Kisah rumit terjalin saat kepergian gadis culun menjadi TKI gelap ke Texas. Memulai dengan cara yang salah. Hingga membawa ia pada sebuah pertemuan dengan seorang Mafia Kejam. Pria yang memberikan kehidupan penuh kerumitan. Ia benci suara tembakan dan aroma alkohol yang ikut memasuki kehidupan nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fara Dela Sandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12. ALASAN DIA TETAP HIDUP?
"Kita akan kemana?" tanya Dara melirik ke kanan dan ke kiri. Mobil melewati ruas jalan yang sepi dan gersang.
"Pulang ke rumahlah mau kemana lagi," balas Mark dengan senyum miring khas milik nya.
"Rumah?" ulang Dara,"rumah siapa?" sambung nya tidak mengerti.
"Rumahku," jawab Mark lagi.
"Lalu rumah besar kemarin?"
"Itu hanya tempat peristirahatan sementara kami. Rumah besar bukan di sana," jelas Mark lagi.
"Memangnya kalian punya berapa banyak rumah?"
Ke dua tangan Mark terangkat. Seakan tengah menghitung berapa rumah yang di miliki oleh keluarga nya. Ia mengerang pelan.
"Aku tidak bisa menghitung nya. Karena terlalu banyak," jawab Mark.
Kepala Dara mengangguk kecil. Alex pria itu masih terlihat memejamkan ke dua kelopak matanya. Semenjak hari itu, Alex jarang terlihat oleh Dara. Sampai pagi tadi, itu pun hanya sebentar.
Ekor mata Dara melirik Alex yang ada di kursi belakang. Terlihat tertidur dengan tenang. Tidak terganggu sama sekali dengan pembicaraan ia dan Mark. Padahal suara Mark di samping tubuh Alex benar-benar mengusik gendang telinga. Di samping tubuh Dara, Tom mengemudi dengan tenang.
Apakah Mafia memang begitu. Terlihat cenderung tenang dengan wajah dingin. Selama perjalanan Tom tidak berbicara sama sekali.
"Kau tidak lapar?" Mark menanyai perut Dara yang biasanya berbunyi di jam-jam makan siang.
Dara mengigit bibir bawahnya. Gadis berkaca mata itu tidak tau bagaimana bisa Mark hapal dengan jadwal perutnya demo.
"Masih belum," dusta nya.
"Benarkah?" tanya Mark dengan nada tidak percaya.
"Ya." Jawab Dara mengangguk pelan.
Kelopak mata Alex terbuka perlahan. Hingga mata hijau elang itu terlihat jelas. Tom melirik dari kaca spion depan.
"Apa ada sesuatu yang di butuhkan Bos?" tanya Tom.
"Carilah tempat pemberhentian untuk makan. Jangan sampai Mark terlalu banyak omong kosong di dalam mobil," ujar Alex dengan nada serak.
"Baik, Bos!" jawab Tom.
Diam-diam Dara kembali melirik wajah Alex. Hingga mata ke duanya berbenturan. Jantung Dara bergemuruh, cara Alex menatap ke arah depan membuat ia salah tingkah. Ah, inikah yang di namakan senjata makan tuan?
Bagaimana lagi, meskipun hati kecil Dara melenguh kesal. Karena telah lancang menjatuhkan hati pada Bos Mafia Kejam ini. Tapi apa boleh buat, tidak ada yang bisa mengontrol perasaan yang tumbuh. Yang bisa dia lakukan saat ini adalah melakukan membuat hati Alex terperosok padanya. Sama seperti hatinya yang tanpa sengaja jatuh pada pria berdarah dingin itu.
Meskipun Alex Felton memiliki penyimpangan seksual. Dara yakin, tidak ada satupun penyimpangan yang tidak bisa di obati. Gadis culun ini jadi bertekad kuat untuk membatu Alex berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Sesekali, Dara ingin melihat senyum di wajah datar itu. Meskipun hanya sekali saja.
