Alvierra Zea Khanza atau biasa dipanggil Zea rela menjadi gubernur demi mewujudkan impian sang nenek. Tapi sejak menjabat, berbagai teror dan ancaman mulai mengincarnya.
Demi keselamatan Zea, sang kakek mengirim seorang pengawal pribadi bernama Sagara Arya, kapten dingin yang ternyata menyimpan misi rahasia yaitu membunuh Zea.
Sayangnya, menghadapi gubernur yang bar-bar, keras kepala, tetapi begitu tulus mencintai rakyatnya membuat Kapten Sagara perlahan melupakan misinya.
Di antara ancaman, rahasia, dan perasaan yang tak seharusnya tumbuh, sang kapten justru jatuh cinta kepada perempuan yang seharusnya menjadi targetnya.
Ketika tugas dan cinta berada di dua sisi yang berlawanan, akankah Sagara memilih perintah atau melindungi perempuan yang telah mencuri hatinya?
Yuk stay tune ya. Yang gak suka silakan skip.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembalikan Semua
Baru beberapa langkah meninggalkan kafe, Zea tiba-tiba berhenti. Gadis itu terdiam sejenak, kemudian berbalik dengan tatapan yang membuat Sagara mengangkat sebelah alisnya.
“Kenapa lagi?” tanya Sagara datar.
Zea tidak menjawab, melainkan kembali melangkah menuju meja Reno dan Citra.
Pria itu yang masih berdiri dengan pakaian basah langsung menunjukkan senyum lega, seolah mengira Zea datang untuk meminta maaf.
“Aku tahu kamu pasti mau minta maaf, kan? Kau pasti merasa menyesal karena sudah berkata kasar,” ujar Reno sambil merapikan rambutnya. “Kamu memang keterlaluan menyiramku dengan jus tadi, sekarang minta maaflah padaku.”
Zea menatapnya sinis. “Jangan terlalu percaya diri jadi orang, siapa juga yang mau minta maaf?”
Senyum Reno langsung memudar. Zea berdiri tepat di hadapannya, lalu mengulurkan telapak tangan.
“Aku kembali karena ingin mengambil semua barang milikku yang pernah kau ambil dengan alasan pinjam,” katanya tegas. “Sekarang kembalikan semuanya!”
Mata Reno dan Citra langsung melotot. Keduanya saling pandang sebelum kembali menatap Zea dengan ekspresi tidak percaya.
“Jangan keterlaluan kau, Zea!” bentak Reno. “Memangnya barang apa yang harus kukembalikan?”
“Apa? Kau mau menyangkal?” Zea mengeluarkan ponselnya dan membuka beberapa percakapan lama. “Aku masih menyimpan semua chat-mu yang mengatakan akan meminjam barang-barang itu, bukan meminta hadiah.”
Reno langsung terdiam. Ia tahu Zea tidak sedang menggertak, sebab selama ini dirinya memang sering meminta barang dengan alasan hanya meminjam sampai memiliki uang sendiri.
Zea kemudian menunjuk ponsel yang berada di tangan Reno. “Ponsel itu dariku juga.”
“Apa?” Reno spontan menggenggam ponselnya lebih erat.
“Jangan pura-pura lupa. Dulu kau bilang ponselmu rusak dan perlu meminjam punyaku untuk bekerja, tetapi sampai sekarang belum kau kembalikan.” Zea mengulurkan tangan lagi. “Sini!”
“Zea, ini sudah kupakai berbulan-bulan!”
“Lalu? Memangnya karena sudah kau pakai, barang itu otomatis berubah menjadi milikmu?”
Reno tidak bisa menjawab. Dengan wajah kesal, ia akhirnya meletakkan ponsel tersebut di tangan Zea.
Zea kemudian melirik jam tangan mahal di pergelangan Reno. “Jam tangan itu juga milikku.”
“Zea!”
“Jangan berteriak. Aku gak budek. Aku masih bisa mendengarmu.”
Reno menggeleng tidak percaya. “Kau benar-benar kejam!”
