya, "Kakak mau balik ke sekolah buat bimbel."
"Modern dance kalo gitu," Chilla menegosiasi. Besar harapannya kali ini akan berhasil.
"Sama itu gak boleh."
"Tuh, tuh, tuh, kan! Kakak tuh gitu," protes Chilla. Dihentak-hentakkannya kakinya di bawah meja makan. "Selalu ada syarat dan keterangan."
Ini perdebatan pertama semester ini mengenai ekstrakurikuler, setelah semester sebelumnya sudah enam kali perdebatan ini terjadi. Chilla belum mau menyerah meminta, tapi kakaknya juga sejauh ini belum mau menerima keinginannya. Kapan coba kakaknya mau tobat jadi kakak otoriter begini? Keburu ia lulus juga begini terus.
"Kamu boleh ikut ekskul apa aja kecuali drama sama modern dance." Kak Largha bersedekap di depan dada, memandang Chilla yang mendelik sebal. "Kan kita udah pernah musyawarahin soal ini."
"Musyawarah-musyawarah," gumam Chilla.
"Kakak gak bisa biarin kamu main drama, nanti cowok-cowok pada modus lagi, ngelesnya tuntutan naskah."
"Gak—" baru Chilla mau membantah, kakaknya sudah lebuh dulu menyela.
"Semua cowok memang begitu."
Chilla mendengus.
"Apalagi modern dance. Udah tahu banget Kakak apa yang cowok-cowok pikirin lihat cewek pakek baju ketat dan kurang bahan sambil joget-joget."
Chilla mendengus. Cowok-cowok sebangsa Kakak, ia menerangkan laki-laki macam app yang dimaksud kakaknya. Tapi ia tak berani mengeluarkan komentar itu secara langsung. Cukup membatin saja.
"Gak boleh pokoknya. Kakak gak rela kamu jadi objek khayalan kotor cowok-cowok," Kak Largha berkata. Jelas dari kalimatnya Kak Largha berpengalaman soal 'khayalan kotor' itu. Pastilah, mantannya dua bulan yang lalu kan leader ekstrakurikuler modern dance. Dan sebelum itu anak drama, kapten tim voli perempuan, anak cheerleader, dan sederet siswi populer lainnya. Bila semua mantan kakaknya dikumpulkan, mereka bisa mengalahkan AKB 48.
"Denger Chilla, Kakak gak mau ada yang ke delapan kali buat perdebatan kayak gini. Kalo sekali Kakak bilang enggak, sampai kapan pun gak akan berubah jadi iya."
Chilla berdiri. Tanpa mengatakan apapun, meninggalkan Kakaknya menaiki tangga. Sama sekali tak menghiraukan panggilan untuk makan lebih dulu.
Brakk!
Chilla membanting pintu kamar menutup. Menenggelamkan suara kakaknya. Ia kemudian menghempaskan diri menelungkup di atas kasur.
Lihat saja, pikir Chilla, ia kan mengungkit masalah ekstrakurikuler ini untuk ke delapan kalinya, saat Papa pulang lusa.
Ponsel Chilla berdering, menampilkan nama Papa sebagai penelepon. Pas sekali.
"Halo?" suara dalam dari seberang sana menyapa.
"Chilla baru aja mikirin Papa," Chilla langsung berujar.
Terdengar kekehan senang. "Oh, ya? Tepat waktu waktu berarti Papa telepon, ya."
"Iya," Chilla mengamini. "Chilla pikir buat bujukin Kak Largha kalo Papa pulang lusa nanti."
Hening sejenak, sebelum Papa memanggil, "Nak."
Hati Chilla mencelos. Ia tahu bila sudah ada kata 'nak', akan ada janji yang dibatalkan, juga ada permintaan maaf.
"Gak pa-pa," ujar Chilla, sebelum Papanya berucap lebih lanjut. "Bujukin Kak Larghanya ditunda dulu."
"Maaf, ya...."
Chilla hanya diam cukup lama sebelum berujar, "Chilla kangen Papa." Dan air matanya meleleh tanpa bisa dibendungnya.
