• Alesya Violetta Monica
atau yang lebih akrab dipanggil (Eca) sebenarnya gadis yang cerdas, manis, dan punya kepribadian yang asyik. Namun, karena trauma menjadi korban perundungan (bullying) akibat penampilannya yang terlalu mencolok di sekolah lamanya, ia pindah ke SMA Taruna Bangsa dengan misi baru: menjadi gadis cupu yang tidak kasat mata agar bisa lulus sekolah dengan damai.
• Angkasa Argantara Mahendra (ANGKASA)
Sesuai namanya, Angkasa adalah penguasa tertinggi di hierarki SMA Taruna Bangsa. Selain karena wajahnya yang tampan di atas rata-rata, keluarganya adalah donatur terbesar sekaligus pemilik yayasan sekolah. Di balik sifatnya yang ketus, dingin, dan tidak tersentuh, Angkasa adalah tipe cowok yang sangat perfeksionis dan benci jika rutinitasnya diusik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nalana lalasya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: Selamat Datang di Ruang Iblis
Menyusuri koridor SMA Taruna Bangsa setelah insiden es kopi susu tadi rasanya kayak lagi jalan di atas karpet duri yang panas. Sepanjang jalan menuju ruang OSIS, tatapan mata murid-murid nggak lepas dari Eca. Ada yang terang-terangan menertawakannya, ada yang menatap kasihan seolah Eca adalah domba yang tinggal menunggu waktu untuk disembelih, dan ada juga yang sibuk berbisik-bisik menceritakan gosip panas pagi ini.
Eca menarik napas dalam-dalam, berusaha mengabaikan semua pasang mata itu. Tangannya yang mengepal di dalam saku rok seragam perlahan mengendur. Tenang, Ca. Cuma masalah sepatu kotor. Cuci, selesai, lalu balik jadi anak cupu lagi, batin Eca menyemangati diri sendiri. Tapi masalahnya, tas ransel bututnya disita! Di dalam tas itu ada ponsel dan dompetnya. Mau nggak mau, Eca harus mendatangi sarang sang iblis sendirian tanpa persiapan apa pun.
Di depan pintu kayu jati bertuliskan "RUANG OSIS & MAJELIS PERWAKILAN KELAS", Eca sempat berhenti. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat, menciptakan sensasi ngilu di dadanya. Setelah meyakinkan diri bahwa dia tidak akan pingsan atau menangis di dalam, Eca mengetuk pintu tiga kali lalu perlahan mendorongnya terbuka.
Pemandangan di dalam ruangan itu langsung membuat Eca menelan ludah dengan susah payah. Ruangan itu luas, dingin karena AC yang disetel maksimal, dan aromanya wangi kopi mahal yang sangat pekat. Di sudut ruangan, tas ransel abu-abu milik Eca tergeletak mengenaskan di atas lantai, tepat di sebelah tempat sampah plastik. Sementara itu, di atas sofa kulit hitam yang empuk, Angkasa Argantara Mahendra sedang duduk menyandarkan punggungnya dengan angkuh. Satu kakinya diangkat, ditumpangkan ke kaki yang lain, memamerkan kaus kaki putihnya yang kini ketempelan noda cokelat pekat mengering. Sepatu edisi terbatasnya yang kotor diletakkan begitu saja di atas meja kaca di depannya.
Dua sahabat Angkasa, Arkan dan Bara, sedang duduk di meja kerja sambil terkekeh pelan melihat kedatangan Eca.
"Wah, asisten pribadi lo udah datang, Ngga," celetuk Bara sambil melempar pulpen yang sedang dimainkannya ke meja.
Angkasa tidak langsung menjawab. Cowok itu perlahan mengalihkan pandangannya dari layar ponsel pintar di tangannya, lalu menatap Eca yang berdiri kaku di dekat pintu. Tatapan mata elangnya masih sedingin tadi pagi, membuat atmosfer di dalam ruangan itu terasa makin mencekam.
"Lama banget lo. Tiga belas menit dua puluh detik," ucap Angkasa dingin sambil melirik jam tangan hitam mewah yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. "Gue benci orang yang nggak menghargai waktu."
Eca mengepalkan tangannya di balik punggung. Tiga belas menit? Tadi kan dia sendiri yang nyuruh gue ke sini sebelum bel istirahat pertama? Ini bahkan bel masuk kelas aja belum bunyi! protes Eca dalam hati. Namun, demi kelangsungan hidupnya yang damai, Eca memilih untuk menekan egonya dalam-dalam. Dia memasang wajah sepasrah mungkin di balik kacamata tebalnya.
"Maaf... tadi koridornya ramai, jadi aku agak susah jalan ke sini," jawab Eca dengan suara yang sengaja dibuat cicit dan bergetar, akting jadi cewek cupu yang ketakutan.
Angkasa mendengus hambar. Dia menegakkan posisi duduknya, lalu menunjuk sepatu mahal di atas meja kaca dengan dagunya. "Nggak usah banyak alasan. Di pojok sana ada kamar mandi khusus. Di dalamnya ada sikat gigi bekas, sabun cair, sama lap. Lo tahu kan apa yang harus lo lakuin sekarang?"
