NovelToon NovelToon
Kurebut Istri yang Ia Kurung

Kurebut Istri yang Ia Kurung

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:95
Nilai: 5
Nama Author: Isabel Coração

Di malam ia ingin mengabarkan kehamilannya, Amelia justru menyaksikan suaminya memamerkan kekasih yang sedang hamil, dengan kembang api yang dulu dijanjikan untuknya.

Arga Wiratama sang miliarder teknologi tak sekadar mengkhianati. Rekening Amelia diblokir, kariernya dihapus diam-diam, dan rumah mewah mereka dipasangi kamera di setiap sudut. Maka Amelia kabur membawa satu tas kecil, satu rahasia di dalam perutnya, dan nama yang masih ia punya.

Di Surabaya, pintu yang selama tiga tahun terkunci tiba-tiba terbuka. Di baliknya berdiri Fariz Mahardika, mantan aktor, pewaris keluarga berpengaruh, lelaki tenang yang selalu memutar tasbih di jarinya dan seolah mengenal Amelia jauh sebelum mereka bertemu. Ia menolong tanpa menagih. Tapi dunia di sekelilingnya tidak sebersih senyumnya.

Arga tak mau melepaskan. Ibunya punya rencana lain. Dan ada kebenaran tentang siapa Amelia sebenarnya, yang mulai merembes dari rumah-rumah bersalin tua dan foto-foto yang wajahnya begitu mirip dengannya.

Bisakah seorang perempuan yang pernah dikurung merebut kembali hidupnya, melindungi anak yang ia sembunyikan, dan memilih siapa yang pantas dicintai, tanpa lagi menjadi sandera siapa pun?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isabel Coração, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

POV: Amelia

Foto di taman itu memicu sesuatu yang paling tak kuduga. Foto itu mengembalikan publik padaku.

Seminggu kemudian aku berada di gala amal di Surabaya, kali ini di samping Fariz tanpa bersembunyi, dan efeknya langsung terasa. Orang-orang tersenyum padaku, minta foto, memanggil namaku. Narasinya sudah berbalik. Aku bukan lagi si mandul yang sudah tamat. Aku perempuan yang pergi dengan kepala tegak, dan negeri ini suka sekali pada perempuan yang pergi dengan kepala tegak.

Seorang gadis bergaun pendek dan berhak terlalu tinggi langsung menempel padaku begitu aku tiba.

"Kakak Amelia! Ya Tuhan, aku fans Kakak dari sinetron sore sepuluh tahun lalu, yang Kakak jadi cewek miskin yang jatuh cinta sama anak juragan itu. Aku nangis berember-ember! Berember-ember!" Dia memelukku seperti sudah mengenalku seumur hidup. "Bibi. Bianca Mahardika. Adik si kaku itu."

"Bibi," kata Fariz datar. "Biarkan Amelia bernapas."

"Dia bernapas dengan baik, kok. Mas Fariz tuh yang bikin semua orang sesak dengan muka tahlilan begitu." Dia menarik lenganku, mantap. "Ayo, aku kenalin ke orang-orang yang layak. Dan jauhi yang nggak layak, nanti kutunjukkan yang mana. Yang gaun kuning itu, misalnya, jauhi. Dia jual gosip ke kolom demi sepotong kue."

Aku tertawa, sungguh-sungguh, hal yang sudah berminggu-minggu tak terjadi. Bibi punya bakat membuat udara lebih ringan, dan aku, yang tak punya saudara perempuan, langsung merasa aku bisa punya satu.

"Kakak sama Mas-ku," lanjut Bibi, menyeretku di antara meja-meja. "Kalian serasi banget, tahu nggak? Dia nggak pernah bawa siapa pun ke pesta begini. Nggak pernah. Mas Fariz itu nggak pacaran, dia 'menyelesaikan urusan'. Terus Kakak muncul, dan tiba-tiba dia di sini, berjas, senyum miring, yang merupakan senyum paling lebar yang bisa dia kasih. Ini serius."

"Kami tidak pacaran, Bi."

"Belum." Dia tertawa. "Lihat saja."

Di tengah pesta, seorang produser yang kukenal hanya dari nama mendekat membawa amplop.

"Amelia, ini resmi. Undangan untuk memerankan tokoh utama 'Mawar dan Peluru'. Jam tayang utama. Peran utamanya." Dia tersenyum. "Kamu kembali dari atas, Nak. Dari atas sekali."

Kupegang amplop itu dengan kedua tangan. Tokoh utama. Setelah tiga tahun terhapus, terlupakan, dikubur dari dalam, tokoh utama. Kumasukkan ke tas, di samping alat tes, dua benda yang membuktikan bahwa aku mulai hidup lagi, dan sesaat dunia terasa adil.