Tom melirik Dara dengan pandangan curiga. Di balik kemudi, Tom memperhatikan gerak gerik Dara. Jika gadis culun ini berbuat hal aneh pada Bos nya. Maka Tom tidak akan ragu menghabisi Dara dengan ke dua tangan nya sendiri.
...***...
"Aku tidak tau apa alasan Bos mempertahankan gadis culun itu tetap hidup dan berada di dalam lingkup Dragon," seru Tom dengan nada serius.
Alex yang berdiri membelakangi Tom. Menatap hamparan padang ilalang di tepat di belakang rumah besar, di teras balkon. Alkohol berkadar rendah di sedap perlahan.
"Menurutmu kenapa?"
"Aku tidak tau, Bos!" aku Tom dengan jujur.
Pria berkulit hitam ini sangat penasaran apa alasan Alex Felton. Bos besar Mafia Dragon ini mempertahankan Dara Margaretha. Gadis culun yang sama sekali tidak menarik di mata. Di Eropa ada banyak gadis cantik yang menggiurkan. Dengan kemolekan tubuh yang menggoda syahwat.
"Awalnya aku pikir dia adalah orang suruhan musuh. Menahannya di sisiku, untuk melihat siapa yang telah mengutus nya. Namun setelah semua nya terjadi. Aku mulai berubah pikiran. Dia cukup bisa di andalkan, apa lagi melihat wajah bahagia Mark. Itu membuat aku benar-benar berpikir untuk menjadi kan nya bagian dari Dragon," jelas Alex dengan nada serak.
"Menjadikan nya sebagai bagian dari kita atau menjadi kannya bagian dari dirimu, Bos?" Tom meragu. Ucapan yang terakhir terdengar cukup lancang di telinga Alex.
"Apa yang kau pikirkan?" Alex mengeluarkan nada menakutkan. Tubuh nya di balik ke belakang.
Tom langsung menunduk dalam. Aura kelam menekan dirinya terasa.
"Maaf, Bos. Aku berpikir kau tertarik padanya," jawab Tom kembali.
Tom terlanjur lancang berujar. Pria ini, tidak bisa menarik apa yang telah di ucapkan bukan? Karena itu, ada baiknya ia menuntaskan rasa penasaran nya pada apa yang ada di pikiran Alex.
Tuk!
Alex meletakan dengan kasar gelas minuman nya di atas meja. Melangkah mendekati Tom dengan langkah lebar. Tom menahan napas kala Alex telah berada di depannya.
"Jangan terlalu banyak berpikir dan bertanya Tom. Aku membawamu ke sampingku adalah untuk menjalankan apa yang aku perintahkan. Bukan untuk bertanya dengan tentang keputusan yang aku keluar," peringat Alex dengan nada menyeramkan.
Tom mengangguk. Dia tidak bisa lagi menahan tekanan aura Alex yang menakutkan. Sebagai seorang pria, Tom juga merasa sangat terintimidasi dengan Alex Felton. Aura Bosnya ini benar-benar sangat menakutkan. Jiwa psikopat yang ada pada dirinya membuat Tom tunduk dan patuh pada Alex. Kekuatan yang pria ini punya benar-benar di luar kemampuan manusia biasa. Bahkan Tom tidak tau bagaimana pria ini mengasah kemampuan nya.
"Aku mengerti, Bos!" pada akhirnya hanya itu yang keluar di bibir Tom.
Alex melangkah meninggalkan balkon belakang. Meninggalkan Tom dengan degup jantung menggila. Tom berpikir tadi adalah akhir kehidupan nya. Ia bersyukur, Alex dalam keadaan suasana hati baik. Jika tidak seringan-ringannya hukuman. Tangan atau kakinya akan patah. Paling berat adalah kematian.
...***...
"Woah... ternyata si manja juga punya tubuh yang kuat!" Puji Dara dengan tepukan ringan.
