"Saya tidak sedang berusaha menghukum kamu, dan saya juga tidak peduli kamu ini OB, kuli, atau apa pun. Saya butuh seorang suami dalam waktu cepat, dan kamu butuh uang untuk biaya rumah sakit ibumu. Sederhana, kan?"
"Tapi pernikahan bukan transaksi main-main seperti ini, Bu!" sergah Mirza, untuk pertama kalinya memberanikan diri menatap mata sang CEO dengan nada protes yang agak meninggi.
Alana terpaksa menikah kontrak dengan seorang Cleaning Service di perusahaanya agar bisa terlepas dari perjodohan orang tuanya. namun ketika hubungan kontrak itu berubah menjadi perasaan cinta, mampukan mereka mengganti komitmen dan bersatu atas nama cinta? atau berakhir sebagai ikatan kontrak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suami Sah Saya
***
"Gila ya, Bu Alana beneran nikah sama si Mirza OB itu?"
Langkah Shiren seketika terhenti tepat di depan pintu lift kantor. Suasana lobi lantai dua yang biasanya tenang pagi itu mendadak bising oleh bisik-bisik gosip puluhan staf yang berkumpul membentuk kelompok-kelompok kecil.
"Kalian ngomongin apa sih pagi-pagi gini?!" cetus Shiren tegas, melangkah menghampiri kerumunan staf pemasaran yang sedang heboh.
"Bu Shiren!" salah satu staf wanita langsung memburu Shiren dengan mata berbinar penasaran.
"Beneran Bu Alana sudah nikah diam-diam sama Mirza? Katanya mereka tinggal serumah!"
"Ngaco kalian! Dapat informasi dari mana gosip murahan kayak begitu?!" sergah Shiren sambil bersedekap, mencoba tetap tenang meski jantungnya mulai berdebar kencang
"Dari Meri, Bu!" sahut staf lainnya cepat.
"Kemarin pas makan siang, Meri dengar sendiri Bu Alana ngomong kalau Mirza itu suaminya! Beneran kan, Bu Shiren? Ibu kan sekretaris sekaligus sahabatnya Bu Alana, pasti tahu dong!"
Shiren merutuki Meri dalam hati.
"Awas lo ya, Meri! Dasar mulut lemes!"
"Soal itu ...." Shiren menelan ludah, menatap wajah-wajah penasaran di sekelilingnya.
"Saya tidak berhak jawab apa-apa. Mending kalian bubar dan tunggu klarifikasi langsung dari Bu Alana nanti!"
Tanpa membuang waktu lagi, Shiren setengah berlari menuju ruangannya. Begitu menutup pintu kantor, dia langsung merogoh ponsel dan mendial nomor Alana.
Panggilan pertama tidak diangkat. Baru pada panggilan kedua, suara Alana yang parau dan lesu terdengar dari seberang telepon.
"Halo, Ren ...."
"Al! Lo di mana sekarang?!" potong Shiren panik tanpa basa-basi.
"Kantor heboh besar, Al! Gosip lo nikah diam-diam sama Mirza sudah menyebar ke seluruh staf!"
"Hah? Maksud lo gimana?" suara Alana mendadak tegang.
"Si Meri mulutnya bocor! Dia cerita ke anak-anak kantor soal ucapan lo kemarin pas makan siang!" cerca Shiren cepat.
"Sekarang semua orang menuntut kebenaran. Lo sama Mirza harus cepat-cepat ke kantor buat klarifikasi sebelum berita ini sampai ke telinga petinggi saham, Al!"
"Ren, nanti gue telepon lagi!" Alana langsung mematikan sambungan telepon dengan panik, persis saat pintu kamar perlahan terdorong terbuka.
Mirza melangkah masuk. Wajahnya masih sangat pucat, matanya sembab dan berlingkar hitam karena sama sekali tidak tidur semalaman. Pria itu menyambar kemeja seragam OB-nya yang tergantung di balik pintu tanpa menatap Alana sedikit pun.
"Mirza ...." panggil Alana lirih, bergegas menghampiri.
"Kamu mau ke mana?"
"Kerja," jawab Mirza singkat dan datar.
Tangannya bergerak kaku mengancingkan kemeja.
"Jangan ke kantor dulu," tahan Alana, langsung memegang lengan Mirza.
"Barusan Shiren telepon. Meri bocorin ke semua orang kalau kita berdua udah nikah. Kantor lagi heboh banget sekarang."
Gerakan tangan Mirza terhenti. Dia mendengus pelan, sebuah tawa dingin yang penuh sarkasme keluar dari mulutnya.
"Baguslah," gumam Mirza tanpa beban, akhirnya menatap mata Alana.
"Bukannya dari awal ini yang kamu mau? Semua orang tahu status kita, lalu kamu bisa lepas dari jodoh pilihan orang tua kamu?"
