Isabella adalah mantan pembunuh bayaran paling berbahaya dan paling di takuti di dunia gelap. Selama bertahun-tahun tangannya telah berlumuran darah.
Namun semuanya berubah saat Isabella menemukan seorang bayi perempuan di depan apartemennya. Sejak saat itu dia memutuskan pensiun demi keselamatan anaknya. Tapi sayangnya sang bos tidak menyukai itu, hingga dia membunuh anak Isabella karena menganggap jika anak itu adalah penghalang Isabella.
Melihat sang putri tewas, Isabella marah dan mulai memburu satu persatu orang yang telah membunuh putrinya. Setelah dendamnya terbayar, Isabella memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri.
Namun kematian ternyata bukan akhir baginya, karena setelah membuka mata kembali. Isabella mendapati dirinya berada di tubuh seorang wanita bernama Isabella Iris, seorang ratu yang di buang dari istananya sendiri.
Bagimana kisah Isabella selanjutnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nitaastri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Monster
Sang kusir menatap Isabella dengan wajah penuh ketakutan.
"Nona, anda benar-benar tidak takut?" Tanya Sang kusir nyaris berbisik, tatapan kusir itu di penuhi rasa khawatir, sementara jemarinya tanpa sadar meremas ujung pakaiannya.
Isabella hanya mengangkat alisnya bingung, apa yang harus dia takuti. Dia bahkan sudah pernah mati sekali, dia juga sudah pernah menghadapi menghadapi ratusan lawan yang tangguh.
"Takut?" Tanya Isabella, dengan kening berkerut.
Dia kemudian melihat ke arah jalan yang gelap di depan mereka.
"Kenapa aku harus takut?" Isabella lanjut bertanya, lagipula ini hanya monster kan, sebelumnya dia juga sudah pernah melawan makhluk-makhluk jelek itu, anggap saja ini sebagai tambahan latihan untuknya, pikir Isabella.
Sang kusir terdiam, dia tidak tahu harus menjawab apa. Wanita di hadapannya ini benar-benar aneh, baru beberapa jam yang lalu dia melihat Isabella mengalahkan lima belas bandit seorang diri. Sekarang, ketika mendengar tentang monster pemakan manusia, dia masih bisa bersikap setenang itu. Sementara dirinya sendiri sudah hampir gemetar sampai tidak bisa berdiri.
"Kalau begitu, ayo berangkat." Ucap Isabella santai, lalu kembali naik ke dalam kereta.
Sang kusir menelan ludah kasar, dia terpaksa mengikuti Isabella.
"Baik, Nona..." Ucap Sang kusir.
Dia segera naik ke kursinya dan menarik tali kekang.
"Hya!"
Kuda mulai berjalan, kereta perlahan menyusuri jalanan Desa Sylvester.
Krek... krek... krek...
Suara roda kereta terdengar jelas di tengah malam yang sunyi, tidak ada suara orang dewasa, tidak ada suara anak-anak, bahkan tidak terdengar suara anjing menggonggong, semua rumah tertutup rapat dan gelap.
Kael yang duduk di samping Isabella beberapa kali melirik keluar jendela.
"Desa ini benar-benar menyeramkan." Kata Kael, sambil mengamati jalanan yang mereka lewati.
Aeron mengangguk setuju.
"Seperti desa mati." Tambah Aeron.
Isabella tidak menjawab, tatapannya terus mengamati keadaan di luar. Entah kenapa, sejak tadi dia merasa ada sesuatu yang mengawasi mereka.
Dan ternyata...
Perasaannya benar.
Tiba-tiba—
"Hiiii!"
Kuda mereka meringkuk keras, mengangkat kedua kakinya depannya hingga membuat Sang kusir tersentak bahkan nyaris jatuh lalu kereta mereka berhenti mendadak.
Kael langsung menggunakan sihirnya agar kereta mereka agar tidak terbalik.
"Ada apa?!" Tanya Isabella, sambil melihat Sang kusir.
Sang kusir tidak menjawab, bibirnya terkatup rapat, sementara tangannya perlahan terangkat menuju ke arah depan. Wajahnya seketika pucat pasi, seolah apa yang telah di lihatnya telah membuat seluruh keberaniannya lenyap.
Kael dan Aeron mengikuti arah jarinya dan saat itulah mereka melihatnya, di tengah jalan yang gelap, berdiri seekor monster besar. Tubuhnya dua kali manusia dewasa, kulitnya gelap, kuku-kukunya panjang dan tajam dan yang paling mengerikan sepasang mata merah menyala sedang menatap mereka.
Kael menyipitkan matanya.
"Monster..."
Aeron juga ikut berdiri menatap monster itu, seketika tatapannya langsung tertuju pada Isabella yang saat ini tengah menatap monster itu dengan tatapan menyeringai.
"Jadi itu monster yang selama ini menyerang desa?" Tanya Isabella memicing.
Sang kusir mulai gemetar hebat.
"Itu... itu salah satu dari mereka..." Ucap Sang kusir dengan suara bergetar hebat, dia bahkan tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi pada mereka beberapa menit kedepan.
