Malam pembantaian Keluarga Ma menyisakan darah, puing, dan dendam mendalam di dada Ma Huang. Sebagai satu-satunya yang masih bertahan, ia mengambil keputusan gila: menempuh Jalur Darah Pemakan Bencana, sebuah kultivasi terlarang yang menggerogoti organ fisiknya demi menggenggam kekuatan membunuh tiada tanding.
Berbekal Pedang Tulang Hitam dan tubuh yang dialiri racun pekat, Ma Huang melangkah menembus lautan darah untuk membantai satu per satu siapaun yang telibat dalam tragedi tersebut. Dari pelataran tempa Kota Yunjiang hingga kegelapan Lembah Tengkorak yang dipenuhi racun alam, ia bertaruh nyawa demi merebut kembali Segel Besi Hitam, pusaka komando tiga ribu prajurit Serigala Hitam, serta kunci rahasia Makam Leluhur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 - Pembantaian di Atas Altar
Batu granit raksasa menghantam lantai basal dengan benturan yang memecahkan ubin pualam. Asap mesiu berwarna merah menyembur deras dari mulut lorong atas. Bau belerang mendidih menyatu dengan sengatan bubuk mesiu mesin perang Sekte Pedang Suci.
Dari balik kepulan asap tebal, sosok Zhao Feng melangkah keluar. Jubah putih bersulam emas miliknya ternoda bercak abu dan jelaga. Sepasang matanya yang tajam langsung mengunci posisi Ma Huang yang berdiri tegak di puncak altar kura-kura hitam.
Tiga puluh prajurit zirah berat mengekor di belakang Zhao Feng. Senjata perunggu dan perisai baja di tangan mereka bergetar memancarkan pendar energi emas. Dua Tetua Agung tersisa melangkah rapat di samping kiri dan kanan Zhao Feng dengan pedang terhunus.
"Kau tidak bisa lari lagi, Bocah!" jerit Zhao Feng. Suaranya menggelegar memenuhi seluruh sudut ruangan melingkar. "Serahkan Segel Besi Hitam dan Kunci Makam jika kau ingin mati dengan tubuh utuh!"
Ma Huang menyerap udara dingin di dalam ruangan. Tatapannya membeku kaku. Tangan kirinya mengencangkan cengkeraman pada gagang Pedang Tulang Hitam, sementara tangan kanannya meraba tonjolan Segel Besi Hitam di balik lipatan jubah dadanya.
Gu Mo melangkah tiga depa ke depan. Sarung tangan besi meteorit di kedua tangannya memancar merah membara. "Prajurit zirah berat itu bagianku," kata Gu Mo dengan nada serak. "Selesaikan urusanmu dengan Zhao Feng!"
Gu Mo menjejakkan kakinya kencang. Ia melompat mendatar, menerjang barisan prajurit zirah berat yang mulai memadati tangga bawah altar. Tinju besinya menghantam perisai tembaga terdepan hingga pecah berkeping-keping.
Dua Tetua Agung Sekte Pedang Suci melompat memotong arah pergerakan Gu Mo. Pertempuran sengit meletus seketika di kaki altar, diwarnai dentingan logam dan percikan api belerang.
Zhao Feng tidak memedulikan kekacauan di bawah. Langkah kakinya melayang kencang menaiki anak tangga altar. Pedang meteorit di tangan kanannya membara oleh pendar Qi Inti Emas yang menyilaukan mata.
"Mati kau, Pengkhianat!" raung Zhao Feng.
Pedang meteorit emas meluncur lurus mengincar tenggorokan Ma Huang. Tebasan itu membawa gelombang tekanan udara yang meretakkan anak tangga granit di bawah pijakan kaki mereka.
Ma Huang menggeser tumpuan kakinya setengah jengkal ke samping. Pedang Tulang Hitam diayunkannya miring dari bawah untuk membenturkan bilah hitamnya ke samping pedang emas Zhao Feng.
Tinggg!
Benturan dua senjata pusaka menimbulkan peledakan gelombang kejut yang menerbangkan debu batu di puncak altar. Hawa dingin dari racun Ular Hijau bergesekan kencang dengan energi emas Zhao Feng, memicu percikan bunga api kebiruan di udara.
Daya dorong Qi Inti Emas Zhao Feng membuat telapak tangan Ma Huang bergetar kaku. Luka bakar di dadanya berdenyut kencang, meneteskan cairan darah hitam yang membasahi lantai altar.
Zhao Feng menarik pedangnya secepat kilat. Ia memutar pergelangan tangan, melancarkan tiga tusukan beruntun ke tiga titik meridian utama di dada Ma Huang.
Ma Huang memiringkan badannya. Tusukan pertama menggores bahu kirinya. Tusukan kedua melubangi jubah birunya tepat di samping rusuk. Tusukan ketiga ditangkisnya menggunakan bagian samping Pedang Tulang Hitam.
Percikan api menyambar wajah Ma Huang. Rasa sakit menusuk di bahunya tidak membuat fokus Ma Huang goyah. Lingkaran energi Inti Bencana di Dantian barunya justru berputar semakin kencang, memompa racun Ular Hijau bercampur hawa belerang lurus ke saluran meridian tangannya.
"Struktur energimu..." Zhao Feng membelalak kaget saat merasakan gelombang racun di pedang Ma Huang tidak mengendur. "Dantianmu seharusnya sudah meledak hancur!"
"Dantianku telah melahap racunmu!" pangkas Ma Huang dingin.
Ma Huang memajukan langkah kakinya. Ia tidak lagi bertahan. Pedang Tulang Hitam diputarnya melingkar kencang, melancarkan tebasan mendatar yang mengincar leher Zhao Feng.
