Hannah adalah wanita bercadar yang menyimpan masa lalu kelam. Pertemuannya kembali dengan Faz, lelaki yang pernah menolongnya, membuat cinta tumbuh hingga mereka hampir bertunangan.
Namun sebuah rahasia membuat mereka tak bisa bersama. Saat Hannah harus merelakan cintanya, Arif—lelaki yang diam-diam telah lama mencintainya—datang membawa sebuah lamaran.
Di antara cinta, luka, dan takdir, Hannah harus menentukan jalan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ri7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Faz Pernah Melihat Wajah Hannah
Setelah puas berjalan-jalan, Hilya, Farah, dan yang lainnya sepakat melakukan pemotretan dadakan. Lokasinya tidak jauh dari vila tempat mereka menginap. Tanpa konsep yang benar-benar matang, mereka memanfaatkan peralatan seadanya. Meski begitu, mereka tetap berusaha memperhatikan setiap detail agar hasilnya tidak mengecewakan.
Dua jam berlalu. Hannah akhirnya meminta waktu untuk beristirahat sejenak setelah cukup lama berkutat di depan kamera.
Sementara itu, Riri sejak tadi sibuk di dapur membuat kue kering. Ia memang tidak terlalu memahami dunia pemotretan. Daripada hanya duduk menonton, lebih baik ia melakukan sesuatu yang bisa dinikmati semua orang.
"Alhamdulillah, lancar, Han," ujar Riri sambil membawa sepiring kue kering ke ruang tengah.
"Alhamdulillah. Meskipun persiapannya mendadak, hasilnya lumayan juga," jawab Hannah.
"Alhamdulillah."
"Entah nanti hasilnya akan dipakai atau tidak. Setidaknya kita sudah berusaha."
"Iya, benar juga."
Riri mengangguk setuju. Pandangannya kemudian beralih kepada Faz yang sejak tadi tampak menikmati kue buatannya.
"Ngomong-ngomong, Han, apa kamu tidak penasaran Faz sebenarnya sakit apa?"
Hannah menoleh ke arah sahabatnya.
"Semoga saja tidak parah," jawabnya singkat.
Hanya itu yang bisa ia katakan. Jujur, ia juga penasaran. Namun, ia tidak ingin terlalu jauh mencampuri urusan pribadi Faz. Setidaknya, Hannah berharap laki-laki itu baik-baik saja.
Baginya, ketika seseorang memilih untuk tidak menceritakan penyakit yang dideritanya, ada banyak kemungkinan di balik keputusan itu. Bisa jadi memang bukan sesuatu yang serius, tetapi bisa juga sebaliknya.
Dan Hannah sungguh berharap kemungkinan pertama yang terjadi pada Faz.
"Yuk, kita makan siang. Sepertinya yang lain sudah menunggu," ajak Rozin.
"Oke," sahut Riri.
"Yuk, Han." Riri menepuk pelan bahu sahabatnya.
Hannah mengangguk, lalu mengikuti mereka.
---¤---
Mereka memilih sebuah restoran yang tidak terlalu jauh dari vila. Rozin sebenarnya sudah memesan makanan sejak tadi, sehingga mereka hanya perlu mencari tempat duduk sambil menunggu pesanan dihidangkan.
"Alhamdulillah, pemotretannya lancar," ujar Farah membuka percakapan.
"Iya. Padahal tadi semuanya serba mendadak," sahut Rozin.
"Sepertinya kita memang perlu lebih sering refreshing. Siapa tahu ide-ide kreatif justru muncul ketika sedang bersantai," celetuk Farah, disusul tawanya sendiri.
"Bagaimana menurutmu, Han? Kamu setuju dengan usulan Farah?" tanya Faz sambil mengarahkan pandangannya kepada Hannah.
"Waah, Kak Faz ternyata serius menanggapi usulanku." Farah langsung menyambar sebelum Hannah sempat menjawab.
Faz tersenyum tipis. "Menurutku memang ide yang bagus."
"Entahlah. Bisa jadi bagus, bisa juga tidak," jawab Hannah datar.
