Bagi Aisyah, pernikahan dengan Ayden seharusnya menjadi pelabuhan terakhir setelah badai panjang dalam hidupnya. Pria itu tampak seperti sosok pelindung yang sempurna—mapan, penuh perhatian, dan mencintainya tanpa syarat. Namun, di balik tatapan hangat dan sentuhan lembut Ayden, tersimpan sebuah rahasia gelap yang perlahan-lahan meremukkan kewarasan Aisyah.
Semua runtuh pada malam ketika Aisyah menemukan kebenaran yang mengerikan: pernikahannya bukan dibangun atas dasar cinta, melainkan sebuah rencana balas dendam yang dingin. Ayden sengaja mendekatinya untuk menghancurkan keluarganya, menggunakan Aisyah sebagai bidak catur dalam permainan kebencian masa lalu.
Terperangkap dalam cinta yang penuh kepalsuan dan dikhianati oleh orang yang paling ia percaya, jiwa Aisyah perlahan mati rasa. Ia tidak lagi mengenal air mata ataupun amarah; yang tersisa hanya kehampaan yang mencekam. Di sisi lain, Ayden yang tadinya berniat menuntaskan dendam justru mendapati dirinya tersiksa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saga B.T., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7. Mulai Terasa Asing
"Kenapa... kenapa Ayden menyimpan semua berkas kebangkrutan Papa?" gumam Aisyah, suaranya bergetar oleh kombinasi rasa syok, bingung, dan kepedihan yang mendadak menghantam dadanya. "Kenapa tulisan tangan Ayden ada di laporan kebangkrutan keluargaku?"
Aisyah memeluk lembaran kertas itu di dadanya, air mata mulai menetes membasahi pipinya yang pucat. Pikiran tentang ucapan Pak Hendra tadi malam kembali bergema hebat di kepalanya. ’Kebangkrutan tragis yang menghancurkan seluruh usaha keluarga Anda bertahun-tahun lalu itu sungguh kejam...’
Kreeek...
Bunyi engsel pintu ruang kerja yang didorong terbuka memecah hening ruangan.
Sebuah pendar cahaya kuning temaram merambat masuk, memotong kegelapan pekat di lantai. Ayden melangkah masuk seraya memegang sebuah tempat lilin kuningan tebal dengan api yang menari-nari ditiup angin malam.
Wajah Ayden tersorot cahaya lilin dari bawah. Rahangnya mengeras kaku, garis bibirnya menipis datar, dan kedua mata hitamnya memancarkan pendar dingin yang begitu pekat—sebuah ekspresi beku dan mengerikan yang belum pernah Aisyah lihat selama mereka saling mengenal. Topeng suami hangat yang selalu ia kenakan telah tanggal sepenuhnya di dalam kegelapan itu.
"Ayden..." picit Aisyah pelan, menatap sosok pria di hadapannya dengan rasa takut yang amat sangat.
Ayden tidak langsung menjawab. Ia berjalan perlahan mendekati Aisyah, melangkah dengan tenang namun penuh intimidasi, persis seperti bayangan kematian yang mendekati korbannya. Ia meletakkan tempat lilin itu di atas meja kerja, menyisakan bayangan-bayangan panjang yang menari di dinding ruangan.
"Sedang apa kamu di ruang kerjaku, Aisyah?" tanya Ayden. Suaranya rendah, dalam, dan teramat dingin tanpa sedikit pun nada kehangatan yang biasa ia pamerkan.
Aisyah mendongak, menunjukkan lembaran kertas di tangannya yang basah oleh air mata. "Ayden... tolong jelaskan padaku. Kenapa... kenapa semua dokumen ini ada padamu?"
Ayden menatap lembaran kertas berserakan di lantai, lalu pandangannya bergulir perlahan menatap lurus ke dalam iris mata Aisyah yang dipenuhi linangan air mata.
"Apakah aku pernah memberimu izin untuk menyentuh area ini, Aisyah?" tanya Ayden balik, nadanya begitu tenang namun menusuk tepat ke tulang belakang Aisyah.
"Jawab aku, Ayden!" desak Aisyah, suaranya meninggi karena emosi yang meluap. "Kenapa kamu memiliki laporan forensik keuangan perusahaan Papaku?! Kenapa ada tulisan tanganmu di lembaran kebangkrutan Danantara Utama?! Kenapa kamu menyimpan catatan tentang kematian orang tuaku?!"
Ayden mendesah pelan. Ia berlutut di hadapan Aisyah, menyejajarkan posisinya. Gerakannya begitu santai. Dengan tangan jemarinya yang panjang, Ayden mulai memunguti lembaran-lembaran kertas yang berserakan di lantai satu per satu. Gerakannya memungut kertas terasa begitu lembut dan telaten, namun kelembutan itu terasa teramat janggal bersanding dengan tatapan matanya yang sedingin es abadi.
"Aisyah, bukankah aku sudah memperingatkanmu kemarin malam?" bisik Ayden halus seraya merapikan tumpukan kertas di tangannya. "Aku bilang, jangan pernah menggali bangkai yang sudah membusuk. Kenapa kamu begitu keras kepala?"
"Ini bukan bangkai, Ayden! Ini hidup keluargaku!" jerit Aisyah, dadanya naik turun menahan napas yang terasa sesak. "Pak Hendra bilang ada cerita di balik kebangkrutan Papa... dan sekarang aku menemukan berkas ini di rumahmu! Apa hubungannya kamu dengan kebangkrutan Papaku?!"
