Arka cowok paling populer di sekolah tapi punya sifat yang dingin dan keras kepala. Laras gadis pendiam yang selalu berusaha tampil biasa saja, tapi entah kenapa selalu berakhir berdebat sama Arka. Awalnya mereka saling tidak suka, selalu berselisih paham di mana pun mereka bertemu. Namun seiring waktu berlalu dan berbagai kejadian menyatukan mereka, rasa benci itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam rindu yang tak terucap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia Cemmzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melangkah Bersama Untuk Masa Depan
Hari wisuda akhirnya tiba. Laras berdiri di atas panggung dengan gaun kebanggaan berwarna keemasan, dan saat namanya dipanggil, matanya langsung mencari sosok yang berdiri di barisan depan. Sandi berdiri di sana sambil tersenyum bangga, matanya berbinar bahagia melihat wanita yang dicintainya berhasil mewujudkan impiannya.
Setelah upacara selesai, mereka berpelukan erat di halaman depan kampus, dikelilingi keluarga dan teman-teman yang ikut merasakan kebahagiaan mereka. Wisuda bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari babak baru yang jauh lebih besar dan bermakna.
Beberapa bulan berlalu. Laras bekerja di sebuah penerbitan buku terkemuka sambil tetap menulis cerita-ceritanya. Sandi membuka galeri foto kecil yang akhirnya ia bangun berkat kerja keras dan tabungannya selama bertahun-tahun. Hidup mereka terasa sibuk namun teratur.
Setiap pagi mereka saling menyemangati sebelum berangkat bekerja, dan setiap malam mereka bercerita tentang hari masing-masing sambil menikmati makan malam sederhana, kadang di rumah Laras, kadang di kedai kecil yang menjadi tempat favorit mereka. Kehidupan yang sederhana namun penuh makna.
Suatu sore di akhir pekan, mereka berjalan ke taman kota yang tenang, tempat yang sering mereka kunjungi sejak masa kuliah. Sandi berhenti di bawah pohon besar yang rindang, lalu menatap Laras dengan tatapan yang sedikit lebih serius dari biasanya.
Dia menggenggam kedua tangan Laras erat sekali, seakan ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting.
"Laras, kita sudah saling menemani selama bertahun-tahun. Gue sudah melihat lu di hari-hari terbaik lu, dan di hari-hari terberat lu juga. Gue tidak ingin menghabiskan sisa hidup gue dengan menebak-nebak apakah lu adalah orang yang tepat untuk gue. Lu bukan sekadar tepat Laras. Lu adalah rumah gue. Di mana pun lu berada, di situ tempat gue merasa pulang. Maukah lu menikah dengan gue? Bukan karena kita harus, tapi karena kita ingin menua bersama, menua sambil terus tumbuh dan belajar satu sama lain. Gue tidak menjanjikan hidup yang selalu mudah dan tanpa masalah. Tapi gue berjanji akan selalu ada di depan pintu menunggu lu pulang, selalu mendukung mimpi lu, dan selalu mencintai lu apa adanya sampai akhir hayat gue."
Laras menatap mata Sandi yang tulus, air mata bahagia menetes di pipinya. Dia tidak butuh waktu lama untuk berpikir. Dia tahu jawabannya sejak lama, dia hanya menunggu saat yang tepat untuk mengucapkannya.
"Ya Sandi. Gue mau menikah dengan lu. Gue tidak mencari seseorang yang akan melengkapi hidup gue, karena gue sudah merasa lengkap saat bersama lu. Lu adalah sahabat terbaik gue, orang yang paling gue percaya, dan satu-satunya yang ingin gue temani sampai rambut kita memutih nanti. Gue mau kita bangun rumah tangga yang penuh kasih sayang, tempat di mana kita bisa menjadi diri sendiri tanpa takut dihakimi. Gue mau berjalan bersama lu, melewati musim panas dan musim dingin hidup kita, berpegangan tangan erat seperti sekarang," jawab Laras dengan suara yang bergetar namun tegas.
Sandi memasangkan cincin sederhana namun indah di jari manis tangan kiri Laras. Bukan perhiasan yang mahal, melainkan simbol janji setia yang tulus dari seseorang yang tahu betul arti kebersamaan.
Mereka berpelukan di bawah pohon tua itu, menyadari bahwa cerita mereka yang dimulai dengan persahabatan yang tumbuh perlahan, kini berkembang menjadi ikatan yang abadi.
Malam itu Laras menulis di halaman terakhir buku hariannya.
...Kebahagiaan sejati itu tidak datang tiba-tiba dan membakar habis dalam sekejap mata. Kebahagiaan sejati itu tumbuh perlahan, berakar kuat, dan tetap berdiri tegak meski badai datang menerpa. ...
...Dan kebahagiaan itu ada di sini, di tangan seseorang yang mencintai gue dengan tulus, yang menerima gue apa adanya, dan yang siap berjalan bersama gue menuju masa depan yang cerah....