Di siang hari, Arkana Baswara adalah pengusaha paling terhormat di kota, sosok tampan berkuasa yang diperebutkan setiap wanita. Namun ketika malam turun, ia berubah menjadi Sang Iblis: penguasa dunia hitam yang paling ditakuti, seorang pria yang tak pernah mengizinkan siapa pun menyentuh hatinya.
Salsabila hanyalah gadis penjual bunga miskin dengan satu mimpi sederhana: menjadi dokter dan mengangkat keluarganya dari kesulitan. Sampai satu malam kelam mengubah seluruh hidupnya, dan meninggalkan sebuah rahasia yang harus ia jaga dengan nyawanya.
Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali. Kini sang mafia menemukan apa yang selama ini disembunyikan darinya, dan ia tak akan melepaskannya begitu saja. "Kau dan dia adalah milikku," katanya. Tapi Salsabila punya satu tekad: melarikan diri, sejauh apa pun, berapa kali pun.
Namun bagaimana caranya kabur dari seorang pria yang menguasai seluruh kota? Bagaimana caranya membenci pria yang perlahan meruntuhkan setiap tembok di hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meche, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 — Mengenal Alika
Keesokan paginya, pria perkasa itu mengganti setelan jasnya dengan pakaian olahraga santai. Ia harus melihat dengan mata kepalanya sendiri apa yang sedang terjadi. Kalau gadis kecil itu memang anaknya, ia takkan kekurangan apa pun, dan Arkana akan membawanya keluar dari tempat itu.
Mengenakan masker, ia melangkah dengan wibawanya menyusuri lorong-lorong. Ia sampai di resepsi dan meminta informasi. Sebagai orang yang membayar biaya medis, ia berhak atas penjelasan.
"Selamat pagi. Saya ingin tahu nomor kamar pasien yang membayar sejumlah ini dengan nomor cek ini," ujar Arkana.
"Maaf, Pak, pasien kami dilindungi kerahasiaan. Hanya kerabat dekat yang boleh mendapat informasi itu. Mohon maaf," sahut resepsionis.
"Saya ayahnya, dan uang sayalah yang melunasi semuanya. Saya harap Anda memberi saya informasi itu, atau Anda akan kehilangan pekerjaan seumur hidup Anda."
Gadis muda itu gugup. Ia mencetak selembar riwayat medis Alika dan menunjukkan di kamar mana anak itu berada.
Arkana bisa melihat bahwa ibu si anak menjalani kehamilan yang sangat traumatis, namun tetap memutuskan meneruskannya. Gadis kecil bernama Alika Salsabila itu membawa nama ibunya, dan sejak lahir berada dalam pengawasan seorang dokter jantung.
Ia selesai membaca lembar riwayat medis itu tepat saat tiba di depan pintu kamar. Ia tak biasa mengetuk, apalagi memutar kenop pintu, tapi ia sedang sendirian dan harus melakukan semuanya seorang diri.
Ia mengeluarkan sapu tangan dan memutar gagang pintu. Pintu terbuka, dan di sanalah ada dua wanita cantik, dan mereka wanita-wanitanya. Keduanya kini akan jadi miliknya, ia tak lagi ragu.
Salsabila terkejut melihat pria itu berdiri di sana. Tapi begitu ia menatap matanya lekat-lekat, ia langsung tahu siapa itu. Dialah pria pada hari itu.
Arkana melanjutkan langkahnya dan berdiri di depan si anak, yang menatapnya tanpa rasa takut di matanya. Gadis kecil itu memandangnya lekat-lekat, begitu pula Arkana padanya.
Jauh di lubuk hatinya, ia tahu inilah putrinya. Hanya seorang Baswara yang punya keberanian menatapnya tanpa gentar.
"Keluar dari kamar ini, tolong. Anakku bisa terguncang," ucap Salsabila.
Arkana meraih kursi di dekatnya dan duduk di samping ranjang. Ia menggenggam tangan si anak dan menciumnya, mengabaikan kehadiran Salsabila.
"Janggutmu bikin geli. Om siapa?" tanya Alika.
Arkana memandangnya dengan lembut, lalu mengubah air mukanya dan menatap Salsabila dengan kebencian di matanya.
"Kau yang akan memberitahunya, atau aku?" ujar Arkana.
"Sekarang bukan saatnya. Kau bukan siapa-siapa, dulu maupun sekarang. Kau cuma seorang penyumbang dalam hidup kami," sahut Salsabila.
"Aku tak tahu dia ada, tapi kau tetap saja tega memakai uangku. Kau tak bisa menghakimiku atas sesuatu yang tak kuketahui."
"Sudah cukup banyak trauma yang kautambahkan dalam hidupku. Kumohon pergilah, ke tempat asalmu."