"Mirza, bukan gitu!" cetus Alana panik.
"Situasinya makin kacau! Kalau para pemegang saham sampai tahu soal pernikahan kontrak ini—"
"Tinggal bilang aja yang sebenarnya," potong Mirza cepat, suaranya tenang tapi menusuk.
"Bilang kalau saya cuma OB miskin yang kamu bayar buat jadi suami mainan kamu. Kasus selesai, kan?"
"Mirza! Stop ngomong kayak gitu!" bentak Alana, matanya kembali berkaca-kaca.
"Gue enggak sejahat itu!"
"Terus mau kamu apa sekarang, Bu Alana?" tanya Mirza dengan tatapan lelah yang teramat sangat.
"Kamu mau saya datang ke sana, pura-pura jadi suami bahagia kamu di depan semua orang, di saat tanah kuburan Ibu saya bahkan belum kering?!"
"Sudah, kita enggak usah debat lagi. Sekarang kita berangkat ke kantor," potong Alana cepat.
Dia enggan memperpanjang pertengkaran dan langsung menarik lengan Mirza menuju mobil.
Di dalam kendaraan yang melaju kencang itu, hening menyelimuti sebelum akhirnya Mirza membuka suara. Matanya menatap lurus ke kaca depan.
"Aku bakal bantu kamu beresin masalah ini. Nanti di kantor, aku yang bilang kalau ini cuma salah paham dan gosip itu sama sekali enggak benar."
Mirza menoleh singkat, menatap Alana dengan raut heran yang dingin.
"Tapi aku memang pernah ngomong sama Meri kalau kamu itu suami aku."
"Tapi aku bingung, bukannya dari awal kamu yang mewajibkan pernikahan ini dirahasiakan? Kenapa malah kamu sendiri yang keceplosan ngomong begitu ke Meri?"
Alana mengepalkan tangannya di atas pangkuan, wajahnya memerah menahan campur aduk emosi.
"Ya karena aku kesal lihat kamu sama Nilam kemarin di restoran! Kamu nempel terus sama dia kayak orang pacaran!"
"Dia cuma rekan kerja, Alana—"
"Terserah! Pokoknya nanti di kantor kamu diam aja," potong Alana tegas, tak memberi ruang bantahan.
"Aku yang bakal klarifikasi kebenarannya hari ini juga di depan semua orang."
Mirza mengerutkan dahi.
"Maksud kamu?"
"Aku bakal tegasin ke seluruh staf kalau kamu itu suami sah aku!" Alana menoleh, menatap Mirza dengan sorot mata penuh intimidasi.
"Biar kamu enggak kecentilan lagi dekat-dekat sama cewek lain di kantor, termasuk Nilam. Satu tahun itu waktu yang lama, Mirza. Aku enggak bisa dan enggak mau terus-terusan sembunyiin status kita kalau kelakuan kamu kayak gitu!"
Mobil Alana berhenti tepat di lobi utama. Dengan langkah tegap dan dagu terangkat, Alana berjalan membelah lobi, sementara Mirza menyusul di belakangnya dengan kepala tertunduk.
Begitu mereka masuk, puluhan pasang mata staf langsung tertuju pada mereka. Bisik-bisik yang tadinya riuh mendadak senyap, menyisakan ketegangan yang mengudara.
Shiren dan Meri tampak berdiri cemas di antara kerumunan.
"Kumpul semuanya!" suara Alana menggelegar, memutus keheningan lobi.
Para staf buru-buru mendekat, membentuk lingkaran besar di sekeliling Alana dan Mirza.
"Saya tahu gossip murahan apa yang sedang beredar di kantor pagi ini," tegas Alana, matanya menatap tajam satu per satu karyawannya.
"Dan saya tidak suka ada rumor tidak jelas yang mengganggu produktivitas kerja!"
Meri menelan ludah kasar, berusaha bersembunyi di balik tubuh rekan kerjanya.
"Bu Alana ...." Shiren mencoba mendekat.
"Apa mau bicara di ruang rapat saja?"
"Tidak usah, Shiren. Di sini saja biar semuanya makin jelas," potong Alana cepat. Dia lalu menoleh pada Meri.
"Meri, kamu yang menyebarkan berita kalau saya bilang Mirza adalah suami saya, kan?"
"M-maaf, Bu ... Saya ... saya cuma ...." gagap Meri dengan wajah pucat pasi.
Mirza memejamkan mata sejenak. Dia melangkah maju, hendak membuka suara.
"Semuanya, dengar dulu. Apa yang dikatakan Meri itu cuma salah—"
"Diam, Mirza!" potong Alana lantang, menarik lengan Mirza agar kembali berdiri di sampingnya.
Alana menatap seluruh staf dengan sorot mata tak tergoyahkan.
"Apa yang didengar Meri itu 100% benar."
