Bagi semua orang di SMA Nusantara, Rian hanyalah seorang yatim piatu miskin, pendiam, dan sasaran empuk perundungan. Tak ada yang tahu bahwa di balik lebam dan pakaian lusuhnya, sebuah Sistem Kultivator Tunggal baru saja bangkit dalam dirinya.
Di era modern tempat hukum alam dikendalikan uang dan kekuasaan, Rian menjadi satu-satunya manusia yang menguasai seni kultivasi kuno. Tanpa perlu bersuara, ia mengasah kekuatannya di balik layar—menjadi sosok yang tak terlihat, namun tak tertandingi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serly Can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fajar di Gerbang Kampus Utama
Suara dengung mesin pendingin ruangan berpadu dengan ritme deru roda besi gerbong kereta eksekutif yang perlahan melambat. Ketika layar penunjuk waktu digital di atas pintu kabin menunjukkan pukul lima lewat empat puluh lima menit pagi, rangkaian kereta Argo Dwipangga akhirnya memasuki jalur peron Stasiun Gambir di jantung ibu kota.
Rian membuka kedua matanya perlahan. Tidak ada jejak kelelahan sedikit pun di wajahnya, meskipun ia menghabiskan sepanjang malam dalam kondisi meditasi sadar tingkat tinggi. Ia merapikan jaket kainnya, lalu mengambil tas ransel hitam dari rak bagasi atas dengan gerakan yang sangat terukur. Di kursi sebelah, Maya baru saja terbangun, mengucek matanya pelan sambil merapikan syal rajut di lehernya.
"Kita sudah tiba di ibu kota?" tanya Maya dengan suara serak khas bangun tidur, melirik ke luar jendela kaca di mana kesibukan petugas stasiun mulai terlihat lalu-lalang di bawah temaram lampu peron.
"Ya, kita baru saja tiba," jawab Rian tenang, berdiri dari kursinya dan memberi jalan bagi Maya untuk keluar lebih dulu. "Ambil kopermu dengan hati-hati, Maya. Udara pagi stasiun cukup dingin."
Beberapa menit kemudian, keduanya melangkah keluar dari gerbang stasiun menuju area penjemputan khusus. Udara pagi ibu kota terasa pekat oleh asap kendaraan dan embun tipis. Di depan area parkir VIP, sebuah mobil van hitam berlogo eksklusif Kusuma Group telah menanti dengan lampu hazard yang berkedip pelan. Seorang pengawal berjas rapi berdiri di samping pintu mobil, langsung membungkuk hormat begitu melihat sosok Rian mendekat.
"Selamat pagi, Tuan Rian, Nona Maya," sapa pengawal itu sopan sambil membukakan pintu mobil lebar-lebar. "Direktur Hartawan meminta kami untuk langsung mengantar Anda berdua ke ruang transit VIP di Kampus Pusat Universitas Nasional sebelum jadwal penjurian grand final dimulai pukul sembilan nanti."
Rian mengangguk singkat. "Terima kasih. Mari kita berangkat."
Mobil van hitam itu meluncur mulus membelah jalanan protokol ibu kota yang mulai dipadati oleh kendaraan roda empat para pekerja kantoran. Di dalam kabin yang kedap suara dan berpendingin nyaman, Maya menarik napas panjang untuk meredakan debar jantungnya yang mulai berdegup kencang seiring semakin dekatnya waktu penjurian nasional.
"Rian, kau tidak merasa tegang sama sekali?" tanya Maya memecah keheningan kabin, menatap pemuda di sebelah kirinya yang sedang membaca ringkasan data melalui layar ponsel dengan ekspresi datar tanpa beban. "Tempat kita akan bertanding hari ini adalah aula konvensi utama universitas terbaik di negeri ini. Penontonnya bukan lagi guru-guru sekolah atau juri regional, melainkan para guru besar, dekan fakultas teknik, dan investor teknologi tingkat nasional."
Rian mengalihkan pandangannya dari ponsel, menatap Maya dengan sorot mata yang tenang dan menyejukkan. "Mengapa aku harus merasa tegang, Maya?"
"Ya... karena taruhannya sangat besar!" seru Maya setengah berbisik, meremas ujung mantelnya sendiri. "Jika kita gagal memukau mereka, seluruh kerja keras kita berbulan-bulan di laboratorium sekolah akan dianggap angin lalu."
