Demi menyelamatkan nyawa ibunya, Vivian Ward terpaksa menerima lamaran pria paling berbahaya di Los Angeles: pemilik kasino yang haus kuasa dan tak pernah mendengar kata "tidak".
Di hari pernikahan yang seharusnya menjadi akhir hidupnya, seorang pria berjas putih menerobos masuk dengan pistol berlapis emas. Dominic Blackwood, Don mafia Jerman yang namanya saja cukup membuat para bajingan berlutut. Tawarannya sederhana: menikah dengannya selama setahun. Tanpa sentuhan, kecuali Vivian sendiri yang menginginkannya.
Tapi sang Don punya rahasianya sendiri: seorang keponakan mungil yang tak pernah bicara, nenek cerewet yang suka ikut campur, keluarga mafia yang penuh bayang-bayang, dan musuh lama yang mengincar segala yang ia lindungi.
Kontrak setahun. Pernikahan tanpa cinta. Namun semakin lama Vivian tinggal di mansion itu, semakin sulit ia menyangkal bahwa pria yang ditakuti seluruh dunia hanya bisa selembut itu padanya.
Akankah kesepakatan di atas kertas berubah menjadi cinta sungguhan, atau justru menjadi kelemahan paling mematikan sang Don?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terungkap
"Apa pun bentuk pernikahan cucuku denganmu, kau istrinya, Nak. Selembar kertas bukan yang menentukan batasnya." Hilda mengedipkan sebelah mata, dan rona merah naik dari pipi sampai ke telinga Vivian.
"Cucuku bisa sangat kasar. Tapi dia tak mungkin mengangkat tangan pada perempuan. Lagi pula dia tampan sekali, bukan begitu?"
Vivian kembali berubah warna, membuat Hilda tertawa. Mungkin gadis ini bisa meruntuhkan tembok cucunya.
"Sudah, pergilah, anak itu menunggumu. Dominic bilang Vicky sangat menyukaimu, dan katanya kalian akan menjenguk ibumu."
"Terima kasih untuk semuanya, Nyonya." Vivian menundukkan kepala. "Saya akan menemui Vicky."
Hilda mengangguk, lalu berbalik pergi.
Dominic masuk ke ruang bermain dan mendapati Vivian sedang bermain dengan Vicky. Ia duduk memperhatikan mereka beberapa saat, sebelum Vivian mendekat dan meninggalkan si kecil bermain tanpa lepas dari pengawasan.
"Sudah berapa lama Vicky tidak bicara?" tanyanya sambil terus memandang gadis kecil itu.
"Sejak bayi, atau setidaknya itulah dugaan kami."
"Anda tidak tahu itu tentang putri Anda sendiri?" Ia memandangnya bingung.
Dominic mengulum senyum. Ia baru ingat mereka belum pernah bicara untuk saling mengenal, dan ia belum menceritakan apa pun tentang si kecil.
"Mungkin karena dia bukan putriku." Ia mengamati ekspresi Vivian. "Dan kau tak perlu memanggilku seformal itu. Kita suami istri, wajarnya kau memanggilku dengan namaku. Dominic, itu namaku.
"Vicky keponakanku, putri kakak sulungku. Dia dan istrinya tewas dalam sebuah serangan, dan putri kecil mereka diserahkan padaku untuk kuasuh."
"Aku belajar mengganti popok di antara peluru dan musuh."
"Saya tidak tahu. Mohon maaf."
Vivian tak ingin bertanya lagi. Itu sudah terlalu jauh.
"Lalu apa kata dokter-dokter spesialis?"
"Pita suaranya utuh semuanya," ujarnya, lalu mendesah. "Kata mereka, kalau dia sudah memutuskan dan siap, dia akan bicara. Dan kami menunggu itu, sudah sangat lama."
"Berat badannya juga kurang untuk usianya. Ahli gizi terbaik pun belum bisa mendiagnosis masalahnya. Dia makan sangat sedikit."
Vivian terus memandanginya, memikirkan cara untuk melakukan sesuatu.
"Dia cantik sekali," ucapnya sambil tersenyum melihat si kecil bermain, berusaha menggapai bola.
Vicky
Vivian tak sadar sang mafioso mengamatinya setiap kali ia berkata atau bertanya sesuatu.
"Akan kuantar kau menemui ibumu," katanya tiba-tiba. "Kita pergi kapan pun kau mau."
Kata-kata itu membuat Vivian berbalik.
"Bisa sekarang?" tanyanya penuh harap.
"Tentu, sudah kubilang."