ΔΔΔ
Chilla bergerak gelisah di atas tempat tidur. Berguling ke kiri dan ke kanan, mencari posisi nyaman agar kembali terlelap. Namun apa daya, kantuk tak mau datang. Matanya malah seratus persen on. Lagi pula apa yang diharapkannya dari tidur terlalu awal selain terjaga tengah malam.
Chilla menyerah. Ia duduk, membenarkan tali hoodie yang menjerat lehernya. Ia melirik ke kanan, mendapati segelas air dan sepiring nasi padang yang dilindungi tutup transparan. Memang percuma ngambek, sok mogok makan dan mengurung diri di kamar bila kakaknya punya kunci cadangan.
Jadi ceritanya tadi usai berteleponan dengan Papa, ia tertidur dan terbangun menjelang maghrib. Ia bangun hanya untuk mandi dan kembali tidur lagi. Mungkin memang benar kata orang, bila sedang sedih seseorang jadi suka tidur.
Sebenarnya ia tadi terbangun sejenak waktu mendengar suara motor Kak Largha mendekat. Ia lapar tapi ingat sedang ngambek, jadi ia tidur lagi.
Chilla beringsut mengambil piring dari atas nakas. Ia kira mogok makan bukanlah cara terbaik untuk mendapatkan keinginannya. Bila ia sakit, ia malah tak bisa sekolah dan tak bisa bertemu Jojo. Chilla melirik permen loli di cermin.
Tak butuh waktu lama menghabiskan sepiring nasi. Apalagi bila kelaparan. Namun sekarang Chilla kepanasan karena keringat yang membanjir akibat sambal yang terlalu pedas. Maka ia pergi membuka pintu dan berdiri di balkon. Menikmati angin malam mengembus kulitnya yang lembab.
Chilla mengedarkan pandang, dan sebuah objek menarik perhatiannya.
Secepat kilat ia ke kamar, mengambil ponsel, lalu kembali ke balkon lagi. Ia menghubungi sebuah nomor, lama sekali baru panggilannya diangkat.
"Lama sih lo," omel Chilla.
Suara serak dan mengantuk dari seberang sana menjawab. "Ngigo ya lo? Jam satu pagi ini!"
"Urgent."
"Lo mau melahirkan?" balas Arnas seenaknya.
"Mulut lo," cela Chilla. "Gue mau tanya, Jonas ngapain di luar jam segini?"
"Astaga! Lo kan bisa turun terus tanya sendiri."
"Terus kalo dia lagi pengen sendiri dan ternyata gue ganggu gimana? Nanti dia malah sebel sama gue."
Masuk akal kan alasannya? Bisa saja Jonas sedang galau dan ingin sendiri. Kehadirannya mungkin akan tambah merusak suasana hati Jonas. Jadi lebih baik ia memastikan lebih dulu.
"Dia cuma lagi bosen belajar, kalo gak lagi sakit kepala. Kasih dia makanan manis kalo lo mau turun ke bawah, dia suka. Jangan tanya banyak hal, mungkin dia lagi pusing. Terutama jangan sampe ketahuan kakak lo kalo lo turun, gue gak mau ada ribut-ribut apalagi ngelibatin Jonas—bapak gue sangar," jelas Arnas panjang, lalu panggilan diputuskan sepihak.
Oke. Chilla mengantongi ponselnya. Ia akan memberikan makanan manis sebanyak yang bisa dibawanya pada Jonas.
Maka Chilla mengendap-endap turun. Melirik ruang tengah memastikan kakaknya sudah tidur di kamar. Segera ia menuju dapur. Diliriknya kulkas, dan ia menggeleng pelan. Ini tengah malam dan cuaca cukup dingin. Es krim tampaknya bukanlah pilihan yang tepat. Makanan yang hangat terdengar lebih baik.
Sebungkus roti yang tergeletak di atas meja makan tertangkap perhatian Chilla. Ia kemudian memandang toaster.
Roti panggang dengan selai stroberi.
Dengan cekatan namun tetap berhati-hati dan minim suara, Chilla menyiapkan roti panggang. Seraya menunggu roti matang, ia menumpahkan permen jeli dari toples kaca, menyisihkan permen rasa stroberi untuk dibawa pada Jonas.
