Tubuh Elisa bergetar hebat di ambang pintu kamar hotel. Di depannya, seorang pria berdiri tegap menatapnya dingin. Asing. Berbahaya dan malam ini, pria itulah yang memegang nyawa ibunya.
Satu malam. Jika Elisa berhasil memuaskan pria itu, ibunya tetap hidup. Jika ia gagal, selang dan alat-alat medis ibunya akan dicabut.
Elisa tidak punya pilihan. Gadis lugu yang bahkan belum pernah pacaran itu harus menukar kesuciannya demi napas ibunya.
"Mandilah. Aku benci menyentuh perempuan kotor!"
Suara itu dingin, menghina, menusuk sampai tulang.
Demi selamatkan ibunya, Elisa terpaksa melakukan ini, hanya satu malam. Tak disangka pria itu menagihnya seumur hidup. Karena pria itu tidak hanya menginginkan tubuhnya. Dia menginginkan seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pria Yang Tak Peka
BAB 25 - ISTRI POLOS TUAN GARRA
"Terima kasih atas niat baiknya ..."
"Tidak perlu bilang terima kasih, itu tidak seberapa bagiku," potong Anggara cepat. Belum juga Elisa menyelesaikan satu kalimatnya, pria itu langsung saja memotong dengan angkuh. Seolah ucapan terima kasih Elisa itu tidak ada harganya.
Elisa menarik napas, mencoba sabar.
"Maaf, Pak Garra. Tapi saya menolak hadiah itu. Saya tidak bisa menerimanya."
Srekkk...
Suara garpu Anggara yang diletakkan terlalu keras di atas piring. Wajahnya langsung berubah.
Anggara langsung mencebik sinis. "Apa itu masih kurang? Murah? Baiklah ... akan aku berikan yang lebih mahal! Sebutkan saja, tas? Mobil? Apartemen? Kau mau apa?" cetus Anggara. Masih mengukur kepuasan seseorang dengan yang namanya materi. Padahal ada hal yang tidak bisa dibeli dengan uang sebesar apapun itu.
"Pak Anggara, Anda masih salah paham pada saya," Elisa menggeleng pelan, suaranya mulai bergetar. "Saya benar-benar tidak tertarik dengan uang Anda. Saya menolak bukan karena kurang mahal, tapi karena saya tidak mau dibeli."
"Tapi dulu kau serahkan kegadisanmu hanya untuk uang. Jangan lupa, Elisa. Kau lupa? Sudah ... jangan sok suci di depanku sekarang!" sentak Anggara. Kata-katanya tajam, menghunjam tepat di jantung Elisa.
Elisa marah, dadanya naik turun, tapi tidak bisa meluapkan emosinya. Hormonnya kacau karena hamil muda, pengen marah, pengen berteriak, tapi di sisi lain air matanya sudah menggenang ingin menangis. Sampai akhirnya, dia cuma bisa diam saja. Mengepalkan tangannya di atas pangkuan sampai kukunya menusuk kulit.
Satu kalimat Anggara itu berhasil membuatnya merasa serendah-rendahnya.
Perdebatan antara mereka berdua yang semakin panas itu terjeda, karena dering ponsel penting pada ponsel Anggara.
Pria itu langsung berdiri pergi, tanpa menyelesaikan makan malamnya yang masih setengah. Meninggalkan Elisa sendirian di meja makan panjang yang dingin itu tanpa kata maaf, tanpa permisi.
Elisa sudah menghabiskan makan malamnya meski dengan selera yang sudah hilang. Ia hanya makan beberapa suap demi anak di perutnya, bukan demi dirinya. Ia langsung naik ke lantai atas dengan langkah lemas.
Sampai kamar, ia melihat kotak hadiah yang dimaksud Anggara itu masih tergeletak manis di atas meja nakas. Tidak dibuka sampai dengan saat ini, bahkan segel pitanya pun masih utuh. Benda itu terasa seperti ejekan baginya.
Ia malah menentengnya dengan kasar ke bawah. Niatnya ingin ia kembalikan detik itu juga. Ia tidak mau berhutang budi lagi pada pria itu.
Kebetulan di tangga ia berpapasan dengan Bibi yang membawa tumpukan handuk bersih.
"Bibi, tolong titip. Berikan ini ke Pak Garra," kata Elisa sambil menyodorkan kotak itu.
Bibi melihat kotak beludru itu dan langsung tahu itu kotak perhiasan mahal. Wajahnya langsung pucat.
"Aduh, Non. Ampun, Non Elisa. Saya tidak berani. Nanti Tuan marah besar. Saya permisi ya, Non..." Bibi langsung ngibrit. Lari turun dari tangga dengan cepat, seolah kotak itu adalah bom waktu. Para ART di sana sudah tahu situasi yang terjadi antara Elisa dan Anggara. Daripada ikut campur dan kena getahnya, mereka lebih memilih menghindar saja. Cari aman masing-masing. Tidak ada yang berani jadi penengah Tuan Garra.
Pada akhirnya, Elisa sendiri yang harus mencari Anggara untuk memberikan hadiah itu, lebih tepatnya mengembalikan hadiah tersebut. Dengan langkah mantap yang dibuat-buat, ia berjalan ke arah kamar Anggara.
Elisa berdiri di depan pintu kamar Anggara yang tertutup rapat. Pintu kayu jati yang besar dan kokoh. Ia tidak mengetuk. Tangannya sudah terangkat, tapi turun lagi. Nyali-nya ciut. Malah langsung putar badan, mau kembali saja ke kamarnya.
