"Kamu pikir aku memperhatikanmu? Aku hanya khawatir dengan lingkunganmu. Akan ku habiskan yang berani mengganggumu,"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon musbich, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
PARIS POINT OF VIEW:
Aku dan Dhika sedang duduk di salah satu sofa yang ada di butikku, aku menyuruh pekerja membuatkan minuman untuk kami. Aku mencoba memperhatikan nya yang sedang duduk santai melihat beberapa majalah fashion yang ada di tumpukan meja.
“Kenapa kamu tidak menolak untuk menikah?” tanyaku tiba tiba.
“Memang nya bisa ya?” kata Dhika cuek.
“Kenapa tidak bisa?”
“Kamu tidak mengenal papaku, apalagi jika mamaku juga menginginkan pernikahan ini. Percuma membuang tenaga untuk berdebat,”
“Kamu tidak punya kekasih yang ingin kamu pertahankan? Yang sangat kamu cintai dan ingin kamu nikahi?"
“Kenapa? Kamu ingin menemuinya dan mengaku menjadi calon istriku?” Tanya nya datar seraya meletakkan majalah di atas meja.
“Bukan begitu maksudku, maaf semuanya salahku,” kataku merasa bersalah.
“Sudahlah, terlanjur terjadi. Dan kamu? Kenapa tidak menolak?”
“Aku sudah menolaknya dan mamaku tidak percaya jika kita tidak melakukan apapun,” sahutku malas.
“Kamu tenang saja. Aku orang nya sibuk, jadi setelah menikahpun mungkin aku akan sibuk dengan pekerjaanku,”
“Sibuk bersama jaksa Erika?” tanyaku tanpa ku sadari.
“Tentu saja, pekerjaan kami tidak bisa terpisahkan,”
“Kamu mengagumi nya?” tanyaku.
“Paris,” suara tante zea membuat perbincangan kami terhenti.
“Tante,” aku tersenyum padanya tapi senyumanku perlahan menyurut karena melihat papa Dhika berjalan di samping tante zea.
“Halo Om Jo,” sapaku.
Om Jonathan hanya diam saja dan ikut duduk di samping tante zea, apa dia tidak menyukaiku?
“Mana design nya?” Tanya tante zea ramah.
“Ini tante,” kataku seraya menyerahkan beberapa design pada nya.
“Wah, cantik sekali. Bagaimana? Apa kamu setuju jika kamu memakai yang ini, Dhika?” Tanya tante zea pada putranya seraya menunjukkan salah satu gambar.
“Terserah mama saja, Dhika Cuma ingin acara akad saja dan dihadiri keluarga terdekat saja,” sahut Dhika cuek.
“Kamu ini, kamu kan cuti sehari,” kata tante zea kesal.
“Tapi Dhika nggak bisa janji bakalan ada sehari penuh, terkadang ada pekerjaan mendadak yang harus ditangani,” sahut Dhika.
“Paris juga tidak bisa janji akan ada dalam acara dari pagi sampai sore, tante,” kataku ikutan.
“Kalian ini, apa benar sesibuk itu?” sahut tante zea, sedangkan aku melirik om Jonathan yang sibuk dengan ponsel nya.
“Paris akan ikut beberapa audisi untuk menjadi model,” sahutku.
“Sayang, Dhika bisa menghidupimu. Kamu tidak perlu bekerja keras,” kata tante zea.
“Ini bukan masalah uang tante, ini masalah keinginan Paris. Ini tentang sebuah pencapaian, tentang sebuah kepuasan,” sahutku hati hati.
“Biarkan dia, Ma. Dhika saja tidak mengekang nya,” sahut Dhika menatapku sekilas.
“Baiklah jika itu mau kalian, kami bisa apa,” kata tante zea menghembuskan napas kasar.
“Apa sudah selesai, ma?” Tanya Dhika mulai beranjak dari tempat duduk nya.
“Mama bahkan belum merundingkan tentang tempat, makanan dan—“
“Mama kan bisa membicarakan nya dengan tante Vallery,” potong Dhika.
“Dhika—“
“Dhika masih ada urusan, ma,” kata Dhika menarik tanganku.
“Aku masih harus menemani tante zea,” kataku melepaskan tangan Dhika.
“Kamu ini terlalu posesif dan pemaksa,” kata Om Jonathan menatap putra nya.