Vivian bangkit dari kursinya dan menghampiri Vicky. Anak itu tampak sangat bahagia bersamanya. Dominic tak melewatkan hal itu.
"Vicky, aku mau ke rumah sakit. Kau harus bersikap baik pada pengasuhmu, dan nenek juga..."
Ia merasakan gaunnya ditarik. Si kecil berusaha mengatakan sesuatu.
"Kau mau apa, Vicky?"
Dengan segala cara, anak itu berkomunikasi lewat isyarat.
"Kau mau ikut denganku ke rumah sakit?"
Anak itu mengangguk dengan wajah berseri.
Dominic terkejut. Baru beberapa jam bersamanya dan anak itu sudah tak mau berpisah dari Vivian. Vicky tak pernah ekspresif pada siapa pun. Ia selalu memilih mengurung diri. Dan sekarang ia begitu terpikat pada Vivian.
"Tentu saja kalau kau mau ikut, tidak ada masalah."
Ia menoleh pada Dominic.
"Kita boleh membawanya, kan?"
Dominic hanya menarik sudut bibirnya.
"Dia sendiri yang meminta, aku tak bisa menolak." Ia mengendalikan emosinya, sebab bagi Vicky sangat jarang ingin keluar dari mansion, tetapi si kecil sendiri yang memintanya. Itu kemajuan besar.
Sepanjang perjalanan dari mansion sampai rumah sakit, kegembiraan Vicky tak ada bandingnya. Vivian menyanyikan lagu permainan sambil saling menepukkan telapak tangan.
Mereka bahkan tak sadar sudah sampai sampai sopir memberi tahu.
"Kita sudah sampai," kata sopir.
Saat mengangkat kepala, Vivian heran. Ini bukan rumah sakit tempat ibunya dipindahkan.
"Aku sudah mengurus pemindahannya ke rumah sakit tempat keluargaku berobat, dan menyewa tim spesialis untuk melakukan operasinya."
Dominic membantu kedua nona kecilnya turun dari mobil, tetapi Vicky menggenggam tangan Vivian, membuat Vivian ikut tersenyum.
Dominic menanyakan informasi pada salah satu dokter.
"Beliau sudah sadar. Operasinya berhasil sempurna, tapi harus diobservasi dua minggu."
Meski begitu, Vivian tetap tampak khawatir.
"Di sini pasti mahal sekali," gumamnya dengan tatapan muram.
"Vivian, aku tidak melihat label harga apa pun, dan kau tak perlu lagi memikirkan biaya," ia mengingatkan.
"Terima kasih..." Dalam luapan rasa syukur, Vivian memeluknya, dan sang mafioso mematung.
"Maaf." Ia cepat-cepat melepaskan diri, menyesal. Sementara itu Vicky tampak tersenyum lebar, dan Dominic sempat melihatnya, lalu menyipitkan mata.
Sesampainya di kamar, Zola memang sudah sadar.
"Mama!" Vivian memeluknya hati-hati, air mata mengalir.
"Sayang, jangan menangis." Ibunya membalas dengan senyum lemah, tetapi tatapannya terpaku pada orang-orang di sana.
"Ma, dia..."
"Halo, Nyonya, senang bertemu. Saya suami putri Anda yang cantik," ucap Dominic, membuat Vivian terperanjat. "Dan ini Vicky."
Zola memandang putrinya tak mengerti.
"Apa ada yang belum kauceritakan pada Mama, Vivian?" tanya ibunya.
"Kami sudah berpacaran sebelum Mama sakit. Aku mau bilang, tapi keburu tak ada waktu," bohong Vivian, sebab ia tak tahu harus berkata apa.
"Kau mencintainya?" tanya ibunya sambil memandang matanya lekat-lekat.
"Ya, Ma." Ia harus meyakinkannya.
"Vivian, bisa tinggalkan Mama sebentar dengan suamimu?" pinta ibunya.
Vivian memandang Dominic, tak tahu harus berkata apa.
Tapi pria itu mengangguk, menyetujui.
Sebelum keluar bersama si kecil, Vivian melempar tatapan memohon pada pria itu.
Tetapi Vicky melempar senyum pada Zola, yang luluh dan membalas dengan senyum lembut.
Dominic duduk di sisi ranjang.
"Sebelum dibius, Mama mendengar sebuah percakapan. Mama kenal laki-laki parasit itu. Dia selalu mengejar Vivian-ku. Mama mendengar dia bilang memaksa Vivian menikah dengannya sebagai imbalan membayar operasiku."
"Tapi itu bukan Anda." Ia menatap Dominic dengan memohon. "Katakan yang sebenarnya. Apakah putriku dalam bahaya?"