Arkana mengenang satu-satunya hari ia melihat wanita itu seumur hidupnya. Ia telah memakainya untuk memuaskan hasratnya, lalu meninggalkannya tergeletak di kamar hotel tanpa keberanian menemuinya keesokan hari. Namun kemudian benaknya dihampiri ingatan samar tentang si penjual bunga, gadis kecil yang punya keberanian berdebat dengannya. Sudah pasti akan merepotkan berurusan dengan wanita ini, tapi satu hal ia yakini: wanita itu benar-benar sangat cantik.
"Halo, Alika. Namaku Arkana, aku teman mamamu. Sekarang aku harus pergi, tapi aku janji nanti akan kembali," ujar Arkana.
Arkana mencium kening Alika dan keluar dari sana tanpa memandang Salsabila.
"Mami, teman Mami itu raksasa, ya?" tanya Alika.
"Hahaha, cuma sedikit, Nak," sahut Salsabila.
"Mami, aku ngantuk, mau tidur sebentar lagi."
Arkana meninggalkan tempat itu dengan satu hal di benaknya: mengeluarkan putrinya dari sana. Ia harus mendapat perawatan terbaik. Di siang hari ia adalah Pengusaha Arkana Baswara, jadi ia harus melakukan segalanya dengan benar, meski di malam hari ia berubah menjadi iblis dan kehilangan kendali.
Ia akan mempercepat prosesnya di siang hari, sebab kalau menjelang malam pekerjaannya belum tuntas, ia tak tahu bagaimana akan bereaksi.
Sementara itu, Salsabila tak akan membiarkan dirinya diintimidasi oleh sang pengusaha. Ia harus kabur dari tempat itu secepat mungkin, dan hanya Adnan yang bisa membantunya. Maka ia tak ragu mencarinya.
"Kita harus mengeluarkan Alika dari rumah sakit ini secepat mungkin," ucap Salsabila.
"Operasinya dijadwalkan besok. Kita tak bisa mengeluarkannya dari sini," sahut dr. Adnan.
"Ayahnya muncul dan mengancam akan kembali lagi. Aku sangat takut dipisahkan dari bayiku."
"Tunggu, akan kutelepon beberapa kolega untuk membantuku dalam situasi ini. Kita harus bertindak secepat mungkin kalau kau tak ingin dia tahu."
Adnan pergi ke ruang praktiknya dan menelepon para koleganya. Ia tahu betapa Salsabila menderita sendirian sepanjang kehamilannya, dan kini pria kaya ini mampu memisahkan mereka, atau entah hal-hal lebih buruk apa lagi.
Mereka menyusun sebuah siasat besar: membiarkan si anak tetap di rumah sakit yang sama, melaporkan di resepsi bahwa anak itu sudah pulang, sementara mereka menyembunyikannya, setidaknya sampai operasinya selesai. Mereka harus mengulur waktu.
Arkana telah menyiapkan tempat yang lebih baik untuk merawat putrinya. Ia sudah menyuruh mendekorasi sebuah kamar, dan ada banyak hadiah di sana.
Namun saat ia kembali ke rumah sakit untuk menjemput si anak, gadis kecil itu sudah tak ada.
Di resepsi...
"Selamat sore. Saya sampai ke kamar Alika, tapi dia tak ada. Bisakah Anda memberi saya informasi?" tanya Arkana.
"Anak itu sudah dipulangkan sore ini juga," sahut resepsionis.
"Bisakah Anda memberi informasi di mana saya bisa menemukannya?"
"Maaf, kami tak punya informasi alamatnya. Namun ibu si anak meninggalkan nomor teleponnya di catatan kami, Pak."
"Saya akan sangat berterima kasih."
Mata Arkana serasa menyemburkan api. Ia begitu, begitu murka, hingga hanya ingin mencekik wanita itu.
Ia menekan nomor telepon itu, tapi selalu masuk ke pesan suara. Ia memutus panggilan sebelum tersambung ke kotak pesan, sampai akhirnya ia jengkel dan memutuskan meninggalkan pesan ancaman. Tapi tak diduganya, justru wanita itulah yang telah meninggalkan pesan di mesin penjawab.
"Menjauhlah dari anakku. Kau takkan pernah jadi bagian darinya. Kau cuma penyumbang sperma."
Arkana begitu murka hingga membanting ponselnya ke dinding, menghancurkannya berkeping-keping.
Wanita ini sedang mengundang maut atas dirinya sendiri. Ia selamat hanya karena ia ibu dari putrinya; kalau tidak, sudah dari tadi Arkana membunuhnya dengan tangannya sendiri. Ia harus menyelidiki sendiri, sebab ia tak ingin siapa pun tahu tentang keberadaan Alika.
Ia berhasil memeriksa rekaman kamera, dan yang mengejutkan, tak terlihat si anak keluar dari gedung. Wanita itu telah menipunya, dan punya semua orang di pihaknya. Ia menyuap petugas keamanan agar bisa menyamar jadi dokter dan menyusup ke seluruh area rumah sakit.