hayyyyy hayyyy hayyyyy semuanya jangan lupa follow aku dulu biar enak ahayyyy !!! 👋🤍
Siapa sangka, di kehidupan yang cuma sekali ini, kamu malah harus dipaksa menikah sama seseorang yang bahkan nggak kamu kenal?
Itulah yang terjadi sama Ema.
Awalnya Ema pikir pernikahan ini cuma urusan bisnis antara keluarganya dan keluarga Damian. Setelah menikah, mereka bisa menjalani kehidupan masing-masing seperti biasa.
Tapi ternyata, Ema salah besar.
Semenjak tinggal bersama Damian dan keluarganya, Ema mulai merasa ada yang aneh.
Mereka terlalu banyak menyimpan rahasia.
Dan semakin Ema mencoba mencari tahu, semakin ia sadar kalau keluarga yang sekarang menjadi keluarganya itu... sama sekali bukan keluarga biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon crowell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 2
Setelah acara pernikahan selesai, Emma langsung dibawa ke mansion aneh milik keluarga suaminya. Bahkan, mereka tidak mengizinkan ayahnya ikut mengantar Emma sampai ke mansion tersebut.
"Jaga diri baik-baik, ya. Jangan bawel terus. Sekarang kamu sudah jadi istri orang," ucap Bram sambil mengelus kepala putrinya dengan lembut.
"Hmm, iya, Ayahku," jawab Emma sambil mengangguk patuh. Gadis itu kemudian memeluk Bram erat, seolah enggan berpisah dengan ayahnya sendiri.
"Ck, akhirnya!" gumam Raisa yang sedari tadi berdiri tidak jauh dari mereka.
Mendengar gumaman itu, Emma sontak menoleh dengan tatapan tajam.
"Apa, Lo?!" sergah Emma ketus. "Awas aja, ya, kalau sampai Ayah gue kalian apa-apain!" ancamnya sambil menunjuk Raisa dan orang-orang di sekitarnya.
"Ya ampun, kalian ini bisa nggak, sih, nggak usah berdebat terus?" tegur Alya dengan wajah lelah melihat tingkah keduanya.
Alya kemudian mengalihkan pandangannya kepada Emma. "Sudah, jaga diri kamu baik-baik, ya. Suami kamu sudah menunggu di dalam mobil. Sana, masuk!" ujarnya seraya melambaikan tangan, seolah-olah hendak mengusir Emma secepat mungkin.
Emma langsung mendengkus kesal.
"Apaan, sih? Ibu tiri juga bacot!" gerutunya pelan, tetapi masih cukup jelas untuk didengar.
"Emma!" tegur Bram, memperingatkan putrinya agar tidak sembarangan berbicara.
Emma hanya meringis kecil, lalu kembali memeluk Bram dengan erat.
"Byee, Ayah! Love you!" serunya ceria sambil melambaikan tangan kecilnya.
Bram hanya mengangguk lembut. Ia tidak membalas ucapan putrinya dengan kata-kata, melainkan mengecup puncak kepala Emma dengan penuh kasih sayang.
"Jaga diri baik-baik, Nak," bisiknya pelan.
Setelah melepaskan pelukannya, Bram membuka pintu mobil dan mempersilakan Emma masuk.
"Makasih, Ayah," ucap Emma sambil tersenyum manis.
Gadis itu pun masuk ke dalam mobil, meskipun sesekali masih menoleh ke arah Bram dari balik jendela.
Bram berdiri diam di tempatnya, menatap mobil yang perlahan mulai menjauh. Ada senyum tipis di wajahnya, tetapi sorot matanya menyimpan kekhawatiran.
Bagaimanapun juga, putrinya baru saja menikah dengan seorang pria yang bahkan belum benar-benar dikenalnya.
Berapa jam kemudian........
Sementara itu, Emma yang duduk di dalam mobil mulai mengerutkan kening. Ia melirik mansion besar di hadapannya melalui jendela dia tidak pulang bersama Damian pria itu pulang lebih dahulu .
"Ya ampun, rumah apaan, sih, segede begini? Kayak istana punya drakula aja!" gumam Emma sambil menggelengkan kepala.
Ia kemudian menyandarkan punggungnya ke kursi dan mengembuskan napas panjang.
"Semoga aja suami gue nggak aneh-aneh banget," lanjutnya sambil menatap langit-langit mobil.
