Rasa percaya diri Refisha benar-benar hilang karena di usianya yang sudah memasuki 29 tahun, orang tuanya berkali-kali menjodohkan, tetapi banyak kendala pria menikahinya dan termasuk banyak orang tua pria yang tidak setuju menikah dengan.
Refisha juga selalu bertentangan dengan adiknya yang sudah berusia 24 tahun dan ingin secepatnya menikah. Banyak sekali permasalahan percintaan dalam hidupnya yang tidak sesuai dengan karirnya dalam dunia pekerjaan.
Sampai seketika orang tuanya kembali menjodohkannya dengan seorang Ustadz, Refisha tidak pernah menolak apapun yang dilakukan orang tuanya, dia setuju, tetapi bukannya kebahagiaan yang didapatkan justru penghinaan dari pria yang memahami permasalahan agama itu membuat kepercayaan dirinya semakin hilang.
Lalu siapa sangka Ustadz pemuka agama itu menolaknya, satu pria pria yang dia temui tidak sengaja dengan usianya yang lebih muda, justru ingin melamarnya, mengejarnya dengan cara ugal-ugalan.
Mari mengikuti ceritanya.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18 Malam Romantis
Dengan berpenampilan cantik dan anggun menggunakan blouse yang dipadukan dengan rok. Refisha menerima undangan dari suaminya itu yang datang ke salah satu Resort.
Kepala Refisha berkeliling melihat di sekitarnya, tempat itu tampak sepi dengan lokasi yang tidak jauh dari pantai dengan udara yang terasa begitu segar.
"Refisha!" Refisha membalikkan tubuh ketika mendengar suara menegurnya.
Ezra tersenyum begitu tampan menggunakan setelan jas berwarna hitam.
"Ayo masuk!" ajak Ezra dengan mengarahkan kepalanya ke dalam.
Refisha menganggukkan kepala, menuruti permintaan suaminya itu, Ezra mengulurkan tangannya agar digandeng. Refisha mengikuti melakukan hal yang sama.
Kedua pasangan pengantin baru itu berjalan memasuki Resort yang tampak begitu indah dengan lampu-lampu dan campuran bunga yang indah.
Dari kejauhan Refisha sudah melihat terdapat bangku berwarna putih di sana saling berhadapan dengan meja bulat di tengah. Ezra ternyata mengajak sang istri menuju bangku tersebut yang menarik kursi dan mempersilahkan Refisha untuk duduk.
Di atas meja bertaplak merah tua itu masih terlihat polos yang hanya terdapat bunga indah yang berada di dalam tas, tetapi setelah itu tampak dua pelayan wanita yang datang mengantarkan makanan.
Setelah kedua pelayan itu menghidangkan makanan tersebut dan kemudian mereka langsung pergi.
"Kamu menyiapkan semua ini?" tanya Refisha.
"Benar! ini makan malam romantis untuk kita berdua, makanan ini adalah makanan kesukaan kamu," jawab Ezra.
"Dari mana kamu tahu?" tanya Refisha.
"Sudah pasti dari banyak sumber dan itu bukan hal yang sulit untukku mengetahuinya," jawab Ezra.
"Refisha aku bukan hanya menyiapkan makan malam untuk kita berdua, tetapi di sana juga merupakan tempat yang akan menjadi kenangan untuk kita!" Ezra melihat ke arah lain yang membuat Refisha menoleh dan yang dimaksud Ezra tampak sebuah kamar berdinding kaca.
"Kita akan melanjutkan aktivitas kita setelah menyelesaikan makanan ini," ucap Ezra dengan tersenyum miring penuh arti membuat Refisha ngeri-ngeri sedap dengan rencana suaminya.
"Jangan terlalu tegang Refisha, aku tidak akan menerkam kamu begitu saja, aku tidak akan egois, ayo kita langsung makan!" ucap Ezra.
Ezra memang paling pintar membuat jantung berdebar kencang, kata-katanya penuh arti dan menakutkan, layaknya monster lapar penuh agresif yang sudah tidak sabaran.
Refisha berusaha untuk santai karena sebelumnya dia juga setuju untuk melanjutkan tugasnya sebagai seorang istri dan memang dia harus melakukan itu karena merupakan kewajibannya.
Ezra terlebih dahulu memberikan makan kepada istrinya dan setelah itu mungkin dia akan melanjutkan untuk memakan istrinya, Ezra selalu memiliki seribu akal yang unik.
Refisha makan dengan santai, tetapi Ezra terus saja memperhatikan sang istri, mungkin melihat kecantikan Refisha yang tidak dimiliki oleh wanita lain karena keanggunan dan kelembutannya.
"Kenapa harus memperhatikan saya seperti itu?" tanya Refisha dengan malu.
"Apa sebuah dosa ketika memperhatikan istrinya?" Ezra menimpali pertanyaan itu.
"Saya bertanya dan seharusnya ditanya bukan balik bertanya," sahut Refisha.
"Kamu cantik Refisha dan karena itu saya terus memperhatikan kamu," jawab Ezra dengan jujur.
Refisha semakin gugup dengan kesulitan menelan ludah, tetapi lagi-lagi dia benar-benar pintar menyembunyikan kegugupannya dengan wajahnya yang tenang dan melanjutkan makannya.
