Dareen yang selalu dibandingkan oleh papanya dengan kakak kandungnya yang bernama Aril. Dareen madih kuliah sedangkan Aril sudah bekerja. Dareen akhirnya membuktikan pada papanya bahwa ia bisa mandiri tanpa bantuan dari papanya. Dareen mulai ikut bekerja sebagai montir, karena dia mempunyai paras yang tampan. Akhirnya banyak yang menjuluki Montir Ganteng.
Bagaimana Dareen bisa sukses?
Ikuti ceritanya di Montir Ganteng.
Thank's.
Dareen_Naveen (Boezank Jr.)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dareen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part. 13 (Nikah Lagi)
“Nak, Ferdy ....?” Sahut si papa.
Tak terdengar suara.
“Hallo .... ” Suara papa semakin kencang.
Hening.
“Ini Anak kemana, sih?” Papa mulai kesal.
“Hallo ... Om. Om. Hallo ....” Ferdy menjawab.
“Iya Fer .... ”
Tut ... Tut ... Tut .... Hp mati.
“Lah! Kok malah mati?” Papa heran.
“Mungkin enggak ada signal, Pa. Di tempat Ferdy emang suka gitu,” jawab gue ngasal.
“Hmm!” Papa mendehem.
“Ya udah, ini hp nya.” Papa menyerahkan hp ke gue.
Gue meraih hp itu dari tangan Papa.
“Makasih, Pa.”
Papa gak jawab apa-apa, langsung ngeloyor masuk ke kamarnya. Gue lanjut menaiki anak tangga dan segera masuk kedalam kamar.
“Allhamdulillah ya Allah, engkau telah menolong hambamu ini,” ucap gue lirih.
Gue bergegas tidur. Karena hari esok mesti gawe dan kuliah.
.
“Selamat pagi semuanya.” Sapa bang Aril dan kak Manda bergandengan tangan mesra.
Kami semua meloleh ke arah datangnya suara dan menatap.
“Pagi ... Aril, Manda. Sini duduk, mari makan sama-sama.” Ajak si mama.
Mereka pun duduk bersama di meja makan ini. Kami semua kumpul untuk sarapan bersama-sama.
“Kalian udah mulai tinggal di sini?” tanya papa.
“Iya, Pa.” Jawab Bang Aril.
“Baguslah. Biar bisa jadi contoh buat Dareen!” Omong si papa sambil menyuapkan nasi.
Nah loh! Kan mulai lagi, kumat ngebandinginnya. Tiba-tiba perut gue terasa kenyang setelah papa bilang kek gitu.
Kenyang atau muak? Entahlah. Yang jelas gue beranjak pergi meninggalkan mereka, melesat menggunakan R25.
Tin ... Tin ....
Klakson ramai di pagi hari.
Di rumah sudah mulai jengah. Bukan karena gue enggak bahagia Bang Aril balik. Tapi, karena papa selalu membandingkan gue dengan bang Aril.
Sial! Gue selalu terjebak di lampu merah ini. Lampu merah yang mempunyai detikan waktu yang lama untuk berhenti. Gue lihat, disisi motor gue terhenti mobil mewah. Di dalamnya tak lain gue melihat Pak Beni dan Nila yang sedang bercengkrama dengan sesekali Pak Beni membelai rambut Nila mesra.
“Ya Allah, pagi-pagi udah dikasih pemandangan kek gini,” ucap gue datar.
Hingga tak sadar, lampu telah berubah warna menjadi hijau menandaan semua kendaraan harus jalan lagi.
Tin ... Tin ....
Suara klakson yang berisik.
Gue tersadar dalam lamunan karena klakson yang dibunyikan oleh pengemudi lain. Gue melesat pergi mengikuti mobil mewah berwarna hitam itu.
“Tapi kok malah belok sini? inikan bukan kantornya Papa,” ucap gue pelan.
Mereka berhenti tepat di sebuah rumah yang cukup besar. Nila turun dari mobil itu.