Namun, Emma sama sekali tidak tahu bahwa kehidupan barunya di mansion itu akan jauh lebih aneh daripada yang bisa ia bayangkan.
Mobil itu akhirnya berhenti di depan sebuah mansion besar. Sopir segera turun dan membukakan pintu untuk Emma.
Emma keluar sambil mengangkat sedikit gaun pengantinnya. Matanya langsung menatap bangunan di hadapannya. Mansion itu memang besar, bahkan lebih mirip istana. Namun, suasananya terasa sepi. Pepohonan besar di sisi kiri dan kanan jalan masuk membuat tempat itu terlihat sedikit menyeramkan.
Emma memperhatikan sekelilingnya ketika para pelayan yang berbaris di depan mansion serentak menundukkan kepala.
"Selamat datang, Nyonya," ucap mereka bersamaan.
Emma yang tidak terbiasa dengan sambutan seperti itu langsung ikut menundukkan kepalanya dengan canggung.
"Iya, makasih," jawabnya sambil tersenyum tipis.
Setelah itu, Emma kembali berjalan menuju pintu utama. Dua orang penjaga yang berdiri di sana langsung membukakan pintu untuknya. Emma sempat memperhatikan wajah mereka yang sama-sama pucat sebelum akhirnya masuk.
"Makasih," ucap Emma sekali lagi.
Kedua penjaga itu hanya mengangguk tanpa mengatakan apa-apa.
Emma mengerutkan kening, tetapi memilih tidak bertanya. Baru juga sampai, masa iya dia sudah mencari masalah?
Begitu memasuki mansion, Emma langsung terpukau melihat bagian dalamnya. Ruangan itu sangat luas, dengan lantai marmer dan lampu gantung besar yang menghiasi langit-langit.
"Gila, gede banget rumahnya," gumam Emma sambil melihat ke sana kemari.
Saat sedang asyik memperhatikan interior mansion, Emma mendengar suara seorang wanita dari ruang tengah.
"Bunga mawarnya taruh di sana saja. Tolong dirapikan, ya, jangan sampai berantakan," ujar wanita itu kepada beberapa pelayan yang sedang menata bunga mawar merah.
Wanita paruh baya itu kembali memeriksa susunan bunga di atas meja. Namun, ketika menyadari Emma sudah datang, wajahnya langsung berubah cerah.
"Emma!"
Wanita itu segera menghampirinya dengan senyum lebar.
Emma yang dipanggil langsung menoleh. Ia sempat bingung sebelum akhirnya tersenyum canggung.
"Nak, selamat datang. Maaf, ya, Mami tadi nggak pulang bersama kamu," ucap Raina sambil menggenggam tangan Emma. "Ada beberapa hal yang harus Mami urus di mansion."
"Oh, nggak apa-apa, Mami," jawab Emma sambil menggeleng pelan.
Raina tersenyum, kemudian memperhatikan gaun pengantin yang dikenakan Emma.
"Capek, ya? Pasti dari tadi kamu berdiri terus. Ayo, masuk dulu. Kamu bisa istirahat nanti."
Emma mengangguk, tetapi matanya masih sibuk memperhatikan mansion yang begitu luas itu.
Dalam hati, ia masih tidak menyangka sekarang dirinya benar-benar tinggal di tempat sebesar ini.
"Ngomong-ngomong, Mami," panggil Emma sambil menoleh kepada Raina.
"Iya, Sayang?"
"Suami aku mana?"
Raina terdiam sebentar, lalu tersenyum kecil.
"Damian ada di kamarnya. Nanti Mami suruh seseorang mengantarmu ke sana."
Emma langsung mengerucutkan bibir.
"Loh, kok malah di kamar? Istrinya baru datang, bukannya disambut dulu?" gerutunya tanpa sadar.
Raina menahan tawa mendengar ucapan menantunya itu.
"sudahlah sayang, Diamian memang seperti itu nanti kamu akan terbiasa dengan sifat nya "
Emma menghela napas panjang.
"Iya, sih. Baru juga nikah, udah ditinggal sendirian."
Raina hanya menggeleng sambil tersenyum melihat tingkah Emma.Sepertinya, keinginan nya mempunyai anak perempuan akan terwujud dengan ada nya Emma pasti bakalan rame.
"Sonia!" panggil Raina sambil menoleh ke arah beberapa pelayan yang sedang bekerja.
"Iya, Nyonya. Ada apa?" tanya seorang gadis yang bergegas menghampiri mereka.
