📍Update 🚥 16 : 16 WIB
Duabelas tahun lalu, Elfiana Putri (Elle) dikhianati oleh taruhan konyol cinta pertamanya, William Adinata (Liam). Kini, takdir membawa mereka kembali dalam sebuah pernikahan pura-pura demi sang Papa.
Di antara luka masa lalu yang belum sembuh dan kebenaran yang perlahan terkuak, bisakah Elle menjaga hatinya agar tidak hancur untuk kedua kalinya?
❣️ I write what I want to write. ❣️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13 - What Is Love?
Aku masih terdiam melihat Liam tertawa.
“Elle!” panggil Liam sambil menepuk bahuku.
“Hah?” Aku tersentak.
“Kenapa kamu diem?” tanya Liam.
“Nggak apa-apa.”
“Apa kamu terpesona sama kegantenganku?” goda Liam.
“Ih... pede banget. Aktor Hollywood lebih ganteng, ya, daripada kamu,” balasku.
“Tapi aktor Hollywood nggak bisa digapai. Aku kan bisa digapai.”
“Sayangnya aku nggak mau gapai kamu.”
“Oh, kamu masih sayang sama aku, Elle?”
“Nggak! Kapan aku ngomong gitu?”
“Tadi kamu bilang sayang.”
“Aku bilang sayangnya, bukan sayang.”
“Tuh, kan...”
“Liam!” seruku sambil mengepalkan kedua tanganku.
“Masih sayang sama mantan nggak apa-apa, lho, Elle.”
“Nggak! Aku nggak sayang sama kamu.”
“Inget, Elle. Apa pun makanannya, minumnya ludah sendiri.”
Aku langsung mendorong tubuh Liam menuju kamar mandi.
“Udah, jangan banyak ngomong. Mandi sana!”
“Jangan lupa buatin aku sarapan,” ucap Liam sebelum masuk ke kamar mandi.
Aku menghela napas panjang.
Ya Tuhan... kenapa hamba harus bertemu dengannya lagi?
Aku kemudian menuju dapur.
Aku benar-benar tidak ingin membuatkannya sarapan, apalagi nasi goreng. Aku malas memasak kalau pagi-pagi sebelum berangkat kerja.
Aku hanya mengambil empat lembar roti lalu mengoleskan selai di antara dua lembar roti. Setelah itu, kutaruh dua roti tersebut di atas dua piring kecil.
Satu untukku dan satu lagi untuk Liam.
Aku membawa keduanya ke ruang tengah.
Aku langsung memakan rotiku, sementara roti untuk Liam kutaruh di atas meja.
Sambil makan, aku melihat-lihat media sosial di ponsel.
Beberapa saat kemudian, rotiku sudah habis, tetapi Liam belum juga keluar dari kamar mandi.
Aku kembali melihat media sosial.
Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka.
Liam keluar.
“Kamu udah bikin sarapannya?” tanyanya.
Aku menoleh.
Liam memakai pakaian yang tadi dikenakannya. Rambutnya masih sedikit basah.
Entah kenapa, melihatnya seperti itu terasa berbeda.
Dia jadi lebih...
Aku langsung menggelengkan kepala.
“Kenapa kamu geleng-geleng kepala?” tanya Liam.
“Nggak apa-apa.”
“Kamu udah bikinin aku sarapan?”
“Udah. Itu roti.” Aku menunjuk piring di atas meja.
“Aku bilangnya kan nasi goreng.”
“Udah makan aja. Masih untung aku kasih roti.”
“Jangan-jangan kamu bohong, ya, soal bisa masak?”
“Nggak. Aku bisa masak, kok, meskipun sedikit.”
“Ah, jangan-jangan kamu cuma bisa masak air sama bikin mi instan.”
“Nggak, ya! Nasi goreng aku bisa, kok.”
“Terus kenapa nggak bikin?”
“Males. Kalau pagi hari kerja, aku males masak. Jadinya cuma makan roti.”
“Emang cukup roti doang buat tenaga seharian?”
“Cukup-cukup aja. Perutku kan kecil.”
“Iya, perut kamu kecil, tapi tubuh kamu tetap butuh tenaga.”
“Ah, udah-udah. Kamu banyak ngomong. Kayak ibuku aja.”
Aku berdiri sambil membawa piring kecil bekas sarapanku lalu menaruhnya di wastafel.
Aku lalu masuk ke kamar, menaruh ponsel, kemudian mengambil pakaian untuk bekerja dan keluar kamar lagi.
Kulihat Liam sudah duduk di sofa sambil memakan roti.
“Habiskan rotinya, terus pergi dari sini,” ucapku sebelum masuk ke kamar mandi.
Begitu air mengguyur tubuhku, rasanya segar dan sedikit menghilangkan rasa kesalku karena Liam.
Beberapa saat kemudian, aku selesai mandi lalu keluar dari kamar mandi.
Kulihat Liam masih duduk di sofa, sementara rotinya sudah habis.
“Kenapa kamu masih di sini?” tanyaku.
“Nunggu kamu.”