"Ketegangan lahir dari ketakutan akan penilaian subjektif orang lain," jawab Rian dengan nada suara yang sangat jernih dan berwibawa. "Di hadapan prinsip-prinsip sains yang kita buktikan, pendapat atau status sosial para penguji tidak mengubah satu pun kebenaran dari rumus matematis yang kita rancang. Lakukan apa yang menjadi bagian tugasmu, dan biarkan realitas membuktikan sisanya."
Maya tertegun menatap keteguhan di wajah Rian. Perlahan-lahan, tarikan napasnya menjadi lebih teratur, dan rasa cemas yang tadinya mencengkeram dadanya mulai meleleh digantikan oleh keyakinan yang solid. "Kau benar, Rian... Aku terlalu memikirkan bagaimana pandangan orang lain, sampai lupa bahwa proyek yang kita bawa berdiri di atas data yang benar-benar akurat."
Setengah jam kemudian, mobil van hitam tersebut masuk melalui gerbang utama Kampus Pusat Universitas Nasional yang megah. Pohon-pohon mahoni besar berusia puluhan tahun berbaris rindang di sisi kiri dan kanan jalan kampus beraspal mulus. Kendaraan berhenti tepat di depan gedung konvensi berarsitektur modern klasik berkolom pilar tinggi putih.
Di ruang transit VIP lantai dua yang menghadap langsung ke taman pusat kampus, Wijaya—kepala divisi pengembangan teknologi Kusuma Group—sudah menanti kehadiran mereka bersama Profesor Wiratman, ketua dewan pengawas riset nasional yang kemarin sempat hadir di kantor pusat.
Begitu pintu ruang transit terbuka, Profesor Wiratman berdiri dari sofa kulitnya dan menyambut Rian dengan senyuman lebar serta jabat tangan yang hangat.
"Rian! Selamat datang di ibu kota," sapa Profesor Wiratman antusias, mengguncang tangan Rian perlahan dengan penuh rasa hormat. "Aku membaca ulang draf pemodelan energi non-linear yang kau kirimkan kemarin malam. Sungguh sebuah mahakarya konseptual yang membuat para profesor di fakultas teknik universitas ini berdebat hebat hingga subuh karena takjub."
"Terima kasih atas apresiasinya, Profesor Wiratman," jawab Rian tenang, membalas jabat tangan itu dengan mantap. "Perdebatan akademis adalah tanda bahwa kesadaran ilmiah mereka mulai terstimulasi ke arah yang benar."
Wijaya tersenyum lebar, menaruh sebuah nampan kecil berisi minuman hangat di atas meja marmer. "Persiapan di aula utama sudah hampir rampung, Tuan Rian. Stan pameran nomor satu di barisan utama telah disiapkan khusus untuk tim Anda. Beberapa investor swasta dan perwakilan kementerian riset sudah mulai berdatangan mengisi kursi penonton."
Profesor Wiratman duduk kembali, mempersilakan Rian dan Maya untuk mengambil tempat duduk di seberangnya. Ia menatap Rian lekat-lekat dengan pandangan menyelidik yang penuh rasa penasaran.
"Rian, sebelum penjurian inti dimulai pukul sembilan nanti, aku ingin menanyakan satu hal penting secara pribadi," ujar Profesor Wiratman dengan nada suara yang sedikit diturunkan serius. "Di usia yang masih sangat muda, bagaimana kau mampu melihat keterkaitan antara hukum termodinamika klasik dan fluktuasi frekuensi kuantum yang selama ini diabaikan oleh para periset senior?"
Maya menahan napasnya sejenak, ikut mendengarkan pertanyaan dari sang profesor besar nasional tersebut.
Rian menyesap sedikit air hangat dari cangkir di hadapannya sebelum menjawab dengan nada tenang yang sangat berwibawa. "Sebagian besar akademisi terjebak dalam kotak disiplin ilmu yang mereka ciptakan sendiri, Profesor. Mereka memisahkan fisika klasik, mekanika kuantum, dan matematika murni ke dalam bab-bab terpisah di dalam buku teks tebal. Padahal, alam semesta tidak pernah membagi hukum-hukumnya ke dalam sekat birokrasi semacam itu. Segala sesuatu bergerak dalam satu kesatuan frekuensi yang harmonis."
Profesor Wiratman tertegun kaku mendengarkan penjelasan tersebut. Bola matanya melebar, dan napasnya tertahan sesaat. Kalimat sederhana itu mengandung kedalaman filosofis yang mampu meruntuhkan ego keilmuan para doktor dan profesor yang telah menghabiskan puluhan tahun di laboratorium universitas.