Baru beberapa langkah berbalik, dari pintu lain, ruang pribadi dan ruang kerja Anggara yang terhubung langsung dengan kamarnya, pria itu muncul dari balik pintu. Kemejanya sudah ia buka dua kancing teratas, dan ia selesai menelepon.
"Mencari ku?" tanya Anggara setelah menutup teleponnya, melihat Elisa yang ada di sekitar kamarnya sambil membawa kotak pemberiannya. Tatapannya tajam.
Elisa terkejut, jantungnya berdegup kencang. Ia maju selangkah, ia menyodorkan kotak berukuran tanggung itu dengan kedua tangannya, seperti menyerahkan sesuatu yang menjijikkan.
"Maaf ... Saya tidak butuh ini."
Anggara tidak langsung mengambilnya. Ia menatap kotak itu, lalu menatap wajah Elisa yang sudah sembab tapi mencoba terlihat berani.
"Kau mengembalikan hadiah ini? Elisa ... sebenarnya apa maumu? Kau ini susah sekali diatur?" suaranya pelan, tapi mengintimidasi.
"Saya mau pulang," jawab Elisa sambil menatap wajah Anggara sekejap, lalu menunduk lagi. Suaranya lirih tapi jelas.
Anggara terkekeh, tawa yang meremehkan dan dingin. Ia melangkah mendekat, membuat Elisa mundur sampai punggungnya menempel di dinding koridor.
"Pulang? Pulang kemana? Apa kau punya tempat tinggal??? Kau bahkan tidak punya keluarga! Kos-kosan sempitmu itu sudah saya tutup! Kau mau pulang ke mana? Ke jalanan?"
Kata-kata itu seperti tamparan keras.
Disebut tidak punya keluarga, mendadak ulu hati Elisa terasa menyempit dan sakit seperti tusuk. Matanya yang tadi ditahan-tahan, langsung mengembun. Ia langsung ingat makam sang ibu satu-satunya. Ya, dia memang sudah tak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Sebatang kara.
"Jangan menangis di depanku, Elisa!!!" celetuk Anggara yang melihat wajah sendu Elisa yang mulai bergetar. Pria itu paling benci melihat air mata, karena air mata itu membuatnya merasa tidak nyaman.
(Gadis ini!!! Gampang sekali menangis! Murah sekali air matanya!! Sial!)
"Saya memang tidak punya rumah! Saya memang tidak punya tempat tinggal! Dan saya memang tidak punya keluarga!" ujar Elisa, akhirnya semua emosi yang ia tahan meledak. Air matanya mengalir. "Dan Anda ... Tuan Garra, Anda merampas satu-satunya kebebasan yang saya punya!!"
Anggara terdiam. Napasnya memburu. Dilihatnya gadis di depannya yang gemetar hebat, menangis sesenggukan sambil memeluk kotak yang ingin ia kembalikan itu. Untuk pertama kalinya, Anggara tidak melihat Elisa sebagai gadis penggoda yang menjual dirinya demi uang.
Ia melihat seorang gadis kecil yang ketakutan, kesepian, dan hamil anaknya.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Anggara merebut kotak itu dari tangan Elisa dan...
BRAK!
Ia membanting kotak itu ke lantai dengan keras. Kotak beludru itu terbuka, isinya berhamburan. Kalung berlian berkilau terpental ke lantai marmer.
Elisa terlonjak kaget.
"Kalau kau tidak mau, ya sudah buang saja! Jangan kembalikan pada ku!"
Setelah mengatakan itu, Anggara langsung masuk ke kamarnya dan membanting pintunya keras. Meninggalkan Elisa yang masih mematung di lorong, menangis di antara berlian-berlian yang berserakan di lantai.
Elisa tak tahu, kalau isinya sangat mahal sekali. Tangisnya makin pecah, dia jongkok, mengusap pipinya, mengambil isi kotak yang sudah berserakan di lantai marmer. Sambil menangis, tangannya memunguti perhiasan yang rusak tersebut dan bersambung.
internet nya fool,,, kalau biasa Pak Su JM 10 di matiin kecuali Anak Anak nya ada tugas desain baru ga matiin bisa kena semprot Anak gadis Ku galak,,,😁😁 tapi
pawang nya sang Bapak e gemes kadang
di cono kang bingung....
astagaaa Mak cerita mu bikin yg BCA nahan nafas krna emosi jiwa 🤦🤦🤦
kn udh di bilangin ma dokter klau ibu hamil 🫄🫄🫄🫄🫄iku GK boleh stres GK boleh di bikin sedih tau gak cih 🤦🤦🤦
tlong yaaaa kak thorr,,,nnti d buat bucin sebucin nya tuhhh pak anggara👍👍👍😀
lebih baik di goreskan di lapak MT Ok cus lanjut 💪💪
sebenarnya pada dasarnya mungkin baik asalkan kitanya nurut dan ikuti perintah nya ,,,bila sesuai tapi tak sesuai ya protes
tetapi menurut gitu kale ya,,,, tetapi kalau masih seperti diktaktor siluman Doberman
Yo jangan menyerah lawan Coyyyy 😁 hmm gregetan kan jadi Yo gerem,,,memang si kalau di pikir hidup di sangkar berlian bukan Mas saja si ya tapi
Yo gitu kata kata si siluman' Doberman itu
bikin. TREMOSI jiwa,,,Elisa sabar ya semoga hati siluman' di lembut kan dan di kasih sabarrrr seluas dada bidang siluman Garra wis ngono ae,,,kabur ga iso 😂