Mark yang tengah sit-up berhenti mendadak. Ia mengulas senyum pongah pada Dara. Emma yang tengah merokok menghembus kan asap rokok ke udara. Dara mengibas-ngibaskan tangannya menghalau asap rokok menuju ke arah wajahnya.
"Merokoklah di luar Emma," dengus Dara.
Emma hanya mengulas senyum."Di luar ada Bos Alex dan Tom. Bos tidak suka ada asap di sekitarnya."
"Eh? Apakah dia tidak merokok?" tanya Dara dengan wajah terkejut.
"Alex bukan perokok Dara. Dia itu membenci tembakau!"
Bukan Emma yang menjawab Mark yang memberikan jawaban. Pria itu melangkah mendekati sofa. Dimana Dara baru saja duduk di depan Emma. Senyaman nya Mark. Pria tampan itu langsung meletakan kepalanya di paha Dara.
"Hei! Duduk lah dengan baik Mark. Kepalamu basah, tubuhmu bau keringat," kesal Dara mencoba menarik kepala Mark dari pahanya.
"Tidak mau!" Tolak Mark dengan tangan mencekal pergelangan tangan Dara.
"Hei!!! Kalau mau tidur sana di kamar atau di manapun. Jangan di pahaku!" Dara memberontak.
Mark tidak ambil pusing. Meskipun Dara meronta. Ia teringat masa kecil nya, sofa yang kini ia tiduri adalah tempat di mana ibu dan ayahnya selalu duduk bersama. Ia tidur di pangkuan sang ibu. Terasa sangat nyaman.
Emma hanya menggelengkan kepalanya."Kalian seperti sepasang kekasih saja," goda Emma.
"Gak mau sama Mark. Burung nya saja burung kakatua!" ledek Dara cepat.
"Hei! Dari pada kau, payudara jeruk Mandarin!" Balas Mark meledek Dara sembari membuka ke dua kelopak matanya terbuka.
Wajah Dara kontan memerah. Mark tersenyum penuh kemenangan. Sebelum melepaskan tangan Dara dan duduk dengan tegap di samping Dara.
"Jeruk Mandarin?" ulang Emma. Wanita cantik ini tidak di tempat kala Dara membuat kehebohan dengan jeruk Mandarin yang di selipkan di ke dua kantong bra-nya.
"Ituloh kemmmzzpp!!!"
"Kau berani sebarkan aku potong adik kecilmu tengah malam," ancam Dara membekap bibir Mark.
"Mengerti?" lanjut Dara lagi.
Kepala Mark mengangguk cepat. Emma yang menjadi penonton terkekeh geli. Si manja takut dengan Dara. Hanya karena Dara mengancam akan memotong adik kecil pria itu. Dara melepaskan bekapan tangan nya.
"Dara!" panggil Mark dengan nada aneh setelah di lepaskan dari bekapan tangan Dara.
"Apa?"
"Tanganmu kok bau busuk?" tanya Mark dengan pangkal hidung mengerut.
Dara menatap tangannya. Sebelum mencium nya. Ah! Dia lupa membersihkan tangannya saat memompa WC yang mampet.
"Heheh...maafkan aku, Mark. Seperti nya tanganku yang membersihkan taik yang ada di WC masih belum bersih," jawabnya cengengesan.
"AAPPPAAAA??????" teriak Mark menggelegar.
Pria itu lantas berdiri dan berlari terbirit-birit dengan eskpresi wajah menahan muntah. Emma menatap Dara dengan pandangan jijik. Dara berdiri tersenyum salah tingkah pada Emma. Sebelum ikut berlari ke kamar mandi. Harusnya ia membersihkan tangan nya dengan sabun pewangi.
"Iiyyyy!!!" Emma bergidik jijik.
romantis banget
untuk karya² kakak
tidak ada dokter psikologi.
S1 psikologi itu mrnjadi psikolog.
sedangkan psikiater, itu sekolah S1 Kedokteran.
setelah lulus, mengambil spesialist/S2 psikiater.