Ayden menghentikan gerakannya. Ia memegang tumpukan kertas itu rapi di tangannya, lalu mengalihkan tatapannya tepat ke wajah Aisyah. Tidak ada riak rasa bersalah di mata pria itu. Yang ada hanyalah kedalaman jurang yang gelap.
"Apakah kebangkrutan itu penting bagimu sekarang?" tanya Ayden pelan, menyisip nada celaan yang terselubung.
"Tentu saja penting! Orang tuaku meninggal dalam keadaan putus asa karena kebangkrutan itu!" air mata Aisyah menetes makin deras. "Dan kamu... kamu menyimpan seluruh berkasnya seolah-olah kamu adalah bagian dari peristiwa itu! Ayden... siapa kamu sebenarnya?"
Ayden terkekeh pelan—sebuah tawa pendek yang terasa amat hampa dan beracun di udara malam yang dingin. Ia mengulurkan tangan kirinya, meraih dagu Aisyah dengan ibu jari dan jari telunjuknya. Pegangannya tidak terlalu keras, namun cengkeramannya mengunci wajah Aisyah agar tidak bisa berpaling darinya.
"Aku adalah suamimu, Aisyah," bisik Ayden tepat di depan wajah istrinya, matanya berjelaga pekat disorot cahaya lilin. "Pria yang telah mengikat janji di hadapan Tuhan untuk menjagamu. Pria yang memberimu rumah mewah ini, pakaian mahal ini, dan rasa aman yang tidak pernah kamu dapatkan bertahun-tahun."
"Tapi kertas-kertas ini—"
"Kertas-kertas ini adalah bagian dari pekerjaanku di dunia bisnis!" potong Ayden tegas, suaranya memotong ucapan Aisyah tanpa ampun. "Dinantara Utama adalah salah satu perusahaan yang pernah dianalisis oleh perusahaanku bertahun-tahun lalu sebelum mengalami likuidasi. Apakah itu salah?"
Aisyah menatap mata suaminya, mencari ketulusan di sana, namun ia hanya menemukan dinding semen tebal yang tak terembus. "Kalau hanya sekadar analisis bisnis biasa... kenapa tulisan tanganmu bicara tentang 'tahap satu selesai'? Kenapa kamu menyimpan berkas ini terkunci rapat di dalam kotak tersendiri?"
Ayden mendekatkan wajahnya lebih rapat, hingga Aisyah bisa merasakan hembusan napas dingin suaminya di kulit pipinya.
"Dengar baik-baik, Aisyah," ujar Ayden dengan intonasi pelan, berbisik namun memancarkan peringatan keras yang mematikan kewarasan. "Setiap rumah tangga memiliki rahasianya sendiri. Dan dalam rumah tangga kita, ada pintu-pintu yang ditakdirkan untuk tetap terkunci rapat demi kebaikanmu sendiri."
"Kamu membohongiku..." bisik Aisyah pasrah, hatinya terasa bagai teriris sembilu.
"Aku tidak pernah membohongimu," balas Ayden tenang. "Aku hanya melindungimu dari kebenaran pahit yang tidak akan sanggup ditanggung oleh hatimu yang rapuh. Keingintahuan yang berlebihan hanya akan melukaimu, Istriku. Apakah kamu ingin merusak pernikahan kita hanya demi lembaran kertas tua yang tidak bisa menghidupkan kembali orang tuamu?"
"Ayden, kamu jahat..." picit Aisyah dengan suara pecah.
Ayden melepaskan cengkeraman di dagu Aisyah. Ia berdiri tegak, membawa tumpukan dokumen yang telah ia rapikan, lalu memasukkannya kembali ke dalam laci meja kerja dan menguncinya dengan rapat. Bunyi klik kunci yang bergema di ruangan gelap itu terasa seperti ketukan vonis penjara bagi Aisyah.
Ayden mengambil tempat lilin dari atas meja, lalu mengulurkan tangan kanannya pada Aisyah yang masih terduduk lemas di lantai.
"Berdirilah, Aisyah," perintah Ayden, nadanya kembali lembut, namun lembut yang menekan. "Di luar sedang badai, dan ruangan ini terlalu dingin untukmu."
Aisyah menatap uluran tangan Ayden. Tangan tegap yang tadi pagi mengecup keningnya dengan penuh kehangatan, kini terasa bagaikan tangan seorang algojo yang siap mencabut nyawanya pelan-pelan. Aisyah mengabaikan uluran tangan itu dan memilih bangkit sendiri dengan tubuh yang gemetar hebat.
Ayden menyipitkan matanya tipis melihat penolakan halus tersebut, namun ia tidak memaksa. Ia berjalan mendahului Aisyah, memimpin jalan keluar dari ruang kerja dengan cahaya lilin di tangannya.
"Malam ini, lupakan apa yang kamu lihat," kata Ayden tanpa menoleh saat mereka melangkah menyusuri koridor gelap menuju kamar tidur. "Jangan pernah menginjakkan kakimu di ruang kerja itu lagi. Jika kamu mematuhiku, kita akan tetap menjadi pasangan paling bahagia di kota ini."
"Dan jika aku tidak bisa melupakannya?" tanya Aisyah lirih dari belakang.