“Ke mana perginya sikap manismu tadi?” balas Zea sinis. “Katanya aku bucin sama kamu, katanya aku selalu mengejarmu, sekarang kenapa malah keberatan mengembalikan barang yang bukan milikmu?”
Sagara yang berdiri beberapa langkah di belakang hanya memperhatikan. Ia tidak menyangka perempuan yang sejak pagi sibuk mengurus masalah pasar kini sedang melakukan penagihan dengan ketegasan yang sama sekali berbeda.
Zea kembali mengamati penampilan Reno dari atas sampai bawah. Pandangannya berhenti pada sepatu mahal yang dikenakan pria itu.
“Sepatunya juga.”
Reno langsung mundur. “Jangan macam-macam, Zea!”
“Kenapa? Takut kehilangan barang pinjaman?”
“Ini memalukan!”
“Bagus. Berarti kau masih punya rasa malu.”
Zea kemudian menunjuk celana panjang dan jaket yang dikenakan Reno. “Dua itu juga, kalau tidak salah, pernah kau pinjam karena katanya ingin menghadiri acara penting.”
Reno langsung menatapnya seolah perempuan di hadapannya sudah kehilangan akal sehat. “Kau menyuruhku melepas celana dan jaket di sini?”
“Tidak perlu berteriak. Kita bisa menyelesaikannya dengan baik-baik, asalkan kau mengembalikan barang-barangku.”
“Zea, hentikan!”
“Kalau begitu, kembalikan.”
Reno akhirnya menyerahkan jaket dan barang-barang lain yang bisa dilepaskannya tanpa membuat keributan lebih jauh. Wajahnya memerah karena malu apalagi diperhatikan oleh pihak kafe, sedangkan Zea memasukkan barang-barang tersebut ke dalam tas belanja yang dibawanya.
Tapi urusan ternyata belum selesai. Zea perlahan mengalihkan pandangannya kepada Citra.
Gadis itu langsung mundur satu langkah. “K–Kau mau apa?”
Zea mengangkat sebelah alis. “Kenapa? Takut?”
“Semua ini milikku!” seru Citra sambil buru-buru menyembunyikan tasnya di belakang tubuh.
Zea mendengus. “Tas itu juga hasil pinjamanku, bukan?”
“Tidak! Ini punyaku!”
“Benarkah?” Zea mengeluarkan ponselnya lagi. “Kalau begitu, bagaimana kalau kita periksa percakapan saat kau meminta tas itu dengan alasan hanya akan memakainya untuk acara keluarga?”
Citra langsung kehilangan kata-kata.
Zea maju selangkah dan mengambil tas tersebut setelah Citra terus mengelak. “Ini juga kembali kepadaku.”
“Jangan sembarangan mengambil barangku!” Citra mencoba menarik tas itu kembali, tetapi Zea sudah memegangnya erat.
“Kalau memang milikmu, tunjukkan bukti pembeliannya. Aku juga punya bukti transfer dan percakapan kita.”
Citra terdiam dengan wajah semakin kesal.
Zea kemudian melirik sepatu hak tinggi yang dikenakan Citra. “Sepatu itu juga.”
“Apa?!”
“Anting, gelang dan kalung emas yang kau pakai juga hasil pinjamanku, kalau aku tidak salah ingat.”
Citra spontan menutupi perhiasannya. “Kau sudah gila, ya?!”
“Tidak. Aku hanya sedang mengambil kembali barang-barangku.”
“Zea, aku akan melaporkanmu ke polisi!” ancam Citra dengan suara tinggi.
Zea justru tersenyum tipis. “Silakan.”
Citra terdiam.
“Dan aku juga akan melaporkan kalian atas dugaan penipuan serta menuntut pengembalian barang dan utang yang selama ini kalian abaikan,” lanjut Zea. “Tenang saja, semua bukti percakapannya masih kusimpan.”
Reno langsung menelan ludah. “Zea, kita bisa bicarakan ini baik-baik.”
“Dari tadi aku sudah mengajak bicara baik-baik. Kalian saja yang tidak mau mengembalikan barang-barangku.”