Jawaban itu membuat percakapan sejenak terhenti. Farah melirik Hannah, sementara Faz hanya diam memperhatikan perempuan tersebut.
"Eh, Faz, bukankah kamu juga punya vila?" Riri buru-buru mengalihkan pembicaraan. "Wah, kalau begitu, lain kali kita bisa berkunjung ke vilamu, dong."
"Iya! Setuju banget!" Farah langsung menyambut antusias.
Faz hanya mengangguk kecil.
Namun, sesekali pandangannya kembali tertuju kepada Hannah. Sejak kemarin, perempuan itu tampak lebih banyak diam. Bahkan ketika yang lain sedang bercanda, Hannah hanya sesekali tersenyum.
Ada sesuatu yang berbeda, tetapi Faz tidak tahu harus bertanya dari mana.
Mereka pun kembali menikmati makanan masing-masing. Sesekali celotehan Farah yang paling muda di antara mereka memecah suasana. Gadis itu memang selalu punya bahan untuk dibicarakan.
Hannah menyelesaikan makanannya lebih dahulu. Ia kemudian meminta izin untuk mencari udara segar.
Padahal, tempat duduk mereka sudah berada di bagian paling tepi restoran, menghadap langsung ke laut. Angin pantai pun sesekali berembus menerpa wajah.
Namun, Hannah memang sedang membutuhkan waktu untuk sendiri.
Ia melangkah menuju sebuah ayunan yang berada tidak jauh dari restoran. Duduk di sana, ia memandang laut lepas sambil membiarkan pikirannya mengembara.
Faz yang sejak tadi memperhatikannya merasa inilah kesempatan untuk berbicara. Ia pun berpamitan kepada yang lain dengan alasan hendak ke toilet.
Namun, langkahnya justru membawanya ke arah ayunan tempat Hannah duduk.
"Han, sedang memikirkan apa?" tanyanya setelah duduk di kursi yang tidak jauh dari ayunan tersebut.
Hannah menoleh sekilas.
"Banyak hal, Faz."
"Apakah masih ada kaitannya dengan Alya?"
Hannah tidak tampak terkejut mendengar pertanyaan itu. Ia justru mengembuskan napas pelan sebelum menjawab.
"Iya. Kurasa kamu juga sudah mendengar dari Alya kalau kami dulu teman SMA."
"Iya, dia sempat bercerita."
Hening sejenak.
Faz tampak menimbang-nimbang sesuatu sebelum akhirnya memberanikan diri bertanya.
"Han, boleh aku bertanya sesuatu?"
"Boleh. Apa?"
"Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?"
Hannah mengalihkan pandangannya dari laut. "Kenapa kamu bertanya begitu?"
Faz sedikit salah tingkah.
"Entahlah. Kemarin, aku sempat melihat wajahmu sekilas. Rasanya seperti pernah melihatmu di suatu tempat. Aku hanya merasa wajahmu tidak asing."
Hannah terdiam.
Ada sesuatu yang membuat dadanya mendadak terasa sesak. Namun, ia berusaha mempertahankan ketenangannya.
"Mungkin ada banyak orang yang memiliki wajah mirip denganku," jawabnya ringan, berusaha mengakhiri pembicaraan itu.
Faz tidak langsung menanggapi. Ia masih berusaha mengingat-ingat, tetapi ingatannya belum juga menemukan jawaban.
"Eh, ternyata kalian ada di sini!"
Suara Rozin tiba-tiba menyela. Keduanya serentak menoleh ke arah laki-laki itu.
Rozin berjalan mendekat dengan senyum tipis.
"Kami kira kalian ke mana. Ternyata malah duduk-duduk di sini."
Hannah segera mengalihkan pandangannya kembali ke laut, seolah tidak terjadi apa-apa.
Sementara itu, Faz hanya tersenyum kecil.
Namun, pertanyaan yang tadi ia ajukan belum benar-benar hilang dari pikirannya.
Di mana sebenarnya ia pernah melihat wajah Hannah?
semangat terus kaa😍😍
semangat nulis
mampir juga di karyaku Rotinya Manis, Rin😊