“Tunggu ya, Mas,” ucap Nila.
Hening.
“Nak, mau kemana lagi?” ucap seorang ibu yang menahan anaknya.
“Aku mau pergi aja, Bu! kalau Ibu tidak merestui hubungan Kami,” jawab Nila.
“Jangan, Nak!”
“Tapi kenapa, Bu? Kami saling mencintai,” ucap Nila.
“Dia telah mempunyai anak istri. Kasihan mereka apa bila nanti Kamu masuk dalam rumah tangga Mereka. Kamu akan merusak kebahagiaan orang lain, Nak!” Ujar si Ibu.
“Biar, Bu! Aku enggak perduli! Pokoknya Aku akan menikah sama Mas Beni!” ucap Nila sambil masuk kedalam mobil mewah berwarna hitam itu.
Mobil melesat pergi, meninggalkan seorang ibu tua yang menangis.
Gue terdiam, seakan tak percaya apa yang gue dengar barusan.
Tersadar melihat jam tangan, udah jam delapan lewat dua puluh menit. Gue langsung meluncur meninggalkan rumah Nila dan bergegas kembali ke bengkel showroom.
Gue melihat pintu gerbang yang baru saja di buka. Langsung gue parkirkan motor.
“Tumben baru dateng, Lu?” ucap bang Andi.
“Iya Bang, ada urusan.”
“Tumben, kek orang sibuk, Lu! Pagi-pagi udah ada urusan aja.” Ledek bang Andi.
“Yaelah Bang. Namanya juga manusia, ada kalanya punya kepentingan.”
“Iya-iya! Gue becanda keles. Sensi amat.” Bang Andi mengakhiri.
Gue hanya tersenyum.
.
“Oh iya, Dareen. Lu ingat mobil hitam mewah yang pernah Nila bawa?" Tanya bang Andi.
“Iya. Kenapa, Bang?” tanya gue.
“Katanya mau ke sini nanti siang. Ada alat yang mau diganti katanya.”
“Oh,” jawab gue datar.
“Nanti kalau ada mobil lain, lu kerjain mobil Nila, ya?” Suruh bang Andi.
“Ogah, Bang! Mending, Gue nyervis mobil lain. Lagian itu juga mobil mewah. Gue enggak berani kalau mesti servis sendirian.” Gue ngeles.
“Ya udah deh terserah, Lu!” ujar bang Andi.
“Keadaan di bengkel masih sepi.
Drettt ... Drettt ....
Hp gue bergetar. Yumna video call.
“Ihiy! yang lagi merindu.” Ledek bang Andi.
“Sstttt! ... diem Lu, Bang!” Gue angkat VC dari Yumna, lalu menjauh dari bang Andi.
Gue sentuh layar gawai setelah membereskan sedikit rambut yang lepek karena udah memakai helm.
‘Hai ... Yumna.’ Gue menyapa dia dengan senyuman.
Namun, dari seberang sana terlihat wajah Yumna yang murung. Dia duduk di ranjangnya dengan memeluk boneka beruang berwarna violet.
‘Na, Kamu kenapa?’
Yumna merunduk.
‘Hey! Lihat Kakak,’ kata gue.
Yumna mengangkat wajahnya ragu. Matanya terlihat sembab.
‘Ada apa, Na? Coba cerita,' ujar gue.
Hening.
Yumna terlihat menahan ucapannya. Seketika Yumna menyeka air mata yang terjatuh dari sudut matanya dengan cepat.
‘Yumna?’ Gue coba lebih pelan suaranya. Berharap ia mau cerita.
‘Papa mau nikah lagi, Oppa.’ Suara Yumna parau.
‘What?’ Gue kaget.
‘Iya,’ jawab Yumna masih tertunduk.
‘Dengan wanita yang dulu Kita pergoki, ketika Kita makan mie ayam dulu, Oppa.’
