NovelToon NovelToon
Lukisan Dari Tahun Yang Belum Lahir

Lukisan Dari Tahun Yang Belum Lahir

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:308
Nilai: 5
Nama Author: Diva Devira

SINOPSIS
.
.
.
.
.

Delapan tahun setelah dikirim ke Selatan, Shen Ruyin akhirnya kembali ke Chang’an.

Keluarganya mengatakan ia pergi karena sakit. Namun sejak kepulangannya, Ruyin mulai menemukan hal-hal yang tidak sesuai dengan ingatannya.

Orang-orang di Chang’an mengingat masa kecilnya dengan cara yang berbeda. Ibunya terlalu berhati-hati saat membicarakan masa lalu, sementara kakaknya mengetahui hal-hal yang seharusnya tidak ia ketahui.

Lalu Ruyin menemukan sebuah lukisan tua.

Wajah perempuan di dalamnya sama persis dengannya—padahal lukisan itu dibuat bertahun-tahun sebelum ia lahir.

Jika semua orang menyimpan rahasia tentang dirinya, lalu siapa sebenarnya Shen Ruyin?

Dan apa yang terjadi pada malam ketika ingatannya mulai hilang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diva Devira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: KAKAK YANG TERLALU BANYAK TAHU

Pagi sesudah hujan, seluruh rumah berbau tanah basah dan kayu yang mengering pelan-pelan.

Dari jendela, Ruyin melihat dua pelayan menyeka lantai koridor dengan kain lebar, berjalan mundur sambil berbisik tentang harga arang. Seorang tukang kebun menopang tangkai krisan yang rebah. Daun ginkgo menempel di batu-batu jalan seperti keping emas yang dibuang sembarangan. Tidak ada yang berubah. Di rumah ini, malam yang lewat seakan tidak meninggalkan apa pun selain lantai yang basah.

Itu yang membuatnya gelisah. Kemarin ia menemukan sehelai kertas di dasar laci. Pagi ini seorang pelayan mengantarkan air cuci muka dengan senyum yang sama seperti hari-hari sebelumnya.

Kertas itu ada di lengan bajunya, terlipat sekecil mungkin. Ia tidak menyentuhnya.

———

Sarapan di aula samping berlangsung seperti biasa. Bubur putih tanpa daun bawang, teh yang sudah hampir dingin di sisi mangkuk. Tuan Shen pulang larut semalam dan berangkat ke istana sebelum fajar, jadi hanya Nyonya Lin dan Yucheng yang menemaninya. Yucheng datang terlambat dengan rambut yang belum sepenuhnya kering, dan menaruh sebungkus kecil kertas minyak di sisi mangkuk Ruyin.

"Buah hawthorn bergula. Pedagang di ujung jalan baru membuka kiosnya pagi ini. Kau dulu tidak pernah mau minum obat kalau tidak ada ini sesudahnya."

"Aku sudah lama tidak minum obat, Kak."

"Itu bukan alasan untuk tidak makan manisan."

Ruyin mengambil satu. Rasanya asam, lalu manis. Ia mengunyah pelan sambil memperhatikan kakaknya menuang teh untuk ibu mereka, lalu mengambil sepotong kue kukus tanpa mengangkat pandangan. Tidak ada yang canggung pada gerakannya. Tidak ada yang berlebihan. Jika ia sedang menyimpan sesuatu, ia membawanya dengan sangat ringan.

"Kau tidur nyenyak?" tanyanya.

"Cukup. Hujannya bagus untuk tidur."

"Bagus?" Yucheng tertawa. "Dulu kau paling benci hujan."

Ruyin berhenti mengunyah. "Aku?"

"Hujan deras, maksudku. Rintik begini tidak apa-apa." Ia menyuap kuenya. "Kau tidak ingat?"

"Aku tidak ingat banyak hal, Kak. Kakak sendiri yang bilang."

Nyonya Lin menurunkan cangkirnya tanpa suara.

———

Menjelang tengah hari, Yucheng menemukannya di serambi halaman barat, tempat ia duduk dengan kitab sajak yang lagi-lagi tidak dibaca. Ia datang membawa sebuah bantal duduk tebal dan, tanpa bertanya, menyelipkannya di bawah Ruyin.

"Lantai batu menyimpan dingin. Kau akan kaku seharian."

"Aku bukan anak kecil."

"Aku tahu. Tapi punggungmu tidak tahu." Ia duduk di anak tangga di bawahnya, menyandarkan siku di lutut. Kemudian ia mengulurkan tangan, dan jari-jarinya membetulkan pengait kerah baju Ruyin yang terlepas separuh. Gerakannya cepat dan cekatan, seperti sesuatu yang pernah ia lakukan berkali-kali. "Selesai. Kau selalu membiarkan yang satu ini terbuka."

Ruyin menyentuh kerahnya. Ia tidak tahu kapan terakhir kali ada orang yang melakukan itu untuknya. Atau mungkin ia tahu, dan hanya tidak bisa menjangkaunya.

Ia menunggu sampai Yucheng menyandarkan kepala ke tiang serambi, menatap tetes air yang masih jatuh dari ujung atap. Lalu ia bertanya dengan nada orang yang membuka percakapan karena tidak ada hal lain untuk dilakukan.

"Kak, kalau hujan turun waktu kita kecil, aku biasanya ngapain?"