"Tolong antar menantu saya ke kamar Tuan Muda," perintah Raina.
"Baik, Nyonya," jawab Sonia sambil mengangguk sopan.
Raina kemudian menoleh ke arah Emma yang masih sibuk memperhatikan sekeliling mansion.
"Sayang, ikutlah bersama Sonia, ya. Mulai hari ini, dia akan menjadi pelayan pribadi kamu," jelas Raina sambil tersenyum.
Emma sontak menoleh.
"Pelayan pribadi?" ulangnya memastikan.
"Iya, Sayang. Kalau kamu butuh sesuatu, bilang saja sama Sonia."
Emma mengangguk pelan, lalu melirik Sonia yang berdiri di sampingnya.
Astaga, pelayan pribadi?
Gila, kaya banget keluarga ini. Di rumahnya saja Emma nggak pernah punya pelayan pribadi, sekarang malah langsung dikasih satu.
"Baiklah, Mami," jawab Emma akhirnya.
Raina tersenyum, lalu mengusap kepala Emma sebentar.
"Kalau begitu, Mami tinggal dulu, ya. Kamu istirahat saja. Pasti capek setelah acara tadi."
"Iya, Mami."
Setelah Raina pergi, Emma langsung menoleh kepada Sonia.
"Ehm, Kak Sonia, kamarnya di mana, ya?" tanyanya sambil tersenyum canggung.
"Saya antar, Nyonya," jawab Sonia sopan.
Emma mengangguk, lalu mulai berjalan mengikuti Sonia.
Sepanjang perjalanan, Emma terus memperhatikan mansion yang mereka lewati. Ada banyak pintu di sepanjang lorong, tetapi suasananya begitu sepi sampai-sampai Emma merasa seperti sedang berada di hotel yang belum dibuka.
"Eh, Kak Sonia," panggil Emma tiba-tiba.
"Iya, Nyonya?"
"Di sini memang selalu sepi, ya?"
Sonia menoleh sebentar sebelum kembali menatap jalan di depannya.
"Kurang lebih seperti ini, Nyonya."
Emma mengangguk-angguk kecil.
Pantesan. Rumah segede ini, tapi suasananya kayak nggak ada penghuninya.
Emma kembali berjalan sambil mengangkat sedikit gaunnya agar tidak tersandung.
Dalam hati, ia hanya bisa berharap semoga suaminya tidak seseram mansion yang akan menjadi tempat tinggalnya mulai sekarang.
Setelah sampai di depan sebuah pintu besar, Sonia tiba-tiba berhenti. Gadis itu bahkan tidak berani mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu tersebut.
Emma yang berjalan di belakangnya langsung mengerutkan kening.
"Kak, kenapa berhenti?" tanyanya heran.
"Nyonya, panggil saja saya Sonia," jawab Sonia dengan wajah tidak enak.
"Ya sudah. Aku juga belum terlalu tua, kok. Panggil Emma saja," ujar Emma santai.
"Ti-tidak, Nyonya." Sonia buru-buru menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?"tanya Emma
"Karena sekarang nyonya adalah nyonya kami"Jawa Sonia
Emma menghela napas. "Ya sudah, terserah kamu saja. Besok baru aku pikirkan panggilan yang cocok buat kamu."
Emma hendak melangkah, tetapi ia menyadari Sonia masih berdiri diam di tempatnya.
"Loh, kenapa diam saja? Bukain pintunya, dong," pinta Emma sambil menunjuk pintu di hadapan mereka.
"Maaf, Nyonya. Saya tidak berani menyentuh pintu ini," jawab Sonia pelan.
"Ck, ribet banget!"Emma langsung mendecakkan lidah.
Tanpa menunggu jawaban Sonia, Emma langsung memegang gagang pintu dan membukanya sendiri.
Begitu pintu terbuka, Emma langsung melongo melihat kamar yang ada di hadapannya.
"Ya ampun, gede banget!" celetuknya spontan.
Kamar itu jauh lebih besar daripada kamar Emma sebelumnya. Perabotannya tertata rapi, dengan tempat tidur besar di tengah ruangan dan jendela tinggi yang menghadap ke halaman mansion.
Emma langsung melangkahkan kakinya masuk, lalu menoleh ke belakang.
"Ayo, masuk!" ajaknya kepada Sonia.
Namun, Sonia tetap berdiri di ambang pintu.
