NovelToon NovelToon
Tahta Dendam Lady Aurelia: Dari Selir Terbuang Menjadi Ratu

Tahta Dendam Lady Aurelia: Dari Selir Terbuang Menjadi Ratu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Klarina_za29

Sebagai putri kesayangan dari keluarga bangsawan Montclair, Lady Aurelia selalu mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Namun, watak keras kepalanya membawa petaka saat ia jatuh cinta pada sang Raja. Demi mewujudkan keinginannya, keluarga Montclair terpaksa merelakan putri tercinta mereka masuk ke istana—bukan sebagai ratu, melainkan hanya sebagai seorang selir.
Kehidupan istana ternyata tak seindah impian Aurelia. Dinginnya sikap Raja dan kekejaman kompetisi antar-selir menghentikan langkahnya secara tragis. Ia tewas terbunuh di tangan selir lain, sementara Raja yang dijunjungnya bahkan tidak sudi melirik jasadnya.
Namun, takdir memberinya kesempatan kedua.
Aurelia terbangun kembali di hari keduanya sebagai selir. Terbangun dari kematian membawa rasa sakit yang membakar sekaligus dendam yang membara. Keras kepala yang dahulu membinasakannya, kini berganti menjadi ambisi yang mematikan. Aurelia bertekad: ia tidak akan mati sia-sia untuk kedua kalinya.
Satu per satu, para selir yang mengh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Klarina_za29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langkah di Hall of Mirrors

Kekacauan di gazebo taman dalam menyebar bagai api yang menyambar jerami kering. Kerumunan para Lady berbisik-bisik panik, sementara Selir Evelyn terduduk lemas dengan wajah sepucat kertas kalkir. Bunga melati yang menghitam di samping meja menjadi bukti tak terbantahkan atas niat busuk yang dilancarkannya.

"Panggil pengawal istana interior!" seru Selir Genevieve dengan suara tenang namun tegas, menguasai situasi dengan wibawa resminya sebagai selir tertua. "Amankan teko dan sisa cangkir ini untuk diperiksa oleh tabib kerajaan. Lady Evelyn, Anda dilarang meninggalkan kediaman Anda sampai penyelidikan selesai."

"Tidak! Ini jebakan! Gadis ini memfitnahku!" jerit Evelyn histeris sembari menunjuk Aurelia dengan jari gemetar. "Dia sengaja menukarnya! Dia yang membawa racun itu!"

Aurelia tidak membalas jeritan itu dengan amarah. Ia hanya berdiri tegap, mengusap lembut sudut matanya yang basah oleh air mata buatan, menampilkan sosok korban yang teraniaya namun tetap menjaga martabat tingginya sebagai putri seorang Duke.

"Jika Lady Evelyn merasa difitnah," ucap Aurelia pelan namun cukup nyaring untuk didengar semua orang, "silakan minta tabib memeriksa kediaman Anda dan kediaman saya. Pelayan saya baru saja membawa teh itu dari dapur Pavilion Timur setelah utusan Anda menyerahkannya tadi pagi. Banyak saksi yang melihatnya."

Evelyn membeku. Ia tahu betul di dalam lemari kamarnya masih tersisa botol kaca berisi sisa racun Nightshade yang ia gunakan. Jika pengawal menggeledah kamarnya sekarang, matilah ia.

Tanpa menunggu histeris Evelyn berlanjut, Aurelia membungkuk hormat secara anggun kepada Genevieve. "Lady Genevieve, permisi. Saya merasa sangat terguncang dan tidak enak badan setelah insiden ini. Saya memohon izin untuk kembali ke pavilion saya."

Genevieve menatap Aurelia dengan pandangan yang penuh rasa ingin tahu dan kewaspadaan baru. "Tentu saja, Lady Aurelia. Istirahatlah. Kejadian ini adalah tamparan bagi ketertiban istana interior, dan saya sendiri yang akan memastikan keadilan ditegakkan."

Aurelia berbalik, menyibakkan gaun zamrudnya dengan gerakan halus. Di belakangnya, Marta melangkah cepat dengan kepala menunduk rapat, menyembunyikan rasa takut sekaligus takjub atas keahlian majikannya membalikkan keadaan.

Untuk kembali ke Pavilion Timur dari taman dalam, Aurelia harus melintasi koridor megah yang paling terkenal di seluruh istana: Hall of Mirrors—Lorong Cermin.

Lorong panjang berpilar marmer putih itu dihiasi oleh puluhan cermin raksasa berbingkai emas di sepanjang dindingnya. Di siang hari, sinar matahari memantul indah melalui jendela-jendela tinggi, menciptakan lautan cahaya yang menakjubkan.

Namun di kehidupan lalunya, koridor ini adalah tempat di mana Aurelia dipermalukan habis-habisan. Di lorong inilah ia pernah berjalan sambil menangis meraung-raung, dikejar oleh gelak tawa para bangsawan yang mengejeknya karena diabaikan oleh Raja.

Kini, ketukan tumit sepatu Aurelia bergema nyaring di atas lantai marmer yang berkilau.

