Nasib istri kuli bangunan :menceritakan tentang bahwa hidup yang penuh perjuangan seorang laki- laki yang bertanggung jawab dan istri yang punya kesabaran. dan keteguhan yang hebat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SulSya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Nasib Derita Istri Pekerja Kuli Bangunan
Aroma debu semen dan teriknya sengsara seolah sudah menjadi kawan setia dalam hidup Anisa.
Pernikahannya dengan Burhan tiga tahun lalu berawal dari sebuah janji manis sederhana di bawah kayu teratak yang lapuk.
Kala itu, Burhan menatap mata Anisa dengan penuh kesungguhan, berjanji akan membahagiakannya walau hanya berbekal tenaga sebagai buruh kasar.
Namun, realitas kehidupan kerap kali terlalu tajam untuk dibendung oleh kata-kata manis.
Pagi itu, sinar matahari belum sepenuhnya menembus celah-celah dinding papan rumah sewaan mereka.
Anisa sedang sibuk mengaduk secangkir kopi hitam manis di dapur sempitnya ketika Burhan melangkah keluar dari kamar sambil mengenakan kaus kumal yang penuh bercak semen kering.
"Kopi sudah siap, Mas?" tanya Anisa lembut sambil menyerahkan cangkir seng itu kepada suaminya.
Burhan menerima cangkir tersebut tanpa senyum. Raut wajahnya tampak sangat muram dan letih. "Terima kasih, Nis," jawabnya singkat sebelum menyeruput kopi hangat itu perlahan.
Anisa mendudukkan diri di bangku kayu kecil di hadapan Burhan. Dia ragu-ragu sejenak, menatap jemarinya yang saling bertaut gelisah di pangkuan.
"Mas... tadi pagi pemilik rumah datang lagi," cicit Anisa pelan, takut merusak suasana hati suaminya.
Burhan menghentikan tegukannya. Tangannya menaruh cangkir kopi itu dengan agak kasar ke meja. "Ibu Sumi lagi? Mau apa dia?"
"Uang sewaan rumah kita sudah menunggak dua bulan, Mas," jawab Anisa dengan suara bergetar. "Bu Sumi bilang, kalau sampai akhir minggu ini kita belum bayar, kita harus angkat kaki dari sini."
Burhan menghela napas panjang, mengusap wajahnya yang kusam dengan kedua telapak tangannya yang kasar dan pecah-pecah.
Uang dari mana, Nis? Mandor proyek belum turunkan upah minggu ini. Katanya bahan bangunan terlambat datang, jadi pekerjaan tertunda."
"Tapi kita butuh makan juga, Mas. Beras di gentong tinggal seliter. Lauknya cuma ada tempe sisa kemarin," keluh Anisa, menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Kau pikir aku tidak berusaha, Nis?! Aku ini banting tulang dari pagi sampai malam di bawah terik matahari! Mengangkat semen berkarung-karung sampai punggungku rasanya mau patah! Tapi memang cuma segini yang bisa kubawa pulang!" kata Burhan mendadak meninggi, keputusasaan mulai menguasai emosinya.
Anisa tersentak. Dia menunduk dalam-dalam, tak sanggup menatap mata suaminya yang merah memendam rasa bersalah sekaligus amarah pada takdir.
"Maafkan aku, Mas..." bisik Anisa lirih. "Aku tidak bermaksud menuntut. Aku hanya bingung... besok kita mau makan apa?"
Suasana di meja makan menjadi sangat sunyi. Burhan menatap istrinya yang mulai terisak pelan. Penyesalan mendalam langsung merayapi dadanya. Dia berdiri, melangkah mendekati Anisa, lalu merengkuh pundak ringkih wanita itu dengan lembut.
"Maafkan aku juga, Nis. Aku yang lepas kendali," kata Burhan dengan nada bersalah. "Harusnya aku tidak membentakmu. Ini salahku yang tidak bisa jadi suami yang mampu."
"Tidak, Mas. Mas Burhan sudah bekerja keras," sahut Anisa seraya menghapus air matanya dengan ujung lengan bajunya. "Aku bangga punya suami pekerja keras seperti Mas."
Burhan tersenyum tipis, meski matanya menyiratkan beban berat yang tak tertahankan. Dia merogoh saku celananya, mengeluarkan beberapa lembar uang kertas yang sudah lusuh dan lecek, lalu meletakkannya di telapak tangan Anisa.
"Ini ada lima puluh ribu sisa sisa kemarin. Pegang dulu untuk beli beras dan sayur," ujar Burhan. "Hari ini aku akan coba pinjam kasbon sama Mandor Bakri. Semoga dia mau memberi pinjaman."
"Semoga ya, Mas. Hati-hati di jalan. Jangan lupa makan siang nanti," kata Anisa menatap penuh harap.
"Iya, Nis. Aku berangkat dulu," jawab Burhan seraya mencium kening istrinya sebelum melangkah keluar pintu.
Anisa berdiri di ambang pintu, menatap punggung suaminya yang berjalan kian jauh menyusuri gang sempit.
Di dalam hatinya, sebuah ketakutan besar membayang: sampai kapan roda penderitaan sebagai istri kuli bangunan ini akan terus berputar?