NovelToon NovelToon
Lily

Lily

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:574
Nilai: 5
Nama Author: Lili Pinarsih

Tuan!, kau masih saja ya setampan dulu, suara itu menyapa dengan senyum lembut .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lili Pinarsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Sehari sebelum penyerangan yang direncanakan Mahito Katagiri, suasana di kediaman Gento berubah semakin tegang. Sejak pagi, Gento terus menerima laporan dari anak buahnya mengenai pergerakan mencurigakan di sekitar wilayah mereka. Meskipun belum ada bukti bahwa pihak Katagiri telah menemukan persembunyian tersebut, firasat buruk terus menghantuinya.

Ia berdiri di depan layar besar di ruang kendali, mengamati peta digital yang menampilkan jalur keluar dari kediamannya.

“Bagaimana persiapan kendaraan?” tanyanya kepada Mike.

“Semua kendaraan sudah siap. Dua mobil telah ditempatkan di garasi bawah tanah, sementara satu kendaraan lain menunggu di pintu keluar sebelah timur. Jet pribadi juga sudah dipersiapkan di bandara khusus.”

“Bagaimana dengan jalur menuju bandara?”

“Sudah diperiksa. Namun, kita tidak bisa menjamin jalur itu akan tetap aman apabila Mahito mengerahkan pasukannya lebih cepat dari perkiraan.”

Gento mengusap wajahnya dengan kasar. Ia telah memperhitungkan berbagai kemungkinan, tetapi membayangkan pasukan Katagiri mengepung kediamannya tetap membuatnya gelisah.

Ia tidak takut kehilangan bangunan atau kekuasaannya. Yang membuatnya khawatir adalah ia tidak ingin Suzuki dan Lily jatuh ke tangan Mahito sebelum ia mengetahui tujuan sebenarnya dari rencana lelaki tua tersebut.

“Jika terjadi penyergapan, kita tidak akan melawan mereka di sini,” putus Gento. “Prioritas kita adalah membawa Suzuki dan Yahiko keluar. Jangan biarkan siapa pun tertinggal.”

Mike mengangguk, tetapi ia masih tampak ragu.

“Ke mana kita akan pergi?”

“Belanda.”

“Belanda?” Mike mengulang dengan nada terkejut.

Gento mengangguk. “Jet pribadi akan membawa kita ke sana. Kita memiliki beberapa tempat yang bisa digunakan untuk bersembunyi sementara. Setelah keadaan lebih aman, barulah kita memikirkan langkah selanjutnya.”

Mike terdiam sejenak sebelum berkata, “Kau harus mempertimbangkan keinginan Yahiko juga. Jangan sampai kau kembali memutuskan semuanya atas namanya.”

Tatapan Gento langsung mengeras.

“Aku tahu apa yang kulakukan.”

“Semoga saja,” jawab Mike. “Sebab, jika kau terus menganggap keselamatannya sebagai alasan untuk mengendalikan hidupnya, kau tidak jauh berbeda dari orang-orang yang selama ini kau benci.”

Gento tidak menjawab. Ia hanya mengalihkan pandangan ke layar, meskipun perkataan Mike terus terngiang di benaknya.

---

Malam tiba. Sebagian besar penghuni kediaman telah beristirahat, tetapi Gento masih terjaga. Setelah memastikan bahwa persiapan evakuasi berjalan sesuai rencana, ia mengambil sebuah syal berwarna krem dari lemari kecil di ruang kerjanya.

Ia menatap benda itu beberapa saat sebelum berjalan menuju kamar Lily.

Sesampainya di depan pintu, Gento mengetuk pelan.

Tok. Tok.

“Yahiko, ini aku.”

Tidak ada jawaban selama beberapa detik. Kemudian, terdengar suara Lily dari dalam.

“Masuklah.”

Gento membuka pintu dengan hati-hati.

Lily sedang duduk di dekat jendela. Rambut hitamnya tergerai di bahu, sementara wajahnya terlihat lelah. Sejak pertemuan dengan ayahnya, ia lebih banyak menghabiskan waktu di kamar dan hanya keluar ketika ingin menemui Suzuki.

Lily menoleh ketika menyadari kedatangan Gento.

“Ada apa?”

Gento menutup pintu, lalu meletakkan syal yang dibawanya di atas meja.

“Aku ingin membicarakan sesuatu.”

"Apa?, harta warisan?, kau ambil saja semuanya atau ingin menyiksaku dan ayahku karena dendammu itu?"

“Bukan itu.”

Gento menarik kursi dan duduk agak jauh darinya. Untuk sesaat, lelaki yang biasanya berbicara dengan penuh keyakinan itu tampak kesulitan menemukan kata-kata.