Monster tersebut mengeluarkan suara geraman.
GRAUUUUURRR...
Kemudian ia mulai berjalan mendekati kereta Isabella, melihat monster yang semakin mendekati kereta mereka Sang kusir langsung panik. Sang kusir segera menari tali kekang kereta kudanya, berusaha membuat hewan itu kembali berjalan. Namun kuda itu hanya meringkik keras sambil menghentakkan kakinya ke tanah. Tubuhnya tampak gelisah, seolah-olah menolak untuk bergerak lebih jauh. Melihat kudanya yang seperti itu, Sang kusir semakin panik ketakutan wajahnya bahkan sampai memutih.
"Nona! Kita harus pergi!" Kata Sang kusir, seluruh tubuhnya gemetar hebat, namun alih-alih mengikuti perkataan Sang kusir, Isabella justru membuka pintu kereta.
"Aku akan mengurusnya." Kata Isabella santai, matanya menatap tajam monster itu seolah baru saja menemukan mangsa baru.
"Nona?!"
Isabella turun dari kereta itu dengan santai.
Kael dan Aeron ikut turun.
"Isabella, tunggu!"
Isabella tidak berhenti, dia berjalan perlahan menuju monster tersebut. Monster itu menatap Isabella menyeringai, sepertinya ia sudah menemukan mangsa baru setelah beberapa malam tidak menemukan satupun mangsa.
Makhluk itu tiba-tiba membuka mulutnya dan mengeluarkan raungan keras.
"ROOOAAARRR!"
Sang kusir langsung menutup telinganya, ketakutan begitu tergambar jelas di wajahnya.
"Astaga..."
Namun Isabella tetap berdiri tenang, bahkan tidak mundur sedikit pun.
Monster itu kemudian berlari ke arahnya.
Cepat.
Sangat cepat.
"NONA AWAS!" Teriak Sang kusir panik.
Namun tepat ketika monster itu hampir menerkamnya—
Isabella menghilang.
BRAK!
Dalam sekejap, tubuh monster itu terlempar dan menghantam sebuah pohon besar.
Sang kusir membeku, dia menatap Isabella dengan mulut terbuka. Sedangkan Kael dan Aeron menatap Isabella dengan tatapan penuh kekaguman.
"Secepat itu..." Gumam Aeron takjub.
Isabella berdiri beberapa meter dari monster tersebut, dia bahkan tidak terlihat kelelahan.
Monster itu perlahan bangkit, Isabella menatapnya dengan tenang.
"Jadi kau salah satu monster yang selama ini membuat penduduk desa ketakutan?" Kata Isabella menyeringai.
Monster itu menggeram marah, dia tidak Terima manusia yang seharusnya menjadi mangsanya justru menyerangnya seperti ini.
Isabella tersenyum tipis.
"Sayangnya..."
Tangannya perlahan meraih gagang pedangnya.
"Kau memilih orang yang salah untuk diserang."
Namun sebelum Isabella sempat bergerak—
GRAUUUUURRR
Suara geraman lain terdengar dari dalam kegelapan.
Isabella berhenti, Kael dan Aeron perlahan menoleh. Sepasang mata merah muncul dari balik pepohonan.
Kemudian satu lagi.
Lalu satu lagi.
Dan satu lagi.
Semakin lama, semakin banyak mata merah yang terlihat.
Sang kusir bahkan hampir menangis saat melihat monster-monster itu, dia bahkan mulai pasrah saat ini. Dengan monster sebanyak itu, mustahil mereka akan selamat.
"Ya Tuhan..." lirih Sang kusir sambil menutup mulutnya.
Isabella menggenggam pedangnya semakin erat.
"Ternyata mereka cukup banyak." Gumam Isabella.
Aeron dan Kael mulai bersiap, mereka tidak mungkin hanya akan menonton. Tapi ketika mereka akan merubah kembali ke wujud asli mereka, Isabella segera menghentikan mereka. Dengan tubuh mereka yang besar, Isabella takut kedua makhluk mistis itu justru akan merusak desa.
"Kalian tetap di sini, biar aku yang melawan monster-monster itu. Tetap dalam wujud ini, jangan berubah. Aku tidak mau desa ini hancur karena amukan kalian berdua, lebih baik kalian tetap di kereta saja dan jaga pria penakut itu." Ucap Isabella sambil menunjuk sang kusir yang mengintip dari dalam kereta kuda.
"Apa kau yakin?" Tanya Kael.
"Ya, pergilah." Perintah Isabella, lalu segera di turuti oleh kedua makhluk itu.
Isabella lalu tersenyum sinis, tatapan matanya juga semakin tajam. Malam ini sepertinya uangnya akan kembali bertambah.
"Bagus."
Kael dan Aeron menatapnya penasaran.
Isabella lalu mulai menghunus pedangnya, kilatan tajam pedang itu terlihat jelas di tengah kegelapan.
"Daripada aku harus mencari mereka satu per satu."
Dia melangkah maju.
"Lebih baik mereka datang sendiri."
Kael dan Aeron saling berpandangan, sementara sang kusir hanya bisa berdiri kaku di belakang kereta.
Bersambung