Song An, karyawan kantoran abad ke-21 yang meninggal karena lembur tanpa henti, terbangun di tubuh seorang selir bayangan di istana Kekaisaran statusnya setara hiasan, namanya bahkan tak tercatat resmi. Tak punya ambisi kekuasaan, Song An hanya ingin hidup tenang, makan cukup, dan tidak terseret drama istana.
Namun logika modernnya justru membuatnya sering melanggar aturan tanpa sengaja: menolak berlutut lama karena pegal, bicara terlalu santai, bahkan bercanda dengan Kaisar Shen yang terkenal dingin dan sulit didekati. Bukannya dihukum, sang kaisar malah merasa terhibur oleh kejujuran dan sikap polos Song An.
Di tengah kehidupan istana yang biasanya penuh kepura-puraan, Song An menjadi satu-satunya orang yang tidak menginginkan apa pun dari kaisar. Tanpa sadar, sikap santainya perlahan mengubah hati Kaisar Shen dan arah takdir istana dengan cara yang lucu, manis, dan tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 16
Masalah belum selesai tapi sudah datang lagi yang lainya, Song An tahu itu bahkan sebelum Kaisar Shen mengatakannya.
Ia bisa merasakannya dari cara istana menjadi terlalu rapi, terlalu patuh, terlalu cepat kembali tenang. Seperti seseorang yang membersihkan darah sebelum ada yang sempat melihat lantainya.
“Ketenangan seperti ini mencurigakan,” gumam Selir Zhang.
Mereka bertiga sedang duduk di paviliun kecil, tempat favorit mereka sejak semua ini dimulai.
Selir Li mengangguk. “Biasanya setelah kekacauan, istana ribut. Tapi sekarang… sepi sekali.”
“Karena mereka menunggu,” jawab Song An pelan.
“Menunggu apa?” tanya Selir Zhang.
“Kesempatan.”
—
Kesempatan itu datang dalam bentuk undangan.
Sebuah gulungan resmi, dibawa utusan khusus, berstempel emas.
Kaisar Shen membacanya sendiri di ruang kerjanya, lalu meletakkannya di meja tanpa ekspresi berlebihan.
“Undangan dari Kekaisaran Bei,” katanya.
Song An duduk di seberangnya. Selir Li dan Selir Zhang berdiri di sisi ruangan.
“Pesta musim semi,” lanjut Kaisar Shen. “Resmi. Terbuka. Terlalu ramah.”
Selir Zhang mengernyit. “Bukankah hubungan kita dengan mereka… dingin?”
“Dingin, tapi sopan,” jawab Kaisar Shen.
“Dan datang tepat setelah markas ditemukan,” tambah Song An.
Kaisar Shen menatapnya. “Kau pikir ini jebakan?”
“Bukan jebakan langsung,” jawab Song An. “Lebih seperti… panggilan.”
“Untuk apa?”
“Untuk melihat apakah kita datang dengan luka,” jawab Song An tenang. “Atau dengan taring.”
Ruangan hening.
Lalu Kaisar Shen tersenyum tipis.
“Kau ikut,” katanya.
Selir Li terkejut. “Kami?”
“Kalian bertiga,” jawab Kaisar Shen. “Sebagai selir resmi.”
Selir Zhang menelan ludah. “Ke wilayah lain?”
“Ya.”
“Di saat masalah belum selesai?” tanya Selir Li cemas.
“Justru karena itu,” jawab Kaisar Shen. “Kalau dalang utama masih bergerak, ia akan bergerak di luar istana.”
Song An mengangguk. “Dan perjalanan adalah saat paling mudah diserang.”
“Persis,” kata Kaisar Shen. “Dan aku ingin melihat siapa yang berani.”
—
Persiapan dilakukan cepat, tapi tidak berlebihan.
Rombongan dibuat tampak kecil, hampir sederhana.
“Ini aneh,” gumam Selir Zhang saat kereta disiapkan. “Biasanya pamer.”
“Kali ini kita tidak ingin terlihat kuat,” jawab Song An. “Kita ingin terlihat… biasa.”
“Biasa tapi ditemani pasukan elit,” sindir Selir Zhang pelan.
Song An tersenyum. “Itu rahasia.”
—
Perjalanan dimulai saat matahari belum tinggi.
Kereta Kaisar berada di tengah, diapit beberapa pengawal. Tidak mencolok, tidak berisik.
Di dalam kereta, suasana justru tenang.
Selir Li duduk dengan tangan saling menggenggam. “Aku tidak pernah keluar sejauh ini sejak masuk istana.”
“Anggap jalan-jalan,” kata Selir Zhang mencoba ringan.
“Kalau jalan-jalan biasanya tidak ada pedang,” jawab Selir Li lirih.
Song An menatap keluar jendela kereta. “Kalian takut?”
Selir Zhang menjawab jujur. “Iya.”
Selir Li mengangguk. “Aku juga.”
Song An tersenyum tipis. “Bagus.”
