NovelToon NovelToon
TAWANAN SANG RAJA MAFIA

TAWANAN SANG RAJA MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / Nikahmuda
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Demi menyelamatkan sang ayah dari siksaan maut seorang mafia kejam, Aisyah gadis bercadar, Hafizah bermata biru blasteran menyerahkan diri sebagai tawanan abadi. Syaratnya gila: pria berdarah dingin itu harus masuk Islam dan menikahinya.
Pernikahan tanpa cinta pun dimulai. Alih-alih menjadi ratu, hidup Aisyah berubah menjadi neraka ketika suaminya sengaja membawa wanita malam ke hadapannya setiap hari untuk menghancurkan mentalnya.
Di tengah ketakutan yang mencekam dan air mata yang tak pernah kering, Aisyah hanya bersandar pada sujud malamnya.
Mampukah kelembutan ayat-ayat suci meluluhkan hati seorang psikopat tanpa Tuhan, atau justru Aisyah yang akan hancur lebur di sarang iblis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sujud di Pesantren dan Pintu Ampunan yang Terbuka

Suasana di ruang makan mewah keluarga Al-Ghazali mendadak membeku. Kalimat yang diucapkan Kenzie barusan menggantung di udara, membuat Mommy tertegun dengan napas memburu dan dr. Jessica menunduk canggung, tidak berani ikut campur dalam pusaran konflik keluarga tersebut.

Kenzie menarik napas dalam-dalam. Ia tahu, menyembunyikan identitas keagamaannya yang baru tidak akan menyelesaikan masalah. Jika keluarganya meremehkan Aisyah karena latar belakang agama dan keluarganya, maka ia harus menunjukkan bahwa pilihan hidupnya berakar pada prinsip yang jauh lebih agung daripada sekadar status sosial.

"Kalian ingin tahu alasannya?" suara Kenzie terdengar berat, memecah keheningan yang mencekam. Ia menatap tajam ke arah ayah dan ibunya. "Bukan karena harta, bukan pula karena paksaan. Tapi karena wanita inilah... Allah membimbingku keluar dari kegelapan."

Mommy mengerutkan keningnya, kebingungan mulai merayap di balik amarahnya. "Apa maksudmu, Kenzie? Kegelapan apa? Jangan berputar-putar!"

Kenzie mengangkat dagunya, membusungkan dada dengan penuh keyakinan. "Aku sudah masuk Islam, Mom. Aku seorang muslim sekarang."

Deg.

Pernyataan itu telak menghantam seisi ruangan. Daddy Kenzie langsung berdiri dari kursinya dengan mata membelalak tak percaya. Sementara sang Mommy menutup mulutnya dengan tangan, terkejut setengah mati seolah petir baru saja menyambar kepala mereka di siang bolong. Keluarga besar Al-Ghazali dikenal sebagai salah satu keluarga terpandang yang memegang teguh tradisi leluhur non-muslim, dan keputusan putra tunggal mereka untuk berpindah keyakinan adalah sebuah guncangan besar yang tak pernah mereka bayangkan.

"Kamu... kamu sudah gila, Kenzie?!" teriak Mommy histeris, air matanya tumpah karena frustrasi. "Hanya demi wanita berkedok kain hitam ini, kamu rela meninggalkan keyakinan keluarga kita?!"

"Ini bukan karena siapa-siapa, Mom. Ini panggilan jiwaku," jawab Kenzie mantap, tanpa ada secercah keraguan di suaranya. Ia menoleh menatap Aisyah yang sejak tadi menunduk dengan air mata berlinang di balik cadarnya. "Aisyah adalah wanita salihah yang mengajarkanku arti hidup yang sesungguhnya. Dan aku tidak akan pernah menyesali pilihannya."

Melihat ketegasan yang mutlak di mata putranya, Daddy Kenzie mengembuskan napas berat, duduk kembali sambil memijat pelipisnya yang berdenyut pening. Sang ayah sadar, memaksa Kenzie hanya akan membuat hubungan darah mereka terputus selamanya.

