NovelToon NovelToon
Pilihan Hati

Pilihan Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Inisial EY

"Aku milih kamu."

"Tapi kita berbeda, Tuan."

"Berbeda?" Arnold mengernyitkan dahinya heran, pasalnya gadis di depannya ini dari kasta yang setara dengannya. "Apanya yang berbeda?"

"Agama." lirih Arini dengan menggelengkan kepalanya, "agama kita berbeda, Tuan."

"Gampang! Aku bisa mengikuti agamamu kalau kamu mempersoalkan itu."

Ikuti perjalanan kisah beda agama antara Arini dan Arnold ya readers, apakah mereka akhirnya bisa menikah? atau itu hanya angan-angan seorang Arnold saja? Dan apa sebenarnya motif Arnold memilih Arini untuk menjadi istrinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inisial EY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ciuman Pertama

"Duduk!" Arnold menarik kursi untuk duduk Arini, dan Arini pun langsung duduk tanpa banyak bertanya karena sejujurnya ia masih kaget dengan sikap Arnold yang tiba-tiba berubah padanya.

Laki-laki bermuka bengis itu biasanya hanya bermuka datar dan selalu menatapnya tajam, namun kali ini sikapnya seolah-olah manis.

Dan Arini kembali kaget saat Arnold tiba-tiba menggeser kursinya tepat di sampingnya, dan kini tangan kiri suaminya itu kembali menggapai pundaknya.

"Tuan!" lirih Arini sembari menatap tangan Arnold di pundaknya.

"Kamu istriku. Jangan lupakan itu, Arini." bisik Arnold di telinga Arini yang tertutup hijab tapi dengan nada yang begitu tegas.

"Tapi--" Arini berganti menatap Arnold yang ternyata sedari tadi tengah menatapnya, "tapi pernikahan kita enggak kayak orang lain pada umumnya."

"Kata siapa?" Arnold bertanya seraya menatap Arini lamat-lamat, "kita sah secara agama dan negara, pernikahan kita seperti pada umumnya."

"Maksud Saya bukan begitu, Tuan."

"Aku tau maksud kamu, dan kali ini biarkan dulu seperti ini." Arnold mengambil minuman yang ia pesan dari nampan waiters lalu memberikannya khusus untuk Arini.

"Susu almond?" Arini mengerutkan keningnya.

Arnold menganggukkan kepalanya, "minuman favorit kamu kan?"

"Kita." lirih Arini seraya menatap manik biru Arnold kembali, "Tuan memilih saya waktu itu karena minuman favorit kita sama kan?"

"Aku enggak suka." jawab Arnold sekenanya yang membuat Arini langsung mengalihkan duduknya menghadap Arnold.

"Anda berbohong pada saya, Tuan?"

"Tidak sepenuhnya." Arnold menikmati Arini yang mau menatapnya.

Biasanya istrinya itu hanya menunduk setiap diajak berbicara kecuali saat malam di mana ia memilih Arini di pesta ulang tahunnya.

Gadis tak ber-nasab yang ia pilih itu selalu menatapnya dan menolaknya berulang kali.

Merasa ditatap begitu intens oleh Arnold, Arini pun kembali menghadapkan duduknya seperti semula lalu minum susu almond yang dipesan Arnold untuknya dengan rasa kesal yang tiba-tiba melanda.

Arini kesal karena merasa dipermainkan oleh Arnold, dengan menipunya lewat minuman favoritnya agar ia tidak bisa menolak saat Arnold menjatuhkan pilihan.

"Tuan--"

"Arini--"

"Tuan duluan saja." Arini memotong saat Arnold hendak berbicara kembali.

"Kamu besok jadi ke Jerman?" tanya Arnold sembari mendekatkan wajahnya pada wajah Arini yang tertutup hijab sebagian.

"Jadi." jawab Arini seraya menganggukkan kepala. Sebenarnya ia malu berada di cafe namun Arnold berperilaku seperti ini.

Baiklah, mereka memang berada di ruangan private, namun Arini tidak nyaman sama sekali.

"Hmm! Tuan!" Arini memundurkan wajahnya agar ia bisa menatap Arnold, "apa kita tidak duduk berhadapan saja?"

"Tidak mau." tolak Arnold yang kini melingkarkan tangan kanannya pada bagian depan tubuh Arini saat waiters yang membawa makanan sudah datang dan ruangan private itu ia kunci dari dalam.

Ya, kalian betul. Arini sekarang sedang dipeluk begitu erat oleh Arnold.

Arini tidak menyangka jika Arnold akan memeluknya, dan ia yang tidak siap pun berupaya sekuat tenaga untuk melepas tangan Arnold dari tubuhnya.

"Jangan dilepas. Aku mau meluk kamu." titah Arnold yang membuat Arini mengembuskan napas kasar.

"Kamu sama sekali tidak suka aku peluk?" tanya Arnold seraya mengeraskan rahangnya.

"Kamu istriku, Arini. Kamu istriku. Bahkan lebih dari sekadar pelukan yang harusnya sudah kita lakukan." lanjut Arnold sebelum Arini menjawab seraya menatap ke langit-langit ruangan.

Arini tiba-tiba meneteskan air mata namun ia pun menoleh ke samping untuk menghalau air mata itu agar tidak menetes mengenai tangan Arnold, Arini bingung harus berbuat apa karena ia sendiri yang melanggar perjanjian dengan Bundanya.

"Saya harus segera pulang ke rumah, Tuan." lirih Arini seraya menunduk namun tidak melepas tangan Arnold yang tengah memeluknya.

"Lima menit lagi." pinta Arnold seraya membuka peniti yang dipakai Arini.

Kebetulan Arini tengah memakai hijab segiempat dan memerlukan peniti untuk mengaitkannya.