Tak lama Chilla sudah siap di belakang pintu dengan tudung hoodie terpasang di kepala. Kantungnya penuh permen dan satu tangannya memegang dua roti yang dibungkus tisu. Hati-hati ia memutar kunci dan menarik pintu terbuka. Lalu tak kalah pelan ia menutup pintu coklat itu kembali.
Baru saja berbalik di depan pintu, Chilla langsung sadar bila ia sudah diperhatikan oleh Jonas di depan sana. Mendadak Chilla deg-degan, perutnya mulas. Melangkah mendekati Jonas terasa seperti berjalan di atas red carped dengan jutaan pasang mata mengikuti. Gugup sekali.
Jonas menelengkan kepalanya begitu Chilla tiba di hadapannya. Laki-laki itu menatapnya heran.
"Kenapa?" tanya Chilla. Ikut menelengkan kepalanya.
"Chilla?"
Chilla mengangguk. "Memang kamu harap siapa? Hantu?"
Jonas memperbaiki posisi kepalanya. Ia terkekeh menyikapi tanya Chilla.
"Gak takut keluar malem-malem?" tanya Jonas.
"Takut, sama Kak Largha. Tapi dia udah tidur." Sembari menjawab, Chilla menawarkan roti panggang yang diterima Jonas dengan gumaman terima kasih.
"Masih anget," Jonas mengomentari makanan di tangannya. Kemudian saat melihat Chilla yang masih berdiri, ditepuknya undakan di sisinya.
Chilla duduk. Ada senyum di bibirnya ketika melihat Jonas melahap roti buatannya dalam gigitan besar. Ia senang, juga bangga, apalagi ketika Jonas tersenyum puas.
Chilla tahu bila semua orang bisa membuat roti panggang asal punya roti, dan itu benar-benar makanan yang biasa. Tapi reaksi Jonas di setiap kunyahannya sangat tak ternilai. Laki-laki itu pandai sekali membuat Chilla merasa tersanjung. Jonas betul-betul baik.
"Kamu kok belum tidur jam segini, Chill?"
"Kebangun tadi, terus gak bisa tidur lagi. Pas ke balkon lihat kamu. Jadi aku turun deh dan nyamperin kamu di sini."
"Mm..." gumam Jonas yang sedang mengunyah. "Terus roti ini, kok bisa kamu bikin ini tengah malem?" tanyanya seusai menelan, mengangkat rotinya yang tinggal sepertiga.
"Oh itu... aku kira kamu di luar jam segini karena lagi bad mood. Terus aku inget kamu pernah bilang kalo makanan manis bagus buat benerin mood, jadi aku bikin roti panggang," terang Chilla, malu-malu. "Tadinya aku bawa es krim, cuma aku pikir gak cocok sama cuacanya."
Jonas yang sejak tadi menoleh—memandang Chilla menjelaskan—tersenyum. "Kamu baik banget, sih."
Chilla yang dipandang begitu merasa bahwa ada ribuan kupu-kupu yang mengepakkan sayapnya dengan liar di dalam perutnya, diringi irama jantungnya yang bertalu-talu. Kembali ia menikmati roti panggangnya untuk mengembalikan fokus.
"Enak," puji Jonas setelah menghabiskan rotinya. "Makasih ya, udah repot-repot bikinin roti panggang."
Chilla merasakan wajahnya memanas. Ia senang ada tudung hoodie yang menyembunyikan separuh wajahnya. Sebab ia khawatir wajahnya merona merah seperti di sinetron-sinetron. Kan malu bila ketahuan Jonas.
"Gak repot, kok."
Chilla merogoh sakutnya, mengeluarkan segenggam permen. "Mau permen?" ia menawarkan.
"Wah...." Jonas menerima separuh permen di tangan Chilla. "Thank you."
Tak lama roti Chilla pun habis. Ia sedang meremas bekas tisu dan mengantonginya ketika Jonas bicara.
"Chilla?"