Gumam kaget langsung meledak di seluruh ruangan. Beberapa staf menutup mulut tidak percaya, sementara Nilam yang berdiri di barisan belakang tampak membeku.
"Maksud Ibu ... Bu Alana beneran sudah nikah sama Mirza?" tanya salah satu manajer dengan nada tak percaya.
"Iya," jawab Alana tanpa ragu.
"Mirza bukan cuma staf OB di perusahaan ini. Dia adalah suami sah saya. Kami sudah menikah secara resmi!"
"Tapi Bu ... kenapa harus dirahasiakan selama ini?" celetuk staf lain.
"Itu urusan pribadi saya dan suami saya," tegasi Alana dingin.
"Saya menyampaikan ini sekarang supaya tidak ada lagi spekulasi aneh-aneh. Dan ingat satu hal ...."
Alana melirik tajam ke arah Nilam, lalu kembali menatap karyawannya.
"... karena sekarang kalian sudah tahu status Mirza, saya minta kalian tetap profesional. Jaga batasan kalian dengan suami saya. Jangan ada yang mencoba bersikap terlalu dekat atau melampaui batas dengan dia, paham?!"
"Paham, Bu ...." sahut para staf serempak dengan nada bergetar.
"Bagus. Sekarang kembali ke ruangan masing-masing dan bekerja!" perintah Alana mutlak.
Kerumunan itu membubar cepat. Mirza hanya bisa berdiri mematung, menatap Alana dengan raut wajah yang sulit diartikan, campuran antara lelah, marah, dan tak percaya dengan kegilaan wanita di sampingnya ini.
"Mirza, kamu kembali bekerja sekarang," perintah Alana dingin tanpa menatap pria di sampingnya.
Mirza tak menjawab. Dia hanya menghela napas panjang lalu berbalik melangkah pergi meninggalkan lobi.
Alana menoleh pada dua wanita di dekatnya.
"Shiren, Meri ... ke ruangan saya sekarang!"
Begitu pintu ruang kerja CEO tertutup rapat, Alana membalikkan badan dan menghempaskan tas mewahnya ke atas meja kerja dengan kasar. Suara hantamannya membuat Meri meloncat kaget.
"Gila kamu ya, Meri!" bentak Alana, matanya menyalang penuh amarah.
"Atas dasar apa kamu lancang menyebarkan urusan pribadi saya ke seluruh kantor?!"
"M-maaf, Bu Alana ... S-saya betul-betul tidak sengaja ...." cicit Meri dengan tubuh bergetar hebat. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Saya cuma kelepasan cerita ke staf lain, Bu ... Saya tidak bermaksud—"
"Tidak sengaja kamu bilang?!" potong Alana murka, melangkah mendekati asistennya itu.
"Kamu itu asisten saya! Harus tahu mana hal yang boleh diceritakan dan mana rahasia atasan yang wajib kamu tutup rapat-rapt! Kelakuan kamu ini betul-betul tidak profesional!"
"Bu Alana, tolong maafkan saya ...." tangis Meri pecah, dia menangkupkan kedua tangannya memohon.
"Saya janji tidak akan mengulanginya lagi, Bu. Tolong beri saya kesempatan satu kali lagi ...."
"Kesempatan?" Alana tertawa sinis.
"Tidak ada kesempatan untuk orang lancang dan bermulut ember seperti kamu di perusahaan ini!"
Shiren yang berdiri di dekat pintu akhirnya membuka suara, mencoba meredakan situasi.
"Al ... tenang dulu. Bicarakan baik-baik—"
"Kamu diam, Shiren! Jangan bela dia!" sergah Alana cepat. Dia menunjuk wajah Meri dengan jari telunjuknya.
"Sekarang juga, kamu kembali ke meja kamu, bereskan barang-barang kamu, dan pergi dari kantor ini!"
Meri membelalakkan mata, memegang dada yang terasa amat sesak.
"B-Bu ... Ibu memecat saya?"
"Kamu pikir saya main-main?!" tembak Alana tanpa belas kasihan.
"Saya tidak butuh dan tidak suka punya karyawan yang tidak bisa menjaga etika dan kepercayaan seperti kamu! Keluar dari ruangan saya sekarang!"
"Bu Alana, mohon Kasihanilah saya, Bu ... Saya sangat butuh pekerjaan ini ...." racau Meri sambil berlutut di lantai, memegang ujung rok Alana.
Alana menepis kaki dengan dingin.
"Shiren! Seret dia keluar dan pastikan HRD mengurus surat pemecatannya hari ini juga!"
"Bu Alana! Bu, tolong Bu ... Saya mohon ...." teriak Meri histeris saat Shiren dengan terpaksa merangkul dan membimbing tubuh asisten muda itu keluar dari ruangan.
Pintu tertutup rapat. Alana memejamkan mata erat-erat, memegangi kepalanya yang terasa mau pecah.