“Kok bagus?” tanya Selir Zhang.
“Karena yang paling berbahaya adalah yang merasa aman,” jawab Song An.
—
Penyerangan terjadi menjelang sore.
Tidak dramatis.
Tidak ada teriakan awal.
Hanya satu anak panah yang meleset tipis dan menancap di sisi kereta.
Song An langsung berdiri. “Sekarang.”
Kereta berhenti mendadak.
Pengawal elit bergerak seperti bayangan.
“Jangan keluar!” teriak seseorang.
Selir Li memucat. “Song An—”
“Aku di sini,” jawab Song An tenang.
Suara benturan terdengar.
Bukan pertempuran besar.
Cepat. Terukur.
“Jumlah mereka sedikit,” kata seorang pengawal di luar.
“Pengalih,” jawab Kaisar Shen dari keretanya sendiri. “Bukan tujuan utama.”
Song An membuka tirai sedikit.
Ia melihat sosok berlari ke arah hutan.
“Jangan kejar terlalu jauh,” katanya pelan.
Pengawal mengangguk.
Beberapa menit kemudian, semuanya berakhir.
Tidak ada korban dari pihak mereka.
Hanya satu pengawal terluka ringan.
Selir Zhang terduduk lemas. “Itu… itu saja?”
Song An mengangguk. “Ya.”
“Kenapa terasa seperti mereka tidak berniat menang?” tanya Selir Li.
“Karena mereka hanya ingin memastikan kita datang,” jawab Song An.
Kaisar Shen turun dari keretanya.
Matanya tajam, tapi wajahnya tenang.
“Mereka ingin kita tahu,” katanya, “bahwa jalan ini diawasi.”
“Dan bahwa permainan belum selesai,” tambah Song An.
—
Malam itu, mereka berkemah sementara.
Api unggun kecil dinyalakan.
Tidak ada kepanikan.
Justru keheningan berpikir.
“Kau yakin kita harus lanjut?” tanya Selir Zhang pada Kaisar Shen.
“Ya,” jawab Kaisar Shen tanpa ragu. “Sekarang justru lebih penting.”
“Kenapa?” tanya Selir Li.
“Karena kalau kita mundur,” jawab Kaisar Shen, “mereka menang tanpa muncul.”
Song An menatap api. “Dan karena undangan itu bukan sekadar pesta.”
“Lalu apa?” tanya Selir Zhang.
“Panggung,” jawab Song An. “Untuk menunjukkan siapa berdiri di sisi siapa.”
—
Keesokan harinya, mereka tiba di wilayah Kekaisaran Bei.
Gerbangnya megah.
Sambutannya hangat.
Terlalu hangat.
“Yang Mulia Kaisar Shen!” sambut tuan rumah dengan senyum lebar. “Kami terhormat atas kehadiran Anda.”
Kaisar Shen membalas senyum sopan.
Song An memperhatikan sekeliling.
Ia melihat tatapan.
Bukan tatapan kagum.
Tapi menilai.
Selir Li berbisik, “Mereka melihat kita seperti… barang.”
“Sepertinya bidak,” jawab Song An pelan.
Selir Zhang menghela napas. “Aku tidak suka tempat ini.”
“Aku juga,” jawab Song An. “Artinya kita harus waspada.”
—
Di dalam aula pesta, musik mengalun lembut.
Orang-orang tertawa.
Anggur mengalir.
Tapi di balik senyum, Song An menangkap potongan percakapan.
“Masalah dalam istana Shen... ”
"Tidak stabil... ”
“selirnya menarik”
Song An menegakkan bahu.
Ia menoleh pada Selir Li dan Selir Zhang.
“Dekat denganku,” katanya pelan.
Kaisar Shen duduk di kursi kehormatan.
Tatapannya bertemu Song An sesaat.
Ia mengangguk hampir tak terlihat.
Mereka mengerti satu sama lain.
—
Di sudut aula, seorang bangsawan Bei berbicara terlalu lama pada seorang utusan.
Song An lewat, pura-pura tidak mendengar.
Namun satu kalimat tertangkap jelas.“jika jalur barat terbuka”
Song An berhenti sesaat.
Lalu melanjutkan langkah.
Ia tahu sekarang.
Petunjuk itu kecil.
Tapi cukup.
Permainan ini bukan hanya tentang istana mereka.
Ini tentang kekaisaran.
Dan mereka baru saja melangkah ke papan yang lebih besar.
Song An kembali ke sisi Selir Li dan Selir Zhang.
“Masalah kita belum selesai,” katanya pelan.
Selir Zhang tersenyum pahit. “Sepertinya malah bertambah.”
Song An tersenyum kecil. “Setidaknya kita masih bersama.”
Di kursi kehormatan, Kaisar Shen mengangkat cangkirnya.
Di balik senyum pesta, ia berpikir hal yang sama:
Perang belum dimulai.
Tapi langkah pertama sudah diambil.
Bersambung