“Besok mungkin akan terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan,” katanya akhirnya. “Karena itu, kau harus bersiap. Jika keadaan memburuk, aku akan membawamu dan Suzuki pergi dari sini.”

Lily mengerutkan kening.

“Ke mana?”

“Belanda. Aku sudah menyiapkan kendaraan dan jet pribadi.”

“Siapa yang mengatakan bahwa aku bersedia pergi bersamamu?”

Pertanyaan itu membuat Gento terdiam.

“Aku sedang berusaha melindungimu.”

“Aku tidak pernah meminta diculik demi perlindunganmu.” Suara Lily terdengar tenang, tetapi tegas. “Aku ingin bersama ayahku, dan aku ingin mengetahui kebenaran. Jangan menganggap keputusanmu sebagai sesuatu yang harus selalu kuterima.”

Gento menunduk sesaat. Ia tahu Lily tidak akan mudah mempercayainya, tetapi mendengar penolakan itu secara langsung tetap membuat dadanya terasa sesak.

“Aku mengerti,” jawabnya. “Aku hanya tidak ingin sesuatu terjadi kepadamu.”

Lily tidak membalas.

Setelah beberapa saat, Gento kembali berbicara.

“Yahiko, ada satu hal lagi yang ingin kutanyakan.”

“Apa?”

“Apakah Suzuki mengetahui pernikahanmu dengan Satoshi?”

Wajah Lily langsung berubah.

“Ayah sudah mengetahui bahwa aku menikah dengan Satoshi. Aku sendiri yang menceritakannya.”

“Maksudku, apakah dia mengetahui semua yang terjadi di antara kalian?”

Lily memahami arah pembicaraan itu. Jemarinya meremas ujung lengan baju.

“Aku tidak ingin membicarakannya.”

Gento memperhatikan perubahan ekspresinya. Ia mengetahui bahwa hubungan Lily dan Satoshi bukanlah pernikahan yang bahagia. Ia juga mengetahui bahwa lelaki itu telah menyakiti Lily, baik melalui penghinaan maupun tindakan yang tidak pernah seharusnya dilakukan seorang suami terhadap istrinya.

Namun, ada sesuatu yang ingin ia katakan, meskipun ia sendiri tidak yakin mengapa hal itu terasa penting baginya.

“Bagaimana jika Suzuki mengetahui bahwa Satoshi telah mengambil kehormatanmu?”

Lily menatapnya tajam.

“Jangan menyebutnya seperti itu seolah-olah nilai diriku berkurang karena apa yang dilakukan Satoshi kepadaku.”

Gento terdiam.

“Apa yang terjadi bukan sesuatu yang kupilih,” lanjut Lily. “Aku tidak ingin terus-menerus dipandang sebagai perempuan yang telah kehilangan sesuatu. Aku masih manusia yang sama. Aku masih berhak menentukan hidupku sendiri.”

Gento menundukkan kepala.

“Kau benar. Maafkan aku.”

Keheningan menyelimuti kamar itu. Gento mengusap tengkuknya, tampak jauh lebih canggung daripada biasanya.

“Aku hanya berpikir tentang kemungkinan terburuk,” katanya. “Jika ternyata kau hamil akibat semua yang terjadi, aku ingin kau tahu bahwa kau tidak harus menghadapi semuanya sendirian.”

Lily membeku sejenak.

Gento segera melanjutkan, seolah takut kehilangan keberanian untuk menyelesaikan kalimatnya.

“Jika kau memang hamil, aku bersedia menjadi ayah angkat bagi anak itu. Aku akan melindunginya dan memastikan ia mendapatkan kehidupan yang layak.”

Setelah mengucapkan perkataan tersebut, wajah Gento memerah. Ia segera memalingkan muka, berusaha menyembunyikan rasa malu yang jarang sekali terlihat pada dirinya.

Lily menatapnya dengan kebingungan.

“Bukannya kau membenciku karena merampas ibumu?”

Gento terdiam cukup lama sebelum menjawab, “Aku tidak ingin anak itu menanggung kesalahan orang dewasa. Ia tidak memilih bagaimana dirinya hadir ke dunia.”

Untuk sesaat, perkataan itu membuat Lily kehilangan jawaban. Namun, ia segera mengingatkan dirinya bahwa ucapan baik tidak menghapus tindakan buruk yang telah dilakukan seseorang.

“Aku menghargai niatmu untuk tidak menyalahkan seorang anak,” katanya. “Tetapi, jangan membuat rencana tentang tubuhku dan masa depanku tanpa persetujuanku. Aku bahkan belum mengetahui apakah aku hamil atau tidak.”