‘Nanti Kakak jemput Kamu, ya? Kita jalan, tapi setelah Kakak kelar kuliah. Mau?’ Ajak Gue.
Yumna mengangkat wajahnya dan menganggukan kepalanya.
‘Ya udah. Kamu jangan sedih lagi, ya? Simpen sedihnya buat entar nagis di pundak Kakak.’
‘Idih! apaan sih, Oppa?’ Yumna terkekeh.
‘Na?’
‘Apa?’ jawab Yumna.
‘Kakak gawe dulu, ya?’
‘Iya. Sampai ketemu nanti malam Oppa, bye’.
.
Gue sama sekali enggak ngerti dengan pikiran Nila. Dulu, Nila ogah-ogahan minta tanggung jawab sama pak Beni ketika ia hamil. Tapi sekarang ia malah ngebet ingin nikah sama pak Beni. Sebenrnya kenapa ya? Gue malah pusing memikirkan pola pikir orang yang satu ini.
***
“Udah video call nya?” Bang Andi meledek.
Gue tersenyum.
Tin ... Tin ....
Suara klakson mobil mewah itu.
“Bang Andi, Aku enggak jadi ganti alat. Masih bagus kok. Minta ganti oli mobil aja ya. Sekalian tolong dicek yang lainnya, siapa tahu ada yang rusak,” ucapnya.
“Woke! Mba.” Bang Andi mulai mengganti oli dan mengecek mobil mewah itu.
Sementara bang Andi sibuk. Gue tarik lengan Nila. Mengajak ia menjauh dari mobil.
“Aduh ... Dareen. Lepasin!” Nila menghempaskan genggaman tangan gue.
“Sakit tahu!” Timpalnya lagi.
“Lebih sakit lagi keluarganya Pak Beni Nila.” Ujar gue.
Mata Nila seketika membulat dan menatap tajam mata gue.
“Maksud mu apa?” Nila bertanya.
“Enggak perlu belagak **** deh, Gue denger waktu Lu ngomong sama Ibu, Lu!”
Nila tersenyum sinis.
“Jadi, Lu ngikutin Gue?” tanya Nila yang gaya bahasanya sudah berbeda.
Gue diam.
“Lu suka sama Gue?” ucap Nila.
“Lu punya apa?” Cerca Nila lagi.
Gue terdiam dan baru tahu sifat asli Nila seperti ini. Gue hanya membalas dengan tatapan tajam.
“Dulukan Gue deketin Lu karena Mas Beni enggak mau tanggung jawab. Sekarang, Dia sendiri yang mau nilahin Gue."
"Lu memang tampan Dareen! Tapi sayang , Lu masih bocah di mata Gue,” jawab Nila begitu sinis.
“Tenang aja Nil, dari awal Gue care sama Lu karena Gue kasihan. Bukan karena sayang. Jadi silakan, Lu mau sama Pak Beni juga enggak ada masalah buat Gue. Yang jadi pertanyaan Gue, hati Lu di mana? Kenapa Lu rebut suami dari wanita lain? Kenapa juga Lu mesti rebut Bokap orang lain?” tanya gue.
“itu semua enggak ada urusannya sana Lu! Mending Lu nabung yang banyak biar banyak cewek yang mau sama Lu!” ucap Nila.
Gue tersenyum.
“Gue enggak perlu wanita seperti itu untuk menemani hidup Gue. Gue mencari wanita yang mau menerima Gue apa adanya,” jawab gue sambil ngeloyor.
“Ngimpi Lu! hari gini mana ada yang kek gitu?” ucap Nila mulai samar karena gue menjauhinya.
Terkadang gue juga berpikir, adakah wanita seperti itu? Wanita yang mau menerima apa adanya. Tapi gue yakin, masih ada wanita yang tulus. Bukan melihat dari harta, tapi melihat dari hati dan niat seseorang.
Yang entah itu siapa? dan ada di mana?
jd penasaran aq thoor
salken....
Kuy.....nyimak nih...😊🤝👍💪