Eca melirik sepatu itu, lalu melirik wajah Angkasa yang sama sekali tidak punya rasa bersalah. "Itu... sepatunya harus aku cuci di dalam kamar mandi sekarang?"
"Menurut lo? Mau lo bawa pulang terus lo mintain tolong sama emak lo?" sahut Angkasa ketus, sukses membuat Arkan dan Bara tertawa terbahak-bahak di sudut ruangan.
Mendengar kata 'emak lo', dada Eca berdesir tajam. Ada kilatan amarah yang hampir saja meledak di matanya. Di sekolah lamanya, Eca paling tidak suka jika ada orang yang membawa-bawa orang tua dalam ejekan. Dia menarik napas panjang, menatap tajam ke arah Angkasa selama dua detik, sebelum akhirnya kembali menundukkan kepala untuk menyembunyikan emosinya.
"Baik, aku bersihin sekarang," kata Eca pendek.
Eca berjalan melewati sofa, mengambil sepatu kotor Angkasa dari atas meja kaca dengan ujung jarinya, lalu melangkah menuju kamar mandi yang ditunjuk tadi. Saat melewati sofa, dia sempat melirik tas ranselnya yang tergeletak di lantai dekat tempat sampah.
"Jangan coba-coba sentuh tas lo sebelum kerjaan lo becus," tegur Angkasa tajam, seolah-olah bisa membaca isi pikiran Eca.
Eca tidak menyahut. Dia langsung masuk ke dalam kamar mandi kecil itu dan menutup pintunya rapat-rapat. Begitu pintu terkunci, Eca langsung menyandarkan punggungnya ke pintu sambil mengembuskan napas kasar. "Sialan banget itu cowok! Ganteng sih ganteng, tapi kelakuannya minus mirip dajjal!" umpat Eca pelan dengan suara tertahan.
Eca menyalakan keran wastafel, mengambil sikat gigi bekas dan sabun yang ada di rak kecil, lalu mulai menyikat noda kopi di sepatu putih itu. Tangannya menyikat dengan penuh penekanan, seolah-olah dia sedang menyikat wajah menyebalkan Angkasa. Butuh waktu sekitar sepuluh menit sampai sepatu itu kembali putih bersih tanpa noda sedikit pun. Setelah dikeringkan dengan lap bersih, Eca membawa sepatu itu keluar dengan perasaan sedikit lega.
Klik.
Pintu kamar mandi terbuka. Eca melangkah keluar sambil membawa sepasang sepatu yang sudah bersih mengkilap. Namun, pemandangan di ruang OSIS sudah berubah. Arkan dan Bara sudah tidak ada di sana, menyisakan Angkasa sendirian yang kini sedang berdiri di dekat jendela besar yang menghadap langsung ke lapangan sekolah. Seragam cowok itu sudah rapi dikancingkan, membuatnya terlihat sangat berwibawa kalau saja sifatnya tidak menyebalkan.
"Ini... sepatunya udah bersih," ucap Eca sambil meletakkan sepatu itu kembali ke atas meja kaca dengan hati-hati.
Angkasa berbalik, berjalan lambat mendekati meja, lalu memeriksa setiap sudut sepatunya dengan sangat teliti. Eca menahan napas, khawatir cowok perfeksionis ini bakal mencari-cari kesalahan lagi. Setelah memastikan tidak ada setitik pun noda cokelat yang tersisa, Angkasa akhirnya mengangguk pelan, walau wajahnya masih tetap datar tanpa ekspresi terima kasih.
"Lumayan. Ternyata tangan lo ada gunanya juga selain buat numpahin kopi," ujar Angkasa dingin. Dia mengambil sepatunya, lalu duduk di sofa untuk memakainya kembali.
Eca menarik napas lega. "Kalau gitu... boleh aku ambil tas aku sekarang? Aku harus masuk kelas karena bentar lagi bel," tanya Eca sambil menunjuk tas ransel abu-abunya yang masih tergeletak di lantai.
Angkasa yang sedang mengikat tali sepatunya mendongak. Sudut bibirnya terangkat, membentuk sebuah senyuman tipis yang justru kelihatan sangat licik di mata Eca. "Ambil aja. Siapa yang ngelarang?"
Eca langsung berjalan cepat menuju sudut ruangan. Dia membungkuk, mengambil tas ranselnya yang agak berdebu karena diletakkan di lantai. Namun, baru saja Eca hendak menggendong tasnya dan membalikkan badan menuju pintu keluar, suara berat Angkasa kembali menghentikan langkahnya.
"Tapi aturan mainnya belum selesai, Alesya."
Langkah kaki Eca mendadak terkunci. Jantungnya mencelos. Dia perlahan membalikkan tubuhnya, menatap Angkasa yang kini sudah berdiri tegak dengan sepatu putihnya yang bersih sempurna.
Tunggu... dia manggil nama asli gue? batin Eca panik. Perasaan Eca tadi pagi saat insiden kopi, dia cuma bilang 'aku nggak sengaja', dan belum sempat memperkenalkan nama sama sekali. Dari mana cowok itu tahu nama lengkapnya?