Citra masih terlihat ingin membantah, tetapi Zea lebih dulu mengangkat ponselnya. “Kalau kalian merasa dirugikan, kita selesaikan melalui jalur hukum. Jangan lupa, semua orang punya hak yang sama di hadapan hukum.”
Keduanya langsung terdiam.
Setelah memastikan barang-barang yang dapat dibuktikan sebagai miliknya sudah terkumpul, Zea mengangkat beberapa kantong belanja. Ia menatap Reno dan Citra bergantian, lalu mendengus puas.
“Sudah. Urusan kita selesai untuk hari ini.”
Bukannya langsung pergi, Zea justru berjalan keluar kafe dan berhenti di depan pintu. Ia meletakkan barang-barang tersebut di atas meja kecil yang kosong, kemudian mengangkat suara dengan penuh semangat.
“Cakar! Cakar! Cakar!”
Beberapa orang yang melintas langsung menoleh. Sagara yang baru keluar dari kafe ikut berhenti, menatap Zea dengan ekspresi yang sulit diartikan.
“Ayo, siapa mau cakar? Barangnya masih bagus, lho!” seru Zea. “Aku jual murah saja, tidak apa-apa!”
Seorang perempuan yang sedang melintas mendekat dengan wajah penasaran. “Ini betulan dijual, Kak?”
Zea langsung mengangguk mantap. “Betulan! Silakan pilih, masih layak pakai semua.”
“Kalau yang ini berapa?”
“Murah saja, Kak. Yang penting cepat laku.”
Dalam hitungan menit, beberapa orang mulai mengerumuni meja kecil itu. Ada yang memilih tas, ada yang melihat jam tangan, dan ada pula yang tertarik dengan sepatu serta pakaian yang ditawarkan Zea.
Reno dan Citra yang melihat keramaian tersebut langsung keluar dengan wajah merah padam. Mereka tidak menyangka Zea benar-benar menjual barang-barang itu di depan kafe, apalagi dengan harga yang jauh lebih rendah daripada harga belinya.
“Zea! Kau benar-benar tidak punya hati!” bentak Reno. “Daripada memberikan barang-barang itu kepada kami, kau malah menjualnya murah begini!”
Zea menoleh sambil mengangkat sebelah alis. “Memangnya kenapa?”
“Kau tahu sendiri barang-barang itu mahal!”
“Justru karena mahal, aku tidak mau melihatnya lagi.” Zea mengangkat bahu. “Lebih baik aku jual murah daripada kalian pakai.”
Citra menunjuknya dengan marah. “Kau sengaja mempermalukan kami!”
Zea tersenyum tipis. “Oh, jadi kalian masih punya rasa malu? Aku pikir sudah hilang ditelan tikus.”
Citra langsung terdiam.
“Tak sudi aku melihat barang-barangku dipakai orang yang ternyata tidak tahu diri,” lanjut Zea. “Anggap saja ini pelajaran agar lain kali kalau ingin sesuatu, belilah dengan uang sendiri.”
Beberapa pembeli yang mendengar percakapan itu saling pandang. Ada yang menahan senyum, sementara Reno dan Citra semakin tidak berani mengangkat wajah.
Tidak lama kemudian, hampir semua barang yang dijual Zea habis. Gadis itu menghitung uang hasil penjualan, memasukkannya ke dalam tas, lalu menepuk kedua tangannya dengan puas.
“Lumayan juga.” Zea menoleh kepada Sagara. “Kapten, ayo pulang.”
Sagara mengangguk tanpa banyak bicara. Ia berjalan mengikuti Zea yang kini melangkah santai seolah baru saja menyelesaikan urusan kecil.
Di belakang mereka, Reno masih berdiri dengan wajah kusut, sedangkan Citra sibuk mengomel karena rencana mereka berantakan.
#Note.
Kata "cakar" itu sendiri sebenarnya adalah bahasa slang/dialek khas Sulawesi (terutama Makassar dan Manado) yang merupakan singkatan dari Cap Karung. Biasanya itu disebut berupa barang bekas. Cmiiwwh!
pimter sekali mereka bikin si kanebo kereing mati kutu
mau bilang apa lagi coba hadeh