Hanya itu. Satu pertanyaan, yang tidak terdengar seperti apa pun.

"Bersembunyi," jawab Yucheng tanpa berpikir. Ia tersenyum, matanya masih ke atap. "Di bawah meja baca di ruang belajar Ayah. Kau menarik tirai kecil dari bawah meja, menutup telinga dengan kedua tangan, dan tidak mau keluar sampai ada yang menghitung bersamamu. Satu, dua, tiga, sampai hujannya reda. Bisa sampai seratus."

Ruyin mengaitkan jari-jarinya di atas kitab. "Kakak yang menghitung?"

"Kadang aku." Yucheng menunduk sebentar, lalu mengangkat bahu. "Kadang pelayan. Siapa pun yang lewat."

"Ruang belajar Ayah."

"Ya."

Ruyin ingat kain gelombang biru kemarin, dan hujan yang tiba-tiba turun rendah dan lambat di telinganya. Rasanya tidak seperti ketakutan. Ia mengingat bunyi hujan itu sebagai sesuatu yang dekat dan nyaris menenangkan, seperti napas orang di sebelahnya. Tetapi ia tidak mengatakan itu. Ia hanya tersenyum kecil.

Ada hal lain yang ia simpan. Beberapa hari lalu Yucheng berkata bahwa ia hanya pulang dua kali setahun, ketika tahun baru dan ketika musim panas. Hujan deras jatuh di musim panas juga, jadi itu tidak bertentangan. Tetapi seorang kakak yang pulang dua kali setahun tidak biasanya hafal berapa hitungan yang dibutuhkan adiknya sampai tenang.

"Aku tidak ingat itu," kata Ruyin.

"Tidak apa-apa." Yucheng berdiri dan menepuk jubahnya. "Memang seharusnya begitu, bukan? Anak kecil tidak perlu mengingat semua ketakutannya."

Ia pergi dengan langkah ringan. Ruyin menatap kitabnya lama sekali tanpa membaca satu huruf pun.

———

Sore itu ia menemani ibunya memilah sulaman untuk hadiah Tahun Baru. Nyonya Lin duduk di dekat jendela dengan keranjang benang di pangkuan, dan Ruyin mengurai gulungan yang kusut sambil mendengarkan bunyi gunting kecil yang memotong ujung-ujungnya.

"Kakak tadi bercerita tentang aku yang takut hujan waktu kecil."

"Hm."

"Ia ingat banyak hal tentang masa kecilku, ya, Ibu. Lebih banyak daripada aku sendiri."

Teko tembaga di meja kecil baru saja diangkat Nyonya Lin untuk menuang teh. Aliran airnya berhenti sebentar di udara, sebelum miring lagi ke dalam cawan. Hanya sesaat, sehingga seorang pengamat yang kurang telaten akan mengiranya hanya lengan yang pegal.

"Yucheng selalu memperhatikanmu," ujar Nyonya Lin. Suaranya tetap lembut. "Sejak kecil. Ia anak yang tidak bisa berhenti menjaga."

"Menjaga dari apa?"

"Dari segala hal, tentu saja. Begitulah kakak." Ia menyodorkan cawan kepada Ruyin dan tersenyum, dan percakapan beralih ke warna benang untuk sulaman bunga plum. Ruyin menjawab seperlunya dan menerima teh itu dengan kedua tangan. Rasanya tepat, tidak terlalu pahit, tidak terlalu panas.

———

Malam itu ia duduk sendiri di meja rias, dengan satu lilin dan hujan yang kembali jatuh pelan di luar. Ia membuka lipatan kertas dari lengan bajunya dan meratakannya di bawah cahaya.

"Jangan dikembalikan ke kamar Ruyin."

Tinta hitam yang mulai kecokelatan, garis-garis yang tegas dan tergesa. Ia mencoba mengingat tulisan siapa pun yang pernah ia lihat sejak pulang: daftar belanja pengurus rumah, undangan dari kediaman Lu, label pada kaleng teh. Tidak ada yang cocok, tetapi juga tidak ada yang bisa ia singkirkan. Ia belum punya cukup bukti untuk menyebut nama, dan ia tidak ingin menyebutnya hanya karena sedang ingin.

Ia justru teringat satu kalimat yang diucapkan Yucheng kemarin, di ruang simpan, ketika kakaknya menatap peti-peti dan keranjang benang dengan senyum yang terlalu lembut.

"Ibu tidak tega membuangnya."

Waktu itu kalimat itu terdengar seperti keluhan kecil tentang ibu mereka yang sentimental. Sekarang ia mendengarnya lagi, dan nadanya terasa lain.

Tidak dibuang. Hanya dipindahkan, disimpan di tempat yang aman, dan diberi perintah untuk tidak pernah kembali.

Ruyin memandang lilin sampai nyalanya bergoyang. Yucheng mengatur kerah bajunya dengan tangan yang hafal. Yucheng menghitung bersamanya sampai hujan reda. Yucheng, yang sama itu juga, tahu laci mana yang macet.

Tidak satu pun yang cukup untuk membuatnya takut. Dan itulah yang membuatnya sulit tidur: kemungkinan bahwa seseorang bisa menyayanginya sepenuh hati, dan tetap menjadi orang yang menjaga agar ia tidak pernah menemukan apa yang telah dibawa pergi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!