"Kenapa dilepas, Tuan?" Arini dengan cepat memegang hijabnya saat penitinya sudah dipegang Arnold.

"Aku mau lihat kamu tanpa hijab." titah Arnold seraya memutar duduk Arini agar menghadapnya.

"Tapi tidak disini." Arini memberitahu jika ada cctv kecil di ruangan itu yang membuat Arnold geram seraya membuang napas kasar.

"Kita pulang ke mansion sekarang." titah Arnold seraya berdiri dan meminta Arini mengikutinya.

"Makanannya?" Arini ingin mengelak, karena ia tidak mau melanggar perjanjian dengan Bundanya terlalu jauh.

"Biarkan saja." titah Arnold yang membuat Arini tiba-tiba tidak mau melangkah.

"Memubazirkan makanan itu enggak boleh, Tuan. Kita tadi udah pesan dan makanannya juga udah disediain. Saya bisa kok makan dengan cepat." Arini mencoba menawar, dan kali ini Arnold tiba-tiba menghela napas lalu mengangguk mengiyakan pinta Arini.

Arini tersenyum, setidaknya ada uluran waktu dan semoga saat keluar dari cafe nanti, Devano menghampirinya dan mengajaknya pulang ke mansion agar ia tetap memegang janji pada Bundanya walaupun ia dan Arnold adalah pasangan yang sah.

Dan tentang usul Devano yang menyuruhnya untuk mengetes Arnold, sebaiknya ia sedikit memberi jarak dan tidak mengiyakan begitu saja pintanya.

Arnold makan dengan tangan kanan, namun tangan kirinya tetap memegang pundak Arini, tidak mau melepaskannya sedikitpun.

Arini makan dengan cepat, namun ternyata masih cepat Arnold dalam menghabiskan makanan tersebut.

"Tuan!" Arini memanggil Arnold dengan takut-takut. "Sebaiknya saya pulang dulu saja. Nanti kalau Bunda udah pulang dari mall, terus Bunda nyari saya gimana?"

"Kamu belum mau melihat mansion kita sebelum kamu ke Jerman, Arini?" Arnold mengeratkan genggamannya pada tangan Arini seraya berjalan keluar cafe, "Mansion itu juga milikmu karena kamu istriku."

"Tapi Saya tidak berani sama Bunda, Tuan." lirih Arini sembari menunduk yang membuat Arnold menghela napas kasar lalu menarik Arini masuk ke dalam mobilnya.

Devano yang melihat Arini diajak Arnold masuk mobil pria itu, seketika melepas seat-beltnya untuk menyusul Arini, namun saat melihat driver Arnold yang keluar dari mobil Arnold, Devano akhirnya mengurungkan niatnya.

Walaupun belum menikah, Devano tau maksud Arnold mengusir drivernya

**

Di mobil Arnold.

"Tuan mau apa?" Arini menatap waspada pada Arnold yang menatapnya tajam.

Namun tatapan tajam itu berubah lembut saat drivernya keluar dari mobil dan membiarkan mereka berdua di dalam mobil dalam posisi mobil terkunci dari luar.

"Aku mau kamu, Arini." Arnold tanpa aba-aba langsung mengecup bibir berwarna merah muda milik Arini yang membuat Arini tidak sempat menolak.

Namun saat kecupan kedua, Arini menutup bibirnya dengan telapak tangannya dan kecupan Arnold pun berlabuh pada punggung tangan Arini.

Tanpa berkata apapun, Arnold memegang kedua tangan Arini dan kecupan berikutnya pun ia berikan tanpa perlawanan namun Arini meneteskan air matanya.

"Shit!" Arnold mengumpat, lalu sedetik kemudian kembali mengecup dan kemudian Arnold menatap Arini dengan tatapan sayunya, "Berikan ciuman pertamamu padaku, aku suamimu. Dan aku berhak mendapatkan itu." titah Arnold yang membuat air mata Arini mengalir begitu derasnya.

Istri Arnold itu hendak menolak, namun ia harus bagaimana.

Tanpa mempedulikan air mata Arini, Arnold kembali mendekatkan wajahnya dan kemudian mencium Arini dengan sangat brutal.

Pria bermuka bengis itu melampiaskan emosinya karena belum bisa memiliki Arini seutuhnya padahal mereka sudah sah beberapa hari yang lalu dan besok ia akan ditinggal istrinya itu ke negara yang berbeda.

Di dalam satu negara saja, dia susah sekali ketemu istrinya, apalagi jika nanti beda negara.

Arnold terus mencium Arini dan tanpa Arnold meminta, Arini pun kini membalas ciuman itu.

"Besok aku akan mengantarmu ke bandara, tapi aku pastikan kamu hanya sebentar di Jerman." tegas Arnold seraya mengusap bibir Arini yang kini ia buat membengkak.

"Aku pasti akan merindukanmu, Arini." ujarnya lagi lalu kembali melabuhkan ciumannya di bibir Arini hingga Arini mendapatkan telepon dari Devano agar ia segera pulang ke rumah.

Dengan tidak rela, Arnold pun menyuruh drivernya membuka pintu mobil dan membiarkan Arini keluar dari mobilnya dengan sebelumnya memberikan satu kartu hitam pada Arini, "Ini nafkah dariku, terima." titahnya yang membuat Arini menggenggam kartu itu seraya mengangguk tanpa berucap sepatah katapun.

Bersambung...

1
Inisial EY
Hai-hai readers, ini kisah tentang Arini anak jennifer ya, kalau kalian pengen tau siapa Arini, kalian boleh baca novel aku sebelumnya yang judulnya "JANDA ITU ISTRIKU" oke.. makasih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!