Terbuang saat bayi dan nyaris tewas di Hutan Terlarang, Hu Jin tumbuh tanpa mengetahui identitas aslinya sebagai Putra Mahkota Kerajaan Timur.
Ditolak oleh dunia dan diasuh oleh Dewi Es dari Sekte Teratai, Hu Jin bangkit membuktikan dirinya melalui Tulang Kaisar Langit—bakat mitologi yang mengguncang semesta. Namun, alih-alih menjadi alat politik sekte, ia memilih pergi menantang alam liar demi membebaskan gurunya dan merebut kembali takdir yang dirampas!
Mampukah pangeran yang terbuang ini menaklukkan benua dan kembali sebagai Dewa Pedang Es Kuno?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ambang Pertempuran Delapan Besar
Matahari sore mulai condong ke ufuk barat, menumpahkan warna merah tembaga yang megah di atas kawah raksasa Arena Utama Kota Teratai Hitam.
Setelah jeda istirahat dua jam selesai, atmosfer pertarungan tidak mengendor sedikit pun. Justru sebaliknya, ketegangan di udara terasa sepuluh kali lipat lebih membakar. Babak gugur berjalan dengan sangat cepat dan mematikan. Dari seratus peserta pilihan yang tersisa di babak penyisihan, satu per satu kultivator bertumbangan, menyisakan deretan nama paling mengerikan yang siap memasuki Babak Delapan Besar.
Di atas panggung pertarungan, Hu Jin melangkah turun dengan tenang. Jubah abu-abu sederhananya tetap bersih, dan Pedang Hitam Kuno di punggungnya bahkan belum pernah tercabut sekalipun dari sarungnya.
Di babak sebelumnya, dua murid jenius dari klan-klan terkemuka mencoba menghentikan langkah sang pangeran terbuang. Namun, hasil yang mereka dapatkan persis sama dengan korban pertamanya—lumpuh terhempas dari panggung hanya dengan satu kibasan lengan atau sentakan kaki berbalut gelombang es abadi milik Hu Jin.
Pengunjung di tribun penonton tidak lagi bersorak ragu. Setiap kali nama samaran "Pangeran Es" dipanggil oleh wasit, gemuruh teriakan ratusan ribu warga sipil dan kultivator bebas membumbung tinggi, menggetarkan pilar-pilar batu arena. Sosok pemuda bertopi jerami itu secara resmi telah menjelma menjadi kuda hitam paling menakutkan yang pernah ada dalam sejarah Ujian Tiga Sekte Besar.
Di area istirahat khusus para kontestan unggulan—sebuah paviliun batu tertutup yang menghadap langsung ke arena utama—suasana terasa teramat mencekam.
Di tempat ini, delapan peserta terbaik yang berhasil menembus babak perempat final berkumpul. Tidak ada lagi gelak tawa atau obrolan santai. Tekanan Qi dari delapan pemuda terkuat di Benua Timur saling berbenturan halus di udara, menciptakan getaran yang sanggup membuat kultivator biasa sesak napas.
Di sudut kanan paviliun, murid-murid senior Sekte Pedang Langit berkumpul melingkari gacoan utama mereka—Lu Tian, pemuda pemegang Tubuh Pedang Sembilan Nirwana.
Lu Tian duduk bersila di atas bantalan sutra merah. Tubuhnya tegap, mengenakan zirah perak berukir naga, dan sebuah pedang berharga tingkat spiritual mendekap di pangkuannya. Dari celah pori-pori kulitnya, memancar ketajaman aura pedang yang begitu pekat, menandakan pencapaiannya yang telah menginjak Ranah Inti Jiwa Tahap Awal (Early-Stage Soul Core).
Seorang tetua pembimbing dari Sekte Pedang Langit melangkah mendekati Lu Tian, merendahkan suaranya dengan raut wajah sangat serius.
"Lu Tian," bisik sang tetua, matanya melirik tajam ke arah sudut ruangan tempat Hu Jin berdiri. "Jangan sekali-kali kau meremehkan bocah bertopi jerami itu."
Lu Tian membuka matanya perlahan. Pupil matanya berkilat bagaikan dua bilah pedang telanjang. Walau bibirnya mengukir senyuman tipis yang sarat akan keangkuhan khas murid sekte raksasa, ada kilatan kewaspadaan yang sangat dalam di balik sorot matanya.
"Aku melihat seluruh pertandingannya dari awal, Tetua," jawab Lu Tian dengan suara berat dan dingin. "Dia melumpuhkan Zhao Kuo dan anak-anak klan lain tanpa mencabut senjata. Kontrol energinya terlalu bersih untuk seorang kultivator bebas biasa."