Satu per satu bangsawan dan pejabat dewan yang sedang melintasi lorong itu menghentikan langkah mereka. Rumor tentang insiden di taman dalam rupanya telah sampai lebih dulu lewat bisikan para pelayan. Mereka berbisik-bisik, menatap putri keluarga Montclair yang baru saja lolos dari percobaan pembunuhan di hari keduanya.

Namun, tidak ada kepanikan atau tangisan yang mereka lihat.

Aurelia melangkah dengan dagu terangkat tegap. Setiap cermin raksasa yang dilaluinya memantulkan bayangan seorang wanita yang berdiri sangat anggun, dengan tatapan mata cokelat gelap yang dingin, tajam, dan penuh wibawa. Tidak ada lagi sisa-sisa gadis manja yang mudah tersinggung. Setiap gerak-geriknya memancarkan keagungan seorang penguasa yang tak tersentuh.

Para bangsawan yang biasanya memandangnya rendah kini tanpa sadar membungkukkan badan saat Aurelia melintas di hadapan mereka. Tatapan mata Aurelia yang menusuk membuat siapa pun yang beradu pandang dengannya memilih untuk melempar pandangan ke arah lain.

"Lihatlah cara berjalannya..." bisik seorang pejabat senior kepada rekannya di balik pilar. "Dia sama sekali tidak tampak seperti gadis berusia belasan tahun. Tatapannya... mirip sekali dengan Duke Montclair saat memimpin pasukan."

"Kudengar Selir Evelyn mencoba meracuninya, tapi malah terjebak oleh taktiknya sendiri," sahut pejabat lainnya berbisik lambat. "Gadis Montclair ini... dia sangat berbahaya."

Aurelia mendengar setiap bisikan itu. Senyum tipis yang hampir tak terlihat terukir di bibirnya.

Bagus, batinnya dingin sembari menatap pantulan dirinya di salah satu cermin besar. Biarkan mereka takut. Biarkan seluruh istana tahu bahwa putri Montclair bukan lagi mangsa yang bisa mereka injak-injak.

Di kehidupan lalunya, ia berjuang keras agar disukai dan dikasihani oleh semua orang. Hasilnya adalah penderitaan dan kematian yang tragis. Di kehidupan keduanya ini, ia tidak membutuhkan kasih sayang atau rasa kasihan mereka. Ia hanya membutuhkan satu hal: rasa takut dan ketundukan.

Tiba-tiba, langkah kaki Aurelia terhenti di tengah Lorong Cermin.

Di ujung koridor, rombongan pengawal kerajaan berseragam zirah perak tampak melangkah maju, membelah kerumunan bangsawan yang bergegas berlutut di kedua sisi dinding. Suara dentang pedang dan langkah sepatu boot berat bergema memenuhi ruangan.

Di tengah-tengah pengawalan ketat itu, berdiri seorang pria tinggi tegap berbalut jubah hitam bersulam benang emas. Rambut hitamnya yang dipotong rapi membingkai wajah tampan yang dipahat dingin tanpa ekspresi. Se pasang mata kelamnya yang bagaikan jurang tanpa dasar menatap lurus ke depan.

Raja Julian.

Jantung Aurelia berdesir pelan, bukan karena cinta yang dulu membakarnya, melainkan karena ingatan akan dinginnya tatapan pria itu saat melangkahi jasadnya yang sekarat.

Seluruh bangsawan di Lorong Cermin telah berlutut memberi hormat pada sang Raja. Marta di belakang Aurelia pun langsung berlutut gemetaran hingga dahinya menyentuh lantai.

Namun, Aurelia tetap berdiri tegap di tengah lorong.

Ia tidak langsung berlutut. Selama beberapa detik yang menegangkan, mata cokelat tajam milik Aurelia beradu lurus dengan mata kelam milik Julian di tengah deretan pantulan cermin yang megah.

Julian menghentikan langkahnya. Untuk pertama kalinya sejak ia mengenal putri keluarga Montclair, sang Raja mendapati tatapan mata gadis itu tidak lagi dipenuhi oleh binar pemujaan yang memuakkan, melainkan sebuah perhitungan dingin yang begitu pekat.

Pemeriksaan pertama antara sang Pemburu dan calon Penguasa baru saja dimulai di Lorong Cermin.

Senyum tipis yang sarat akan provokasi mengembang samar di bibir Aurelia sebelum akhirnya ia membungkukkan badannya dengan sangat anggun sebuah penghormatan yang begitu sempurna, seolah memperjelas bahwa ketundukannya hanyalah sebuah formalitas belaka.

Julian menatap gadis di hadapannya dengan alis yang terangkat tipis, merasakan ada sesuatu yang telah patah sekaligus terlahir kembali di dalam diri selir barunya itu. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, sang Raja kembali melangkah melewatinya, namun untuk pertama kalinya dalam sejarah, sudut matanya tak pernah lepas mengawasi bayangan Aurelia yang terpantul memikat di sepanjang dinding cermin.

~ To Be Continue

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!