Gento mengangguk perlahan.

“Aku mengerti.”

“Dan jika aku hamil, keputusan mengenai anak itu tetap menjadi hakku. Kau tidak bisa menjanjikan sesuatu seolah-olah aku sudah menyetujuinya.”

Kali ini, Gento tidak membantah.

“Aku tidak akan memaksamu.”

Lily memandangnya beberapa saat, mencoba memahami apakah lelaki itu sungguh-sungguh dengan perkataannya. Namun, ia tidak menemukan alasan untuk mempercayainya begitu saja.

Gento kemudian berdiri dan mengambil syal krem dari meja.

“Sebelum aku pergi, pakailah ini.”

Lily memandangi syal tersebut tanpa menyentuhnya.

“Syal merah pemberianmu itu saja masih kusimpan, jadi aku tidak memerlukannya?”

Di sana masih terlihat bekas kemerahan yang belum sepenuhnya memudar.

“Bekas di lehermu masih jelas. Pakailah syal ini atau yang merah itu jika kau keluar kamar. Aku tidak ingin orang-orang terus menatapnya atau bertanya tentang hal yang tidak ingin kau jelaskan.”

Raut wajahnya seketika berubah muram.

Bekas itu bukan sekadar tanda pada kulit. Bagi Lily, tanda tersebut mengingatkannya pada pengalaman yang ingin ia tinggalkan di belakang. Ia tidak ingin orang lain melihatnya, bukan karena merasa dirinya hina, melainkan karena ia tidak ingin dipaksa menceritakan luka yang belum siap dibagikannya.

Gento meletakkan syal itu di sampingnya.

“Gunakan sampai bekasnya memudar,” katanya pelan. “Kau tidak perlu menjelaskan apa pun kepada siapa pun.”

Lily memandang syal tersebut, lalu kembali menatap Gento.

“Aku akan memutuskan sendiri apakah akan memakainya.”

Gento mengangguk. Kali ini ia tidak memaksakan kehendaknya.

“Aku akan berada di ruang kendali. Jika kau membutuhkan sesuatu, beri tahu penjaga.”

Ia berjalan menuju pintu, tetapi berhenti sebelum membukanya.

“Yahiko, apa pun yang terjadi besok, tetaplah berada di dekat Suzuki. Jangan keluar sendirian.”

“Aku akan memikirkan keselamatanku sendiri,” jawab Lily. “Namun, jangan berharap aku akan mengikuti semua perintahmu.”

Gento menoleh sekilas. Senyum tipis muncul di wajahnya, meskipun kesedihan masih terlihat di matanya.

“Aku tahu.”

Setelah itu, ia meninggalkan kamar.

Lily tetap duduk di dekat jendela, menatap syal krem yang tergeletak di sampingnya. Ia tidak tahu apakah Gento benar-benar ingin melindunginya atau hanya takut kehilangan sesuatu yang telah ia anggap miliknya.

Di luar, malam semakin gelap.

Sementara itu, di ruang kendali, Gento menerima laporan terakhir dari anak buahnya. Sebuah kendaraan asing terlihat melintas di jalan yang berjarak beberapa kilometer dari kediaman.

Belum ada kepastian bahwa kendaraan itu milik pasukan Katagiri.

Namun, waktu mereka mungkin lebih sedikit daripada yang diperkirakan.

Gento menatap peta di hadapannya, lalu mengangkat telepon.

“Percepat semua persiapan,” perintahnya. “Kita mungkin harus pergi sebelum fajar.”

Ia mengakhiri panggilan, lalu menatap layar yang menunjukkan lokasi kamar Lily dan ruang perawatan Suzuki.

Dan kali ini, ia tidak yakin apakah dirinya mampu melindungi Lily—atau justru akan kembali menjadi salah satu alasan perempuan itu harus melarikan diri.

"Untuk apa kau melakukan semua ini?"

"Dengarkan saja perintahku Mike."

"Obsesi membuatmu gila ya."

"Diam."

"12 tahun kau menyiksa ayahnya, apakah menurutmu dia akan membuka hatinya padamu?, belum lagi kau membunuh ibu kalian."

"Diam."

"Kau benar-benar akan menikahi saudari tirimu, satu ibu beda ayah tetap juga saudarimu."

"Diam atau keluar?"

Mike menghembuskan nafas kasar dan pergi dari ruang kendali itu.

1
⌓̈⃝𓆩ImAntifragile𓆪દᵕ̈૩
aku mampir, semangat upnya. tulisannya seruuu😍
mampir juga yuk kak ke new sc akuu😁
Lili Pinarsih: mkasih ya 🥰 aku jugaa udah mampir kok dicerita kamu😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!