Melihat ekspresi panik di wajah Eca, senyum licik di bibir Angkasa semakin melebar. Cowok itu berjalan mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Eca bisa mencium aroma parfum maskulin yang kuat dari tubuh Angkasa. Angkasa mengangkat sebuah benda persegi panjang tipis berwarna hitam ke udara.
Itu adalah kartu pelajar lama Eca dari sekolah asalnya! Kartu pelajar yang tertera foto aslinya yang manis tanpa kacamata bulat tebal, tanpa rambut kuncir dua yang cupu, dan tertulis jelas nama: Alesya Violetta Monica.
Eca meraba saku kecil di depan tas ranselnya yang ternyata resletingnya sudah agak terbuka. Sialan! Kartu itu pasti terjatuh atau sengaja diambil saat Arkan menyita tasnya tadi. Penyamarannya yang sudah disusun rapi berbulan-bulan hancur lebur dalam waktu kurang dari satu jam di sekolah baru!
"Alesya Violetta Monica... murid pindahan dari SMA Wijaya," ucap Angkasa pelan, membaca tulisan di kartu pelajar itu dengan nada mengejek. Mata elangnya menatap lekat-lekat ke arah kacamata tebal Eca, seolah-olah sedang menelanjangi semua kebohongan yang ditutupi cewek itu. "Foto di kartu ini cantik banget. Beda jauh sama cewek cupu bin aneh yang sekarang lagi berdiri di depan gue."
Keringat dingin Eca mengucur makin deras. Rahasianya berada di tangan orang paling berbahaya di sekolah ini.
"Maksud lo apa dandan kayak gini di sekolah gue, hah? Lo lagi pelarian? Atau lo mata-mata?" tuduh Angkasa dengan suara yang rendah namun sangat mengintimidasi.
Eca menelan ludah dengan susah payah. Pikirannya berputar cepat mencari alasan ilmiah. "Itu... itu cuma foto lama. Aku sekarang emang penampilannya kayak begini karena mata aku silinder dan minusnya nambah!" bela Eca, berusaha mati-matian mempertahankan sisa-sisa kebohongannya.
Angkasa maju satu langkah lagi, membuat Eca terpaksa mundur hingga punggungnya membentur dinding dingin ruang OSIS. Angkasa meletakkan satu tangannya di dinding tepat di sebelah kepala Eca, mengunci pergerakan cewek itu. Wajah mereka kini hanya berjarak beberapa sentimeter. Eca bahkan bisa merasakan hembusan napas Angkasa di keningnya.
"Gue nggak peduli apa alasan busuk lo dandan cupu begini," bisik Angkasa tepat di depan wajah Eca, matanya berkilat penuh kemenangan. "Tapi karena kartu ini ada di tangan gue, artinya hidup lo sekarang ada di genggaman gue. Kalau lo nggak mau foto asli dan rahasia lo ini tersebar di mading sekolah besok pagi..." Angkasa menggantung kalimatnya, menikmati kepanikan yang terpancar jelas dari bola mata Eca.
"Apa mau kamu?" tanya Eca akhirnya, menyerah dan membuang format bahasa 'aku-kamu' yang lugu, beralih ke nada ketus aslinya.
Angkasa tersenyum puas mendengarnya. Dia menarik kembali tangannya dari dinding, lalu memasukkan kartu pelajar Eca ke dalam saku celana seragamnya sendiri dengan gerakan lambat yang sengaja dipamerkan.
"Simpel. Mulai detik ini sampai tiga bulan ke depan, lo adalah asisten pribadi gue yang sesungguhnya. Lo harus turutin semua perintah gue tanpa bantahan. Bawain tas gue, beliin gue makan siang, dan kerjain ringkasan materi gue. Kalau lo patuh, rahasia lo aman. Tapi kalau lo berani membangkang atau telat semenit aja..." Angkasa mengetukkan jari telunjuknya ke saku celananya tempat kartu pelajar itu disimpan. "...lo tahu sendiri akibatnya."
TENG! TENG! TENG!
Bel tanda masuk kelas pertama berbunyi nyaring ke seluruh penjuru sekolah, memecah ketegangan ekstrem di dalam ruangan itu.
Angkasa berjalan santai menuju pintu keluar ruang OSIS. Sebelum membuka pintu, dia menoleh sekilas ke arah Eca yang masih berdiri mematung menahan amarah di dekat dinding.
"Tugas pertama lo sebagai asisten resmi: masuk ke kelas lo, dan pastikan nanti pas jam istirahat, segelas Americano dingin sudah ada di meja gue. Jangan telat, Alesya."
Angkasa melangkah keluar sambil menutup pintu dengan suara klik yang pelan namun terdengar seperti vonis penjara di telinga Eca. Eca menghentakkan kakinya ke lantai dengan kesal, mukanya memerah padam karena menahan dongkol yang luar biasa. Harapan untuk hidup tenang sebagai murid cupu yang damai resmi musnah sudah, digantikan oleh hari-hari penuh siksaan bersama sang penguasa sekolah yang super menyebalkan.