"Benar," puji tetua itu mengangguk tegas. "Meskipun kita memegang keunggulan Tubuh Pedang Sembilan Nirwana dan nama besar sekte, keberadaan kuda hitam ini terbukti sangat berbahaya. Para tetua di tribun VIP meminta seluruh murid untuk ekstra hati-hati. Jika kau berhadapan dengannya di Delapan Besar, langsung keluarkan bentuk pedang terkuatmu sejak detik pertama! Jangan beri dia ruang untuk melancarkan serangan es misteriusnya!"
Lu Tian mengepalkan tangannya di atas gagang pedang, mengangguk mantap. "Serahkan padaku, Tetua. Di hadapan Seni Pedang Nirwana, semua trik es murahan akan kuhancurkan menjadi debu!"
Di sudut paviliun lainnya, pemandangan serupa terjadi di rombongan Sekte Awan.
Para perwakilan dan murid pengawal berdiri melingkari Su Qing'er. Gadis jelita itu tampak begitu tenang dalam balutan jubah putih-keemasan. Namun, mata indahnya tak pernah lepas dari sosok Hu Jin yang sedang bersandar santai di pilar kayu paviliun sambil memilin tangkai rumput liar di bibirnya.
Seorang bibi pelindung dari Sekte Awan berbisik halus di samping Su Qing'er. "Nona Qing'er, Pemuda 'Pangeran Es' itu... aliran energinya sungguh tidak bisa ditakar. Bahkan setelah menumbangkan tiga lawan di babak gugur, kedalaman Dantian-nya tetap tak tertebak oleh indra spiritualku. Kau harus berhati-hati jika diundi melawannya."
Su Qing'er mengukir senyuman tipis yang teramat anggun, mengingat kembali percakapan mereka di atas Jembatan Pelangi Kuno beberapa malam lalu.
"Bibi tidak perlu khawatir," sahut Su Qing'er halus, suaranya seperti bisikan angin malam. "Sejak awal aku tahu dia bukan orang sembarangan. Sifatnya yang rendah hati di luar panggung hanyalah topeng dari kekuatan raksasa yang ia sembunyikan. Bertarung dengannya di arena nanti... justru akan menjadi pembuktian terbaik bagi Meridian Cahaya Kuno milikku."
Meskipun para jenius dari sekte-sekte raksasa itu terlahir dengan keangkuhan dan kebanggaan atas bakat tiada tanding mereka, kemenangan demi kemenangan efisien yang ditunjukkan Hu Jin telah memaksa mereka untuk membuang rasa meremehkan. Kuda hitam bertopi jerami itu kini resmi diakui sebagai ancaman terbesar yang siap merebut mahkota juara!
BUMMMMMMM
Sebuah dentuman meriam sihir raksasa bergema menghentak bumi, disusul oleh sorak-sorai setengah juta penonton yang mengguncang seluruh Kota Teratai Hitam!
Lampu-lampu kristal sihir berukuran raksasa di sekeliling kawah arena menyala serentak, menerangi Panggung Utama yang kini telah disatukan menjadi satu arena batu pualam melingkar berdiameter tiga ratus meter.
Pemimpin Kota Teratai Hitam berdiri di barisan terdepan Tribun VIP, mengangkat tangannya ke angkasa. Suaranya yang membahana melintasi batas-batas dinding batu, bergema lurus ke dalam jiwa setiap orang yang hadir.
"Selamat kepada delapan pendekar muda terbaik Benua Timur yang telah berhasil mengukirkan namanya di babak perempat final!" seru Pemimpin Kota penuh keagungan. "Di panggung ini, tidak ada lagi perbedaan antara murid sekte besar maupun kultivator bebas! Hanya kekuatan mutlak, tekad baja, dan ketajaman pedang yang akan menentukan siapa penguasa sejati generasi ini!"
Seorang petugas arena melangkah ke tengah lapangan, membawa sebuah bejana perunggu berisi delapan pelat ukiran kayu untuk pengundian bagan resmi Babak Delapan Besar.
Di sudut paviliun, Hu Jin melepaskan tangkai rumput di bibirnya, lalu memiringkan topi jeraminya perlahan. Matanya yang jernih memancarkan kilatan keemasan Tulang Kaisar yang membakar tipis di dalam pupilnya.
Di atas Tribun VIP, Qian Renxue menatap lurus ke arah muridnya dengan jemari yang bertaut anggun di pangkuan. Ia tahu, masa-masa menyembunyikan kekuatan telah berakhir.
Panggung Delapan Besar telah membentang. Tirai pertempuran sejati antara sang pangeran terbuang melawan seluruh jenius terbaik Benua Timur baru saja secara resmi dibuka!