“Nungguin aku buat apa?”
“Ayo kita pergi bareng. Aku anterin kamu.”
“Nggak. Nggak. Aku bisa pergi sendiri pakai ojek online.”
“Kalau aku anterin kamu, bisa hemat uang.”
“Bayar ojek online nggak seberapa, kok.”
“Ada yang gratis, tapi kamu malah pilih yang bayar.”
“Soalnya yang gratis sama kamu. Udah, sana pergi.”
Aku berjalan menuju kamar, tetapi Liam malah ikut menyusul.
“Kamu mau apa?” tanyaku ketika sampai di depan kamar. “Jangan macem-macem, ya.”
“Aku mau ambil sepatu dan jas.”
“Oh...”
Aku langsung duduk di depan meja rias.
Sementara itu, Liam mengambil sepatu dan jasnya lalu memakainya.
Aku mulai menyisir rambut.
Dari cermin, kulihat Liam belum juga pergi.
Aku menoleh.
“Kenapa masih di sini? Pergi sana.”
“Aku nungguin kamu.”
“Aku nggak mau dianterin kamu, Liam.”
“Tapi aku mau nganterin kamu.”
Aku menghela napas lalu kembali menyisir rambut.
Setelah rambutku rapi, aku mulai merias wajah.
Beberapa saat kemudian, selesai.
Aku berdiri lalu mengambil ponsel dan tasku.
“Kenapa dandan cantik gini, sih?” tanya Liam. “Kamu mau menarik perhatian siapa?”
“Nggak ada.”
“Apa ada orang yang kamu suka?”
“Nggak ada orang yang aku suka.”
Aku langsung keluar kamar.
Liam pun mengikutiku sampai ke depan lift.
Aku menekan tombol lift.
Namun, tiba-tiba Liam menggenggam tanganku lalu menarikku masuk ke dalam lift.
Aku terkejut.
Liam menekan tombol tutup pintu lift, lalu menekan tombol basement.
“Liam, apa-apaan sih kamu? Lepasin!” protesku.
“Nggak.”
“Liam... lepasin aku.”
Aku mencoba menarik tanganku, tetapi genggaman Liam justru semakin erat.
“Jangan banyak omong. Udah, nurut aja,” ucap Liam.
“Kenapa aku harus nurut sama kamu? Kamu bukan suami atau ayah aku, ya.”
“Tapi aku klien kamu.”
Aku mendecakkan lidah.
Dasar menyebalkan.
Tak lama kemudian, lift terbuka di basement.
Liam menarikku keluar dan membawaku menuju mobilnya.
Dia membuka pintu penumpang lalu mendorongku masuk. Setelah itu, dia memasangkan sabuk pengaman untukku.
“Liam, aku nggak mau dianterin kamu.”
Liam seperti tidak mendengarkanku.
Dia langsung menutup pintu.
Brak!
Kemudian dia masuk ke dalam mobil dari pintu sebelah.
Aku hanya bisa menghela napas lalu bersandar di jendela.
Sepanjang perjalanan kami hanya diam.
Aku benar-benar kesal kepada Liam dan tidak berniat berbicara dengannya.
Tak lama kemudian, kami sampai di kompleks kantorku.
“Berhenti di depan gedung aja. Aku nggak mau orang-orang tahu aku berangkat sama kamu,” ucapku.
Liam menurut.
Dia menghentikan mobilnya di depan gedung kantorku.
Aku langsung melepaskan sabuk pengaman.
“Makasih.”
Aku keluar dari mobil lalu berjalan masuk ke gedung.
Begitu sampai di lobi, lift sudah terbuka dan beberapa orang mulai masuk.
Aku pun berlari kecil agar bisa ikut masuk.
Untungnya, aku berhasil masuk.
Lift bergerak naik dan berhenti di beberapa lantai sebelum akhirnya sampai di lantai kantorku.
Aku langsung keluar.
“Pagi, Elle,” sapa Risa.
“Pagi, Risa.”
Aku kemudian menuju ruanganku.
“Pagi...” ucapku begitu masuk.
“Pagi...” jawab semua orang.
Begitu aku duduk di kursiku, Mona langsung mendekat.
“Elle... tadi malem...” ucap Mona lirih.
Aku langsung menoleh.
“Dia... nginep di tempat kamu, ya?” lanjut Mona.
Aku terkejut.
“Sssttt...” Aku melihat ke sekeliling. “Jangan bahas itu di sini.”
“Oke.”
Mona langsung kembali ke mejanya.
Aku pun menyalakan komputer.
Tak lama kemudian, muncul notifikasi pesan di ponselku.
Kulihat Mona mengirim pesan.
[ Elle, dari ceritanya Kak Davin, kayaknya Pak William masih suka sama kamu, deh. Ya walaupun yang dia lakuin ke kamu itu jahat, sih. ]
Suka?
Liam suka denganku?
Entahlah...
Aku bahkan tidak tahu apakah dulu dia benar-benar menyukaiku atau hanya berpura-pura.
Dan sampai sekarang, aku masih belum tahu jawabannya.