"Satu kesatuan frekuensi yang harmonis..." bisik Profesor Wiratman perlahan, mengulangi kalimat tersebut seolah meresapi setiap suku katanya. Ia tertawa pelan, menggelengkan kepalanya takjub. "Luar biasa. Aku tidak sedang berbicara dengan seorang siswa sekolah menengah hari ini; aku sedang mendengarkan seorang filsuf agung yang terlahir kembali di era modern."
Hartawan Kusuma, yang baru saja masuk melangkah ke dalam ruang transit melalui pintu penghubung pribadi, tersenyum lebar mendengar percakapan tersebut. Ia menepuk pelan bahu Rian penuh kebanggaan.
"Kau selalu tahu cara membuat para petinggi sains negeri ini kehabisan kata-kata, Rian," puji Hartawan ramah. Ia melirik arloji di pergelangan tangannya. "Waktu sudah menunjukkan pukul delapan lewat empat puluh menit. Lima belas menit lagi, pintu aula utama akan dibuka untuk umum. Mari kita bersiap menuju stan pameran utama."
Beberapa menit kemudian, Rian, Maya, Wijaya, dan Profesor Wiratman berjalan bersama memasuki aula konvensi utama universitas yang sangat megah. Ruangan seluas lapangan sepak bola indoor itu dipenuhi oleh puluhan stan pameran dari berbagai universitas terkemuka, politeknik unggulan, serta delegasi sekolah menengah atas pilihan dari seluruh penjuru nusantara. Ribuan pasang mata pengunjung—mulai dari mahasiswa, dosen, peneliti independen, hingga wartawan media massa—memadati lorong-lorong antar stan.
Ketika Rian melangkah masuk ke stan nomor satu di barisan paling depan, sorotan lampu sorot panggung langsung menyinari area meja pameran mereka. Di atas meja berlapis taplak hitam elegan itu, perangkat generator termoelektrik mikro rakitan Rian berdiri kokoh berdampingan dengan monitor osiloskop digital yang menampilkan grafik stabilitas arus listrik secara real-time.
Di seberang lorong stan mereka, di barisan stan nomor sembilan, tampak sekelompok peserta dari sekolah elit ibu kota—dipimpin oleh seorang pemuda berambut klimis dengan jas almamater rapi bernama Gilang—menatap ke arah stan Rian dengan pandangan sinis dan senyuman meremehkan.
"Lihat anak-anak dari sekolah daerah itu," bisik salah seorang rekan satu tim Gilang dengan nada suara sengaja dikeraskan agar terdengar oleh orang di sekitar. "Mereka pikir pameran nasional ini sama seperti bazar sains tingkat kabupaten. Perangkat rakitan tangan begitu mana mungkin lolos uji validitas dari dewan juri universitas."
Gilang mendengus pelan, melipat kedua tangannya di dada sambil tersenyum sinis. "Biarkan saja mereka menikmati panggung sebentar. Begitu Profesor Baskoro—pakar energi fosil dari komite penilai yang terkenal sangat ketat—mendengar klaim efisiensi bodoh mereka, anak-anak itu akan diusir turun panggung dalam waktu kurang dari lima menit."
Maya, yang mendengar bisikan meremehkan itu dari jarak beberapa meter, mengepalkan kedua tangannya dengan gemas. Wajahnya memerah menahan amarah. "Rian, kau dengar apa kata mereka? Sombong sekali anak-anak sekolah elit itu!"
Rian sama sekali tidak menoleh ke arah stan seberang. Ia tetap berdiri tegak dengan tenang, merapikan kabel konektor osiloskop di atas meja tanpa menunjukkan sedikit pun emosi di wajahnya.
"Orang yang memamerkan kesombongan di luar adalah cerminan dari kekosongan pemahaman di dalam diri mereka, Maya," jawab Rian dengan nada datar yang sangat tenang. "Jangan alihkan perhatianmu. Dewan juri kehormatan sedang berjalan menuju ke arah stan kita."
Benar saja, rombongan utama dewan juri—yang dipimpin langsung oleh rektor universitas, Profesor Wiratman, dan beberapa pakar independen—mulai melangkah mendekati stan nomor satu. Suara riuh rendah di dalam aula perlahan mereda, digantikan oleh kesunyian penuh antisipasi saat ratusan pasang mata tertuju pada stan tempat Rian dan Maya berdiri.
Panggung penentuan babak grand final nasional telah resmi dimulai, dan sang kultivator muda berdiri di pusat pusaran perhatian, siap membuktikan kebenaran mutlak dari semesta sains yang ia kuasai.