"Iya?" Chilla berpaling, angin kencang menjatuhkan tudung hoodienya. Ia sama sekali tak membenarkannya, ia malah mengambil satu permen jeli. Ketika hendak menyobek bungkusnya, Jonas lebih dulu memberikan permen yang sudah terbuka. Chilla pun mengembilnya. Baginya permen jeli itu jadi naik nilainya karena diberika oleh Jonas.
"Kalo bukan aku, jangan nyamperin siapa pun ya, di luar jam segini," pinta Jonas.
Chilla terpana. Baru kali ini ia senang ada yang melarangnya, bersikap protektif padanya.
"Okey?"
Chilla mengangguk. Masih merasa terhipnotis. Pertanda bagus kan bila Jonas mulai bersikap protektif?
"Gemes, sih, kamu." Jonas mencubit ringan hidung Chilla. Dan itu sungguh tak bagus bagi jantung Chilla.
Setelah itu mereka mengobrol banyak, lama. Tapi Chilla tak banyak bertanya seperti yang disarankan Arnas. Obrolan mereka mengalir begitu saja. Tentang ponsel Chilla yang sudah diperbaki (Jonas benar-benar minta maaf karena lupa menemani Chilla mengambilnya, padahal Chilla sudah berkata tak apa karena toh kurir yang mengantar), lalu mengenai tes untuk perwakilan olimpiade Jonas, soal Arnas, soal Kak Largha, bahkan tentang makanan manis rekomendasi masing-masing. Obrolan mereka mulai reda ketika Chilla melihat ponselnya menunjukan pukul tiga pagi.
Chilla sangat menikmati malam itu. Bicara banyak dengan Jonas. Menikmati sejuknya angin malam seraya mengunyah permen stroberi yang manis. Betul-betul malam yang menyenangkan.
Membeku Chilla ketika merasakan beban jatuh ke pundaknya. Ia menoleh, mendapati Jonas sudah mendengkur lembut di bahunya. Tertidur nyenyak.
Chilla menunggu lima belas menit lebih lama, menyesapi momen itu, sebelum menelepon Arnas yang berteriak marah padanya.
"Jonas tidur," desis Chilla, takut Jonas terbangun. "Gue gak enak banguninnya. Dia kelihatan capek banget. Buruan keluar."
"Rese' ya lo. Lagian ngapain banget pendekatan pagi buta kayak gini. Bisa lebih konvensional—"
Chilla memutuskan telepon sebelum omelan Arnas lebih panjang lagi. Lagi pula heran, Arnas kok hobi sekali mengomel.
Tak lama pintu rumah Jonas terbuka, menampakan sosok Arnas yang mengenaskan. Rambut laki-laki itu semrawut seperti baru selesai duel dengan singa.
Arnas mendekat, memicingkan matanya. Chilla agak iba untuk pertama kalinya melihat Arnas.
"Udah sana balik duluan," suruh Arnas pada Chilla begitu Jonas sudah aman dipapahnya.
"Lo aja bawa Jonas masuk duluan."
"Udah deh gak usah ngeyel, gue ngantuk nih," ucap Arnas malas. "Kalo gue masuk duluan terus ada apa-apa sama lo di tengah jalan, nanti gue yang disalahin. Pulang duluan sana."
"Iya-iya." Chilla menyerah.
Ia sudah berbalik hendak pergi ketika sesuatu melintas di benaknya saat terakhir melihat wajah kuyu Arnas. Maka ia berputar lagi dan berkata, "Maaf ya, ngerepotin lo."
"Udah mulai terbiasa gue lo repotin," balas Arnas santai.
"Berarti udah gak bakal ngomel lagi dong kalo gue repotin." Chilla nyengir.
Arnas tersenyum samar. "Udah balik sana."
Maka Chilla pun pulang dengan perasaan ringan. Hanya satu harapannya sekarang, semoga Kak Largha tak terbangun. Cuma itu.
ΔΔΔ
hi yang udah terbiasa. awalnya terbiasa, lama-lama jatuh cinta. baik-baik, Nas. nanti hidup kamu jadi drama loh...
S2 yuk kak....
kenapa baru sekarang nemunya....
sungguh