Bilah pedang hitam itu memancarkan asap korosif yang pekat. Udara di sekitar lintasan tebasannya mendidih, membakar ujung jubah putih Zhao Feng hingga menjadi abu.
Zhao Feng terperanjat. Ia mengangkat pedang meteoritnya melintang untuk menahan tebasan brutal tersebut.
Duaggg!
Hantaman Pedang Tulang Hitam membuat Zhao Feng terdorong mundur dua langkah. Ukiran emas di pedang meteoritnya ternoda oleh cairan racun kehitaman yang merembes cepat menembus lapisan energi pelindungnya.
Zhao Feng mengetatkan rahangnya. Rasa terhina membakar kesadarannya saat melihat bekas noda racun di senjata kebanggaannya. Ia menyalurkan seluruh sisa Qi Inti Emas ke dalam lengan kanannya, memicu pijar cahaya emas raksasa yang menyerupai kepala naga.
"Jurus Pedang Suci Pembelah Langit!" raung Zhao Feng dengan mata memerah.
Naga cahaya emas itu meluncur deras menghantam puncak altar. Tebasan mematikan tersebut mengunci seluruh sudut pelarian Ma Huang, siap membelah tubuhnya menjadi dua bagian.
Ma Huang tidak mencoba melompat mundur. Ia justru mengambil keputusan nekat. Ma Huang melangkah maju menantang gulungan naga cahaya emas tersebut.
Ia membiarkan tusukan awal pedang emas Zhao Feng menembus daging bahu kirinya hingga tembus ke belakang punggung. Darah segar menyembur basah, menyiram jubah dan lantai batu.
Zhao Feng terbelalak kaku. Ia tidak menyangka Ma Huang sengaja mengorbankan bahunya hanya untuk mengunci jarak berdiri mereka.
"Kau sudah kalah, Zhao Feng," bisik Ma Huang tepat di depan wajah Guru Agung itu.
Sebelum Zhao Feng sempat menarik kembali pedang meteoritnya dari bahu Ma Huang, tangan kiri Ma Huang bergerak secepat kilat. Telapak tangan Ma Huang yang dilapisi kristal racun Inti Bencana Hitam-Keemasan menghantam lurus ke tengah tenggorokan Zhao Feng.
Krak!
Hantaman telapak tangan terbuka Ma Huang meremukkan zirah pelindung leher Zhao Feng. Tulang tenggorokan Guru Agung Sekte Pedang Suci itu hancur berkerutup dalam satu kali pukulan.
Gelombang racun Ular Hijau yang pekat menyembur masuk dari telapak tangan Ma Huang, meluncur deras menelusuri seluruh pembuluh darah di leher dan kepala Zhao Feng.
Zhao Feng kejang-kejang hebat. Pedang meteorit di tangannya terlepas, jatuh berdenting di atas lantai altar. Matanya membelalak lebar memancarkan ketakutan luar biasa saat melihat kulit fisiknya berubah menjadi kehitaman dan membusuk dalam hitungan tiga hembusan napas.
"Ini... racun..." desis Zhao Feng parau sebelum saluran pernapasannya tersumbat total oleh gumpalan darah hitam.
Tubuh Zhao Feng ambruk kaku di atas puncak altar batu kura-kura. Guru Agung Sekte Pedang Suci yang ditakuti di seluruh Kota Yunjiang tewas secara mengenaskan di tangan penyintas tunggal Keluarga Ma.
Jeritan panik bergema di bawah altar saat para prajurit zirah berat melihat pemimpin mereka telah tewas.
"Guru Agung telah gugur!" teriak salah seorang Tetua Sekte dengan wajah pucat pasi.
Kekacauan pecah seketika di barisan pasukan Sekte Pedang Suci. Gu Mo memanfaatkan momen panik itu untuk meremukkan kepala Tetua tersisa dengan tinju besinya, melempar jasadnya ke arah tumpukan prajurit yang mulai mundur ketakutan.
Namun dari lorong atas, gema benturan meriam pemecah benteng kembali meledak keras. Tiga prajurit cadangan yang panik menyalakan sumbu mesiu meriam portabel, mengarahkan moncong tembaga lurus ke pilar-pilar batu penyangga ruangan altar.
Bummm! Bummm!
Dua ledakan dahsyat menghancurkan empat pilar batu basal sekaligus. Atap ruangan melingkar itu retak total, merontokkan ribuan kati bongkahan granit raksasa ke atas lantai altar.
Guncangan gempa yang sangat keras meruntuhkan sebagian dinding batu, mengubur jasad Zhao Feng dan puluhan prajurit sekte di bawah timbunan reruntuhan.
"Tuan Muda! Pintu rahasia di balik altar mulai tertutup!" teriak Lu Gang. Tangannya menyambar lengan Master Han, mendorongnya masuk menuju celah tangga batu melingkar yang berputar di dasar altar.
Ma Huang mencabut pedang meteorit Zhao Feng dari tanah, lalu memasukannya ke dalam kantong penyimpanan di pinggangnya. Ia melompat turun dari puncak altar yang runtuh, meluncurkan tubuhnya menerobos kepulan debu batu dan serpihan granit yang melayang di udara.
Gu Mo menyambar bahu Ma Huang, mendorongnya masuk terlebih dahulu ke dalam celah tangga batu bawah tanah.
Pintu batu rahasia berputar kencang, terkunci kembali dengan suara benturan kaku tepat saat bongkahan atap raksasa menghantam puncak altar hingga hancur menjadi debu.
Kegelapan total kembali menyelimuti Ma Huang dan rombongannya. Mereka meluncur deras menyusuri lorong tangga batu melingkar yang miring curam, membawa mereka melesat semakin dalam menembus perut bumi menuju kawasan perbatasan Batas Selatan.