"Pulanglah..." ucap Daddy dengan suara parau penuh kekecewaan. "Beri waktu ibumu untuk menenangkan diri. Urusan ini... akan kita bicarakan nanti."

Tanpa berkata apa-apa lagi, Kenzie menggenggam tangan Aisyah erat-erat, membimbing istrinya keluar dari ruang makan mewah itu menuju mobil yang terparkir di halaman.

Perjalanan malam itu dipenuhi keheningan yang panjang. Di dalam mobil sedan mewah, Aisyah menatap ke luar jendela, menyeka sisa air matanya yang masih menetes di balik cadar. Ia merasa bersalah karena kehadirannya telah membuat hubungan suami tercintanya retak dengan kedua orang tuanya.

"Mas..." panggil Aisyah lirih. "Seharusnya kamu tidak perlu berkata sejujur itu tentang keislamanmu di depan mereka tadi... Aku takut aku menjadi sumber perpecahan di keluargamu."

Kenzie, yang fokus menyetir, langsung menoleh sekilas. Ia meraih satu tangan Aisyah, membawanya ke bibirnya dan menciumnya lembut.

"Jangan pernah berkata seperti itu lagi, Aisyah," ucap Kenzie tegas namun penuh kelembutan. "Apa yang kulakukan adalah kebenaran. Aku tidak mau memulai babak baru dalam hidupku di atas kebohongan. Mereka butuh waktu, dan aku yakin suatu saat mereka akan mengerti."

Aisyah mengangguk pelan, merasa terlindungi oleh ketulusan yang terpancar dari diri suaminya.

"Tapi... kita belum akan pulang ke istana malam ini," lanjut Kenzie tiba-tiba, memutar kemudi ke arah jalur pinggiran kota yang dikelilingi rindangnya pepohonan malam.

Aisyah mengerjap bingung. "Lalu, kita mau ke mana, Mas?"

"Kita mampir ke tempat asalmu," jawab Kenzie tenang. "Ke Pondok Pesantren Al Ihsan tempat ayahmu mengabdi."

Waktu menunjukkan pukul sembilan malam ketika mobil Kenzie memasuki gerbang utama Pondok Pesantren Al Ihsan. Suasana pesantren sudah tampak sepi, hanya menyisakan beberapa lampu penerangan jalan yang temaram di antara bangunan asrama santri dan masjid utama.

Kenzie memarkirkan kendaraannya tepat di halaman ndalem—rumah kediaman pengasuh pesantren.

Begitu mesin mobil dimatikan dan Kenzie membukakan pintu untuk Aisyah, beberapa santri senior dan pengurus pesantren yang kebetulan sedang melintas mendadak menghentikan langkah mereka. Ketika sorot lampu mobil menangkap sosok tinggi tegap berjaket kulit hitam yang turun bersama seorang wanita bercadar, para santri itu seketika membelalak ketakutan.

"I-Itu... Tuan Kenzie?!" bisik salah seorang pengurus pesantren dengan suara bergetar hebat, mengenali wajah pria yang selama ini ditakuti sebagai bos mafia kejam yang pernah menculik putri kiai mereka.

Berita kedatangan Kenzie seketika menyebar dalam hitungan detik di lingkungan Pondok Pesantren Al Ihsan. Dalam waktu singkat, beberapa pengurus dan santri berkumpul dengan wajah tegang, bersiap siaga melindungi kiai mereka jika pria berbahaya itu datang untuk membuat kericuhan lagi.

Pintu utama ndalem terbuka perlahan. Sosok sepuh berpeci putih dengan wajah tenang dan kharismatik melangkah keluar didampingi oleh sang istri—Kiai Ahmad dan istrinya. Kiai Ahmad menatap tajam namun penuh ketenangan ke arah halaman Pondok Pesantren Al Ihsan.