“Yakin tidak mau menikah? Melihat caramu menarik tangan Paris saja membuatku yakin pada pernyataan adikmu,” kata tante zea meledek Dhika.
“Ma—“
“Sudahlah, kita percepat saja pernikahan kalian, besok juga tidak apa apa,” potong tante zea.
“Besok ada sidang,” kataku dan Dhika barengan yang membuat tante zea dan Om Jonathan menatap kami heran.
“Sebenarnya apa pekerjaanmu, sayang? Kamu pengacara?” Tanya tante zea.
“Hanya seorang fashion designer, tante,” sahutku gugup.
“Lalu?” Tanya tante zea lagi.
“Selama ini aku hanya senang menemani Dhika melakukan pekerjaan nya,” sahutku bingung.
“Kamu menemaninya melakukan autopsy?” Tanya tante zea terkejut.
“Iya tante,” kataku menganggukkan kepalaku.
“Jadi benar kata Kanaya jika kalian sering bersama,” gumam tante zea.
“Bukan begitu,” kataku serba salah.
“Tante paham jika Dhika tidak banyak waktu untukmu, tapi percayalah jika Dhika hanya bergaul dengan mayat dan tidak ada perempuan lain,” kata tante zea lembut.
“Paris percaya jika Dhika hanya bergaul dengan mayat,” sahutku menahan tawa.
“Kamu pikir tidak ada dokter cantik di sana,” celetuk Dhika sedikit melirikku dengan kesal.
“Tapi tidak ada yang lebih cantik dariku,” sahutku penuh percaya diri.
“Perbaiki cara berpakaianmu, nak,” kata om jonathan menasehatiku.
“Itu—“
“Papa, Dhika akan menerima Paris apa adanya. Jangan banyak mengaturnya, dia akan mengubahnya perlahan. Tidak harus mengubahnya total seperti yang papa harapkan, tolong hargai dia,” kata Dhika menarik tanganku untuk pergi dari butik.
Aku mengikutinya menuju halaman butik, dia membuka pintu mobil dan menyuruhku masuk ke dalam mobil. Dia melajukan mobil dengan kecepatan sedang.
“Maafkan papaku,” kata Dhika.
“Nevermind, aku sudah sering kena omel mama dan ayahku tentang cara berpakaianku,” sahutku.
“Ku rasa memang pakaianmu terlalu terbuka. Tapi aku paham karena kamu seorang designer,”
“Kamu tidak akan melarangku menjadi model kan? Aku sudah lolos beberapa audisi,”
“Jadi kamu sudah resmi menjadi model?”
“Begitulah, tapi kami baru melakukan pemotretan minggu depan. Dan jika kasus monalisa sudah selesai, mungkin aku akan lebih sibuk dengan berbagai macam acara, fashion show misalnya,”
“Jangan lupakan tanggal pernikahan kita,” sahut Dhika datar.
“Tentu saja, aku akan mengosongkan jadwalku sehari,”
“Baguslah jika kamu paham,”
“Lalu kita akan tinggal dimana setelah menikah?” tanyaku.
“Terserah kamu saja, lagipula aku jarang pulang ke rumah. Aku lebih sering tidur di ruanganku,”
“Oh—“
“Kamu bisa tinggal di rumahku menemani adikku,”
“Dan melihat papamu setiap hari???”
“Ada apa dengan papaku?” Tanya dhika kesal.
“Aku takut,” kataku dengan wajah memelas.
“Apa yang harus ditakuti?”
“Sepertinya papamu tidak menyukaiku,” kataku bergidik ngeri membayangkan om Jonathan.
“Papaku sebenarnya baik,”
“Aku tidak mau tinggal di rumahmu jika kamu jarang pulang,” sahutku.
“Lalu tinggal di rumahmu?”
“Ayahku juga akan menanyakanmu jika kamu juga jarang pulang,” sahutku santai.
“Kenapa jadi rumit begini sih? Seperti menikah sungguhan saja, baiklah kamu tinggal di rumahku saja setelah menikah,” kata Dhika kesal seraya memarkirkan mobil nya.
Aku mengikuti dhika masuk ke gedung tempatnya bekerja, dia berjalan terlalu cepat membuatku harus mengimbangi langkah nya.
⭐⭐⭐⭐⭐🙏🙏
sehat sehat sll yaa 🤗
terimakasih cerita menghiburnya thor..👍👍