Lalu Arga muncul.

Dia tak seharusnya ada di sana. Perintah perlindungan belum keluar, tapi kepantasan seharusnya cukup, dan kepantasan tak pernah jadi kekuatannya. Dia menyudutkanku di dekat pintu keluar, jauh dari Bibi, jauh dari Fariz.

"Hidup baru yang bagus," katanya, matanya keras. "Dibiayai bandit berjas."

"Jangan bicara padanya," suara Fariz terdengar dari belakang. Dia sudah muncul, dan tubuhnya menempatkan diri di antara aku dan Arga lagi. "Sudah kukatakan sekali. Aku tidak suka mengulang."

Keduanya saling menatap. Sedetik kukira mereka akan baku hantam di tengah gala, seorang satpam sudah mendekat, Bibi berlari datang, dan jadilah keributan kecil orang-orang yang berusaha memisahkan dua lelaki yang bahkan belum saling menyentuh.

"Aku pulang," kataku pada Fariz, lelah dengan adegan itu, mualku kembali. "Tolong panggilkan mobil Aurora. Aku tak mau di sini lebih lama."

"Bagas menunggumu di pintu samping. Sedan hitam. Aku selesaikan di sini dan menyusul lima menit lagi."

Aku keluar lewat pintu samping, mual, kehabisan tenaga, kepala berdenyut, perut terasa berat dengan cara baru. Sebuah sedan hitam terparkir tepat di pintu, sopir berjas, pintu belakang sudah terbuka, sigap. Aku masuk tanpa berpikir dua kali, bersyukur bisa duduk, bersyukur lepas dari keributan itu.

"Jalan saja," kataku. "Vila Kenjeran."

Mobil melaju. Kusandarkan kepala di jok dan memejam sebentar, bernapas dalam, tangan di perut.

Ketika kubuka mata, ada yang salah. Mobil berbelok ke arah berlawanan dari tepi laut. Lampu-lampu kota tertinggal terlalu cepat.

"Pak, Bapak salah jalan. Saya mau ke Kenjeran."

Sopir tak menjawab.

"Pak?"

Kucoba membuka pintu. Kuncinya tak bergerak. Kucoba kaca. Tak turun. Kutarik pegangan pintu keras-keras, sekali, dua kali, dan kutatap ke depan, ke kaca spion, tempat mata sopir bertemu mataku sedetik, dingin, tanpa sedikit pun kemanusiaan.

"Hentikan mobilnya," kataku, dan suaraku mulai panik. "Hentikan sekarang!"

Dia menginjak gas.

Kuraih ponsel dari tas dengan tangan gemetar. Tak ada sinyal, atau diblokir. Tetap kucoba menelepon, kucoba mengirim pesan ke Bibi, ke Fariz, ke siapa pun. Layar berputar dan tak jalan. Kupukul kaca pembatas, kupukul pintu, kuteriak. Lampu-lampu di luar menghilang satu per satu, kota berganti jalan yang lebih gelap, lebih sepi, meninggalkan Surabaya yang kukenal.

Kupeluk tas di dada, tempat amplop dan alat tes berada, dua benda yang membuktikan aku sudah memulai lagi. Tangan yang lain kuletakkan di perut.

"Bertahan ya," bisikku, pada dia, pada dua yang belum kutahu ada dua. "Bertahan, Mama akan cari jalan. Mama selalu cari jalan."

Mobil itu tak berhenti di sebuah rumah. Mobil itu berhenti di landasan pribadi, tempat sebuah pesawat kecil menunggu dengan mesin menyala. Aku diseret keluar dari mobil, didorong naik, dan aku menjerit, memukul, tak ada gunanya. Pintu menutup dan tanah lenyap di bawah kami.

Ketika pesawat mendarat, udaranya sudah lain, kotanya lain, dan aku tahu yang mana sebelum melihatnya. Mobil kedua menunggu di landasan. Mobil itu masuk lewat sebuah gerbang yang menutup di belakang kami dengan dentang logam, dan jantungku nyaris berhenti ketika kukenali tempat itu. Gerbang itu. Taman yang tak pernah diinjak itu. Rumah putih tinggi itu.

Pondok Indah.

Dia membawaku kembali ke rumah yang kujanjikan tak akan kuinjak lagi. Dan satu-satunya orang di dunia yang memegang kunci tempat itu, satu-satunya yang punya alasan menyeretku kembali dengan paksa, sedang menungguku di dalam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!