Ezra sejak tadi senyum-senyum sendiri, entahlah apa yang saat ini dia pikirkan, mungkin saja dia sudah tidak sabar ingin memiliki Refisha seutuhnya.
*******
Setelah melewati makan malam romantis dengan cerita sedikit-sedikit dari pasangan pengantin baru itu. Sekarang Ezra berada di dalam kamar yang sudah dia pesan. Bukan kamar biasa, layaknya seperti kamar pengantin baru, di atas tempat tidur ber seprei putih itu dipenuhi dengan kelopak mawar bahkan dibentuk dengan love.
Di sudut-sudut kamar juga terlihat meja yang dikelilingi lilin-lilin indah sebagai penerang dalam kamar itu, belum lagi aroma romantis yang begitu khas di dalam kamar itu.
Ezra duduk di salah satu sofa yang ada di sana. Ezra menghilangkan kejenuhannya dengan bermain ponsel, sebenarnya jantungnya berdebar, tetapi lagi-lagi dia lebih pintar menyembunyikan ketegangannya.
"Astaga Ezra, kau seperti tidak pernah pacaran saja, masa iya jantungmu berdebar tidak jelas seperti ini," ucapnya berusaha untuk mengendalikan dirinya.
"Ezra!"
Deg
Gemuruh jantung Ezra semakin berdebar kencang saat suara begitu lembut dan manis itu terdengar. Perlahan Ezra mengangkat kepalanya.
Kedua bola mata itu enggan berkedip ketika melihat sang istri sudah berdiri di depannya, bukan Refisha yang biasa, Refisha saat ini tampil begitu cantik menggunakan piyama berwarna merah dengan panjang di atas mata kakinya lengan panjang dan berbahan satin.
Kali ini Refisha tidak menggunakan hijabnya, terlihat rambut panjangnya digerai dan untuk Ezra melihat istrinya seperti itu karena selama mereka Refisha masih malu-malu dan masih memakai hijab saat tidur meski satu tempat tidur dengan Ezra.
Ezra benar-benar mematung dengan kesulitan menelan ludah, bagaimana tidak sungguh Refisha begitu sangat cantik, belum lagi angin sepoi-sepoi yang masuk dari celah-celah jendela dengan gorden menari-nari membuat Refisha ikut menari-nari sehingga memperlihatkan kulit putih mulus bagian lehernya.
"Hmmmm, maaf sudah membuat kamu menunggu lama," ucapnya.
Ezra terlihat mengatur nafas, berusaha untuk tenang dengan berdiri dari tempat duduknya, melangkah mendekati Refisha yang terlihat Tetap santai.
"Refisha!"
Suara berat Ezra terdengar tepat di telinga Refisha membuat jantungnya berdebar kencang dan bahkan mengalihkan pandangan yang tidak berani menatap Ezra.
Ezra memegang dagu lancip Refisha, mengangkatnya dan mensejajarkan wajah mereka.
"Kenapa harus malu?" tanyanya.
"Aku tidak pernah melepaskan hijab ku di depan laki-laki dan ini baru pertama kali," jawabnya
"Tetapi saya sudah menjadi suami kamu dan itu halal," ucap Ezra berbicara begitu lembut dan bahkan wajahnya semakin didekatkan sehingga nafasnya menerpa wajah Refisha.
Jemari Ezra mulai bergerak mengusap lembut anak rambut Refisha yang meletakkan di balik daun telinganya, jari-jari itu menyentuh kulit bagian Refisha yang membuatnya kesulitan menelan ludah.
Ezra mendekatkan wajahnya tepat pada Refisha.
"Kamu cantik Refisha!" pujinya berbisik membuat bulu kuduk Refisha berdiri, dengan pipinya merona indah.
Ezra kembali menatap sang istri.
"Sebelum kita melakukannya, saya ingin bertanya sekali lagi kepada kamu, apa kamu sudah siap untuk melanjutkan hubungan ini?" tanyanya benar-benar meminta izin dan tidak ingin memaksa istrinya.
"Insyaallah saya siap menjalankan kewajiban saya sebagai istri," jawab Refisha tanpa ragu sama sekali membuat Ezra tersenyum tipis.
Perlahan wajahnya mendekatkan diri pada Refisha dengan tangannya mengusap kedua lengan Refisha dan kemudian mencium lembut kening Refisha.
Refisha perlahan memejamkan mata, merasa kehangatan yang tidak perlu dijelaskan. Pandangan mata Ezra kemudian turun pada bibir ranum milik Refisha dan langsung memberi kecupan lembut di sana Refisha meminjamkan mata tanpa menolak sama sekali.
Ciuman itu bukan hanya sekadar ciuman saja dan kemudian kembali mencium meraih bibir sang istri, kali ini ciumannya lebih dalam, ciuman yang sangat menuntun.
Refisha pasrah, tidak ada yang bisa dia katakan, tidak menolak dan sesuai dengan apa yang dia katakan kepada suaminya bahwa dia benar-benar ikhlas, tangannya meremas lengan Ezra, merasakan sensasi pada ciuman bibir dari suaminya itu.
Ciuman yang benar-benar sangat menuntun dan bukan hanya pada bibirnya, ceruk lehernya juga disentuh dengan memberi tanda kepemilikan di sana.
Refisha menjalankan semua tugasnya sebagai seorang istri benar-benar dia iklas akan kehormatannya diserahkan pada suaminya.
Bersambung.....