Kenzie menarik napas dalam-dalam. Ia melepaskan jasnya, melangkah maju beberapa langkah, lalu secara mengejutkan... Kenzie berlutut dan bersujud di hadapan Kiai Ahmad.

Sontak, seluruh santri dan pengurus Pondok Pesantren Al Ihsan berteriak kaget. Suasana riuh seketika. Bagaimana mungkin seorang penguasa dunia bawah yang kejam dan arogan bersujud di kaki seorang kiai desa?

"Kenzie... apa yang kamu lakukan?" suara Kiai Ahmad bergetar lembut, menatap menantunya dengan sorot mata penuh tanda tanya.

Kenzie mengangkat wajahnya, menatap kiai paruh baya itu dengan mata yang memerah dan dipenuhi penyesalan mendalam. "Kiai... Saya datang bukan untuk membuat kericuhan. Saya datang untuk memohon ampun."

Kiai Ahmad mengerutkan keningnya. "Ampun atas apa, Nak?"

"Atas segala dosa besar yang kulakukan pada keluarga Anda," suara Kenzie tercekat di tenggorokan. "Aku telah merusak hidup putri Anda, menyeretnya dengan paksa dari tempat suci ini ke neraka duniaku, dan mengancam nyawa Anda demi kepentingan egoku. Aku adalah manusia paling berdosa di muka bumi ini."

Aisyah yang berdiri tidak jauh dari situ langsung menutup mulutnya, air matanya tumpah deras melihat suaminya merendahkan harga diri separah itu di hadapan sang ayah.

Kenzie melanjutkan dengan suara bergetar, "Namun, demi Allah yang baru saja kuakui sebagai Tuhanku... aku datang ke sini untuk menyampaikan satu keputusan besar. Pembangunan klub malam di atas tanah sengketa milik Pondok Pesantren Al Ihsan... telah kubatalkan sepenuhnya. Tanah itu, beserta seluruh izin hak miliknya, sudah kualih-namakan kembali secara sah menjadi milik Pondok Pesantren Al Ihsan tercinta ini. Aku ingin menebus semua kesalahanku."

Keheningan yang mencekam langsung menyelimuti halaman Pondok Pesantren Al Ihsan. Para santri dan pengurus tertegun, tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar. Ancaman terbesar bagi pesantren mereka selama ini justru dibatalkan dan dikembalikan sepenuhnya oleh sang mafia sendiri.

Kiai Ahmad terdiam sejenak. Ia memandang lekat-lekat manik mata Kenzie, mencari kepalsuan di baliknya, namun yang ia temukan hanyalah kejujuran mutlak dan jiwa yang sedang bertobat.

Dengan tangan yang gemetar halus, Kiai Ahmad melangkah maju, lalu membungkuk dan merengkuh bahu Kenzie, memaksa pria itu untuk bangkit berdiri.

"Bangunlah, Kenzie..." ucap Kiai Ahmad dengan suara yang begitu lembut, sarat akan ketulusan seorang ayah. "Manusia terbaik bukanlah yang tidak pernah berbuat dosa, melainkan yang bertaubat setelah menyadari kesalahannya. Allah saja Maha Pengampun, tidak mungkin saya sebagai manusia menutup pintu maaf bagi orang yang ingin kembali ke jalan-Nya."

Mendengar kalimat itu, pertahanan terakhir Kenzie runtuh. Pria yang dikenal tidak pernah meneteskan air mata di hadapan musuh manapun itu kini menangis tersedu-sedu dalam pelukan Kiai Ahmad.

Di balik cadarnya, Aisyah tersenyum lebar sambil terus mengalirkan air mata haru. Malam itu, di bawah langit Pondok Pesantren Al Ihsan yang tenang, tidak hanya sebuah kebencian yang luluh, tetapi juga sebuah keluarga baru yang utuh terjalin atas berkah dan kasih sayang Allah SWT.

1
ika mummy
beneran ceritan nya keren... aku syuuukkka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!