"Ini kamar aku, kan?" tanya Emma sambil menunjuk ke dalam kamar.
"I-iya, Nyonya. Ini kamar Tuan dan Nyonya," jawab Sonia hati-hati.
"Terus, kenapa kamu nggak masuk?"
"Saya tidak berani, Nyonya. Saya hanya orang biasa. Saya tidak ingin membuat kamar Tuan dan Nyonya kotor," jelas Sonia sambil menundukkan kepalanya.
Emma menatapnya tidak percaya.
"Apaan, sih? Kamu itu manusia, bukan barang rongsokan! Memangnya kalau masuk kamar langsung bikin kotor?" omelnya.
Emma kemudian menghampiri Sonia dan menarik tangannya pelan.
"Ayo, masuk!"
Namun, Sonia tetap bersikeras menolak. Gadis itu bahkan tidak berani melangkahkan kakinya melewati ambang pintu.
Emma akhirnya menyerah. Ia melepaskan tangan Sonia, kemudian menatapnya dengan wajah cemberut.
"Ya sudah, kamu boleh pergi," ucap Emma pasrah.
Sonia langsung terlihat panik.
"Maaf, Nyonya. Saya tidak bermaksud membuat Anda marah. Maafkan saya," katanya terburu-buru.
Gadis itu bahkan hendak berlutut di hadapan Emma, tetapi Emma buru-buru menahannya.
"ASTAGA, KENAPA MAU BERLUTUT?!" seru Emma kaget sambil memegang kedua bahu Sonia.
Sonia langsung terdiam.
"Aku cuma pura-pura marah, kok! Aku capek, makanya aku suruh kamu pergi dulu. Bukan berarti aku benci sama kamu!" jelas Emma cepat-cepat.
"Tapi, maaf, Nyonya," balas Sonia pelan.
Emma mengembuskan napas panjang.
"Ya ampun, kamu ini. Sudah, sana pergi dulu. Tunggu aku di bawah, ya. Aku mau keliling mansion ini sebentar."
"Iya, Nyonya," jawab Sonia sambil menganggukkan kepala.
Setelah itu, Sonia membungkuk sopan sebelum akhirnya pergi meninggalkan Emma.
"Dah, Sonia! Byeee!" seru Emma sambil melambaikan tangan.
Emma kemudian menutup pintu kamar.
Klik.
Gadis itu berbalik sambil masih memikirkan tingkah Sonia yang menurutnya terlalu kaku.
Namun, baru saja berbalik, Emma langsung terlonjak kaget.
"ASTAGA!"
Seorang pria berdiri tepat di belakangnya.
Emma yang tidak siap hampir saja kehilangan keseimbangan. Tubuhnya bahkan sudah miring ke belakang ketika pria itu dengan sigap menangkap pinggangnya.
Untuk sesaat, Emma terdiam.
Matanya perlahan mendongak, lalu membulat ketika menyadari siapa pria yang sedang memegangnya.
Damian!
"LEPASIN!" seru Emma panik.
"Lepasin, kamu modus, ih!" omelnya sambil berusaha mendorong dada Damian.
Namun, Damian benar-benar melepaskan tangannya.
Bruk!
Emma langsung jatuh terduduk di lantai.
"AWWW! SAKIT!" jerit Emma sambil meringis. Tangannya refleks memegang pinggangnya yang terasa nyeri.
Damian menatapnya datar.
"Kamu sendiri yang menyuruhku melepaskanmu," jawabnya santai.
Emma mendongak dengan mata melotot.
"YA TAPI JANGAN LANGSUNG DILEPASIN JUGA, LAH!"
"Terus, maumu apa?" tanya Damian tanpa ekspresi.
Emma terdiam sesaat, berusaha mencari jawaban yang tepat.
"Ya ... minimal turunin aku pelan-pelan, kek! Emangnya aku karung beras bisa dijatuhin sembarangan?!"
Damian hanya menatapnya sebentar sebelum memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
"Berisik."
"HAH?! APA KATAMU?!"
Damian tidak menjawab. Ia justru melangkah melewati Emma dan berjalan masuk lebih dalam ke kamar.Sementara itu, Emma masih duduk di lantai dengan wajah kesal.
"Dasar suami nggak punya perasaan!" gerutunya sambil berusaha berdiri.
Baru sehari menikah, pinggangnya sudah dibuat sakit oleh suaminya.
eh thor update gih utusan istrahat nanti di akhirat 😍🤭